Insight Daily 20 Aug 2025 Penulis: KabarBursa.com

Rights Issue Jumbo Rp35 Triliun, PACK Bidik Akuisisi Dua Tambang Nikel

PACK siapkan rights issue jumbo Rp35 triliun untuk akuisisi dua tambang nikel di Konawe Utara.

KABARBURSA.COM – PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) resmi menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 September 2025. Agenda yang akan dibahas manajemen tergolong strategis dan material, mencakup perubahan kegiatan usaha menjadi holding company, penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) melalui skema rights issue, serta renca...

PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) resmi menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 September 2025. (Foto: Dok. Abadi Nusanta
PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) resmi menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 September 2025. (Foto: Dok. Abadi Nusanta

Insight Navigator

  1. 01 Rights Issue Jumbo Rp35 Triliun Abadi Nusantara Hijau Investama
  2. 02 Akuisisi Dua Tambang Nikel Konawe
  3. 03 Saham PACK Tertekan ke ARB

KABARBURSA.COM – PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) resmi menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 September 2025. 

Agenda yang akan dibahas manajemen tergolong strategis dan material, mencakup perubahan kegiatan usaha menjadi holding company, penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) melalui skema rights issue, serta rencana akuisisi dua perusahaan tambang nikel di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Direktur Utama PACK, Magdalena Veronika, menyampaikan bahwa keterbukaan informasi ini merupakan bagian dari kepatuhan perseroan atas ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

“Perseroan menyampaikan keterbukaan informasi sehubungan dengan rencana transaksi material dan perubahan kegiatan usaha yang akan dimintakan persetujuan pemegang saham,” tulis Magdalena pada Selasa, 19 Agustus 2025.

Langkah ini menandai transformasi besar bagi perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Solusi Kemasan Digital. 

Dengan masuk ke bisnis tambang, PACK ingin memposisikan diri sebagai holding yang memiliki portofolio di sektor mineral strategis, terutama nikel yang saat ini tengah menjadi sorotan global.

Rights Issue Jumbo Rp35 Triliun Abadi Nusantara Hijau Investama

Rights issue yang direncanakan PACK berskala jumbo. Perseroan akan menerbitkan OWK yang dapat dikonversi menjadi maksimal 35 miliar saham baru. 

Jika seluruhnya terserap pasar, total dana segar yang dapat dihimpun mencapai Rp35 triliun.

Namun, aksi ini membawa konsekuensi serius bagi pemegang saham eksisting. Berdasarkan dokumen keterbukaan informasi, potensi dilusi bisa mencapai 95,58 persen apabila pemegang saham lama tidak ikut berpartisipasi dalam rights issue

Hal ini menjadikan agenda RUPSLB sangat krusial bagi investor, mengingat setiap keputusan terkait partisipasi akan memengaruhi kepemilikan dan nilai saham ke depan.

Rights issue jumbo bukan fenomena baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah emiten tambang, energi, hingga properti dalam beberapa tahun terakhir juga memilih skema serupa untuk memperkuat struktur modal dan mendanai ekspansi. 

Namun, skala Rp35 triliun membuat langkah PACK tergolong salah satu yang terbesar sepanjang 2025, sehingga menarik perhatian pelaku pasar modal.

Akuisisi Dua Tambang Nikel Konawe

Dana hasil rights issue akan digunakan untuk membiayai akuisisi dua perusahaan tambang nikel, yakni PT Konutara Sejati (KS) dan PT Karyatama Konawe Utara (KKU). 

Transaksi dilakukan melalui anak usaha PACK, masing-masing PT Sumber Cahaya Raya dan PT Adhi Prakarsa Raya, yang akan membeli saham dari Denway Development Limited, perusahaan berbasis di Hong Kong.

Nilai akuisisi mencapai USD 68,7 juta untuk 30 persen saham KS serta USD100,08 juta untuk 34,5 persen saham KKU. Dengan kurs asumsi Rp16.233 per USD, total nilai transaksi mencapai Rp2,74 triliun. 

Angka ini setara 4.384,94 persen dari ekuitas PACK per 30 Juni 2025, sehingga dikategorikan sebagai transaksi material menurut regulasi OJK.

Dari sisi kinerja, KS mencatat penjualan Rp331,8 miliar pada semester I 2025 dengan laba bersih Rp55,5 miliar, meski ekuitasnya masih negatif Rp177,5 miliar. 

KKU lebih solid, membukukan penjualan Rp630 miliar dengan laba bersih Rp157,7 miliar, serta ekuitas positif Rp431,2 miliar.

Penilaian independen yang dilakukan KJPP Kusnanto & Rekan menyatakan nilai pasar 30 persen saham KS mencapai Rp1,15 triliun, sementara 34,5 persen saham KKU senilai Rp1,69 triliun.

Laporan fairness opinion juga menegaskan transaksi ini wajar dan mendukung rencana ekspansi PACK.

Rencana PACK masuk ke bisnis nikel memiliki relevansi kuat dengan tren global. Nikel merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan baterai kendaraan listrik (EV), terutama jenis lithium nickel manganese cobalt (NMC). 

Permintaan nikel dunia diperkirakan terus meningkat seiring dorongan transisi energi dan target dekarbonisasi berbagai negara.

Indonesia sendiri merupakan produsen nikel terbesar dunia, dengan cadangan yang terkonsentrasi di Sulawesi dan Maluku Utara. Kehadiran pemain baru seperti PACK menambah panjang daftar emiten yang ingin mengambil posisi di rantai pasok industri baterai. 

Di bursa, sejumlah emiten tambang nikel besar seperti ANTM, INCO, dan NCKL sudah lebih dulu mengamankan proyek-proyek strategis di hilir maupun hulu industri.

Dengan akuisisi KS dan KKU, PACK berusaha masuk ke lingkaran ini, meski dengan portofolio awal yang masih terbatas.

Saham PACK Tertekan ke ARB

Respons pasar terhadap rencana rights issue jumbo tidak langsung positif. Pada perdagangan 20 Agustus 2025, saham PACK terkoreksi tajam hingga auto reject bawah (ARB) di level Rp3.640, turun 9,90 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya.

Data perdagangan menunjukkan saham sempat menyentuh Rp4.400 di awal sesi, namun kemudian tertekan hingga menyentuh level terendah harian Rp3.640. Volume transaksi melonjak, mencapai 267,12 ribu lot dengan nilai Rp102,4 miliar.

Pergerakan saham ini kontras dengan sehari sebelumnya, ketika harga sempat naik 5,48 persen ke Rp4.040 pada 19 Agustus 2025. 

Dalam sepuluh hari terakhir, saham PACK memperlihatkan volatilitas tinggi: sempat menguat 6,96 persen ke Rp4.150 pada 4 Agustus, namun kemudian terkoreksi berulang hingga ARB pada 20 Agustus.

Risiko utama yang dihadapi pemegang saham PACK saat ini adalah potensi dilusi besar akibat rights issue. Bagi investor institusi, partisipasi penuh atau sebagian dalam rights issue menjadi kunci untuk mempertahankan proporsi kepemilikan. 

Sementara bagi investor ritel, keputusan ikut serta akan bergantung pada keyakinan terhadap prospek integrasi bisnis tambang nikel oleh perseroan.

Analisis teknikal harian menunjukkan level support sementara berada di Rp3.600, yang juga menjadi batas ARB, sementara resistance terdekat berada di Rp4.000. Dengan volatilitas tinggi, saham PACK berpotensi menjadi perhatian trader jangka pendek menjelang RUPSLB.

Bila rights issue berjalan sesuai rencana dan akuisisi berhasil, PACK berpotensi mendapatkan pijakan baru di sektor nikel. Keberhasilan integrasi KS dan KKU dapat mendongkrak kinerja keuangan serta memperluas aset perusahaan di sektor mineral. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com