KABARBURSA.COM - Salah satu saham Grup Bakrie tengah menjadi incaran investor. Hal ini tidak terlepas dari dinamika transformasi yang sedang dijalankan perusahaan. Setelah lama dikenal dengan kondisi finansial yang penuh tantangan, emiten ini perlahan menunjukkan sinyal kebangkitan melalui restrukturisasi utang, efisiensi operasional, hingga prospek bisnis yang lebih menjanjikan.
Perubahan fundamental inilah yang kini membuat saham tersebut kembali dilirik pasar, terutama ketika kinerjanya mulai mencatatkan tren positif sejalan dengan dukungan teknikal yang solid.
Dialah Darma Henwa, dengan kode saham DEWA. Menjadi salah satu perusahaan milik Bakrie Group yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan dan energi. Lini usahanya mencakup kontrak alat berat, kontrak aktivitas pertambangan, kontrak pengupasan bumi, konstruksi sipil, dan pemeliharaan.
Saat ini, saham DEWA bisa disebut menjadi juara karena raport hijaunya yang sulit disaingi. Bahkan, para investor ikut mengejarnya. Untuk para investor pemburu cuan, pasti performa kemilau ini sangat menarik perhatian.
Bagi investor baru, ini saatnya. Apakah langsung beli atau masih ingin mempelajari dulu agar lebih yakin? Yuk, disimak analisisnya!
Transformasi Fundamental dan Efisiensi Operasional jadi Magnet
Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) tengah menjadi sorotan investor setelah mencatat kinerja harga yang impresif sepanjang 2025. Pada perdagangan Senin siang, 22 September 2025, harga saham DEWA ditutup di Rp236, melonjak 10,28 persen atau naik 22 poin dengan nilai transaksi mencapai Rp210 miliar dan volume 9,06 juta lot.
Dalam setahun terakhir, saham ini sudah naik lebih dari 244 persen. Bahkan jika dihitung sejak awal tahun, penguatannya mencapai lebih dari 110 persen. Lonjakan ini menempatkan DEWA sebagai salah satu saham dengan performa terbaik di sektor pertambangan jasa, sekaligus menunjukkan minat pasar yang semakin besar.
Dari sisi fundamental, valuasi DEWA memang terlihat cukup mahal jika dibandingkan median IHSG. Price to Earnings Ratio (PER) trailing twelve months tercatat 55,97 kali, jauh di atas median IHSG yang hanya 8,89 kali.
Namun, investor tampaknya melihat ke depan. Forward PER DEWA diproyeksikan turun drastis ke 14,94 kali, menandakan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Kondisi ini juga tercermin dari rasio price-to-book value (PBV) sebesar 1,95 kali, yang masih terbilang moderat untuk saham dengan potensi turnaround yang kuat.
Secara keuangan, DEWA menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang solid. Pada semester pertama 2025, perusahaan berhasil membukukan laba bersih Rp170 miliar, melonjak 1.484 persen secara tahunan.
Margin juga membaik signifikan, dengan Gross Profit Margin kuartalan naik ke 15,07 persen dan Operating Profit Margin mencapai 10,64 persen. Net Profit Margin kini berada di 6,50 persen, jauh lebih baik dibandingkan periode-periode sebelumnya yang kerap mencatat kerugian.
Peningkatan profitabilitas ini tidak terlepas dari strategi efisiensi, termasuk pengurangan ketergantungan pada kontraktor pihak ketiga dan ekspansi armada yang memperkuat kapasitas produksi.
Struktur keuangan DEWA juga menunjukkan perbaikan. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) berada di level 0,48, dengan rasio lancar 1,02, yang berarti perusahaan cukup mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Altman Z-Score sebesar 1,05 memang masih mengindikasikan risiko finansial yang harus diwaspadai, tetapi restrukturisasi utang dan tambahan modal kerja memberi ruang napas yang lebih longgar.
Selain itu, return on equity (ROE) sudah positif di 3,48 persen, sementara return on assets (ROA) 1,69 persen. Artinya, setiap aset perusahaan mulai memberikan kontribusi nyata terhadap laba.
Kinerja kas juga memperlihatkan tantangan tersendiri. Arus kas operasi mencapai Rp1,15 triliun, tetapi arus kas investasi minus Rp2,48 triliun akibat belanja modal yang tinggi, sehingga free cash flow tercatat negatif Rp1,39 triliun.
Hal ini menunjukkan perusahaan masih dalam fase ekspansi dan penguatan operasional, yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi pasar, performa saham DEWA tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam tiga bulan terakhir, harga naik 31,46 persen, sementara dalam enam bulan terakhir melonjak 125 persen.
Bahkan dalam horizon lebih panjang, lima hingga sepuluh tahun, saham ini sudah naik 368 persen, meski perjalanannya diwarnai fluktuasi besar. Kinerja impresif ini sejalan dengan optimisme investor terhadap prospek jangka menengah perusahaan.
Namun, bagi investor yang mencari keuntungan dari dividen, DEWA belum menjadi pilihan utama. Data historis menunjukkan perusahaan belum membagikan dividen, bahkan payout ratio masih nihil. Ini wajar mengingat perusahaan baru masuk fase pemulihan dan masih membutuhkan dana besar untuk ekspansi serta restrukturisasi.
Dengan demikian, keuntungan investor saat ini lebih bersumber dari kenaikan harga saham ketimbang pembagian dividen tunai.
Secara keseluruhan, keunggulan saham DEWA terletak pada potensi pertumbuhan yang besar pasca-transformasi. Kombinasi efisiensi operasional, prospek penambahan kontrak dari anak usaha BUMI, serta peluang diversifikasi melalui eksplorasi mineral baru membuat saham ini kian dilirik.
Meski valuasi saat ini terlihat tinggi, ekspektasi pertumbuhan laba dan perbaikan margin menjadi alasan kuat mengapa investor berani masuk. Bagi mereka yang berfokus pada capital gain, DEWA menawarkan potensi menarik, meski dengan risiko volatilitas yang tetap harus diperhitungkan.
Strategi: Buy on Breakout atau Buy on Weakness
PT Darma Henwa Tbk (DEWA)cukup sukses secara fundamental, kinerja keuangan, maupun performa saham. Tidak heran jika kemudian analis Rita Efendy menilai DEWA masih berpeluang melanjutkan reli, dengan rekomendasi buy on breakout apabila harga mampu ditutup di atas Rp235 sebagai konfirmasi kelanjutan tren bullish.
Selain itu, strategi buy on weakness juga bisa ditempuh di kisaran Rp215–Rp220, level support konsolidasi sekaligus area MA50. Target harga terdekat dipatok di Rp245 dan Rp260, dengan batasan risiko (stop loss) di Rp210 hingga Rp200.
Rekomendasi beli ini tidak lepas dari transformasi fundamental yang sedang dijalankan manajemen. DEWA berhasil melakukan konversi utang Rp1,4 triliun menjadi ekuitas, yang menurunkan rasio utang terhadap ekuitas (DER) menjadi 1,0x dan memperbaiki current ratio ke 1,1x.
Restrukturisasi manajemen serta efisiensi operasional juga menjadi katalis penting, terutama strategi mengurangi ketergantungan pada subcontractor dan memperkuat armada sendiri. Dengan dukungan sindikasi pinjaman Rp3,1 triliun dan pembiayaan vendor XCMG, biaya produksi per bcm dapat ditekan signifikan.
Efek efisiensi ini diyakini akan mendorong pemulihan margin. Gross Profit Margin (GPM) diproyeksikan meningkat hingga 16,3 persen dan Operating Profit Margin (OPM) ke 12,5% pada 2027.
Walau pada 2025 perusahaan masih berpotensi membukukan rugi bersih akibat impairment sekali jalan senilai Rp600 miliar, prospek jangka menengahnya justru lebih menjanjikan.
DEWA diprediksi mampu membukukan laba bersih Rp476 miliar pada 2027, dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) mencapai 207,7 persen periode 2024–2027. EBITDA juga diperkirakan menanjak stabil ke Rp1,8 triliun pada 2027.
Selain transformasi keuangan, DEWA memiliki potensi pertumbuhan captive dari BUMI, induk usahanya. Saat ini, DEWA baru menangani sekitar 21 persen volume overburden (OB) Arutmin dan KPC. Dengan ekspansi armada, peluang memperbesar porsi pekerjaan tanpa harus bersaing di tender terbuka semakin besar.
Katalis lain datang dari eksplorasi non-batucbara. Melalui kepemilikan 99,8 persen PT Gayo Mineral Resources di Aceh, DEWA sedang menjajaki potensi tembaga dan emas yang dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.
Pandangan positif terhadap DEWA juga terlihat dari konsensus analis di Bloomberg. Enam dari tujuh analis memberikan rekomendasi buy, dengan target harga rata-rata Rp353,67 per saham. Target tertinggi mencapai Rp450, yang memberikan potensi kenaikan hampir dua kali lipat dari harga saat ini.
Mandiri Sekuritas, misalnya, memberi target Rp300 dengan pertimbangan valuasi premium dianggap wajar, mengingat prospek pertumbuhan laba dan margin recovery yang lebih unggul dibandingkan perusahaan sejenis.
Dengan kombinasi dukungan teknikal yang solid, momentum transformasi fundamental, prospek margin yang membaik, serta potensi pertumbuhan dari induk usaha dan diversifikasi mineral, DEWA menjadi saham yang menarik untuk diperhatikan.
Bagi investor yang mencari peluang jangka menengah hingga panjang, saham ini layak masuk dalam radar akumulasi. Breakout di atas Rp235 akan menjadi kunci konfirmasi bahwa tren bullish siap berlanjut.
Sinyal Teknikal Harian Masih Menunjukkan Potensi Beli
Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) terus menjadi perhatian pelaku pasar seiring konsistensinya menjaga tren positif. Berdasarkan indikator teknikal harian per 22 September 2025, saham ini masih memancarkan sinyal kuat untuk melanjutkan penguatan.
Mayoritas indikator memberikan rekomendasi sangat beli. Relative Strength Index (RSI) berada di level 61,3, menandakan tren masih sehat di zona bullish. Indikator MACD juga mengkonfirmasi momentum positif, sementara ADX di level 26 menunjukkan kekuatan tren yang mulai solid.
Indikator lain seperti CCI, ROC, hingga Bull/Bear Power ikut mengisyaratkan sentimen positif. Bahkan, indikator Williams %R dan Stochastic RSI sudah masuk kategori jenuh beli, mencerminkan derasnya minat beli meskipun juga memberi peringatan potensi koreksi teknis jangka pendek.
Dari sisi Moving Average, sinyalnya semakin jelas. Semua MA, baik jangka pendek hingga panjang, konsisten mengarah pada posisi beli. MA-5 hingga MA-200 semuanya berada di bawah harga saat ini, memperlihatkan dukungan tren naik yang kuat.
Dengan kondisi ini, support terdekat ada di kisaran Rp212–216, sementara resistance berada di area Rp222–224. Selama harga mampu bertahan di atas Rp216, ruang untuk melanjutkan penguatan tetap terbuka lebar.
Bagi investor yang sudah memegang saham DEWA, sinyal teknikal mengindikasikan posisi ini layak untuk dipertahankan. Momentum tren masih mendukung, sehingga potensi lanjutan kenaikan bisa dimanfaatkan.
Namun, perlu kewaspadaan terhadap kemungkinan koreksi jangka pendek akibat kondisi jenuh beli di beberapa indikator osilator.
Sementara itu, bagi investor baru atau yang berniat menambah portofolio, strategi masuk bisa dilakukan secara bertahap. Jika harga mampu menembus area resistance Rp224 dengan volume besar, peluang breakout akan semakin kuat dan dapat menjadi momentum entry yang lebih aman.
Sebaliknya, jika terjadi koreksi ke area support Rp215–Rp216, akumulasi justru bisa lebih menguntungkan karena menawarkan harga masuk yang lebih rendah.
Secara keseluruhan, teknikal harian DEWA masih berpihak pada tren kenaikan dengan sinyal sangat beli. Rekomendasi dominan saat ini adalah tetap buy, baik untuk investor lama yang mempertahankan posisi maupun investor baru yang ingin masuk.
Hanya saja, disiplin dalam menetapkan level cut loss di bawah support penting tetap diperlukan, mengingat volatilitas saham ini cukup tinggi. Dengan tren yang solid dan dukungan teknikal yang kuat, DEWA masih menjadi saham yang menarik untuk diperhatikan dalam jangka pendek maupun menengah.(*)