Investor Ritel Mendominasi, Asing Mulai Masuk Pelan-pelan
Saham DEWA menunjukkan geliat signifikan. Harga saham emiten kontraktor tambang ini ditutup menguat di level Rp236 per saham dengan kenaikan harian sebesar 8,26 persen dan melambung 10,28 persen dalam sepekan terakhir. Kenaikan harga ini tak berdiri sendiri, melainkan diiringi oleh arus dana yang cukup padat dari investor domestik dan sinyal awal akumulasi dari investor asing.
Dalam catatan transaksi yang dihimpun Stockbit, pergerakan DEWA hari itu ditopang oleh net buy asing sebesar Rp28,2 miliar. Meski porsi asing dalam keseluruhan aktivitas masih tergolong kecil, yakni hanya 20,5 persen dari total volume dan 14,2 persen dari frekuensi perdagangan. Tren ini memberi indikasi awal bahwa saham ini mulai masuk dalam radar pelaku pasar institusional global. Namun yang paling mencolok justru datang dari investor domestik.
Investor lokal mendominasi lebih dari tiga perempat aktivitas perdagangan. Secara volume, investor dalam negeri menyumbang 79,5 persen dari seluruh transaksi dan secara frekuensi menyentuh 85,8 persen. Tingginya partisipasi ritel lokal di saham ini menunjukkan bahwa DEWA tengah mengalami fase local-driven rally, yakni lonjakan harga yang dipicu oleh keyakinan pelaku pasar domestik terhadap prospek emiten ini.
Fenomena ini menandai sesuatu yang tak lazim di sektor tambang yang sedang lesu. Di saat banyak saham kontraktor batu bara berada dalam tren menyamping atau cenderung menurun akibat ekspektasi penurunan produksi nasional dan pelemahan harga global, DEWA justru bergerak melawan arus. Volume transaksi yang tinggi, disertai lonjakan harga.
Hal ini mengisyaratkan bahwa saham ini tidak hanya ramai diperjualbelikan, tetapi juga sedang masuk ke dalam fase akumulasi aktif. Minat beli meningkat secara signifikan. Untuk emiten dengan kapitalisasi menengah seperti DEWA, ini cukup untuk menggeser harga secara agresif dalam waktu singkat.
Bagi sebagian investor, komposisi arus dana semacam ini bisa menjadi sinyal awal perubahan tren. Apalagi jika dibarengi dengan lonjakan volume dan penguatan harga seperti yang terjadi sekarang. Yang menarik, kenaikan ini juga bertepatan dengan mulai santernya ekspektasi pasar terhadap proyeksi laba DEWA tahun 2025 yang mencuat tajam karena didorong oleh transformasi bisnis dan potensi kontrak afiliasi dari grup Bakrie.
Transformasi Bisnis Dorong Laba DEWA Melejit Ribuan Persen
Di tengah tekanan berat sektor kontraktor tambang, DEWA justru tampil sebagai pengecualian. Emiten ini menampilkan narasi pertumbuhan yang berangkat bukan dari faktor eksternal seperti lonjakan harga batu bara atau ekspansi pasar global, melainkan dari transformasi internal yang tengah dijalankan secara sistematis. Data yang dihimpun Stockbit menunjukkan bahwa DEWA diproyeksikan mengalami lonjakan laba luar biasa dalam tiga tahun ke depan.
Jika pada 2024 laba bersih DEWA hanya sekitar Rp16 miliar, maka pada 2025 diperkirakan melonjak hingga Rp525 miliar—pertumbuhan sebesar +3.116 persen hanya dalam satu tahun. Pertumbuhan ini bukanlah anomali satu tahun belaka. Proyeksi yang dihimpun dalam jangka menengah bahkan menunjukkan kelanjutan tren yang mengesankan, yakni Rp1,05 triliun pada 2026 dan Rp1,45 triliun pada 2027. Secara keseluruhan, laba bersih DEWA diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 216 persen dalam periode 2024–2028.
Pertumbuhan itu tidak berdiri sendiri. Margin juga ikut membaik secara substansial. Margin laba bersih DEWA diproyeksikan naik menjadi 15,1 persen pada 2027, dari sebelumnya hanya 0,3 persen pada 2024. Bahkan margin EBITDA diproyeksikan melonjak dari 14,9 persen (2024) menjadi 34,5 persen pada 2027. Ini mencerminkan efisiensi operasional yang jauh lebih sehat.
Riset Stockbit Sekuritas menjelaskan pendorong utama dari pertumbuhan ini adalah peralihan strategi DEWA ke model operasional berbasis in-house, yang berarti pengerjaan tambang dilakukan secara langsung oleh tim internal, bukan lagi sepenuhnya mengandalkan subkontraktor. Strategi ini dinilai mampu menekan biaya, meningkatkan kendali kualitas, sekaligus memperkuat posisi DEWA dalam mendapatkan margin lebih tinggi dari proyek-proyek yang dikerjakan.
Tak hanya itu, potensi tambahan kontrak dari perusahaan afiliasi, terutama dari grup Bakrie seperti PT Bumi Resources Minerals (BRMS) menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang diperhitungkan pasar.
“Kami melihat DEWA masih memiliki potensi upside jika berkaca dari Bumi Resources Minerals—sister company DEWA yang harga sahamnya juga diperdagangkan secara premium, yakni berdasarkan proyeksi laba bersih 2–3 tahun ke depan,” tulis Hendriko Gani, Theodorus Melvin, dan Edi Chandren, tim analis dari Stockbit Sekuritas.
Dengan asumsi kinerja yang terus membaik, valuasi saham DEWA saat ini masih terbilang konservatif. Pada harga Rp204 per 22 Juli 2025, saham ini diperdagangkan pada 15,8 kali estimasi laba (P/E) 2025 dan hanya 7,9 kali P/E 2026. Bandingkan dengan emiten-emiten tambang lain yang kerap dihargai lebih tinggi, meskipun pertumbuhannya lebih stagnan.
Dalam jangka panjang, analis memperkirakan bahwa DEWA dapat dihargai setara 6,7 kali P/E 2028 atau dengan kata lain, target harga yang wajar adalah Rp270 per saham yang mengindikasikan potensi kenaikan +32 persen dari harga referensi saat riset dibuat.
Yang menarik, lonjakan kinerja ini terjadi di tengah lesunya industri kontraktor tambang secara umum. Riset yang sama menyoroti bagaimana produksi batubara nasional diproyeksikan turun 11 persen secara tahunan pada 2025 dan masih berpotensi menurun pada 2026. Lemahnya permintaan dari China dan India—dua pasar utama batu bara Indonesia—menjadi penyebab utama tren tersebut.

Di sisi lain, sektor nikel yang digadang-gadang sebagai sumber pertumbuhan baru, ternyata belum cukup mampu menggantikan kontribusi batu bara secara volume. Dengan stripping ratio yang lebih rendah dan volume overburden yang hanya setara 10 persen dari batu bara, sektor nikel memang menarik, tetapi secara skala belum bisa menutupi kehilangan dari sisi batubara.

Dalam kondisi seperti itu, DEWA muncul sebagai pengecualian yang patut dicermati. Perusahaan ini tidak menggantungkan nasib pada dinamika pasar komoditas semata, melainkan membangun keunggulan kompetitif dari dalam, yakni melalui efisiensi operasional, relasi grup, dan kemampuan mengelola proyek sendiri secara penuh.
Sinyal Teknikal Masih Dominan Positif
Secara teknikal, saham DEWA per 28 Juli 2025 menunjukkan sinyal yang secara umum masih berpihak pada tren penguatan. Berdasarkan indikator Investing, DEWA berada dalam posisi “strong buy” baik dari sisi moving averages maupun indikator teknikal momentum. Seluruh indikator utama menunjukkan kecenderungan naik, tanpa satu pun sinyal jual yang terkonfirmasi.
Dari sisi moving averages, seluruh garis rata-rata jangka pendek hingga panjang, mulai dari MA5 hingga MA200, telah ditembus ke atas oleh harga saham saat ini. MA5 berada di level Rp235,20 dan MA200 di Rp188,71, semuanya memberi sinyal beli. Hal ini menandakan bahwa tren penguatan DEWA sudah berlangsung cukup lama dan berkesinambungan, setidaknya dalam dua hingga tiga bulan terakhir.
Pada kelompok indikator teknikal lainnya, konfirmasi “strong buy” juga muncul dari MACD, ADX, CCI, hingga Rate of Change (ROC) dan Bull/Bear Power, yang kesemuanya mengindikasikan tekanan beli yang masih mendominasi. Nilai MACD (12,26) tercatat sebesar 7,159 dan memberi sinyal positif, sementara ADX di angka 41,787 menunjukkan tren yang kuat. Bahkan Ultimate Oscillator di level 61,718 masih mencerminkan bias bullish.
Namun demikian, terdapat beberapa indikator yang mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh beli alias overbought. Indeks RSI berada di level 70,95, mendekati batas atas jenuh beli. Lebih mencolok lagi, indikator STOCHRSI(14) menyentuh level 100, dan Williams %R tercatat di -7,692, keduanya menegaskan bahwa secara momentum, harga DEWA mungkin telah bergerak terlalu jauh dalam waktu singkat. Dalam konteks ini, potensi konsolidasi jangka pendek tetap terbuka, meski tren besar masih berada dalam fase naik.
Dari sisi pola candlestick, pergerakan DEWA juga memperlihatkan formasi yang menarik. Dalam dua pekan terakhir, telah muncul pola Three Inside Up (21 Juli), Harami Bullish dan Harami Cross (18 Juli), serta sebelumnya Bullish Engulfing (15 Juli). Semuanya adalah pola pembalikan positif yang seringkali mengindikasikan kelanjutan tren naik. Munculnya pola-pola ini secara berurutan memperkuat argumen bahwa fase penguatan DEWA memang mendapat dukungan psikologis dari pasar.
Meski demikian, riwayat pola candlestick juga memperlihatkan bahwa DEWA bukan tanpa tekanan dalam perjalanannya. Beberapa pola bearish sempat muncul di rentang Mei hingga Juni, seperti Three Black Crows, Evening Doji Star, dan Engulfing Bearish, walau dalam konteks saat ini, tekanan tersebut telah berhasil diredam dan dibalikkan.
Secara keseluruhan, sinyal teknikal DEWA menunjukkan bahwa tren naik masih dominan. Namun, beberapa indikator momentum yang mulai menyentuh area jenuh beli dapat menjadi isyarat bagi pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap potensi koreksi jangka pendek, terutama jika tekanan jual meningkat seiring dengan profit taking setelah reli panjang.(*)