KABARBURSA.COM – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge tampil menonjol sepanjang paruh pertama 2025.
Laporan keuangan interim menunjukkan pendapatan Rp513,46 miliar, tumbuh 66,1 persen year on year (yoy). Pertumbuhan ini ditopang layanan bandwidth Rp241,24 miliar dan iklan Rp232,83 miliar, meskipun pendapatan sewa core turun ke Rp31,45 miliar dari Rp117,49 miliar.
Efisiensi operasional membuat beban pokok pendapatan justru turun 6,6 persen yoy ke Rp121,11 miliar. Dampaknya, margin kotor melonjak ke 76,4 persen, jauh lebih tinggi dibanding 58 persen di periode sama tahun lalu. Laba bersih naik signifikan menjadi Rp227,78 miliar, tumbuh 153,5 persen yoy.
Perseroan juga memperkuat struktur permodalan melalui rights issue Rp5,9 triliun dan penerbitan obligasi Rp2,5 triliun, keduanya oversubscribe. Dengan tambahan ekuitas, posisi keuangan WIFI per Juli 2025 mencapai Rp8,1 triliun.
Jumlah pelanggan broadband melonjak drastis ke 400 ribu, naik empat kali lipat dibanding 100 ribu di akhir 2024. Angka ini menunjukkan permintaan ritel terus membesar, sekaligus menjadi pijakan untuk ekspansi agresif ke depan.
Manajemen menargetkan 2,5 juta homeconnect dalam 10–12 bulan melalui kolaborasi dengan lebih dari 400 kontraktor dan ISP lokal. Setiap kontraktor diperkirakan mampu memasang 1.000–2.000 homepasses per bulan. Fokus utama berada di Pulau Jawa dengan prioritas 400 dari 592 stasiun.
Dukungan strategis datang dari NTT East, bagian dari NTT Group Jepang. Perusahaan asal Jepang ini berkomitmen investasi Rp4 triliun, terdiri atas Rp1 triliun cash injection dan Rp3 triliun intangible support services. Dukungan ini mencakup akses ke ekosistem teknologi global, mitra finansial, hingga pusat pelatihan bersama.
Dengan fondasi modal dan dukungan teknologi tersebut, manajemen WIFI melihat perlunya menambah jalur ekspansi lain melalui penguatan spektrum.
Dalam Public Expose Live 2025, Direktur Utama Surge Yune Marketatmo menegaskan langkah ekspansi juga diarahkan ke seleksi spektrum baru.
“Langkah perseroan mengikuti lelang frekuensi 1,4 GHz dalam rangka berkontribusi pada program Internet Rakyat. Kita optimistis bahwa kita memiliki peluang besar untuk mendapatkan pita frekuensi tersebut,” ujarnya, dikutip Kamis, 11 September 2025.
Spektrum 1,4 GHz sendiri disiapkan pemerintah untuk memperluas layanan fixed wireless access (FWA). Jika berhasil dimenangkan, WIFI berpotensi mempercepat penetrasi broadband rumah tangga tanpa menunggu pembangunan serat optik ke setiap lokasi.
Manajemen Jawab Perkembang Akuisisi
Di tengah ekspansi agresif, akuisisi PT Link Net Tbk (LINK) terus menjadi sorotan pasar. Surge sendiri telah memberikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 19 Agustus 2025.
Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk, Shannedy Ong, menegaskan posisi perseroan dalam surat tanggapan kepada BEI. “Terkait akuisisi Link Net, saat ini proses penawaran (bidding) sedang berlangsung. Setiap perkembangan material akan disampaikan selanjutnya, melalui keterbukaan informasi sesuai ketentuan OJK dan BEI yang berlaku,” tulis Shannedy.
Ia juga menambahkan bahwa perseroan tidak dapat mengonfirmasi pemberitaan mengenai Salim Group, Sinar Mas Group, maupun status kepemilikan Axiata setelah transaksi.
“Perseroan tidak dapat mengonfirmasi pemberitaan yang dimaksud,” kata Shannedy dalam surat yang sama.
Pasar merespons rumor ini dengan volatilitas tajam. Harga saham LINK sempat jatuh ke Rp2.700, Selasa, 9 September 2025, lalu melonjak 9,56 persen sehari setelahnya ke Rp2.980, Kamis, 11 September 2025. Dalam dua minggu, LINK sudah naik sekitar 26 persen dari level Rp2.360, Selasa, 26 Agustus 2025. Volume transaksi melonjak, menandakan spekulasi kuat dari trader.
Sebaliknya, saham WIFI bergerak lebih moderat. Pada Kamis, 11 September 2025, saham ditutup Rp2.590, naik tipis 0,78 persen dengan nilai transaksi Rp69,81 miliar. Selama dua minggu terakhir, harga justru terkoreksi sekitar 10 persen dari Rp2.870, Selasa, 26 Agustus 2025. Investor tampaknya menunggu kepastian hasil bidding sebelum mengambil posisi lebih agresif.
Pola ini sejalan dengan tren akuisisi global: saham target biasanya melonjak karena ekspektasi premium, sementara saham pengakuisisi bergerak hati-hati akibat kekhawatiran beban finansial.
Jadi, boleh dibilang ini menjadi katalis yang terus menggerakkan saham LINK sekaligus menempatkan WIFI di pusat perhatian investor. (*)