KABARBURSA.COM - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah diselimuti angin segar setelah dana investor asing mengalir deras ke saham.
Merujuk data perdagangan Stockbit pada Rabu, 10 Desember 2025, aktivitas modal luar negeri cukup dominan dibanding aksi distribusi.
UBS Sekuritas (AK) menjadi broker yang menampung dana asing untuk membeli saham BUMI sebesar Rp480,9 miliar atau sebanyak 15,7 juta lot di harga rata-rata Rp313.
Tak ketinggalan, Mandiri Sekuritas (CC) turut menyerok saham BUMI sebesar Rp174,9 miliar atau 5,5 juta lot di rentang harga Rp320.
BUMI juga menarik perhatian investor asing melalui Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) yang membeli Rp117,9 miliar sebanyak 3,7 juta lot di harga rata-rata Rp322.
Selain itu, broker JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) dan Yulie Sekuritas Indonesia Tbk (RS) juga terlihat mengakumulasi BUMI masing-masing sebesar Rp61 milar dan Rp1,1 miliar.
Di sisi lain, investor asing juga tampak menjual saham BUMI meski tidak sebanyak akumulasi. CGS International Sekuritas Indonesia (YU) melepas saham senilai Rp287,4 miliar sebanyak 9,1 juta lot di harga rata-rata Rp314.
Broker CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) juga membuang saham BUMI Rp5,1 miliar atau 155 ribu lot di rentang harga Rp328. Masih ada beberapa broker yang menampung dana asing untuk melepas saham BUMI, namun harganya tidak terlalu besar dibanding dua broker tersebut.
Sementara itu, struktur orderbook BUMI pada perdagangan Kamis, 11 Desember 2025 menunjukkan aktivitas transaksi yang sangat tebal dengan pola negosiasi intens di rentang harga Rp326 hingga Rp344.
Mengutip data Stockbit pukul 9:36 WIB, penumpukan beli terbesar muncul pada rentang 318 hingga 322, masing-masing dengan lot mencapai 1,66 juta, 1,32 juta, dan 743 ribu.
Dari sisi offer, penjual terbesar terlihat di rentang harga atas, antara Rp336 hingga Rp344, dengan masing-masing level mencatatkan 1,57 juta lot dan 1,75 juta lot.
Adapun, pada hari ini, saham BUMI dibuka menguat 3,07 persen pada level Rp336, lebih tinggi dari penutupan sebelumnya di Rp326. Harga sempat menyentuh level tertinggi di Rp350 dan terendah pada Rp326, dengan rata-rata transaksi berada di Rp335.
Sepanjang satu minggu terakhir, BUMI mencatat kenaikan 35,54 persen dari level Rp236 menuju Rp336. Kenaikan lebih besar terlihat dalam periode satu bulan, ketika harga melonjak 118,67 persen dari Rp150 menjadi Rp336.
Tren serupa terjadi pada periode tiga bulan, dengan penguatan mencapai 200,92 persen dari Rp107. Dalam enam bulan terakhir, BUMI turut menguat 168,85 persen dari posisi awal Rp103.
Secara year-to-date, BUMI mencatat kenaikan 177,97 persen dari Rp70 menuju Rp336. Kinerja setahun terakhir juga masih mencatat pertumbuhan 121,62 persen.
Pada horizon tiga tahun, saham ini tumbuh 90,70 persen dari Rp69. Sementara itu, sepanjang lima tahun BUMI mencatat apresiasi 368,57 persen, dan dalam sepuluh tahun terakhir meningkat 556 persen dengan rentang historis Rp50 hingga Rp520.
BUMI Rampungkan Akuisisi Wolfram, Masuk Emas–Tembaga
Belum lama ini diberitakan, BUMI telah merampungkan akuisisi 99,68 persen saham Wolfram Limited, perusahaan tambang emas dan tembaga berbasis di Australia, setelah memperoleh persetujuan Australian Foreign Investment Review Board (FIRB) pada 8 Oktober 2025.
Perseroan menyatakan proses menuju kepemilikan penuh 100 persen ditargetkan selesai pada November 2025. Aksi korporasi ini menandai perluasan portofolio BUMI dari batubara ke mineral strategis dan kritis yang tengah diburu pasar global.
Manajemen menegaskan akuisisi Wolfram sejalan dengan strategi diversifikasi jangka panjang, termasuk membuka peluang hilirisasi di komoditas emas dan tembaga.
“Dengan selesainya transaksi ini, Bumi Resources mengambil langkah penting dalam perjalanan diversifikasinya,” ujar Adika Nuraga Bakrie, Presiden Direktur Bumi Resources.
Ia menambahkan, ekspansi ke mineral strategis dan mineral kritis sejalan dengan tren permintaan global serta memperkuat komitmen kami terhadap pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
BUMI menyebut akuisisi ini memberi akses pada potensi produksi emas dan tembaga dalam jangka dekat. Kontribusi tersebut diharapkan memperbaiki profil pendapatan sekaligus menambah nilai bagi pemegang saham di luar siklus batubara.(*)