KABARBURSA.COM – Era suku bunga rendah perbankan mulai bergulir ditandai dengan langkah Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve (the Fed) yang sama-sama memangkas suku bunga acuan.
BI memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen dari sebelumnya 5,00 persen pada Rabu, 17 September 2025. Langkah bank sentral ini menambah total penurunan suku bunga acuan menjadi 125 bps sejak awal tahun.
Kebijakan pelonggaran moneter ini tidak hanya datang dari dalam negeri. Sejalan dengan langkah BI, bank sentral Amerika Serikat (AS) juga memangkas suku bunga 25 bps ke kisaran 4–4,25 persen pada Rabu.
Sejalan dengan pelonggaran suku bunga, pemerintah memperkuat likuiditas perbankan melalui penempatan dana di himpunan bank milik negara atau Himbara. Pemerintah mengucurkan dana sebesar Rp200 triliun. Langkah ini diharapkan mendorong penyaluran kredit produktif di tengah tren penurunan suku bunga.
Merujuk keterangan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk bakal menerima duit masing-masing Rp55 triliun. Sebesar Rp25 triliun lagi, akan diserap oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Sementara sisanya akan ditransfer ke PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk.
Kelima emiten perbankan pelat merah telah dicairkan dana dalam bentuk deposito on call berbunga sekitar 4 persen dengan tenor 6 bulan. Penempatan dana ini memperkuat struktur likuiditas bank agar siap menyalurkan kredit produktif ke berbagai sektor usaha.
Melihat perkembangan tersebut, Direktur Riset CORE Indonesia Etika Karyani Suwondo menilai tren penurunan suku bunga ini akan memberi tekanan pada margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan.
Ia memperkirakan tekanan tersebut akan terasa pada kuartal IV tahun ini hingga semester pertama tahun depan meski likuiditas bank lebih longgar.
“BI rate turun bisa tekan NIM karena yield aset turun lebih cepat dibanding cost of fund. Biasanya sekitar 1-2 kuartal ke depan,” ujar Etika kepada KabarBursa.com pada Senin, 22 September 2025 malam.
Menurut Etika, strategi bank menghadapi penurunan bunga acuan adalah menggenjot pendapatan nonbunga dan efisiensi biaya operasional. “Bank bisa andalkan fee based income selain efisiensi BOPO,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pengawalan terhadap penyaluran dana Rp200 triliun agar benar-benar mendorong sektor riil. “Dana jumbo harus diarahkan ke sektor produktif. Skema directed lending dan KUR (kredit usaha rakyat) bisa jadi instrumen,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kepala Center for Fintech & Banking Universitas Sebelas Maret (UNS) itu juga menilai sektor potensial yang memiliki multiplier effect tinggi antara lain usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM padat karya, infrastruktur, serta manufaktur pangan.
“Sektor potensial yang berikan multiplier effect adalah sektor yang berefek linkage industri dan membuka lapangan kerja seperti UMKM padat karya, infrastruktur, manufaktur pangan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya manajemen risiko dan pencadangan kerugian kredit (CKPN) agar kualitas aset tetap terjaga. “Selain itu ada credit scoring dan CKPN,” ungkapnya.
Pandangan Etika ini sekaligus menjadi acuan untuk melihat bagaimana bank besar salah satunya Bank Mandiri mengimplementasikan strategi tersebut.
Dengan dukungan dana jumbo dari pemerintah, fokus pada sektor ber-multiplier effect, serta penguatan manajemen risiko dan pencadangan kerugian kredit, Bank Mandiri menjadi contoh konkret dalam menghadapi tekanan NIM di tengah tren suku bunga rendah.
Mensimulasikan Tekanan NIM pada Bank Mandiri (BMRI)
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, Bank Mandiri mencatatkan penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp1.701 triliun pada kuartal II 2025 atau tumbuh 11 persen secara tahunan (year on year/yoy), melampaui rata-rata industri perbankan sebesar 7,03 persen menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pertumbuhan ini menunjukkan kemampuan bank dalam mengoptimalkan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.828 triliun, naik 10,7 persen yoy, serta CASA yang telah menembus 78,4 persen.
Namun, dengan tren penurunan suku bunga acuan BI Rate, yield aset berpotensi turun lebih cepat dibandingkan cost of fund sehingga NIM terancam tertekan pada kuartal IV 2025 hingga semester pertama 2026 seperti diproyeksikan Etika.
Dalam simulasi Etika, Bank Mandiri perlu mengantisipasi tekanan NIM dengan menggeser fokus ke sektor pembiayaan produktif ber-multiplier effect tinggi.
Berdasarkan laporan resmi, pembiayaan produktif Bank Mandiri sudah menyasar sektor UMKM padat karya, infrastruktur, hingga manufaktur pangan
Dengan tambahan dana pemerintah Rp55 triliun, bank ini memiliki ruang lebih luas untuk mengoptimalkan directed lending, KUR, dan penyaluran kredit berbasis ekosistem yang dapat menopang yield aset secara berkelanjutan.
Strategi berikutnya adalah mendorong pendapatan nonbunga atau fee based income sebagai bantalan NIM. Bank Mandiri melalui Kopra by Mandiri mencatat kontribusi fee based income sebesar Rp1,15 triliun pada kuartal II 2025.
Kinerja ini menjadi contoh nyata bahwa diversifikasi pendapatan dapat mengurangi ketergantungan terhadap margin bunga, sejalan dengan saran Etika untuk meningkatkan fee based income dan efisiensi BOPO.
Selain pendapatan nonbunga, efisiensi biaya operasional menjadi fokus agar profitabilitas tidak tergerus.
Dengan menjaga BOPO tetap rendah, Bank Mandiri bisa menahan tekanan penurunan NIM sekaligus memperkuat posisi likuiditasnya.
Langkah ini termasuk pemanfaatan transformasi digital Livin’ by Mandiri, Livin’ Merchant, dan Kopra by Mandiri yang terus memperluas basis pengguna serta meningkatkan transaksi digital, sehingga biaya akuisisi dan layanan lebih efisien.
Tak kalah penting adalah penguatan manajemen risiko. Etika menekankan pentingnya credit scoring dan pencadangan kerugian kredit (CKPN). Per Juni 2025, NPL gross Bank Mandiri terjaga pada level 1,08 persen, lebih baik dari rata-rata industri 2,22 persen.
Angka ini menunjukkan ruang mitigasi risiko yang cukup kuat, yang apabila dijaga secara disiplin akan membantu Bank Mandiri menghadapi tekanan NIM dan menjaga kualitas aset di tengah era suku bunga rendah.
Jadi, Perbankan Diskon Sampai Kapan?
Mengenai kinerja bank besar seperti Bank Mandiri, Etika Karyani menyebut penurunan biaya dana memberi peluang profitabilitas, meski risiko kredit tetap harus diwaspadai.
“Profit bisa diandalkan karena cost of fund turun tapi waspada akan NPL jika tanpa manajemen risiko yang tepat,” kata Etika.
Lebih jauh, Etika menilai saham-saham bank besar saat ini masih dianggap undervalued di tengah isu tekanan NIM dan kredit bermasalah.
“Saham bank masih dianggap diskon jika isu NIM dan NPL membayangi. Evaluasi bisa pulih 2-3 kuartal,” ujarnya.
Ia memperkirakan tekanan terhadap margin bunga bersih akan terasa 1–2 kuartal ke depan sebelum mulai mereda, lalu valuasi berangsur pulih dalam 2–3 kuartal mendatang.
Pandangan ini menunjukkan bahwa periode semester pertama 2026 menjadi masa transisi bagi bank-bank pelat merah untuk menyeimbangkan struktur biaya dana dan yield aset.
Dengan dukungan stimulus pemerintah, penguatan fee based income, dan efisiensi biaya, valuasi saham perbankan pelat merah berpeluang mengalami re-rating ketika investor melihat tanda-tanda stabilisasi NIM dan penurunan risiko kredit.
Jika strategi ini berhasil, diskon besar-besaran pada saham bank, termasuk Bank Mandiri, dapat mulai mengecil pada pertengahan hingga akhir 2026.
Bagi investor, situasi ini membuka peluang akumulasi saham di tengah valuasi rendah sembari memantau efektivitas penyaluran kredit produktif dan kinerja nonbunga bank.
Dengan kata lain, “diskon” saham perbankan bisa bertahan hingga beberapa kuartal ke depan, namun potensi pemulihan nilai ada di depan mata saat fundamental bank kembali solid. (*)
*)Reporter KabarBursa.com, Desty Luthfiani, ikut berkontribusi dalam penulisan ini.