KABARBURSA.COM - Rapor kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada 2025 masih menampilkan warna merah. Ini mencerminkan perjalanan panjang perusahaan teknologi tersebut dalam mengejar profitabilitas.
Meski demikian, di balik penurunan harga saham dan tekanan jual asing, sejumlah katalis mulai terlihat memberi harapan. Efisiensi insentif yang semakin ketat, kontribusi solid dari lini GoTo Financial, serta penyempitan kerugian di Tokopedia membuka ruang bagi investor untuk kembali menimbang potensi jangka menengah.
Pertanyaan pentingnya kini, apakah langkah strategis ini cukup untuk mengantar GOTO keluar dari fase rapuh menuju titik balik keuntungan berkelanjutan?
BNI Danareksa Sekuritas justru melihat, masih ada potensi GOTO untuk naik sebesar 78 persen. Tentunya hal tersebut didorong oleh dua katalis positif yang bisa membangkitkan profitabilitas GOTO. Apa saja katalis tersebut?
Rapor Merah GOTO, Saham Teknologi yang Masih Tertekan dan Bikin Ragu
Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi sorotan setelah ditutup melemah ke Rp55 pada perdagangan Jumat siang, 19 September 2025, turun 1 poin atau 1,79 persen dibandingkan sesi sebelumnya di Rp56.
Dengan total transaksi 4,7 juta lot senilai Rp26,1 miliar, pergerakan tipis ini menegaskan tekanan yang masih membayangi saham teknologi terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Kinerja harga GOTO sepanjang periode terakhir memperlihatkan tren menurun yang cukup konsisten. Dalam sepekan, saham ini terkoreksi 3,51 persen dari Rp58 ke Rp55.
Jika ditarik lebih jauh, penurunan semakin jelas. Dalam sebulan GOTO susut 11,29 persen dari Rp63, sementara dalam tiga bulan terakhir melemah 12,70 persen dari Rp67. Bahkan, dalam enam bulan terakhir tekanan lebih dalam lagi, turun 33,73 persen dari Rp87. Dan secara year-to-date, harga GOTO telah anjlok 21,43 persen dari posisi awal tahun di Rp89.
Performa setahun terakhir sebenarnya sedikit lebih baik dengan penurunan hanya 9,84 persen dari Rp89 ke Rp55, namun rapor jangka panjang memperlihatkan kontras yang tajam. Jika dilihat tiga tahun terakhir, saham GOTO telah terkoreksi drastis 77,82 persen dari level Rp272 ke Rp50–Rp55.
Angka ini menunjukkan betapa besar tekanan valuasi yang dialami, sekaligus memperlihatkan jurang antara ekspektasi awal saat IPO dengan realitas bisnis yang dijalani.
Rapor merah ini menjadi perhatian investor, terutama kalangan baru yang masih ragu untuk masuk. Sebagian menilai tekanan harga membuka peluang akumulasi di level rendah, tetapi banyak pula yang masih menunggu kepastian arah profitabilitas dan strategi manajemen ke depan.
Bagi investor berpengalaman, tantangan GOTO bukan sekadar volatilitas harga, melainkan konsistensi dalam mempersempit kerugian, menjaga efisiensi, dan memastikan jalur menuju laba yang telah dijanjikan.
Singkatnya, performa harian dan historis GOTO menegaskan bahwa saham ini masih berada dalam fase koreksi panjang. Meski begitu, keberanian manajemen menekan insentif dan memperkuat kontribusi GoTo Financial bisa menjadi katalis positif di masa mendatang.
Bagi investor, langkah masuk ke saham GOTO tetap memerlukan kehati-hatian, disiplin manajemen risiko, serta kesabaran menanti konfirmasi pemulihan fundamental yang lebih nyata.
Efisiensi Insentif dan Kinerja GTF Jadi Katalis Menuju Profitabilitas
Kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sepanjang paruh pertama 2025 menampilkan sinyal perbaikan fundamental yang konsisten, meski sahamnya masih tertekan di pasar. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, GOTO menunjukkan fokus yang semakin tajam pada efisiensi dan rasionalisasi biaya, terutama dalam hal insentif pada segmen on-demand services (ODS).
Grafik kinerja memperlihatkan tren penurunan insentif ODS sebesar 6,4 persen pada kuartal II-2025, yang menjadi bukti perusahaan lebih selektif dalam strategi akuisisi dan retensi pengguna.
Meski pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) di periode yang sama tercatat moderat, profitabilitas justru menunjukkan perbaikan yang lebih cepat dibandingkan pesaing utama, yaitu Grab.
Hal ini ditunjukkan dengan capaian adjusted EBITDA GOTO yang tumbuh solid, bahkan sudah memenuhi 51–59 persen dari target sepanjang 2025 hanya dalam semester pertama. Salah satu pendorong penting adalah kontribusi dari GoTo Financial (GTF), yang kini menjadi motor tambahan bagi profitabilitas perusahaan, sekaligus mengimbangi penurunan kerugian dari Tokopedia.
Dengan arah ini, GOTO diproyeksikan mampu membukukan laba bersih positif pada 2026.
Namun, dinamika harga saham di pasar belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental tersebut. Saat ini, saham GOTO diperdagangkan di level Rp56, dengan penurunan year-to-date mencapai 21 persen.
Data transaksi asing memperlihatkan masih adanya tekanan, dengan pembelian Rp1,67 triliun dan penjualan Rp1,97 triliun, sehingga tercatat net sell Rp297 miliar dalam sebulan terakhir.
Meski begitu, analis menilai valuasi saham GOTO saat ini tergolong atraktif, dengan rasio 3,5x Price-to-Sales (FY25F), yang dinilai masih layak mendapatkan re-rating seiring jalur profitabilitas yang kian jelas.
Atas dasar itu, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham GOTO, dengan target harga Rp100. Jika target ini tercapai, potensi kenaikan mencapai 78,6 persen dari harga terakhir.
Prospek tersebut didukung strategi manajemen yang disiplin menekan biaya, pemulihan profitabilitas dari lini e-commerce, serta penguatan kontribusi GoTo Financial di tengah perubahan lanskap ekonomi digital Indonesia.
Dengan arah bisnis yang lebih sehat, investor dinilai memiliki alasan kuat untuk melihat GOTO sebagai saham teknologi domestik dengan potensi re-rating dalam beberapa kuartal mendatang.
Optimisme itu bukan hanya bertumpu pada efisiensi operasional, melainkan juga pada kombinasi katalis global dan domestik yang memperbesar peluang masuknya modal asing kembali ke sektor teknologi Indonesia.
Singkatnya, GOTO kini sedang melangkah lebih dekat menuju profitabilitas yang berkelanjutan.
Dorongan Jual, tapi Masih Menarik Dibeli
Sinyal teknikal harian saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) saat ini menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Berdasarkan indikator, mayoritas memberikan sinyal jual, dengan rangkuman menyebut kondisi “sangat jual”.
Dari 12 indikator moving average, semuanya berada di zona jual, menandakan tren jangka pendek hingga menengah masih berat. Harga berada di bawah MA5 hingga MA200, yang memperlihatkan bahwa GOTO sedang bergerak dalam tren penurunan berlapis dan belum ada tanda pembalikan arah yang meyakinkan.
Osilator teknikal juga tidak banyak memberi harapan. RSI berada di level 31, yang mendekati area jenuh jual, sementara Stochastic dan Williams %R sudah lebih dulu menunjukkan posisi oversold. Kondisi ini memang membuka peluang untuk teknikal rebound sesaat, tetapi belum cukup kuat untuk disebut sebagai sinyal pembalikan tren.
MACD yang masih negatif, ADX di 48 yang menandakan tren turun cukup solid, serta CCI yang berada di -169, semakin menegaskan bahwa tekanan jual masih dominan. Hanya Ultimate Oscillator yang memberi sinyal beli, tetapi kontribusi tunggal ini belum cukup untuk mengubah arah keseluruhan.
Dari sisi pivot point, level Rp56 menjadi titik kunci. Jika harga mampu bertahan di atasnya, ruang untuk uji resistance Rp57–Rp59 masih terbuka. Sebaliknya, gagal menjaga level ini bisa menyeret GOTO kembali ke Rp54 bahkan Rp53.
Dengan volatilitas yang cenderung rendah menurut ATR, pergerakan harga saat ini relatif terbatas, tetapi dominasi tekanan jual membuat arah penurunan tetap lebih mungkin terjadi.
Kondisi teknikal yang negatif ini kontras dengan rekomendasi buy dari BNI Danareksa Sekuritas, yang melihat prospek jangka menengah hingga panjang GOTO akan membaik. Dari sisi fundamental, Danareksa menilai fokus pada efisiensi, kontribusi GoTo Financial, serta penyempitan kerugian Tokopedia membuka jalan menuju profitabilitas di 2026.
Namun, investor ritel sering kali menimbang aspek teknikal dalam keputusan jangka pendek, dan pada titik ini GOTO masih belum menampilkan momentum kuat untuk masuk agresif.
Kesimpulannya, rekomendasi beli dari Danareksa memang berlandaskan fundamental yang semakin jelas arahnya, tetapi secara teknikal harian saham GOTO masih dibayangi sinyal negatif.
Bagi investor jangka pendek, risiko koreksi lanjutan tetap tinggi sehingga masuk sekarang tanpa disiplin manajemen risiko bisa berbahaya.
Namun, untuk investor dengan horizon lebih panjang yang percaya pada prospek efisiensi dan jalur profitabilitas GOTO, level harga saat ini bisa dilihat sebagai akumulasi bertahap.
Dengan kata lain, GOTO masih bisa dikoleksi, tetapi lebih bijak dilakukan secara selektif dan sabar, sambil menunggu konfirmasi pembalikan tren teknikal yang lebih solid.(*)