KABARBURSA.COM – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menutup paruh pertama 2025 dengan catatan campuran.
Dari sisi penjualan, kinerja terbilang positif. Pendapatan naik 4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp20,45 triliun, didorong permintaan domestik yang menguat 5 persen. Ekspor ke Bangladesh dan Filipina bahkan melonjak masing-masing 907 persen dan 579 persen.
Namun, kinerja ekspor tidak merata. Penjualan ke India anjlok 38 persen, China turun 76 persen, dan Korea terpangkas 69 persen. Kondisi ini membuat kenaikan volume tidak sepenuhnya terkonversi menjadi peningkatan laba.
Produksi batubara naik 16 persen menjadi 21,73 juta ton, penjualan bertambah 8 persen, tapi harga jual rata-rata (ASP) justru melemah 4 persen menjadi Rp930 ribu per ton.
Beban operasional menjadi sorotan utama. Kenaikan biaya bahan bakar, logistik, dan jasa pertambangan sebesar 13 persen membuat laba kotor tertekan 34 persen menjadi Rp2,25 triliun.
EBITDA merosot 41 persen menjadi Rp1,86 triliun dengan margin turun ke 9,13 persen. Laba operasional terpangkas 62 persen, sedangkan laba bersih anjlok 59 persen menjadi Rp833 miliar.
Dari sisi kesehatan keuangan, debt to equity ratio (DER) naik dari 0,85 kali di akhir 2024 menjadi 1,16 kali. Ekuitas turun 12,6 persen menjadi Rp19,79 triliun, sementara liabilitas melonjak 20 persen menjadi Rp22,90 triliun.
Rasio kas menyusut menjadi 26 persen, seiring turunnya kas dan setara kas serta bertambahnya kewajiban jangka pendek.
Target Harga Turun, Dividen Masih Menggiurkan
Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam riset terbarunya memutuskan memangkas target harga PTBA untuk 12 bulan ke depan menjadi Rp2.610 per saham dari sebelumnya Rp3.100. Dengan harga penutupan terakhir Rp2.410, potensi kenaikan harga hanya sekitar 8,3 persen.
Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menjelaskan, penurunan target harga ini tidak lepas dari revisi proyeksi laba bersih 2025 yang dipangkas 40 persen menjadi Rp3,05 triliun.
Revisi tersebut didorong kenaikan asumsi biaya pokok penjualan dan pelemahan harga jual rata-rata. “Tekanan biaya menjadi faktor utama revisi kinerja PTBA tahun ini,” tulisnya dalam riset tersebut.
Meski prospek laba jangka pendek melemah, PTBA masih menawarkan potensi dividen yang menarik. Dengan asumsi dividend payout ratio 80 persen, Kiwoom memproyeksikan dividend yield sebesar 12 persen pada 2026 dan 10,6 persen pada 2027. Hal ini membuat PTBA tetap relevan bagi investor yang mengincar pendapatan pasif dari dividen.
Kiwoom mempertahankan rekomendasi “tahan” dengan mempertimbangkan valuasi relatif terhadap emiten batubara lain.
Namun, ada sejumlah risiko yang patut diwaspadai, seperti perlambatan ekonomi global, fluktuasi harga batubara, penguatan rupiah, percepatan transisi energi, dan perubahan regulasi pertambangan.
Teknikal Sideways, Strategi Buy on Weakness
Dari sisi teknikal, pergerakan harga saham PTBA sejak awal 2024 membentuk pola sideways dengan rentang support kuat di Rp2.300–Rp2.400 dan resistance di Rp2.700–Rp3.000 hingga Rp3.160. Posisi harga saat ini yang mendekati area support membuat potensi penurunan relatif terbatas.
Analis Kiwoom menyarankan strategi wait and see sambil menunggu konfirmasi rebound di area bawah. Untuk investor agresif, strategi buy on weakness dapat dipertimbangkan di kisaran Rp2.300–Rp2.400.
“Target kenaikan terdekat ada di moving average (MA) 10 di Rp2.540, MA20 di Rp2.650, dan MA50 di Rp2.700. Jika level ini tertembus, potensi penguatan bisa berlanjut ke Rp2.990 hingga Rp3.160,” jelas Sukarno.
Meskipun tren jangka panjang masih dalam kanal penurunan, sinyal jangka pendek mulai membaik. Harga berada di atas MA10 dan MA20 yang sudah membentuk golden cross, indikasi awal potensi pembalikan arah.
Kondisi ini memberi peluang bagi trader untuk memanfaatkan momentum jangka pendek, sementara investor dividen bisa memanfaatkan fase ini untuk mengakumulasi secara selektif.
Kombinasi prospek dividen tinggi, valuasi moderat, dan posisi harga yang dekat dengan support memberi alasan bagi sebagian pelaku pasar untuk tetap melirik PTBA.
Namun, disiplin mengelola risiko dan memantau pergerakan harga batubara global tetap menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi pada paruh kedua 2025. (*)