KABARBURSA.COM - PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) masih berada di level murah di tengah catatan kinerja keuangan solid pada tahun 2025.
Pada perdagangan terakhir atau Kamis, 26 Maret 2026, saham MIDI berada di harga Rp292 setelah ditutup melemah 2,67 persen di hari tersebut.
Menurut perhitungan yang dilakukan tim Kabarbursa.com, harga wajar saham MIDI ada di kisaran Rp548, atau masih di bawah harga saat ini.
Dengan harga yang masih terbilang murah, saham MIDI menarik perhatian para pelaku pasar. Terlebih, saham emiten perdagangan ritel ini memiliki kinerja keuangan cemerlang pada 2025.
Adapun berdasarkan data konsensus dari Stockbit, sebanyak 14 analis kompak memberikan rating beli untuk saham MIDI, tanpa adanya rekomendasi hold maupun sell.
Dari sisi valuasi, posisi harga saham MIDI saat ini berada di kisaran Rp292, masih jauh di bawah target harga rata-rata analis yang mencapai Rp529. Artinya, terdapat potensi kenaikan lebih dari 80 persen dari level saat ini.
Tidak hanya itu, rentang target harga yang diberikan analis juga menunjukkan ruang apresiasi yang lebar. Estimasi terendah berada di Rp440, sementara target tertinggi mencapai Rp630, hal ini mengindikasikan kepercayaan tinggi terhadap pertumbuhan jangka menengah hingga panjang emiten ritel tersebut.
Kondisi ini memperkuat narasi bahwa saham MIDI masih belum sepenuhnya mencerminkan kinerja fundamentalnya. Dengan posisi harga yang relatif tertinggal dibandingkan valuasi wajar versi analis.
Kinerja Keuangan
MIDI mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025, dengan pendapatan mencapai Rp20,64 triliun, naik dari Rp19,89 triliun pada tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, laba bruto perseroan meningkat menjadi Rp5,39 triliun dari Rp5,23 triliun, menunjukkan margin yang mulai membaik meski beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp15,24 triliun.
Namun, tekanan masih terlihat dari sisi biaya operasional, di mana beban penjualan tercatat Rp4,18 triliun, meski sedikit menurun dari tahun sebelumnya. Beban umum dan administrasi juga turun menjadi Rp447,97 miliar.
Dari sisi bottom line, kinerja MIDI menunjukkan lonjakan signifikan. Laba sebelum pajak tercatat Rp927,06 miliar, naik tajam dari Rp658,27 miliar.
Adapun laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp792,36miliar, melonjak sekitar 45,01 persen persen dibandingkan Rp546,41 miliar pada 2024.
Kenaikan laba ini juga didukung oleh kontribusi pendapatan lain-lain sebesar Rp230,82 miliar yang relatif stabil, serta penurunan beban bunga menjadi Rp42,29 miliar,
Adapun, MIDI mencatat kenaikan total aset yang mencapai Rp9,13 triliun per akhir Desember 2025, meningkat dibandingkan Rp8,73 triliun pada periode sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan aset lancar yang naik signifikan menjadi Rp4,06 triliun dari Rp3,62 triliun, seiring lonjakan kas dan setara kas yang mencapai Rp576,19 miliar, naik tajam dari Rp378,11 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi operasional, perseroan menunjukkan penguatan aktivitas bisnis yang tercermin dari peningkatan persediaan menjadi Rp3,01 triliun dibandingkan Rp2,70 triliun.
Pada sisi struktur keuangan, total liabilitas MIDI tercatat sebesar Rp4,59 triliun, meningkat dari Rp4,44 triliun. Liabilitas jangka pendek masih mendominasi dengan nilai Rp3,98 triliun, serta beban akrual juga meningkat menjadi Rp202,32 miliar
Sementara itu, liabilitas jangka panjang relatif terkendali di level Rp606,33 miliar, menunjukkan struktur pendanaan yang masih cukup sehat dengan ketergantungan yang lebih besar pada liabilitas jangka pendek berbasis operasional. Di sisi lain, aset tetap meningkat menjadi Rp2,98 triliun.
Secara keseluruhan, posisi keuangan MIDI mencerminkan fundamental yang solid dengan pertumbuhan aset, peningkatan likuiditas, serta ekspansi operasional yang masih agresif. Dengan struktur liabilitas yang masih terjaga dan peningkatan kas yang signifikan, perseroan memiliki ruang yang cukup untuk melanjutkan ekspansi bisnis di sektor ritel kebutuhan pokok, sekaligus menjaga ketahanan di tengah dinamika ekonomi domestik.
Di sisi lain, MIDI menunjukkan kinerja profitabilitas yang solid, tercermin dari rasio pengembalian dan margin yang masih terjaga. Berdasarkan data Stockbit, Return on Assets (ROA) perseroan tercatat sebesar 8,68 persen, sementara Return on Equity (ROE) mencapai 17,45 persen secara trailing twelve months (TTM), mengindikasikan efisiensi penggunaan aset dan ekuitas yang relatif optimal.
Dari sisi margin, MIDI membukukan Gross Profit Margin sebesar 27,00 persen. Namun, pada level operasional, margin terlihat lebih tipis dengan Operating Profit Margin sebesar 3,75 persen dan Net Profit Margin 3,76 persen, menunjukkan adanya tekanan dari beban operasional yang masih cukup tinggi.
Sementara itu, dari aspek likuiditas, Current Ratio tercatat di level 1,02, yang menandakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek masih berada di batas aman, meskipun relatif ketat. Adapun Quick Ratio yang hanya sebesar 0,26 itu berarti ketergantungan pada persediaan dalam menjaga likuiditas.
Di sisi pengembalian kepada pemegang saham, MIDI mencatat Dividend Yield sebesar 2,52 persen dengan total dividen TTM sebesar 7,35 dan payout ratio 31,01 persen. Tanggal cum dividen terakhir tercatat pada 4 Juni 2025.
Fundamental MIDI menunjukkan kombinasi antara profitabilitas yang solid dan likuiditas yang cukup terjaga, meskipun tekanan margin operasional masih menjadi tantangan. Dengan ROE yang relatif tinggi dan kebijakan dividen yang stabil, saham ini berpotensi tetap menarik bagi investor yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan yield, khususnya di sektor ritel yang defensif.
Akumulasi Asing Sejak Awal Tahun
MIDI sendiri mencatatkan aksi akumulasi investor asing yang cukup kuat secara year to date (ytd) atau sejak awal tahun 2026 pada periode 2 Januari hingga 26 Maret.
Berdasarkan data broker summary Stockbit, AK menjadi pembeli terbesar dengan nilai akumulasi mencapai Rp11,8 miliar atau setara 424,5 ribu lot di harga rata-rata Rp294.
Diikuti oleh CC dengan nilai Rp8,2 miliar (286,2 ribu lot) di harga rata-rata Rp302, serta DX sebesar Rp7,9 miliar (272,8 ribu lot) di level Rp290.
Selain itu, broker YU juga tercatat mengoleksi Rp5 miliar (152 ribu lot) di harga rata-rata Rp320, disusul BB sebesar Rp1,5 miliar dan BK Rp740,2 juta. Beberapa broker lain seperti AG dan TP turut menambah posisi meski dalam nominal yang lebih terbatas.
Di sisi lain, tekanan jual relatif lebih kecil. Broker AI menjadi penjual terbesar dengan nilai Rp6,8 miliar (223,2 ribu lot), diikuti IF sebesar Rp3,5 miliar dan ZP Rp2,1 miliar.
Sementara broker lain seperti NI, KZ, dan SQ mencatatkan nilai jual di bawah Rp400 juta, menunjukkan distribusi yang tidak terlalu dominan.
Pergerakan Harga Saham
MIDI masih berada dalam fase konsolidasi dengan tekanan jangka menengah yang cukup dalam, meskipun mulai terlihat sinyal pemulihan terbatas dalam jangka pendek.
Berdasarkan data price performance, saham MIDI mengalami penguatan dalam sepekan dengan kenaikan 5,80 persen. Meski demikian, tren pelemahan masih dominan jika ditarik ke periode yang lebih panjang.
Dalam satu bulan terakhir, saham MIDI terkoreksi 6,41 persen, lalu semakin dalam pada tiga bulan yang turun 21,51 persen. Bahkan dalam enam bulan, koreksi mencapai 32,41 persen.
Secara year-to-date (YTD), saham ini juga masih tertekan dengan penurunan 25,13 persen. Namun menariknya, dalam rentang satu tahun, MIDI masih mencatatkan kenaikan tipis 2,10 persen.
Dalam jangka panjang, kinerja saham ini masih relatif positif. Selama lima tahun, MIDI tumbuh 23,13 persen, sementara dalam 10 tahun melonjak signifikan hingga 303,42 persen. (*)