KABARBURSA.COM – Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa sesi terakhir hingga mencapai level 6.325.
Harga tersebut tidak bergerak pada Rabu, 1 April 2026, karena pasar belum dibuka dan masih menunggu sesi perdagangan reguler. Kenaikan ini terjadi setelah harga bergerak dari kisaran 4.800 sejak pertengahan Maret.
Pergerakan harga berlangsung bertahap dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Pada 31 Maret 2026, RLCO ditutup menguat 8,12 persen ke level 6.325 dari posisi pembukaan 5.900. Nilai transaksi tercatat Rp33,01 miliar dengan volume 52,03 ribu lot dan frekuensi 8,25 ribu kali.
Kenaikan harga terjadi di tengah arus dana asing yang masih mencatat pembelian bersih, meski dengan nilai yang tidak sebesar periode sebelumnya.
Data menunjukkan pembelian asing sebesar Rp8,71 miliar dan penjualan Rp5,11 miliar. Selisih tersebut menghasilkan net foreign buy sebesar Rp3,60 miliar dalam satu sesi.
Arus dana asing tersebut merupakan bagian dari rangkaian pembelian dalam beberapa hari terakhir. Data historis menunjukkan pembelian bersih terjadi selama 15 hari berturut-turut dengan nilai yang berfluktuasi. Dalam periode tersebut, harga bergerak naik dari level 4.800 hingga mencapai 6.325.
Namun, nilai pembelian bersih pada sesi terakhir tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata sebelumnya. Net foreign buy sebesar Rp3,60 miliar berada di bawah MA10 sebesar Rp11,36 miliar. Perbandingan ini menunjukkan perubahan intensitas arus dana asing.
Di sisi teknikal, posisi harga berada di atas rata-rata pergerakan jangka pendek. Harga 6.325 tercatat berada di atas MA5 di 5.590, MA10 di 5.502, dan MA20 di 5.944.
Kondisi ini mengarahkan perhatian pada struktur transaksi dan perubahan pola aktivitas pelaku pasar dalam beberapa sesi terakhir.
Asing Konsisten Masuk, Tekanan Mulai Terlihat
Arus dana asing masih mencatat pembelian bersih pada perdagangan terakhir. Nilai pembelian sebesar Rp8,71 miliar lebih tinggi dibandingkan penjualan Rp5,11 miliar. Selisih tersebut menghasilkan net foreign buy sebesar Rp3,60 miliar.
Dari sisi volume, investor asing mencatat pembelian sebesar 1,38 juta saham. Penjualan tercatat 806,8 ribu saham dalam periode yang sama. Selisih ini menghasilkan akumulasi bersih sekitar 573 ribu saham.
Komposisi transaksi menunjukkan porsi asing berada di bawah dominasi domestik. Kontribusi asing tercatat sekitar 20,94 persen dari total nilai transaksi. Sementara itu, investor domestik menguasai sekitar 79,06 persen.
Aktivitas domestik menunjukkan tekanan jual yang lebih besar dibandingkan pembelian. Nilai penjualan domestik mencapai Rp27,90 miliar, sedangkan pembelian sebesar Rp24,30 miliar. Selisih tersebut mencerminkan distribusi pada sisi domestik.
Distribusi ini juga terlihat pada data volume transaksi. Volume penjualan domestik mencapai 4,40 juta saham, sementara pembelian sebesar 3,83 juta saham. Komposisi ini menunjukkan tekanan pada sisi penawaran.
Jika dilihat dari frekuensi transaksi, aktivitas domestik juga lebih dominan. Frekuensi jual domestik mencapai 7,52 ribu kali, sementara beli sebesar 6,92 ribu kali. Pada sisi asing, frekuensi beli tercatat 1,33 ribu kali dan jual 733 kali.
Dalam konteks lebih panjang, arus dana asing tercatat konsisten dalam beberapa sesi terakhir. Pembelian bersih terjadi selama 15 hari berturut-turut dengan nilai yang bervariasi. Pola ini menunjukkan keberlanjutan arus dana asing dalam periode tersebut.
Namun, jika dibandingkan dengan rata-rata historis, nilai pembelian bersih terbaru menunjukkan penurunan. Net foreign buy sebesar Rp3,60 miliar berada di bawah MA10 sebesar Rp11,36 miliar. Perbandingan ini menggambarkan penurunan intensitas arus dana.
Sementara itu, akumulasi asing tetap tercermin pada indikator foreign flow. Nilai foreign flow tercatat sebesar Rp274,28 miliar, lebih tinggi dibandingkan MA20 sebesar Rp181,11 miliar. Data ini menunjukkan arus dana yang masih berjalan dalam jangka menengah.
Kondisi tersebut menempatkan arus dana asing dalam dua lapisan yang berbeda. Dalam jangka pendek, intensitas pembelian terlihat menurun dibandingkan rata-rata. Dalam jangka menengah, akumulasi masih tercatat lebih tinggi dari rata-rata historis.
Arus dana asing yang masih mencatat pembelian berjalan bersamaan dengan tekanan jual dari sisi domestik. Komposisi transaksi menunjukkan distribusi pada sisi penawaran dalam periode yang sama. Data ini menempatkan pergerakan dalam dua arah yang berlangsung bersamaan.
Broker Berubah Arah, Distribusi Kembali Muncul
Pergerakan broker menunjukkan pola transaksi yang berubah dalam beberapa fase waktu. Data periode 9 hingga 12 Maret mencatat dominasi akumulasi dengan kategori big accumulation. Nilai transaksi bersih berada pada kisaran Rp2,4 miliar hingga Rp2,9 miliar dalam beberapa sesi.
Mandiri Sekuritas (CC), Samuel Sekuritas Indonesia (IF), dan CGS International Sekuritas Indonesia (YU) tercatat aktif pada fase awal tersebut. Aktivitas pembelian juga terlihat pada Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan Erdikha Elit Sekuritas (AO). Komposisi ini menunjukkan keterlibatan beberapa broker utama dalam fase akumulasi awal.
Memasuki periode 13 Maret, struktur transaksi mulai menunjukkan perubahan. Aktivitas distribusi muncul meski status agregat masih mencatat akumulasi. Broker seperti Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) dan CC tercatat dalam sisi penjual.
Pada 16 hingga 17 Maret, distribusi terlihat lebih kuat dibandingkan fase sebelumnya. Data mencatat kategori distribution hingga big distribution dalam dua sesi tersebut. Aktivitas jual tercatat pada Semesta Indovest Sekuritas (MG) dan JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK).
Setelah fase distribusi, pergerakan broker kembali menunjukkan pola akumulasi. Pada periode 25 hingga 27 Maret, status transaksi kembali ke kategori akumulasi hingga big accumulation. Nilai transaksi bersih meningkat hingga kisaran Rp5 miliar sampai Rp6,1 miliar.
IF menjadi salah satu broker dominan dalam fase ini. Aktivitas pembelian juga tercatat pada AK dan ZP. Di sisi lain, distribusi tetap muncul melalui CC dan MG.
Pada 30 Maret, pola akumulasi masih terlihat dengan kategori big accumulation. IF mencatat pembelian terbesar dengan nilai Rp4,3 miliar. Aktivitas ini berjalan di tengah distribusi oleh AK dan Stockbit Sekuritas Digital (XL).
Memasuki 31 Maret, struktur transaksi kembali menunjukkan perubahan. Status transaksi tercatat sebagai distribusi dengan nilai Rp4,1 miliar. Komposisi broker mencatat 23 pembeli dan 19 penjual dalam satu sesi.
Aktivitas pembelian pada periode ini tercatat pada AK, XL, dan ZP. Sementara itu, distribusi terlihat melalui IF, CC, dan AO. Data ini menunjukkan perubahan arah aktivitas pada level harga yang lebih tinggi.
Selain broker utama tersebut, aktivitas juga tersebar pada beberapa sekuritas lain. BNI Sekuritas (NI), Indo Premier Sekuritas (PD), Bahana Sekuritas (DX), Sucor Sekuritas (AZ), dan Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG) turut tercatat dalam distribusi transaksi. Partisipasi juga terlihat dari Supra Sekuritas Indonesia (SS), Waterfront Sekuritas Indonesia (FZ), Ciptadana Sekuritas Asia (KI), Verdhana Sekuritas Indonesia (BB), dan Macquarie Sekuritas Indonesia (RX).
Keterlibatan broker lain juga terlihat pada Ajaib Sekuritas Indonesia (XC), Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (MU), BRI Danareksa Sekuritas (OD), dan Danatama Makmur Sekuritas (II). Selain itu, Yakin Bertumbuh Sekuritas (YB), OCBC Sekuritas Indonesia (TP), dan KGI Sekuritas Indonesia (HD) juga tercatat dalam aktivitas transaksi.
Data ini menunjukkan sebaran aktivitas yang luas dalam beberapa fase perdagangan.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan pola yang berulang dalam beberapa sesi terakhir. Aktivitas bergerak dari akumulasi, beralih ke distribusi, kembali ke akumulasi, lalu muncul distribusi kembali. Urutan ini mencerminkan dinamika transaksi dalam periode yang berdekatan.
Harga Tinggi, Pola Transaksi Berubah
Posisi harga RLCO saat ini berada di atas rata-rata pergerakan jangka pendek. Harga 6.325 tercatat berada di atas MA5 di 5.590, MA10 di 5.502, dan MA20 di 5.944. Struktur ini menunjukkan harga berada dalam tren pergerakan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata historisnya.
Dalam sisi arus dana, investor asing masih mencatat pembelian bersih meski dengan nilai yang lebih rendah. Net foreign buy sebesar Rp3,60 miliar berada di bawah MA10 sebesar Rp11,36 miliar. Sementara itu, foreign flow sebesar Rp274,28 miliar masih berada di atas MA20 sebesar Rp181,11 miliar.
Perbandingan ini menunjukkan dua lapisan arus dana dalam periode yang sama. Dalam jangka pendek, intensitas pembelian asing terlihat lebih rendah dibandingkan rata-rata. Dalam jangka menengah, akumulasi tetap tercatat lebih tinggi dari rata-rata historis.
Dari sisi harga, pergerakan RLCO menunjukkan kenaikan bertahap dalam beberapa sesi terakhir. Harga bergerak dari level 4.800 pada 25 Maret hingga mencapai 6.325 pada 31 Maret. Rentang ini menunjukkan perubahan harga dalam periode waktu yang relatif singkat.
Dalam struktur transaksi, perubahan juga terlihat pada aktivitas broker. Setelah fase akumulasi pada periode sebelumnya, distribusi kembali muncul pada 31 Maret. Perubahan ini terjadi pada level harga yang lebih tinggi dibandingkan fase sebelumnya dan muncul setelah rangkaian kenaikan harga dalam beberapa sesi terakhir.
Data tersebut menempatkan posisi harga dalam kombinasi beberapa indikator sekaligus. Harga berada di atas rata-rata pergerakan, arus dana asing masih mencatat pembelian, dan aktivitas broker menunjukkan kemunculan distribusi pada level harga yang lebih tinggi. Kombinasi ini menggambarkan pergerakan RLCO dalam rentang antara kelanjutan tren dan perubahan pola transaksi.(*)