KABARBURSA.COM – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengklaim mencetak rekor kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal II 2025.
Namun di balik pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) dan laba yang menembus rekor, data keuangan menunjukkan keberhasilan itu lebih banyak bertumpu pada efisiensi biaya dan pengurangan beban non-organik, bukan pada penguatan bisnis inti.
Dalam laporan keuangan interim yang disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), GoTo mencatat nilai GTV inti sebesar Rp89,8 triliun atau naik 43 persen year on year (yoy).
Pendapatan bersih kuartal II 2025 mencapai Rp4,3 triliun, tumbuh 23 persen dibanding periode sama tahun lalu. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang disesuaikan tercatat positif Rp427 miliar, berbalik dari rugi Rp64 miliar pada kuartal II 2024.
Meski tampak kuat, hasil itu bukan cerminan peningkatan margin usaha. Jika dibandingkan dengan kuartal I 2025, pendapatan bersih GoTo hanya naik tipis sekitar 4 persen, sementara pertumbuhan beban umum dan administrasi masih mencapai Rp1 triliun lebih.
Pada periode tiga bulan pertama 2025, GoTo mencatat rugi bersih Rp366,6 miliar, sedikit membaik dari rugi Rp937,1 miliar pada kuartal I 2024.
Dengan demikian, perbaikan laba lebih banyak berasal dari pengurangan biaya penjualan, pemasaran, dan beban pengembangan produk yang turun tajam ketimbang lonjakan kinerja operasional.
Data keuangan juga memperlihatkan bahwa profitabilitas GoTo belum terbangun di atas fondasi yang stabil.
Total aset per 30 Juni 2025 tercatat Rp42,32 triliun, turun dibanding Desember 2024 sebesar Rp43,21 triliun.
Kas dan setara kas menyusut dari Rp19,17 triliun di akhir 2024 menjadi Rp17,78 triliun pada pertengahan 2025.
Sementara itu, total liabilitas relatif tetap tinggi di kisaran Rp12,8 triliun, dengan komponen utang jangka panjang non-bank mencapai Rp2,6 triliun.
Kendati manajemen menegaskan pinjaman tersebut sebagai langkah penguatan struktur keuangan, catatan laporan keuangan menunjukkan konteks yang berbeda.
Di saat GoTo mengumumkan pencapaian rekor laba dan EBITDA positif, perusahaan justru menambah fasilitas utang bernilai besar.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya, apakah perbaikan kinerja benar-benar mencerminkan kekuatan kas internal atau justru bergantung pada pendanaan eksternal.
Bisnis Inti Tertekan, GoTo Utang Rp4,65 Triliun
Penarikan fasilitas pinjaman berjangka sebesar Rp4,65 triliun dari Bank DBS Indonesia dan United Overseas Bank Limited memperlihatkan kebutuhan likuiditas yang masih tinggi di tengah klaim perbaikan kinerja.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2025, posisi kas GoTo menurun menjadi Rp17,78 triliun dari Rp19,17 triliun pada akhir 2024, sedangkan total liabilitas tetap di kisaran Rp12,8 triliun.
Utang baru itu sebagian digunakan untuk melunasi sisa pinjaman lama senilai Rp467 miliar, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja dan investasi.
Namun dengan arus kas operasi yang hanya positif sekitar Rp300 miliar dan total aset yang menurun, kemampuan GoTo menghasilkan kas internal masih terbatas.
Penambahan fasilitas kredit lebih berfungsi sebagai bantalan likuiditas ketimbang modal ekspansi yang didukung profit berulang.
Bila seluruh pinjaman baru dicairkan, total kewajiban berbunga GoTo akan mendekati Rp5 triliun, dengan rasio utang terhadap ekuitas naik ke kisaran 0,5 kali.
Meski masih dalam batas aman untuk perusahaan teknologi, peningkatan beban bunga di tengah margin usaha yang tipis berpotensi menekan laba bersih semester berikutnya.
Dari sisi sumber pembayaran, laporan keuangan menunjukkan bahwa arus kas operasi masih menjadi satu-satunya saluran utama.
GoTo belum memiliki pos penerimaan signifikan dari penjualan aset atau hasil investasi ekuitas.
Dengan ekuitas pemegang saham yang turun menjadi Rp29,78 triliun dan rugi kumulatif lebih dari Rp214 triliun, ruang manuver pembiayaan eksternal menjadi semakin penting untuk mempertahankan likuiditas.
Langkah penarikan pinjaman ini akhirnya menegaskan dua hal: GoTo memang berhasil menekan rugi, tetapi belum cukup mandiri secara kas.
Dan di tengah tekanan bisnis inti yang belum pulih sepenuhnya, tambahan utang Rp4,65 triliun menjadi cermin bahwa perbaikan kinerja masih bergantung pada kekuatan eksternal, bukan dari hasil operasional yang benar-benar solid.
EBITDA Naik, tapi Bisnis Inti Belum Pulih
Penarikan fasilitas pinjaman tersebut menyoroti tantangan keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas. Meski beban keuangan bertambah, GoTo masih menonjolkan capaian operasional sebagai bukti daya tahan bisnis di tengah tekanan.
Kontribusi terbesar terhadap EBITDA positif justru datang dari segmen On-Demand Services dan Financial Technology, yang sama-sama mencatat rekor EBITDA tertinggi sepanjang berdirinya grup.
Segmen on-demand menghasilkan EBITDA yang disesuaikan Rp328 miliar, naik 264 persen yoy, sedangkan fintech melalui Dompet Karya Anak Bangsa (GoPay) membukukan Rp88 miliar atau naik Rp256 miliar yoy.
Kedua lini tersebut mendorong laba kuartalan positif Rp292 miliar pada level konsolidasi, tetapi secara struktural margin usaha tetap di bawah 10 persen dari total pendapatan.
Peningkatan kinerja ini juga belum menutup rapat tekanan di sektor perdagangan elektronik (e-commerce) yang digawangi Tokopedia. Sejak integrasi penuh pascamerger, volume transaksi marketplace GoTo masih tertinggal dari Shopee dan TikTok Shop.
Persaingan harga dan ongkos akuisisi pelanggan yang tinggi membuat margin e-commerce sulit menebal. Pendapatan bersih per unit layanan tidak tumbuh sebanding dengan kenaikan GTV, menandakan nilai transaksi lebih banyak berasal dari volume, bukan dari monetisasi efektif.
Pada sisi fundamental, GoTo masih membukukan akumulasi rugi sebesar Rp214,4 triliun per akhir Juni 2025, naik dari Rp214,1 triliun pada akhir 2024.
Nilai tersebut menggambarkan jarak yang masih lebar menuju posisi ekuitas yang sepenuhnya sehat. Ekuitas pemegang saham turun menjadi Rp29,78 triliun, dibanding Rp30,40 triliun enam bulan sebelumnya, akibat rugi kumulatif dan pembelian saham tresuri.
Dalam pernyataan resmi, direksi GoTo menilai hasil kuartal II-2025 menunjukkan keberlanjutan momentum profitabilitas dan efisiensi biaya.
“Kami terus memperkuat kinerja keuangan dan mempertahankan disiplin dalam alokasi modal,” tulis laporan direksi dalam keterangan yang disampaikan ke BEI pada 12 Agustus 2025.
Namun dari perspektif struktural, efisiensi semata tidak cukup menjawab tantangan profit jangka panjang.
Ketergantungan pada strategi pemangkasan beban berpotensi membatasi ruang inovasi di tengah meningkatnya kompetisi platform.
Tanpa pertumbuhan pendapatan organik yang signifikan, laba positif bisa menjadi sekadar jeda teknis, bukan titik balik bisnis.
Secara kasat mata, GoTo memang mencetak rekor baru dalam hal EBITDA dan pendapatan. Tetapi di balik rekor itu, fundamentalnya masih rapuh: margin bersih tipis, likuiditas menurun, beban utang membesar, dan bisnis e-commerce menghadapi tekanan kompetitif yang belum terpecahkan.
Jika kondisi ini berlanjut, maka rekor GoTo pada kuartal II-2025 lebih pantas disebut rekor semu ketimbang pencapaian berkelanjutan.
Kondisi tersebut ikut tercermin pada sikap investor di pasar. Meskipun GoTo melaporkan kinerja keuangan yang mencatatkan rekor, pergerakan sahamnya belum menunjukkan respons positif yang sepadan.
Pelaku pasar masih berhati-hati, bahkan cenderung menunggu di area harga bawah. Fenomena itu terlihat dari data perdagangan terakhir yang menunjukkan antrean beli tebal justru di kisaran harga Auto Reject Bawah (ARB), menandakan kepercayaan terhadap fundamental GoTo belum sepenuhnya pulih.
Pasar Belum Menghargai Kinerja GOTO
Saham GOTO masih perlu perhatian. Pengamat pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto mengatakan antrian bawah yang banyak menggambarkan pelaku pasar tidak terlalu optimis denngan saham ini.
"Mereka mau beli pun lebih condong buy on weakness," ujar dia kepada Kabarbursa.com, Jumat, 3 Oktober 2025.
Masih mengutip Stockbit, konsensus 31 analis terhadap saham GOTO saat ini condong positif. Rekomendasi terkini menunjukkan 24 buy, 7 hold, dan tidak ada merekomendasikan sell.
Target harga rata-rata berada di Rp94 per saham dengan rentang estimasi Rp70–Rp120. Pada harga pasar sekitar Rp56, rata-rata konsensus mengimplikasikan potensi kenaikan 68 persen, dengan skenario bawah sekitar 25 persen (ke Rp70) dan skenario atas sekitar 114 persen (ke Rp120).
Dalam sepekan, sahan GOTO mengalami sebesar 1,75 persen dengan kisaran Rp53–Rp58. Pergerakan satu bulan terakhir relatif mendatar atau stagnan dengan kisaran Rp53–Rp60, menandakan fase konsolidasi setelah periode volatil. Dalam rentang tiga bulan, performa bertambah 1,75 persen dan harga sempat bergerak di Rp53–Rp67.
Gambaran berubah ketika menengok bingkai yang lebih panjang. Dalam enam bulan, saham terkoreksi 30,12 persen dengan rentang Rp53–Rp87.
Periode year to date (ytd) juga masih merah 17,14 persen (kisaran Rp53–Rp89), begitu pula satu tahun terakhir yang turun 10,77 persen. Jejak tiga tahun menunjukkan tekanan paling dalam, yakni 76,42 persen, dengan rentang historis Rp50–Rp254. (*)