KABARBURSA.COM - Kinerja fundamental saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menunjukkan kombinasi valuasi yang relatif tinggi dengan profitabilitas terbatas, di tengah kondisi likuiditas yang cukup solid.
Mengutip Stockbit, data keuangan terbaru memperlihatkan rasio price earnings (PE) INCO saat ini berada di level 57,81 kali. Angka ini memperlihatkan njika ekspetasi pasar terhadap pertumbuhan INCO di masa mendatang cukup tinggi.
Meski demkian jika melihat forward PE yang berada di angka 15,37 kali, bisa diartikan kalau pasar memprediksi adanya perbaikan kinerja dalam periode mendatang.
Meski demikian jika melihat forward PE yang berada di angka 15,37 kali, bisa diartikan jika pasar memprediksi adanya perbaikan kinerja dalam periode mendatang.
Dari sisi valuasi lainnya, price to sales (P/S) tercatat sebesar 4,44 kali dan price to book value (PBV) di level 1,56 kali. PBV yang relatif moderat ini menunjukkan bahwa secara aset, valuasi saham masih belum tergolong mahal.
Namun, rasio EV/EBITDA yang mencapai 19 kali bisa diartikan valuasi berbasis operasional masih cukup premium dibandingkan standar industri.
Di sisi arus kas, kondisi menjadi perhatian. Price to free cash flow (P/FCF) tercatat negatif di -17,25, sejalan dengan free cash flow per share yang juga minus sebesar -398,44.
Dari sisi profitabilitas, kinerja INCO terlihat belum optimal. Return on equity (ROE) hanya berada di level 2,70 persen, sementara return on assets (ROA) sebesar 2,24 persen.
Margin keuntungan juga menunjukkan tekanan. Gross profit margin tercatat sebesar 13,12 persen, sementara operating profit margin bahkan negatif di -0,85 persen.
Meski demikian, net profit margin masih positif di level 8,29 persen, yang menunjukkan perusahaan masih mampu mencatat laba bersih.
Dari sisi likuiditas, kondisi perusahaan relatif aman. Current ratio berada di level 2,07 dan quick ratio sebesar 1,54, menandakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek masih terjaga dengan baik.
Sementara itu, dari sisi dividen, INCO membagikan dividen sebesar 53,40 dengan payout ratio 44,91 persen. Namun, dividend yield yang hanya 0,77 persen.
Secara keseluruhan, data ini menggambarkan kondisi fundamental INCO yang masih dalam fase transisi. Valuasi yang tinggi belum sepenuhnya didukung oleh profitabilitas dan arus kas yang kuat. Namun, adanya ekspektasi perbaikan kinerja ke depan menjadi faktor yang menopang minat investor.
Ke depan, pergerakan saham INCO akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam meningkatkan efisiensi operasional, memperbaiki margin, serta menjaga stabilitas arus kas di tengah dinamika harga komoditas global.
Kinerja Keuangan Tumbuh pada 2025
Sepanjang 2025, Vale Indonesia sukses membukukan kinerka keuangan yang tumbuh, didukung oleh peningkatan pendapatan dan laba bersih.
Merujuk laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan Perseroan, pendapatan Vale tercatat USD990,19 juta pada 2025. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar USD950,38 juta.
Seiring catatan positif itu, laba bersih Vale juga mengalami pertumbuhan yang solid dengan catatan USD76,06 juta, atau naik dari USD57,76 juta pada tahun 2024.
Peningkatan laba bersih tersebut sukses menopang kinerja total laba komprehensif yang tercatat USD75,89 juta, naik dibandingkan tahun sebelumnya di level USD56,83 juta.
Sementara itu, laba bruto Vale pada 2025 sebesar USD110,85 juta, terbilang stabil jika dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka USD108,23 juta.
Akan tetapi, sisi beban operasional masih terpantau tertekan, terutama di beban umum dan administrasi yang sebesar USD52,18 juta. Angka ini meningkat dari sebelumnya USD38,25 juta.
Pindah ke neracara, total aset Vale pada akhir 2025 mencapai USD3,34 miliar dari USD3,17 miliar pada tahun sebelumnya.Catatan ini tidak lepas dari aset tetap yang tumbuh menjadi USD2,31 miliar.
Di sisi lain, Vale mencatat total liabilitas yang meningkat menjadi USD570,77 juta, dibanding USD443,75 juta pada tahun sebelumnya. Namun, ekuitas perusahaan sukses alami pertumbuhan menjadi USD2,77 miliar.
Likuiditas perusahaan juga tetap terjaga, meskipun kas dan setara kas mengalami penurunan menjadi USD376,36 juta dari sebelumnya USD674,69 juta.
Pergerakan Saham INCO
Pada perdagangan terakhir atau Rabu, 22 April 2026, saham INCO ditutup melemah sebesar 0,72 persen atau 50 poin ke level Rp6.875.
Namun, secara garis besar, tren penguatan saham ini masih terlihat solid. Dalam sepekan, INCO naik 1,10 persen, sementara dalam satu bulan melonjak 23,32 persen.
Penguatan juga berlanjut pada periode menengah. Dalam tiga bulan terakhir, saham INCO naik 6,59 persen, dan dalam enam bulan menguat signifikan sebesar 59,14 persen. Secara year to date (YTD), saham ini telah mencatat kenaikan sebesar 32,85 persen.
Sementara itu, dalam jangka panjang, kinerja saham INCO menunjukkan lonjakan yang lebih impresif. Dalam satu tahun terakhir, saham ini melonjak 187,66 persen.
Adapun dalam periode tiga tahun, saham masih mencatat kenaikan sebesar 6,25 persen, dan dalam lima tahun naik 68,57 persen. Bahkan, dalam rentang 10 tahun, saham INCO telah menguat hingga 252,39 persen.
Sejalan dengan pergerakan harga tersebut, mayoritas analis di Stockbit masih memberikan pandangan positif terhadap saham INCO. Dari 29 analis yang memantau, sebanyak 24 analis merekomendasikan beli, empat analis menyarankan tahan, dan satu analis merekomendasikan jual.
Optimisme tersebut juga tercermin dari target harga analis yang masih berada di atas level saat ini. Konsensus mencatat target harga rata-rata sebesar Rp7.661 per saham, dibandingkan harga saat ini di kisaran Rp6.875. Adapun estimasi tertinggi mencapai Rp10.000, sementara estimasi terendah berada di Rp5.350.
Dengan tren kenaikan yang kuat di berbagai periode serta dukungan rekomendasi analis, saham INCO dinilai masih memiliki ruang penguatan. Namun, koreksi jangka pendek tetap berpotensi terjadi seiring aksi ambil untung setelah reli yang cukup panjang.
Asing Agresif Akumulasi
Pergerakan saham INCO sepanjang tahun berjalan atau periode 2 Januari hingga 22 April 2026 menunjukkan indikasi kuat adanya akumulasi oleh investo asing.
Berdasarkan data broker summary Stockbit, broker CC tercatat menjadi pembeli terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp512,1 miliar, diikuti oleh KZ sebesar Rp342,3 miliar dan ZP senilai Rp323,1 miliar.
Selain itu, broker YU dan BK juga mencatatkan akumulasi signifikan masing-masing sebesar Rp252,2 miliar dan Rp230,3 miliar. Jika dilihat dari sisi volume, aktivitas akumulasi juga cukup konsisten.
Broker CC membukukan volume pembelian sebesar 827,4 ribu lot dengan frekuensi transaksi mencapai 57,2 ribu kali. Sementara itu, ZP mencatat frekuensi tertinggi sebesar 84,9 ribu kali.
Rata-rata harga pembelian para broker besar ini berada di kisaran Rp6.200 hingga Rp6.500 per saham. Broker YU bahkan mencatatkan rata-rata pembelian tertinggi di level Rp6.580, disusul BK di Rp6.502 dan AG di Rp6.532.
Di sisi lain, tekanan jual terlihat jauh lebih kecil. Broker NI tercatat sebagai penjual terbesar dengan nilai Rp141,6 miliar, diikuti AK sebesar Rp93,6 miliar dan DP Rp33,7 miliar. Selebihnya, nilai jual broker lain relatif terbatas dan tidak menunjukkan tekanan distribusi yang signifikan.
Kantongi Kredit Bergulir USD500 Juta
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melakukan penandatanganan perjanjian fasilitas kredit bergulir terkait keberlanjutan hingga USD500 juta (dengan Opsi Greenshoe Sampai Dengan USD250 juta) pada 25 Maret 2026.
Perseroan menandatangani perjanjian ini dengan DBS Bank Ltd., Mizuho Bank Ltd., dan PT Bank Mizuho Indonesia, dan United Overseas Bank Limited sebagai mandated lead arrangers, underwriters dan bookrunners.
Sementara itu PT Bank DBS Indonesia sebagai Agen, United Overseas Bank Limited sebagai koordinator tunggal, United Overseas Bank Limited sebagai koordinator keberlanjutan tunggal.
Anggun Kara Nataya, Corporate Secretary Vale mengatakan pemberian fasilitas kredit itu akan digunakan untuk membiayai keperluan umum korporasi Perseroan (termasuk namun tidak terbatas pada belanja modal, kebutuhan modal kerja).
"Jatuh tempo 24 bulan dengan opsi perpanjangan untuk jangka waktu tambahan 12 bulan," ujar dia dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.
Anggun menilai fasilitas kredit bergulir keberlanjutan ini akan memberikan kepastian pendanaan pada proyek-proyek pembangunan tambang dan fasilitas pengolahan nikel Vale.
"Yang sebagian memasuki fase penyelesaian, akan selesai tepat waktu atau bahkan lebih awal," pungkasnya. (*)