Insight Daily 03 Oct 2025 Penulis: KabarBursa.com

Saham Pembiayaan BFIN, ADMF, CFIN Kurang Minat, Ada Apa?

BFIN, ADMF, dan CFIN undervalue secara fundamental, namun order book dan likuiditas tipis.

KABARBURSA.COM – Tiga emiten pembiayaan (finance) PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dan PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) tampak kurang menarik bagi investor. Setidaknya ada sejumlah penyebab mereka belum mampu mencuri perhatian bagi market maker.Merujuk data perdagangan seperti dilihat di order book, ketig...

Tiga emiten pembiayaan (finance) PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dan PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) tam
Tiga emiten pembiayaan (finance) PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dan PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) tam

Insight Navigator

  1. 01 Benarkah Fundamental Emiten Pembiayaan Kuat?
  2. 02 Mana Saham yang Masih Murah dan Sudah Mahal?

KABARBURSA.COM – Tiga emiten pembiayaan (finance) PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), dan PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) tampak kurang menarik bagi investor. Setidaknya ada sejumlah penyebab mereka belum mampu mencuri perhatian bagi market maker.

Merujuk data perdagangan seperti dilihat di order book, ketiganya tampak kurang diminati lantaran terdapat distribusi besar yang mengadang di atas harga sekarang. Ada juga saham yang memiliki supply tebal yang pada gilirannya sulit ditembus.

Selain itu, likuiditas juga menjadi masalah besar bagi ketiganya, dengan volume harian jauh di bawah saham big banks yang lebih digemari investor. Akibatnya, meski jalur kenaikan harga kadang terlihat kosong, begitu mendekati level distribusi, supply besar langsung menekan pergerakan.

Dalam kondisi demikian, menarik untuk melihat apakah kelemahan teknikal ini sejalan atau justru bertolak belakang dengan kondisi fundamental masing-masing emiten.

Benarkah Fundamental Emiten Pembiayaan Kuat?

BFI Finance Indonesia mencatat valuasi rendah di pasar. Price to Earning Ratio (PER) hanya 6,9 kali dan Price to Book Value (PBV) 1,07 kali, jauh di bawah rata-rata sektor. Enterprise Value (EV) terhadap Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) atau EV/EBITDA hanya 3,0 kali, termurah dibandingkan pemain lain.

Pendapatan BFIN semester I 2025 mencapai Rp3,3 triliun. Laba bersih Rp762 miliar dengan margin 21,7 persen, di atas rata-rata industri pembiayaan. Angka ini menandakan efisiensi bisnis terjaga.

Profitabilitas juga kuat. Return on Assets (ROA) 6,5 persen, Return on Equity (ROE) 15,6 persen, dan Return on Invested Capital (ROIC) 21,3 persen. Semua indikator jauh melampaui rata-rata sektor yang hanya mencatat ROA 2,5 persen, ROE 4,6 persen, dan ROIC 5,5 persen.

Dengan capaian tersebut, fundamental BFIN tergolong sehat. Efisiensi aset dan ekuitas menjadikannya unggul. Namun pasar masih memberi valuasi rendah, mencerminkan minat investor yang belum setara dengan kinerja keuangannya.

Sementara itu Adira Dinamika Multi Finance juga mencatat valuasi murah. PER 8,8 kali dan PBV 0,95 kali, lebih rendah dari rerata sektor. EV/EBITDA 3,0 kali juga masih menarik.

Pendapatan ADMF sekitar Rp6,2 triliun semester I 2025. Laba bersih diperkirakan Rp1,48 triliun dengan margin 13,8 persen. Margin ini sedikit di bawah sektor yang rata-rata 20 persen.

Profitabilitas ADMF berada pada tingkat menengah. ROA 4,0 persen, ROE 10,9 persen, dan ROIC 4,7 persen. Semua lebih baik dari rata-rata industri, meski masih di bawah level BFIN.

ADMF unggul dari sisi skala usaha. Pendapatan dan aset lebih besar dibanding mayoritas pemain. Namun profitabilitas sedikit menurun, terutama setelah merger dengan PT Mandala Multifinance Tbk atau MFIN yang membuat beban operasional bertambah.

Berbeda dengan keduanya, Clipan Finance Indonesia menghadapi keterbatasan. PER hanya 7,5 kali dan PBV 0,22 kali, sekilas tampak sangat murah. Namun EV/EBITDA 41,7 kali justru menunjukkan laba operasional tipis.

Pendapatan CFIN semester I 2025 sekitar Rp1,02 triliun. Laba bersih hanya Rp118 miliar dengan margin 11,4 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata sektor.

Profitabilitas CFIN rendah. ROA hanya 1,7 persen, ROE 3,0 persen, dan ROIC 1,3 persen. Semua indikator berada di bawah rata-rata industri pembiayaan.

Dengan kondisi tersebut, CFIN masih bertahan sebagai pemain lama. Namun skala kecil dan profitabilitas yang lemah membuat sahamnya kurang dilirik. Investor cenderung mengabaikan meski valuasi di permukaan tampak murah.

Mana Saham yang Masih Murah dan Sudah Mahal?

Secara valuasi, saham pembiayaan memang terlihat lebih murah dibandingkan rata-rata sektor. PER rata-rata sektor mencapai 21,6 kali, sedangkan PBV 2,08 kali. EV/EBITDA di sektor berada di 15,6 kali, dengan earnings yield hanya 6,12 persen.

BFIN berada jauh di bawah rerata tersebut. PER hanya 6,87 kali, PBV 1,07 kali, dan EV/EBITDA 3,0 kali. Earnings yield mencapai 14,55 persen, lebih dari dua kali lipat rerata sektor.

BFIN mendapatkan cuan dari pembiayaan multiguna, pembiayaan alat berat, serta leasing. Ada juga tambahan dari anak usaha fintech lending. Dari sisi fundamental, margin bersih 21,7 persen dengan ROE 15,6 persen membuatnya berada di atas standar industri.

Order book memperlihatkan adanya supply tebal di level 900 hingga 950. Distribusi besar ini menahan laju harga meski valuasi sudah sangat murah. Di sinilah terlihat bahwa hambatan teknikal menjadi konfirmasi atas minimnya minat pasar.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menegaskan kondisi ini wajar. “Biasanya kalau emiten-emiten berbasis lending walaupun juga financing, dalam arti kata bukan bank, memang saya akui rata-rata kurang likuid, sehingga memang wajar saja terdapat kondisi dimana menjadi supply yang tebal, walaupun juga distribusi, bahkan ada supply masif, volume harian juga di bawah ekspektasi, di bawah big four banks,” ujarnya kepada KabarBursa.com, Jumat, 3 Oktober 2025.

Ia menambahkan bahwa investor cenderung lebih tertarik pada saham berkapitalisasi besar. Jadi biasanya investor itu lebih ramai melakukan transaksi di big caps, kalau ini kan bukan C caps, jadi wajar saja kalau hemat saya demikian,” kata Nafan.

ADMF juga diperdagangkan murah. PER hanya 8,77 kali, PBV 0,95 kali, dan EV/EBITDA 3,0 kali. Earnings yield 11,40 persen, jauh di atas rata-rata industri.

ADMF mendapatkan pendapatan dari pembiayaan otomotif, baik mobil maupun motor, serta layanan asuransi. Dukungan kuat dari Bank Danamon dan MUFG menjadikannya pemain besar dengan aset besar. Namun margin bersih 13,8 persen sedikit di bawah sektor.

Di order book, ADMF menunjukkan support tebal di 8.000 dengan distribusi menunggu di 10.000–10.575. Hal ini membuat ruang kenaikan harga tertahan meski valuasi terbilang sangat atraktif. Investor masih menunggu sinergi hasil merger dengan Mandala Multifinance.

Nafan menilai hal ini memang sejalan dengan kondisi likuiditas. “Sebenarnya prospeknya bagus untuk financing karena tiket penurunan beban biaya, tapi yang menjadi masalah kan likuiditasnya masih minim jika dibandingkan dengan big four banks, jadi tentu saja ketiga emiten ini memang kurang naik untuk dicermati,” katanya.

Nafan mengingatkan bahwa lonjakan transaksi kadang hanya sementara. “Jika kinerjanya jauh dari ekspektasi tentunya terjadi bid dan offer yang semakin rapat, jadi volume transaksi meningkat, tapi memang setidaknya itu hanya temporary saja,” ujarnya.

CFIN terlihat berbeda. PER 7,49 kali dan PBV 0,22 kali terlihat sangat murah. P/S hanya 0,74 kali, jauh lebih rendah dari rerata sektor 4,46 kali.

Namun EV/EBITDA CFIN melonjak hingga 41,7 kali. Angka ini menandakan laba operasional tipis, sehingga valuasi relatif mahal bila dihitung dari sisi operasional. Earnings yield 13,36 persen tidak cukup menarik bila risiko tetap tinggi.

CFIN mendapatkan cuan dari pembiayaan mobil bekas dan captive market Panin Group. Namun dengan pendapatan hanya Rp1,02 triliun dan laba Rp118 miliar, profitabilitasnya jauh di bawah rata-rata industri. ROE hanya 3,0 persen dan ROA 1,7 persen, angka yang lemah untuk sektor pembiayaan.

Order book CFIN menunjukkan tembok distribusi besar di 386. Supply masif ini membuat saham sulit bergerak ke atas. Kondisi ini menjadi bukti teknikal bahwa minat investor tetap terbatas meski valuasi terlihat sangat murah.

Nafan menambahkan, biasanya likuiditas baru meningkat bila ada katalis khusus. “Mungkin juga ada aksi populasi yang menjadi tunggu-tunggu, entah itu aksi korporasi mau itu buyback atau penerbitaan right issue, itu biasanya sudah terpaksa oleh ada peningkatan likuiditas,” jelasnya.

Dengan demikian, meski BFIN dan ADMF terlihat undervalue dengan fundamental solid, hambatan order book dan likuiditas menahan laju harga. Sementara CFIN menghadapi tantangan ganda, yakni profitabilitas rendah dan distribusi besar di pasar. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com