KABARBURSA.COM - Dunia tengah berpindah dari ketergantungan energi fosil menuju era energi bersih. Indonesia pun ikut menyesuaikan langkah dengan menetapkan target ambisius dalam strategi energi nasional.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 23 persen pada tahun 2025 dan mencapai net-zero emission pada 2060.
Transisi ini tidak hanya menciptakan perubahan dalam struktur penyediaan energi nasional, tetapi juga membuka peluang investasi baru yang tumbuh dari sektor yang sebelumnya dianggap marginal. Pada saat yang sama, pasar modal Indonesia mulai melihat meningkatnya jumlah emiten yang menawarkan eksposur terhadap sektor energi hijau.
Direktur dan Kepala Pasar Modal Saham di PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, beberapa kuartal terakhir, sektor energi terbarukan mulai mendapat atensi dari institusi, termasuk investor global seperti BlackRock dan Norges Bank. Menurutnya, arah investasi di sektor ini tidak sepenuhnya linier.
“Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS, ada kekhawatiran terhadap pelemahan dorongan global untuk investasi bertema ESG, yang dapat mempengaruhi aliran dana ke sektor ini. Meski begitu, prospek jangka menengah hingga panjang tetap konstruktif,” kata Harry Su kepada KabarBursa.com, Sabtu, 7 Juni 2025.
Harry menilai, beberapa emiten di sektor energi hijau memang menunjukkan tanda-tanda overvaluasi, terutama yang banyak mengusung narasi ESG tanpa didukung oleh fundamental yang kuat.
“Dalam kondisi seperti ini, penting bagi investor untuk tidak terbawa euforia. Sikap yang lebih rasional adalah tetap fokus pada kinerja keuangan, transparansi proyek, dan kelayakan ekspansi yang dijanjikan,” kata Harry.
Emiten di Sektor Energi Terbarukan
Emiten energi terbarukan adalah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia yang menjalankan kegiatan usaha utama di sektor pembangkitan atau penyediaan energi yang bersumber dari alam dan dapat diperbarui secara berkelanjutan.
Umumnya, emiten dapat dikatakan “hijau” jika bermain di sektor pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Selain itu, emiten yang bergerak di bidang manufaktur teknologi pendukung seperti panel surya atau sistem distribusi listrik terbarukan juga termasuk dalam cakupan ini, apabila kontribusi energi hijau tersebut signifikan terhadap pendapatan perusahaan.
Dalam memilih emiten untuk artikel ini, KabarBursa.com menggunakan kriteria dari segi pendapatan atau aset perusahaan, serta ketersediaan data fundamental dan teknikal yang relevan.
Adapun tiga emiten yang dipilih adalah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). Ketiganya memiliki pendekatan bisnis yang berbeda, namun sama-sama aktif di sektor energi hijau.
PGEO merupakan anak usaha dari PT Pertamina (Persero) yang mengelola 13 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan kapasitas terpasang yang signifikan. Perusahaan ini sepenuhnya bergerak dalam pengembangan dan pengoperasian energi panas bumi, menjadikannya salah satu pemain utama dalam energi terbarukan di Indonesia.
Berdasarkan data keuangan tahun 2024, PGEO mencatat laba bersih sebesar Rp2,3 triliun dengan margin laba bersih sebesar 30,91 persen. Return on Equity (ROE) berada di level 6,84 persen, sementara rasio utang terhadap ekuitas (DER) cukup rendah di angka 0,38.
Hal ini menunjukkan PGEO memiliki struktur permodalan yang konservatif. Saham ini juga mencatat dividend yield sebesar 7,95 persen, meskipun payout ratio tercatat tinggi di atas 200 persen.
Dari sisi valuasi, rasio Price to Earnings (PER) berada di kisaran 23,96 kali dengan Price to Book Value (PBV) sebesar 1,64. Rasio ini mencerminkan valuasi yang masih relatif wajar di tengah tren ESG. Harga saham PGEO meningkat sebesar 42,78 persen sejak awal tahun hingga pertengahan 2025. Berdasarkan peningkatan tersebut, bisa dilihat apresiasi pasar terhadap performa dan prospeknya.
“Dari sudut pandang valuasi, PGEO merupakan satu-satunya saham di sektor ini yang masih tergolong wajar, terutama jika dilihat dari EV/EBITDA,” kata Harry.
Emiten berikutnya yang masuk jajaran emiten di sektor energi terbarukan adalah BREN. Perusahaan ini merupakan pemilik aset Star Energy Geothermal, salah satu operator panas bumi terbesar di Asia Tenggara. Berbeda dengan PGEO, BREN merupakan bagian dari kelompok usaha Barito Pacific dan memiliki strategi ekspansi yang cukup agresif.
Per akhir kuartal pertama 2025, perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp2,04 triliun dengan margin laba bersih 22,75 persen. ROE berada di angka tinggi yaitu 22,48 persen, namun rasio DER mencapai 3,81 yang menunjukkan tingkat leverage cukup tinggi. Dari sisi valuasi, saham BREN tergolong premium dengan PER sebesar 415,90 dan PBV mencapai 93,48 kali.
Jika dilihat secara teknikal, harga saham BREN mengalami penurunan sebesar 31,54 persen sepanjang tahun berjalan, yang menandai adanya koreksi setelah periode kenaikan yang signifikan tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan mencapai Rp9,6 triliun dengan Free Cash Flow (FCF) sebesar Rp1,62 triliun.
Kemudian ada PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yang berfokus pada pengembangan dan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Berdasarkan laporan keuangan tahun 2024, ARKO mengelola lebih dari 20 anak usaha yang sedang dalam tahap pembangunan maupun pengembangan proyek PLTA dan PLTS di berbagai wilayah di Indonesia.
Pendapatan ARKO tahun 2024 tercatat sebesar Rp264 miliar dengan pertumbuhan tahunan (YoY) mencapai 54,84 persen. Laba bersih sebesar Rp48 miliar memberikan margin laba 29,69 persen. ROE tercatat 10,10 persen dan DER sebesar 0,74.
Meskipun secara profitabilitas menunjukkan tren positif, Free Cash Flow masih negatif, mencerminkan tekanan dari aktivitas ekspansi proyek.
Valuasi ARKO berada pada PER 50,45 dan PBV 5,10, dengan harga saham yang mengalami penurunan 10,87 persen sepanjang tahun berjalan. Perusahaan ini juga menunjukkan likuiditas yang sehat dengan current ratio di atas dua.
“BREN dan ARKO terlihat overvalued dalam konteks pasar Indonesia. Valuasi BREN sudah jauh melewati dasar fundamentalnya, sedangkan harga ARKO mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang belum sepenuhnya didukung oleh skala operasional dan kinerja keuangannya saat ini,” jelas Harry.
Harry menilai, ketiga saham punya karakteristik berbeda. Ia menilai, PGEO lebih stabil dan cocok untuk profil risiko konservatif. Sementara untuk BREN lebih volatil, dengan pergerakan yang sering dipengaruhi sentimen pasar. ARKO berada di tengah, dengan skala lebih kecil dan eksposur terbatas.
“Potensi return tetap ada di ketiganya, tapi dengan tingkat risiko yang tidak sama,” ujarnya.
Mana yang Layak Masuk Watchlist?
Ketiga emiten yang dibahas memiliki karakteristik yang berbeda namun memiliki kesamaan dalam fokus pengembangan energi terbarukan. PGEO, dengan model bisnis yang stabil dan margin laba tinggi, cocok untuk investor yang mencari eksposur terhadap sektor EBT dengan profil risiko rendah. Kinerja keuangannya ditopang oleh arus kas positif dan struktur permodalan yang konservatif, serta distribusi dividen yang konsisten.
Sementara itu, BREN menghadirkan profil yang lebih dinamis dengan pertumbuhan pendapatan yang tinggi dan ROE yang kuat. Namun, valuasinya yang sangat tinggi dan leverage yang besar membuat saham ini lebih cocok untuk investor yang memahami dinamika risiko tinggi dan mampu mengelola fluktuasi harga.
ARKO berada di posisi tengah. Dengan valuasi yang lebih rasional dibanding BREN dan kinerja pertumbuhan yang signifikan di 2024, emiten ini menunjukkan potensi jangka panjang seiring dengan penyelesaian proyek-proyek PLTA yang sedang dibangun. Namun, Free Cash Flow yang masih negatif perlu menjadi perhatian dalam jangka pendek.
Secara umum, ketiga emiten ini layak dipantau sebagai bagian dari portofolio sektor energi terbarukan. Investor dapat menyesuaikan pilihan berdasarkan preferensi terhadap dividen, pertumbuhan, atau prospek jangka panjang dengan risiko yang terukur. (*)