Insight Daily 18 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Saham RMKE Keluar dari Fase Distribusi, Awal Siklus Baru?

Akumulasi di zona bawah, buyback Rp200 miliar, dan masuk radar Kiwoom membuka ruang rerating di tengah proyeksi lonjakan laba 2026.

KABARBURSA.COM — Di layar perdagangan, PT RMK Energy Tbk atau RMKE seperti baru saja keluar dari ruang perawatan panjang. Sebulan lalu grafiknya terkapar di kisaran 3.800-an, meninggalkan jejak penurunan yang dalam setelah sempat menyentuh area 8.700. Kini angka 5.000 kembali disapa, bahkan dilampaui dengan lonjakan lebih 20 persen hari ini. Namun bagi pelak...

Kapal tongkang memuat batubara melakukan proses loading melalui fasilitas conveyor milik PT RMK Energy Tbk di Sumatra Selatan. Infrastruktur logistik terintegra
Kapal tongkang memuat batubara melakukan proses loading melalui fasilitas conveyor milik PT RMK Energy Tbk di Sumatra Selatan. Infrastruktur logistik terintegra

Insight Navigator

  1. 01 Jejak Akumulasi di Zona Bawah
  2. 02 Kinerja Fundamental RMKE
  3. 03 Sinyal Ganda dari Dalam dan Luar

Pergerakan harga saham RMKE dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan satu fase yang biasanya hanya muncul setelah sebuah siklus penurunan panjang mencapai titik jenuh. Dari puncak di kisaran 8.700 lalu merosot hingga menyentuh area 3.800, pasar pada dasarnya sedang menjalani proses distribusi—periode ketika saham berpindah tangan dari pelaku yang masuk di harga bawah menuju mereka yang datang lebih belakangan. Fase ini ditandai oleh tekanan jual yang konsisten, reli pendek yang cepat dipatahkan, dan volume yang tidak lagi mampu mendorong harga kembali ke tren naik. Ketika harga akhirnya berhenti turun dan bergerak mendatar cukup lama di area bawah, di situlah biasanya distribusi dinyatakan selesai.

Pantulan menuju 5.250 dalam waktu relatif singkat menjadi menarik karena terjadi setelah periode konsolidasi tersebut. Konfirmasi awal terlihat ketika harga mampu kembali bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari dan 100 hari. Dua garis ini adalah cerminan rata-rata biaya kepemilikan dalam jangka pendek dan menengah. Ketika harga berada di bawahnya, sebagian besar pelaku pasar berada dalam posisi rugi sehingga setiap kenaikan cenderung memicu aksi jual. Sebaliknya, ketika harga kembali berada di atasnya, posisi mayoritas pelaku pasar berbalik menjadi untung. Situasi psikologis pasar pun berubah—dari kecenderungan melepas menjadi kecenderungan menahan.

Pelebaran pita Bollinger memberi lapisan konfirmasi berikutnya. Dalam fase penurunan panjang, volatilitas biasanya menyempit karena transaksi didominasi oleh proses perpindahan saham secara bertahap. Ketika pita mulai melebar bersamaan dengan kenaikan harga, itu menandakan masuknya energi baru ke pasar.

Area 5.000–5.100 menjadi penting karena di situlah proses penyerapan suplai terakhir terjadi sebelum harga bergerak naik. Selama harga bertahan di atas zona ini, struktur kenaikan tetap terjaga. Di sisi lain, kisaran 5.375 hingga 5.500 berubah menjadi gerbang konfirmasi. Level ini adalah titik di mana reli sebelumnya tertahan dan di mana pelaku yang sempat terjebak di harga atas berpotensi melepas sahamnya. Jika area ini ditembus dengan volume yang memadai, pasar pada dasarnya sedang menyatakan bahwa fase penurunan panjang telah selesai dan siklus baru sedang dimulai.

Jejak Akumulasi di Zona Bawah

Pergerakan harga RMKE yang dalam sepekan melonjak hingga menembus Rp5.250 sebenarnya tidak lahir dari ruang hampa. Di balik grafik yang tampak seperti loncatan mendadak itu, ada proses yang jauh lebih tenang. Pada periode 5–13 Februari 2026, jejak paling awal terlihat di barisan broker asing. Maybank Sekuritas menjadi pembeli terbesar dengan nilai akumulasi sekitar Rp12 miliar pada harga rata-rata Rp4.074. Mandiri Sekuritas menyusul dengan Rp1,5 miliar di kisaran Rp4.112, lalu JP Morgan Sekuritas sekitar Rp1,3 miliar pada Rp4.143, dan CGS International meski lebih kecil tetap konsisten menampung di Rp4.150.

Angka-angka ini tidak besar jika dilihat satu per satu, tetapi keseragaman harganya memberi petunjuk penting. Ada kesediaan menumpuk barang di area Rp4.000–Rp4.100, jauh sebelum harga bergerak ke atas seperti sekarang.

Namun pada saat yang sama, sisi seberangnya diisi oleh UBS Sekuritas Indonesia yang justru menjadi penjual terbesar dengan nilai sekitar Rp10,5 miliar. Distribusi juga datang dari CLSA Sekuritas Rp4,8 miliar, meski dua nama lain—Trimegah Sekuritas dan Samuel Sekuritas Sekuritas—hanya melepas dalam skala ratusan juta.

Lapisan berikutnya datang dari domestik. BNI Sekuritas muncul sebagai pembeli terbesar dengan nilai Rp15,8 miliar di harga rata-rata Rp4.309. Sucor Sekuritas mengakumulasi Rp13 miliar di Rp4.183, Investindo Sekuritas Rp7,3 miliar di Rp4.177, dan Mirae Asset Sekuritas Rp4,6 miliar di Rp4.153. Jika ditarik garis rata-rata, seluruh pembelian besar ini terjadi di rentang Rp4.100–Rp4.300—zona yang kini sudah tertinggal jauh di bawah harga pasar.

Di sisi distribusi domestik, BRI Danareksa Sekuritas melepas Rp17,6 miliar dan Ajaib  Sekuritas Rp8 miliar, disusul KB Valbury Sekuritas Rp4,5 miliar serta Stockbit Sekuritas Rp3,9 miliar. Secara nominal, nilai jual memang masih lebih besar. Total transaksi menunjukkan volume jual sekitar 292 ribu lot, sedikit di atas beli yang 269 ribu lot. Secara komposisi, pasar tampak seperti mengalami net sell.

Sementara itu, pada pergerakan 18 Februari memperlihatkan pola yang berbeda dibanding fase akumulasi awal di rentang Rp4.100–Rp4.300. Kali ini penyerapan justru terjadi di level harga yang sudah lebih tinggi. Stockbit Sekuritas muncul sebagai pembeli terbesar dengan nilai transaksi sekitar Rp26,3 miliar pada harga rata-rata Rp5.127.

Angka ini menempatkannya sebagai jangkar utama kenaikan hari itu, karena volume yang masuk cukup besar untuk menjaga harga tetap stabil meski tekanan jual masih berlangsung. UBS Sekuritas menyusul dengan akumulasi Rp6,3 miliar di Rp5.082, diikuti Semesta Indovest Rp4,1 miliar pada kisaran Rp5.192 dan Mirae Asset sekitar Rp4 miliar di Rp5.133. Rentang harga pembelian yang relatif sempit—di area Rp5.080 hingga Rp5.190—menunjukkan adanya kesepakatan tak tertulis di antara pelaku besar mengenai fair value jangka pendek saham ini setelah keluar dari fase konsolidasi bawah.

Di sisi distribusi, tekanan terbesar datang dari BRI Danareksa Sekuritas dengan nilai jual Rp17,3 miliar. BNI Sekuritas melepas Rp14,6 miliar, disusul Sucor Sekuritas Rp6,9 miliar dan Investindo Nusantara Rp6 miliar. Secara nominal, nilai jual masih terlihat besar, tetapi karakter pergerakannya berbeda dengan fase sebelumnya. Setiap suplai yang dilepas di atas Rp5.000 langsung mendapat lawan transaksi dari sisi beli tanpa membuat harga kembali turun ke area akumulasi lama.

Intraday tradebook menguatkan gambaran itu. Pada banyak interval waktu, porsi jual sempat dominan—bahkan menyentuh lebih dari 70 persen—namun setiap kali tekanan muncul, ada blok beli yang menahan laju penurunan. Kenaikan harga tidak berlangsung dalam garis lurus, melainkan melalui proses penyerapan bertahap. Ini lebih menyerupai fase akumulasi institusi daripada reli spekulatif.

Ketika institusi domestik menumpuk di Rp4.100–Rp4.300 dan harga sekarang berada di atas Rp5.000, berarti mereka sudah memegang posisi dengan buffer keuntungan yang cukup lebar. Dalam fase seperti ini, pelaku yang baru masuk justru membeli di harga yang sebelumnya menjadi area distribusi.

Kinerja Fundamental RMKE

Penurunan kinerja pada 2025 menjadi fase yang menjelaskan mengapa harga saham RMKE sempat menjauh dari area puncaknya. Berdasarkan data laporan keuangan yang dipublikasikan melalui Stockbit Sekuritas, laba bersih tahunan tercatat sebesar Rp183 miliar, turun dari Rp288 miliar pada 2024 dan Rp303 miliar pada 2023. Dari sisi topline, pendapatan juga melemah dari Rp2,46 triliun pada 2024 menjadi Rp1,79 triliun pada 2025. Pelemahan ini membuat akumulasi laba berjalan (kuartal III 2025) berada di sekitar Rp227 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang mencapai Rp288 miliar.

Jika ditarik ke level kuartalan, kontraksi tersebut terlihat cukup merata. Laba bersih kuartal I sebesar Rp53 miliar, kuartal II Rp34 miliar, dan kuartal III Rp51 miliar—seluruhnya berada di bawah capaian periode yang sama pada 2024. Dalam fase seperti ini, ruang bagi ekspansi dividen juga menjadi terbatas. Dividen tahunan tercatat Rp3,5 per saham, dengan dividend yield sekitar 0,08 persen dan payout ratio 8,37 persen. Hal ini menunjukkan sebagian besar laba masih ditahan untuk menjaga likuiditas dan kebutuhan belanja modal.

Sementara itu, konsensus analis memperlihatkan bahwa 2025 menjadi fase jeda sebelum pemulihan yang lebih kuat pada tahun berikutnya. Setelah membukukan pendapatan Rp2,46 triliun pada 2024, kinerja RMKE diproyeksikan turun menjadi sekitar Rp1,79 triliun pada 2025. Namun pada 2026 pendapatan diperkirakan melonjak ke Rp3,91 triliun, atau hampir dua kali lipat dibandingkan estimasi tahun sebelumnya. Pola yang sama terlihat pada laba usaha yang dari Rp381 miliar pada 2024 diperkirakan melemah ke Rp309 miliar pada 2025, sebelum meningkat signifikan ke Rp937 miliar pada 2026.

Dari sisi laba bersih, konsensus menempatkan angka Rp288 miliar pada 2024, turun ke sekitar Rp226 miliar pada 2025, lalu melonjak menjadi Rp685 miliar pada 2026. Dengan struktur seperti ini, kontraksi yang terjadi pada 2025 lebih terlihat sebagai fase transisi ketimbang perubahan tren jangka panjang. Proyeksi laba per saham juga mengikuti pola yang sama, dari Rp65,84 pada 2024 menjadi Rp50,15 pada 2025, sebelum meningkat tajam ke Rp224,30 pada 2026.

Susunan angka tersebut menunjukkan bahwa pasar memperkirakan pemulihan kinerja RMKE tidak bersifat gradual, melainkan berbentuk lompatan yang ditopang oleh kenaikan volume dan perbaikan margin. Tahun 2025 ditempatkan sebagai dasar yang lebih rendah, sementara 2026 menjadi titik ketika ekspansi operasional mulai sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan.

Dengan jumlah saham beredar 4,38 miliar lembar dan kapitalisasi pasar sekitar Rp22,96 triliun, laba bersih pada kisaran Rp685 miliar di 2026 akan memperlebar basis earning dibanding posisi saat ini. Artinya, pada harga saham di area Rp5.250, valuasi yang tercermin masih bertumpu pada kinerja laba yang lebih rendah, bukan pada proyeksi lonjakan kinerja dua tahun ke depan. Konsensus analis yang seluruhnya memberikan rekomendasi beli menempatkan target harga rata-rata Rp8.994, dengan rentang estimasi Rp7.000 hingga Rp13.100, yang secara matematis sejalan dengan proyeksi kenaikan EPS tersebut.

Struktur kepemilikan saham dengan free float 40,96 persen memberi ruang likuiditas yang relatif memadai di pasar, tetapi juga membuat pergerakan harga sensitif terhadap perubahan ekspektasi laba. Dalam konteks ini, fase 2025 menjadi periode transisi ketika kinerja menurun tercermin penuh dalam harga, sementara proyeksi pemulihan 2026 belum sepenuhnya terkapitalisasi.

Jika diletakkan dalam satu lanskap dengan BULL, SMDR, dan MBAP, valuasi RMKE bukan yang paling murah, tetapi juga belum sepenuhnya mencerminkan fase pertumbuhan yang sedang dibangun. Pada harga saat ini, PER trailing RMKE sekitar 100,99 kali dengan forward PER 32,25 kali. Angka ini menempatkan RMKE jauh di atas SMDR yang hanya 7,88 kali, dan juga lebih tinggi dari BULL di 37,98 kali serta MBAP 36,36 kali.

Namun, perbedaan ini perlu dibaca dalam konteks siklus laba. Laba bersih RMKE dalam periode berjalan memang sedang tertekan, sehingga basis perhitungan PER menjadi kecil dan rasio tampak melonjak. Ketika proyeksi laba 2026 yang berada di kisaran Rp685 miliar mulai masuk ke perhitungan, valuasinya turun signifikan ke level forward yang lebih mendekati BULL dan MBAP.

Dari sisi price to book value atau PBV, RMKE berada di level 12,48 kali, jauh di atas BULL 2,79 kali, serta kontras dengan SMDR 0,75 kali dan MBAP 0,66 kali yang masih diperdagangkan di bawah nilai bukunya. Ini menunjukkan bahwa pasar memberi premi yang besar terhadap model bisnis RMKE sebagai penyedia jasa logistik batubara terintegrasi, yang berbasis kontrak jangka panjang dan memiliki visibilitas volume. Sebaliknya, SMDR sebagai perusahaan pelayaran dan MBAP sebagai kontraktor tambang masih sangat dipengaruhi oleh siklus tarif dan volume yang fluktuatif sehingga valuasinya tertahan.

Di sisi lain, jika melihat profitabilitas dan struktur keuangan, RMKE mencatat ROE 12,35 persen dengan debt to equity ratio atau DER 0,30 kali. Leverage yang relatif rendah ini berbeda dengan karakter bisnis logistik dan pelayaran pada umumnya yang lebih agresif menggunakan utang untuk ekspansi armada.

Sinyal Ganda dari Dalam dan Luar

Pada akhir Januari 2026, RMKE mengumumkan akan melakukan pembelian kembali atau buyback saham tanpa melalui RUPS dengan menyiapkan dana hingga Rp200 miliar. Realisasi awalnya terjadi pada 13 Februari ketika perseroan menyerap 2.377.600 saham di harga rata-rata Rp4.160,61, dengan nilai sekitar Rp9,89 miliar. Angka itu memang baru sebagian kecil dari total alokasi—menyisakan sekitar Rp190,11 miliar hingga periode berakhir pada 1 Mei 2026—namun kehadirannya langsung mengubah struktur permintaan di pasar reguler. Dalam prospektus disebutkan jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melampaui 20 persen dari modal disetor, sebuah batas yang menjaga ruang intervensi tetap terukur tetapi cukup besar untuk memengaruhi keseimbangan suplai.

Sinyal dari dalam itu muncul hampir bersamaan dengan pengakuan dari luar. Nama RMKE masuk dalam daftar saham pilihan Kiwoom Sekuritas untuk 2026. Dalam laporan tersebut, RMKE ditempatkan sebagai emiten dengan visibilitas arus kas yang tinggi. Model bisnis logistik batubara berbasis rel dinilai berada tepat di jalur perubahan regulasi yang akan mengalihkan angkutan dari jalan umum ke kereta api.

Kiwoom menilai posisi RMKE sebagai first mover infrastruktur rel sulit dikejar dalam waktu singkat oleh pesaing. Kontrak jangka panjang yang telah dikunci memberi kepastian utilisasi aset sekaligus menjaga stabilitas pendapatan ketika volume angkutan mulai terkonsentrasi. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mencatat bahwa pasar tahun ini tidak lagi bergerak serentak, melainkan didominasi oleh emiten dengan narasi pertumbuhan kuat dan likuiditas tinggi sebagai indikator utama. Dalam situasi seperti itu, saham dengan visibilitas kinerja yang instan akan lebih cepat mendapatkan premi.

Di titik inilah buyback dan riset eksternal bertemu dalam satu garis yang sama. Dari sisi makro, perubahan regulasi menciptakan permintaan baru terhadap infrastruktur logistik berbasis rel. Dari sisi mikro, kontrak jangka panjang membuat arus kas lebih terukur dibanding pemain yang bergantung pada volume spot.

Target harga Rp13.100 yang dipasang Kiwoom menjadi refleksi dari ekspektasi bahwa rerating valuasi akan mengikuti peningkatan utilisasi aset ketika aturan logistik baru berjalan penuh. Cerita RMKE dengan demikian tidak lagi berhenti pada siklus batubara, tetapi bergerak ke arah penguasaan jalur distribusi.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya