Insight Daily 02 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

Saham Teknologi ini Meroket 200 Persen dalam Sebulan, Calon Multibagger?

Saham HDIT melesat 200 persen dalam sebulan. Apakah kenaikan ini cermin transformasi bisnis fintech atau sekadar euforia pasar?

KABARBURSA.COM – Saham PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) menjadi sorotan di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah melonjak lebih dari 200 persen hanya dalam satu bulan terakhir. Lonjakan agresif tersebut membuat emiten berbasis teknologi finansial ini kembali diburu trader dan investor ritel.Di pasar, sentimen teknikal memang berpihak pada HDIT. Indikator m...

Saham PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) menjadi sorotan di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah melonjak lebih dari 200 persen. (Foto: Dok. HDI)
Saham PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) menjadi sorotan di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah melonjak lebih dari 200 persen. (Foto: Dok. HDI)

Insight Navigator

  1. 01 Fundamental Keuangan: Bisnis Mengecil, Efisiensi Meningkat
  2. 02 Strategi Bisnis: Bertumpu pada P2P dan Ekspansi Merchant
  3. 03 Analisis Teknikal Saham HDIT

KABARBURSA.COM – Saham PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) menjadi sorotan di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah melonjak lebih dari 200 persen hanya dalam satu bulan terakhir. Lonjakan agresif tersebut membuat emiten berbasis teknologi finansial ini kembali diburu trader dan investor ritel.

Di pasar, sentimen teknikal memang berpihak pada HDIT. Indikator moving average dari jangka pendek hingga panjang berada di posisi beli, sementara pola candlestick bullish mendominasi grafik harian. 

Meski begitu, di tengah euforia, pertanyaan yang muncul adalah apakah kenaikan ini sejalan dengan fundamental, atau sekadar dorongan spekulatif?

Fundamental Keuangan: Bisnis Mengecil, Efisiensi Meningkat

HDIT merupakan perusahaan teknologi finansial yang membangun ekosistem pembayaran digital, P2P lending, hingga e-money. Pada masa jayanya, platform DavestPay mampu mencatatkan pendapatan lebih dari Rp5 triliun pada 2018–2019. 

Namun dalam lima tahun terakhir, kinerja menyusut drastis akibat persaingan ketat di industri fintech.

Saat ini, tiga pilar utama bisnis HDIT adalah Doeku (P2P lending), DavestPay (merchant aggregator), dan DavestMoney (e-money berizin Bank Indonesia). Namun dari sisi keuangan, kontribusi dominan justru masih datang dari penjualan produk PLN prabayar.

Laporan keuangan 2024 menunjukkan total pendapatan Rp32,1 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp32,13 miliar atau hampir seluruhnya berasal dari penjualan PLN prabayar, sementara segmen jasa (biaya layanan, komisi, dan lain-lain) hanya menyumbang sekitar Rp777 juta. 

Angka ini menegaskan bahwa bisnis fintech perusahaan seperti P2P lending dan e-money belum menjadi sumber pendapatan signifikan.

Meski penjualan turun drastis dari Rp2,15 triliun pada 2023, rugi bersih berhasil ditekan menjadi Rp18,9 miliar, membaik 55 persen dibanding tahun sebelumnya. Efisiensi mulai terlihat, meski biaya administrasi masih tinggi di kisaran Rp18,9 miliar. Kondisi tersebut berlanjut pada kuartal I 2025, dengan pendapatan Rp180 juta dan rugi Rp9 miliar.

Dari sisi kas, posisi perusahaan sangat terbatas. Hingga pertengahan 2025, kas dan setara kas hanya sekitar Rp4,8 juta. Namun current ratio per akhir 2024 tercatat 9,1 kali, menandakan kewajiban jangka pendek relatif kecil dibanding aset lancar.

Secara valuasi, ekuitas per Juni 2025 tercatat Rp260 miliar. Dengan jumlah saham beredar 1,52 miliar lembar, kapitalisasi pasar HDIT di harga Rp59 hanya sekitar Rp89 miliar. Rasio price to book value (PBV) berada di 0,34 kali, jauh di bawah 1. 

Secara teori saham ini tergolong murah, tetapi price to earnings ratio (PER) masih negatif karena perusahaan belum mencatatkan laba.

Dengan penjualan yang terus menurun, margin laba bersih negatif, dan posisi kas tipis, HDIT masih dalam tekanan. Sisi positifnya, kerugian berkurang signifikan dan valuasi PBV menunjukkan saham ini diperdagangkan jauh di bawah nilai buku. 

Hal ini membuat HDIT lebih sering dipandang sebagai saham berisiko tinggi dengan peluang spekulasi jangka pendek, bukan sebagai pilihan investasi jangka panjang yang solid.

Strategi Bisnis: Bertumpu pada P2P dan Ekspansi Merchant

Manajemen HDIT menyadari betul bahwa tren penurunan kinerja beberapa tahun terakhir tidak bisa diatasi hanya dengan efisiensi biaya. 

Oleh karena itu, sejak paparan publik Juni 2025, arah bisnis baru difokuskan pada transformasi digital dengan menekankan tiga pilar inti: P2P lending, ekspansi merchant, dan penguatan layanan e-money.

Doeku, anak usaha di sektor peer-to-peer lending, diposisikan sebagai tulang punggung perusahaan. Model bisnis ini menyasar UMKM yang membutuhkan pembiayaan cepat dengan akses terbatas ke perbankan. Segmen ini dianggap lebih tahan banting di tengah perlambatan ekonomi karena kebutuhan modal kerja bersifat mendesak. 

Dengan mengalihkan fokus ke Doeku, HDIT berharap bisa menciptakan aliran pendapatan lebih stabil yang berbasis bunga pinjaman dan biaya administrasi.

Ekspansi merchant menjadi langkah kedua. Hingga akhir 2024, DavestPay telah mencatat lebih dari 310 ribu pengguna aktif, dengan distribusi terbesar di kawasan Indonesia Timur (52,16 persen), diikuti Jawa (33 persen), Sumatra (8,11 persen), dan Kalimantan (6,73 persen). Strategi ini menarik karena perusahaan memposisikan diri di wilayah yang relatif belum tergarap optimal oleh pemain besar fintech nasional. 

Dengan dominasi jaringan di luar Jawa, HDIT berharap bisa mengamankan ceruk pasar yang masih kosong, sekaligus memperluas basis transaksi harian.

Perusahaan juga memperkuat kapabilitas teknologi pada DavestMoney dan DavestPay melalui integrasi artificial intelligence (AI). Peningkatan ini diarahkan untuk otomatisasi proses transaksi, efisiensi biaya operasional, dan peningkatan user experience. 

Langkah tersebut sejalan dengan izin e-money dari Bank Indonesia (No. 24/409/DKSP/Srt/B) yang telah dikantongi sejak 2022, yang memberikan landasan hukum bagi HDIT untuk memperluas ekosistem pembayaran digital di Indonesia.

Dalam strategi jangka menengah, manajemen menargetkan pemulihan profitabilitas pada 2025. Fokus diarahkan pada:

  • Efisiensi biaya: menekan pengeluaran non-produktif dan meningkatkan produktivitas lewat sistem kerja Work From Office 100 persen.
  • Inovasi produk: meluncurkan layanan fintech yang relevan dengan tren cashless society.
  • Kemitraan strategis: memperluas kerja sama dengan mitra merchant dan jaringan distribusi agar ekosistem HDIT semakin kuat.

Analisis Teknikal Saham HDIT

Pada awal September 2025, harga saham HDIT ditutup di Rp59, naik 9,26 persen dalam satu hari perdagangan. Secara tren, kenaikan lebih dari 200 persen dalam sebulan terakhir menjadikan saham ini salah satu yang paling fluktuatif di papan perdagangan.

Indikator teknikal mendukung tren naik. Moving average (MA) dari periode 5 hingga 200 seluruhnya berada di posisi beli. Pola candlestick bullish seperti Morning Doji Star, Bullish Engulfing, dan Morning Star juga muncul, yang biasanya menandakan kelanjutan tren positif.

Level pivot point berada di Rp55 yang kini menjadi support penting. Jika harga mampu bertahan, saham berpotensi menguji resistance di kisaran Rp65 hingga Rp70. Namun, volatilitas relatif tinggi sehingga peluang aksi ambil untung tetap besar.

Bagi trader, HDIT menyajikan momentum spekulatif dengan potensi keuntungan cepat. Namun bagi investor jangka panjang, risiko masih dominan karena kinerja fundamental belum pulih. 

Dengan kata lain, pergerakan harga saat ini lebih banyak digerakkan sentimen pasar ketimbang pencerminan kondisi keuangan perusahaan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com