Insight Daily 10 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

Saham Kertas Grup Sinar Mas Lagi Diskon, Tertarik?

INKP dan TKIM undervalue dengan PBV di bawah 1x; investor menimbang capital gain INKP atau dividen TKIM di tengah tekanan industri.

KABARBURSA.COM – Industri pulp dan kertas Indonesia menutup tahun 2024 dengan capaian ekspansi kapasitas yang cukup signifikan. Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan jumlah unit usaha meningkat menjadi 113 perusahaan, naik dari 103 unit pada 2021. Kapasitas terpasang pulp bertambah dari 10 juta ton menjadi 12,3 juta ton per tahun, sementara...

Industri pulp dan kertas Indonesia menutup tahun 2024 dengan capaian ekspansi kapasitas yang cukup signifikan. (Foto: Dok. APP Group)
Industri pulp dan kertas Indonesia menutup tahun 2024 dengan capaian ekspansi kapasitas yang cukup signifikan. (Foto: Dok. APP Group)

Insight Navigator

  1. 01 Industri Kertas hingga Semester I 2025
  2. 02 INKP: Fundamental Kuat, Jadi Andalan Analis
  3. 03 TKIM: Laba Tergerus, Dividen Dilirik

KABARBURSA.COM – Industri pulp dan kertas Indonesia menutup tahun 2024 dengan capaian ekspansi kapasitas yang cukup signifikan. 

Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan jumlah unit usaha meningkat menjadi 113 perusahaan, naik dari 103 unit pada 2021. Kapasitas terpasang pulp bertambah dari 10 juta ton menjadi 12,3 juta ton per tahun, sementara kapasitas kertas naik dari 18,2 juta ton menjadi 20,86 juta ton per tahun. 

Kontribusi industri pulp dan kertas terhadap ekonomi nasional juga terjaga. Pada 2023, nilai ekspor pulp dan kertas tercatat USD8,37 miliar atau setara Rp131 triliun. 

Angka ini menempatkan Indonesia sebagai peringkat ketujuh dunia dalam industri pulp dan keenam dalam industri kertas. Secara makro, sumbangan sektor ini mencapai sekitar 4 persen dari PDB industri pengolahan nonmigas.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menargetkan pertumbuhan industri sebesar 10 persen year on year (yoy) sepanjang 2024. 

Optimisme tersebut muncul dari prospek ekspor dan momentum politik dalam negeri. Namun, di sisi lain, konsumsi kertas domestik masih terbilang rendah, hanya sekitar 32 kilogram per kapita per tahun. 

Jauh di bawah konsumsi negara maju yang sudah mendekati 200 kilogram per kapita. Kondisi ini menunjukkan peluang pasar domestik masih sangat luas, terutama dengan meningkatnya tren penggunaan kemasan ramah lingkungan dan substitusi plastik.

Dalam konteks ini, investor pasar modal sudah mulai menimbang posisi undervalue industri. Banyak emiten di sektor pulp dan kertas diperdagangkan pada rasio Price to Book Value (PBV) di bawah 1x, termasuk dua emiten Grup Sinar Mas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM). 

Artinya, harga pasar saham-saham ini lebih rendah dari nilai buku perusahaan, membuka ruang bagi investor yang mencari prospek pertumbuhan maupun yield dividen.

Industri Kertas hingga Semester I 2025

Memasuki 2025, industri kertas menghadapi situasi campuran antara peluang dan tekanan. Dari sisi peluang, Kemenperin mencatat nilai ekspor produk pulp dan kertas sudah menembus Rp131 triliun hingga pertengahan tahun. 

Namun, tekanan datang dari sisi biaya produksi. Harga bahan baku dan kebutuhan input strategis seperti garam industri, energi, dan biaya logistik meningkat. 

Regulasi baru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga menjadi sorotan. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2023 yang berlaku mulai 2025 mewajibkan eksportir menahan 100 persen hasil ekspor di perbankan domestik selama 12 bulan. 

APKI menilai regulasi ini memberatkan, karena subsektor pulp dan kertas berbasis hutan tanaman industri seharusnya tidak disamakan dengan kehutanan berbasis hutan alam.

Di tengah tekanan regulasi dan biaya, pemerintah berupaya memberikan dukungan melalui kebijakan lain. Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 39 Tahun 2024 diterbitkan untuk mempermudah impor limbah non-B3 sebagai bahan baku industri, mendukung agenda ekonomi sirkular. Kebijakan ini mendorong penggunaan kertas daur ulang dan penguatan tren green packaging. Pemerintah juga memastikan ketersediaan garam industri untuk mendukung proses produksi pulp.

Kondisi makro ini menempatkan investor pada dilema. Di satu sisi, valuasi emiten kertas sedang berada di level diskon dengan PBV di bawah 1x. Di sisi lain, sentimen global dan kebijakan domestik bisa membatasi laju harga saham. 

INKP: Fundamental Kuat, Jadi Andalan Analis

INKP menjadi salah satu emiten yang mendapat sorotan positif dari analis. Perusahaan mencatat total aset USD12,33 miliar per Juni 2025, naik dari USD11,77 miliar di akhir 2024. Kas dan setara kas bahkan mencapai USD1,89 miliar, menegaskan posisi likuiditas yang kuat.

Struktur permodalan juga solid. Ekuitas pemilik entitas induk sebesar USD 6,55 miliar, dengan Debt-to-Equity Ratio (DER) sekitar 0,88x. Posisi ini menunjukkan beban utang relatif terkendali untuk ukuran perusahaan sebesar INKP. 

Dari sisi likuiditas, current ratio mencapai 1,74x, mencerminkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek dengan nyaman.

Dari sisi valuasi, ekuitas pemilik entitas induk jika dibagi dengan jumlah saham beredar menghasilkan Book Value per Share (BVPS) sekitar Rp11.200. 

Dengan harga saham penutupan 10 September 2025 di Rp7.725, PBV INKP hanya 0,69x. Angka ini menunjukkan saham masih undervalue. Dengan laba tahunan yang relatif stabil, Price to Earnings Ratio (PER) diperkirakan di kisaran 5–6x, relatif murah dibanding rata-rata sektor.

Konsensus analis pasar mendukung pandangan ini. Sebanyak 7 analis memberikan rekomendasi “beli” dengan target harga rata-rata Rp9.988 per saham. 

Target tertinggi bahkan mencapai Rp12.200, memberi potensi kenaikan hingga 58 persen dari harga saat ini. Dukungan konsensus menjadikan INKP pilihan utama bagi investor yang memburu pertumbuhan harga jangka menengah.

TKIM: Laba Tergerus, Dividen Dilirik

TKIM menghadapi cerita berbeda. Sepanjang semester I 2025, perseroan mencatat penjualan neto USD490,36 juta, turun dari USD517,89 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih anjlok 54 persen menjadi USD98,37 juta dari USD215,22 juta. 

Meski laba menurun tajam, TKIM tetap konsisten membagikan dividen. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025, perusahaan menetapkan dividen tunai Rp25 per saham dengan total Rp77,83 miliar. 

Yield dividen relatif kecil, hanya sekitar 0,3 persen dari harga pasar, tetapi memberi sinyal komitmen manajemen menjaga loyalitas pemegang saham.

Secara fundamental, total aset TKIM per Juni 2025 tercatat USD3,95 miliar, dengan ekuitas USD2,77 miliar. Struktur permodalan sangat konservatif, dengan DER hanya sekitar 0,43x. Current ratio 1,32x menunjukkan likuiditas cukup sehat, meski tidak sekuat INKP.

Dari sisi valuasi, ekuitas TKIM menghasilkan BVPS sekitar Rp14.500. Dibanding harga pasar Rp7.400, PBV TKIM hanya 0,51x. Angka ini jauh lebih rendah dari INKP, menegaskan undervaluasi lebih dalam. 

Namun, dengan laba yang merosot tajam, Price to Earnings Ratio (PER) TKIM melonjak hingga sekitar 15–16x, membuat saham tampak lebih mahal dari sisi laba meski PBV rendah.

Dengan valuasi PBV di bawah 1x, investor kini dihadapkan pilihan antara prospek capital gain dari INKP yang solid atau stabilitas dividen dari TKIM, keduanya sama-sama menawarkan diskon menarik di tengah tantangan industri.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya