Asing Berbalik Arah Setelah Distribusi Awal Mei
Pergerakan saham PTRO pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026 tidak hanya ditandai kenaikan harga 8,38 persen ke level 3.750. Di balik penguatan itu, terdapat perubahan pola transaksi investor asing yang mulai bergeser dari fase distribusi menuju akumulasi.
Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan nilai beli Rp114,77 miliar dan nilai jual Rp77,92 miliar, sehingga menghasilkan net foreign buy sebesar Rp36,85 miliar pada pasar reguler. Nilai tersebut memang belum besar jika dibandingkan arus dana asing pada saham-saham big caps, tetapi menjadi penting karena muncul setelah periode tekanan jual cukup panjang sepanjang awal Mei.
Jika ditarik ke pola transaksi sebelumnya, akumulasi broker asing utama—yakni UBS Sekuritas (AK), Maybank Sekuritas (ZP), dan CGS International Sekuritas Indonesia (YU)—masih mencatat kecenderungan distribusi pada rentang 1–13 Mei. Kalender transaksi tiga broker asing tersebut memperlihatkan net sell cukup dominan pada 6 Mei senilai Rp37,9 miliar dan 13 Mei sekitar Rp19,6 miliar. Tekanan jual juga sempat terjadi pada 11 Mei sebesar Rp24,7 miliar.
Memasuki pekan ketiga Mei, pola itu berubah. Pada 18 Mei transaksi mulai berbalik positif meski tipis, disusul akumulasi Rp8,8 miliar pada 19 Mei dan melonjak menjadi Rp15,5 miliar pada 20 Mei. Pada 22 Mei, pembelian bersih masih berlanjut sekitar Rp3,5 miliar dari tiga broker asing pilihan. Rangkaian transaksi tersebut menunjukkan asing tidak masuk secara agresif dalam satu hari, melainkan bertahap.
Karakter akumulasi bertahap semacam ini lazim terjadi ketika pelaku pasar institusi mulai membangun posisi setelah koreksi dalam. PTRO sendiri sempat turun sekitar 25 persen dalam sepekan sebelum akhirnya memantul dari area 3.300 menuju 3.750. Dengan kata lain, pembelian asing muncul saat harga sudah terkoreksi cukup dalam, bukan ketika saham berada di puncak.
Data broker 22 Mei memperlihatkan Mandiri Sekuritas (CC) menjadi pembeli terbesar dengan nilai sekitar Rp23,8 miliar pada harga rata-rata 3.521. Di bawahnya terdapat JP Morgan Sekuritas (BK) senilai Rp8,8 miliar dengan rata-rata 3.627 serta Maybank Sekuritas (ZP) sekitar Rp2,8 miliar di harga rata-rata 3.581. Sementara sisi jual relatif tersebar dan bernilai lebih kecil.
Masuknya broker asing dan institusi pada fase rebound memberi sinyal bahwa pasar mulai melihat valuasi PTRO lebih menarik dibanding posisi beberapa pekan lalu. Namun pembelian ini belum cukup untuk disebut perubahan tren jangka panjang. Alasannya, secara fundamental PTRO masih diperdagangkan pada valuasi premium dibanding emiten batu bara lain seperti PTBA dan ADRO—sementara profitabilitas dan margin perusahaan belum sepenuhnya mengikuti premium tersebut.
Valuasi PTRO Lebih Mahal dari ADRO dan PTBA
Jika ditempatkan berdampingan dengan emiten batu bara besar seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), posisi PT Petrosea Tbk (PTRO) terlihat cukup berbeda. Bukan dari ukuran laba atau margin usaha, melainkan dari cara pasar memberi harga terhadap sahamnya.
Berdasarkan data Stockbit per 22 Mei 2026, price to earnings ratio (PE) trailing 12 bulan PTRO berada di kisaran 77,85 kali, jauh di atas PTBA sekitar 9,38 kali dan ADRO sekitar 8,34 kali. Rasio ini secara sederhana menunjukkan berapa kali investor bersedia membayar laba perusahaan. Semakin tinggi PE, semakin besar ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan di masa depan.
Perbedaan serupa terlihat pada price to book value (PBV). PTRO diperdagangkan sekitar 8,5 kali nilai bukunya, sementara PTBA hanya sekitar 1,33 kali dan ADRO sekitar 0,83 kali. Dengan angka seperti itu, pasar menilai aset dan prospek PTRO jauh lebih premium dibanding dua emiten pembandingnya.
Padahal jika melihat profitabilitas saat ini, PTRO justru belum berada di posisi terkuat. Laba bersih PTRO tercatat sekitar Rp23 miliar, jauh di bawah PTBA yang membukukan sekitar Rp802 miliar maupun ADRO sekitar Rp2,16 triliun. Dari sisi pengembalian aset (ROA), PTRO juga berada di kisaran 1,78 persen, tertinggal dari PTBA sekitar 7,73 persen dan ADRO sekitar 6,78 persen.
Margin usaha memperlihatkan pola serupa. Gross margin PTRO berada di sekitar 12,91 persen, lebih rendah dibanding ADRO yang mendekati 38 persen dan sedikit di bawah PTBA sekitar 15,55 persen. Artinya, secara kemampuan menghasilkan laba dari operasi inti, PTRO belum menunjukkan efisiensi setinggi dua emiten tersebut.
Kondisi ini membuat pertanyaan valuasi menjadi menarik. Mengapa pasar tetap memberi harga premium pada PTRO?
Hal lain yang perlu dicermati adalah struktur pendanaan. Debt to equity ratio (DER) PTRO berada di kisaran 2,8 kali, jauh di atas PTBA sekitar 0,12 kali dan ADRO sekitar 0,22 kali. Leverage tinggi memang dapat mempercepat ekspansi, tetapi sekaligus memperbesar risiko ketika kondisi operasional berubah.
Mengapa Investor Tetap Masuk?
Di tengah valuasi yang sudah jauh lebih mahal dibanding emiten sejenis dan struktur utang yang relatif tinggi, muncul pertanyaan yang cukup mendasar, mengapa investor masih bersedia masuk ke PTRO?
Sebagian jawabannya kemungkinan tidak berada pada laporan laba kuartalan saat ini. Pasar tampak mulai membaca PTRO sebagai perusahaan yang sedang mengubah arah bisnis, dari penyedia jasa pertambangan menjadi pemain dengan eksposur lebih luas terhadap proyek sumber daya dan investasi.
Perubahan itu terlihat dari langkah terbaru Perseroan pada April 2026. PTRO mengumumkan penyelesaian binding offer terkait investasi senilai A$23,75 juta pada Tolu Minerals Limited, perusahaan eksplorasi dan pengembangan emas serta tembaga yang tercatat di Bursa Australia dan beroperasi di Papua Nugini.
Instrumen yang dipilih bukan pembelian saham biasa, melainkan convertible note, yakni surat utang yang dapat dikonversi menjadi saham. Skema ini memberi PTRO hak untuk mengubah investasinya menjadi sekitar 14,6 juta saham baru Tolu Minerals pada harga A$1,625 per saham.
Pilihan struktur tersebut menarik karena memberi dua kemungkinan sekaligus. Jika proyek berkembang sesuai rencana, PTRO memiliki peluang menikmati kenaikan nilai investasi melalui kepemilikan saham. Sebaliknya, apabila realisasi bisnis tidak berjalan sesuai harapan, posisi sebagai pemegang instrumen utang relatif memberi perlindungan lebih baik dibanding masuk langsung sebagai pemegang saham biasa.
Dalam keterbukaan informasi, Presiden Direktur PTRO Michael menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari strategi ekspansi ke Papua Nugini sekaligus diversifikasi menuju komoditas emas yang dinilai memiliki prospek jangka panjang. Pernyataan itu memberi gambaran bahwa PTRO tampaknya sedang membangun pijakan baru di luar model bisnis tradisionalnya.
“Langkah ini merupakan bagian dari strategi ekspansi Petrosea ke kawasan Papua Nugini, sekaligus memperkuat diversifikasi portofolio ke komoditas emas yang memiliki prospek jangka panjang. Kami melihat peluang sinergi yang kuat seiring dengan rencana pengembangan proyek Tolu menuju fase produksi,” kata Michael, dilihat dari keterbukaan informasi PTRO, Minggu, 24 Mei 2026.
Investasi pada Tolu Minerals berpotensi membuka ruang pendapatan yang lebih luas dibanding sekadar imbal hasil finansial.
Apabila proyek Tolu berhasil masuk ke fase produksi, PTRO tidak hanya memiliki peluang memperoleh capital gain dari kenaikan nilai kepemilikan saham hasil konversi. Sebagai perusahaan dengan pengalaman lebih dari lima dekade di jasa pertambangan, EPC, logistik, dan layanan offshore, PTRO juga berpotensi masuk sebagai mitra operasional.
Artinya, satu investasi dapat membuka beberapa jalur bisnis sekaligus.
Perseroan berpeluang memperoleh kontrak jasa pertambangan, pekerjaan engineering, procurement, construction (EPC), layanan logistik, hingga dukungan operasional lain pada proyek tambang. Jika skenario itu berjalan, hubungan PTRO dengan Tolu dapat berkembang dari investor menjadi bagian dari rantai produksi.
Pasar biasanya memberi valuasi lebih tinggi pada perusahaan yang memiliki sumber pertumbuhan berlapis seperti ini. Bukan semata memperoleh pendapatan dari satu proyek, tetapi dari ekosistem kegiatan di sekelilingnya.
Namun peluang tersebut masih berada pada tahap awal. Tolu Minerals saat ini masih bergerak pada fase pengembangan dan eksplorasi menuju target produksi. Dengan demikian, potensi pertumbuhan yang dilihat investor juga datang bersama risiko eksekusi yang tidak kecil, mulai dari pembangunan proyek, biaya operasional, kondisi komoditas, hingga dinamika wilayah operasional Papua Nugini.
Di titik ini, pembacaan pasar terhadap PTRO tampaknya mulai bergeser. Investor kemungkinan tidak lagi melihat perusahaan hanya sebagai kontraktor tambang yang bertumpu pada proyek jangka pendek, melainkan sebagai entitas yang sedang membangun sumber pertumbuhan baru. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar seberapa besar laba PTRO saat ini, tetapi apakah ekspansi tersebut cukup untuk membenarkan ekspektasi tinggi yang sudah tercermin pada harga sahamnya.(*)