KABARBURSA.COM - Pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) terkoreksi sebesar 2,07 persen atau turun 60 poin ke level Rp2.840.
Meski mengalami pelemahan, data transaksi memperlihatkan investor asing tetap mengakumulasi saham emiten produsen dan distributor suku cadang kendaraan ini.
Berdasarkan data transaksi di Stockbit, broker AI tercatat menjadi pihak yang menampung nilai pembelian asing terbesar dengan total buy value mencapai sekitar Rp4 miliar melalui 14 ribu lot pada harga rata-rata Rp2.891.
Aktivitas tersebut diikuti oleh broker AK yang membukukan pembelian senilai Rp2,3 miliar dengan volume 8 ribu lot di harga rata-rata Rp2.874.
Selain itu, broker BB juga masuk dalam jajaran pembeli utama dengan nilai transaksi mencapai Rp1,5 miliar atau setara 5,1 ribu lot di kisaran harga rata-rata Rp2.886.
Tidak hanya itu, tekanan beli juga terpantau datang dari broker TP yang mencatatkan pembelian senilai Rp313,1 juta dengan 1,1 ribu lot di harga rata-rata Rp2.852, serta broker CC yang mengakumulasi sekitar Rp200,8 juta melalui 712 lot pada harga rata-rata Rp2.868.
Aktivitas serupa juga dilakukan oleh broker QA, NI, dan HD, meskipun dengan nilai yang relatif lebih kecil, masing-masing di kisaran Rp22,8 juta, Rp12,1 juta, dan Rp7,7 juta.
Di sisi lain, tekanan distribusi tercatat lebih terbatas dengan broker BK menjadi penjual terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp1,4 miliar melalui 4,9 ribu lot.
Aksi jual juga dilakukan oleh broker ZP dengan nilai sekitar Rp416,1 juta atau 1,4 ribu lot. Meski demikian, secara keseluruhan, komposisi nilai transaksi menunjukkan dominasi aktivitas pembelian dibandingkan penjualan.
Menariknya, rata-rata harga pembelian oleh broker-broker utama berada di rentang Rp2.852 hingga Rp2.891. Kondisi ini mengindikasikan bahwa banyak yang memanfaatkan fase koreksi sebagai momentum untuk membangun posisi.
Dengan latar belakang tersebut, pelaku pasar akan mencermati keberlanjutan akumulasi asing pada saham AUTO dalam beberapa sesi perdagangan mendatang, guna mengonfirmasi apakah pergerakan ini merupakan bagian dari strategi positioning jangka menengah atau sekadar respons taktis terhadap dinamika pasar jangka pendek.
Adapun, kinerja saham AUTO masih menunjukkan penguatan yang solid dalam beberapa periode waktu. Dalam sepekan terakhir, saham ini masih mencatatkan kenaikan sebesar 3,27 persen, sementara dalam satu bulan terakhir telah menguat hingga 12,25 persen.
Tren positif tersebut juga tercermin dalam horizon tiga bulan dan enam bulan, masing-masing dengan apresiasi sebesar 13,60 persen dan 19,83 persen.
Secara year-to-date (YTD), saham AUTO masih mencatatkan kenaikan sebesar 5,58 persen. Bahkan dalam periode satu tahun terakhir, saham ini telah membukukan lonjakan hingga 46,02 persen.
Apresiasi jangka panjang juga terlihat dari performa tiga tahun dan lima tahun yang masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 68,55 persen dan 167,92 persen.
Dari sisi pandangan analis, konsensus terhadap saham AUTO juga menunjukkan sentimen yang cenderung positif. Berdasarkan pemantauan terhadap 10 analis yang memberikan penilaian di Stockbit, seluruhnya merekomendasikan aksi beli, tanpa adanya rekomendasi jual.
Hal ini bisa dilihat sebagai keyakinan bahwa prospek kinerja perseroan masih memiliki ruang pertumbuhan ke depan, sejalan dengan potensi perbaikan permintaan domestik dan stabilisasi sektor otomotif nasional.
Lebih lanjut, target harga rata-rata yang diberikan analis terhadap saham AUTO berada di level Rp3.156, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp3.350 dan estimasi terendah di kisaran Rp2.800.
Dengan posisi harga saat ini di sekitar Rp2.840, saham AUTO masih memiliki potensi kenaikan menuju target konsensus tersebut, yang mencerminkan adanya ruang upside di tengah fase konsolidasi harga.
Dengan dukungan konsensus analis yang tetap positif serta performa historis yang menunjukkan tren penguatan, saham AUTO masih menjadi salah satu emiten sektor komponen otomotif yang menarik untuk dicermati oleh pelaku pasar.
Kinerja Keuangan 2025
AUTO mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025. Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang telah dipublikasikan, Perseroan membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp19,91 triliun hingga akhir Desember 2025, meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp19,07 triliun.
Seiring dengan pertumbuhan pendapatan, beban pokok penjualan turut meningkat menjadi Rp16,54 triliun dari Rp16,01 triliun pada 2024. Namun demikian, laba bruto Perseroan tetap mencatatkan kenaikan menjadi Rp3,37 triliun dibandingkan Rp3,07 triliun pada periode sebelumnya.
Perseroan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp2,35 triliun. Dari jumlah tersebut, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp2,21 triliun, meningkat dibandingkan Rp2,03 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset Perseroan meningkat menjadi Rp22,62 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp21,03 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Peningkatan aset terutama didorong oleh pertumbuhan kas dan setara kas yang mencapai Rp4,53 triliun dari Rp3,61 triliun pada tahun 2024, serta kenaikan investasi pada ventura bersama dan entitas asosiasi masing-masing menjadi Rp5,05 triliun dan Rp2,38 triliun.
Sementara itu, total liabilitas tercatat sebesar Rp5,65 triliun, meningkat dari Rp5,44 triliun pada tahun sebelumnya. Meski demikian, ekuitas Perseroan masih menunjukkan penguatan menjadi Rp16,96 triliun dari Rp15,59 triliun pada akhir 2024.
Fundamental keuangan AUTO menunjukkan profil yang relatif solid, tercermin dari rasio solvabilitas dan profitabilitas yang masih berada dalam level sehat di tengah dinamika industri otomotif.
Berdasarkan data kuartalan terbaru, AUTO membukukan current ratio sebesar 2,21 dan quick ratio di level 1,65. Capaian ini mengindikasikan bahwa perseroan memiliki likuiditas yang memadai untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya tanpa harus bergantung pada penjualan persediaan, sekaligus mencerminkan efisiensi dalam pengelolaan aset lancar.
Dari sisi struktur permodalan, AUTO mencatatkan debt to equity ratio (DER) sebesar 0,04, yang menandakan tingkat leverage yang sangat rendah.
Hal tersebut memberikan fleksibilitas finansial yang lebih besar dalam menghadapi potensi tekanan eksternal maupun dalam mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Sementara itu, kinerja profitabilitas perseroan juga mencerminkan kemampuan menghasilkan laba yang stabil. Return on Assets (ROA) secara trailing twelve months (TTM) tercatat sebesar 9,75 persen sedangkan Return on Equity (ROE) berada di level 14,06 persen.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa manajemen mampu mengoptimalkan pemanfaatan aset serta ekuitas untuk menghasilkan imbal hasil yang kompetitif bagi pemegang saham.
Di sisi margin, AUTO membukukan gross profit margin sebesar 18,79 persen pada kuartal berjalan, diikuti operating profit margin sebesar 6,77 persen dan net profit margin sebesar 12,48 persen.
Struktur margin tersebut menunjukkan efisiensi operasional yang tetap terjaga, sekaligus menunjukkan kemampuan perseroan dalam mempertahankan profitabilitas di tengah tantangan biaya produksi dan fluktuasi permintaan pasar otomotif.
Tidak hanya itu, daya tarik saham AUTO juga didukung oleh kebijakan dividen yang relatif konsisten. Secara trailing twelve months, perseroan mencatatkan pembagian dividen sebesar Rp192 per saham dengan payout ratio mencapai 41,97 persen.
Hal ini sejalan dengan dividend yield yang berada di kisaran 6,76 persen, menjadikan AUTO sebagai salah satu emiten sektor komponen otomotif dengan imbal hasil dividen yang kompetitif di pasar.
Adapun tanggal ex-dividend terakhir tercatat pada 15 Oktober 2025, sebagai komitmen perusahaan dalam mendistribusikan sebagian laba kepada pemegang saham secara berkelanjutan.
Dengan kombinasi rasio likuiditas yang sehat, tingkat leverage yang rendah, profitabilitas yang stabil, serta yield dividen yang menarik, AUTO memperlihatkan fundamental keuangan yang mampu menopang kinerja dalam jangka menengah hingga panjang di tengah dinamika siklus industri otomotif. (*)