KABARBURSA.COM - Masuknya saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) ke dalam indeks FTSE Indonesia menjadi momen penting bagi emiten muda yang baru mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada akhir 2024.
Langkah ini bukan hanya bentuk pengakuan atas performa dan likuiditas saham DAAZ dalam waktu singkat, tetapi juga membuka peluang baru bagi masuknya investor institusional global yang menjadikan indeks FTSE sebagai acuan.
Bagi pelaku pasar, masuknya DAAZ ke indeks bergengsi ini menjadi sinyal bahwa emiten tersebut layak diperhitungkan, meski tetap perlu mencermati volatilitas harga dan kinerja ke depan.
Meski Tertekan, Kinerja Saham DAAZ Jauh di Atas IPO
Pergerakan saham PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ) dalam beberapa bulan terakhir mencerminkan sentimen pasar yang masih bergerak fluktuatif. Setelah mencuri perhatian dengan lonjakan tajam usai debut di bursa, kini saham DAAZ terlihat mulai mencari pijakan baru.
Pada penutupan terakhir perdagangan, Jumat, 23 Mei 2025, saham ini berada di posisi Rp4.190, turun tipis 0,48 persen atau 20 poin dari hari sebelumnya.
Sepanjang sesi perdagangan, saham ini sempat menyentuh level tertinggi harian di Rp4.240 dan terendah di Rp4.170, dengan total nilai transaksi sekitar Rp2,7 miliar dan volume perdagangan 6.420 lot.
Yang menarik dari data tersebut adalah pergerakan investor asing. Meskipun ada aksi beli senilai Rp44,5 juta, nilai jual yang dilakukan asing jauh lebih besar, mencapai Rp371,6 juta.
Ketimpangan ini memberi sinyal tekanan jual dari luar yang belum bisa sepenuhnya diimbangi oleh daya beli domestik, setidaknya untuk saat ini.
Jika kita tarik garis lebih panjang, performa saham DAAZ masih belum kembali ke masa jayanya. Dalam sepekan terakhir, saham ini turun 0,95 persen. Tekanan yang lebih besar tampak dalam jangka tiga bulan, di mana DAAZ terkoreksi hingga 34,53 persen.
Namun, ada secercah harapan di kinerja bulanan yang mulai menunjukkan perbaikan dengan kenaikan 1,95 persen. Sepanjang tahun berjalan (year-to-date), saham ini melemah 10,09 persen, jauh dari titik tertingginya di Rp7.450, tapi juga masih cukup jauh dari titik terendah 52 minggu yang tercatat di Rp1.000.
Rentang harga yang begitu lebar dari level Rp1.000 ke Rp7.450 mempertegas karakter saham DAAZ sebagai emiten berisiko tinggi. Volatilitas yang besar seperti ini bukan hal baru bagi saham-saham yang masih tergolong muda di bursa, terutama yang mendapat euforia tinggi pasca-IPO.
Kenaikan tajam dalam waktu singkat kerap memancing aksi ambil untung cepat, dan itu pula yang tampaknya terjadi pada DAAZ.
Namun, kondisi saat ini justru bisa menjadi titik menarik bagi investor yang tengah mencari peluang jangka menengah. Walaupun tren koreksi belum sepenuhnya usai, harga DAAZ masih jauh di atas harga IPO yang hanya di kisaran Rp880.
Artinya, potensi tetap ada, tergantung pada bagaimana perusahaan mengelola ekspektasi pasar ke depan. Investor kemungkinan tengah menanti katalis yang lebih kuat, baik dari sisi laporan keuangan, arah strategis perusahaan, hingga kepastian soal kebijakan dividen.
Fundamental DAAZ Tertekan Valuasi Mahal dan Kas Lemah
Fundamental PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ) menawarkan potret menarik dari sebuah emiten muda yang tengah berada dalam fase pertumbuhan agresif, namun belum sepenuhnya bebas dari tantangan.
Dari kinerja keuangan hingga rasio-rasio penting yang menjadi tolok ukur kesehatan bisnis, DAAZ menampilkan sisi optimisme sekaligus peringatan.
Sepanjang kuartal I 2025, DAAZ membukukan laba bersih Rp97 miliar, melonjak tajam dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan Rp44 miliar.
Lonjakan ini mengindikasikan adanya perbaikan signifikan dari sisi efisiensi dan manajemen biaya, meskipun pendapatannya secara tahunan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan 2024.
Secara total, pendapatan tahunan (annualised) pada 2025 diperkirakan berada di angka Rp388 miliar, lebih rendah dibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar Rp455 miliar.
Margin keuntungan perusahaan masih tergolong tipis. Margin laba kotor tercatat 7,83 persen, margin operasi 6,71 persen, dan margin laba bersih hanya 3,15 persen.
Meski demikian, peningkatan tajam laba bersih dalam setahun terakhir menunjukkan bahwa DAAZ berhasil menjaga efisiensi operasional di tengah penyesuaian skala bisnis.
Namun di sisi lain, angka ini juga mencerminkan bahwa ruang peningkatan profitabilitas masih cukup terbuka, terutama bila perusahaan mampu menekan biaya distribusi dan meningkatkan utilisasi aset.
Dari sisi valuasi, DAAZ terbilang cukup premium jika dibandingkan dengan median pasar. Rasio price to earnings (PE) tahunan berada di kisaran 21,59, sementara PE trailing 12 bulan (TTM) tercatat 16,45.
Sebagai perbandingan, PE median Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ada di angka 8,14. Rasio price to book value (PBV) DAAZ juga tinggi, mencapai 4,98.
Artinya, pasar saat ini menaruh ekspektasi tinggi terhadap potensi pertumbuhan DAAZ ke depan, meskipun dari sisi fundamental, angka-angka ini belum sepenuhnya mencerminkan efisiensi optimal.
Masalah utama yang perlu mendapat perhatian serius ada pada arus kas. Free cash flow (arus kas bebas) per kuartal tercatat minus Rp81 miliar, dan free cash flow per saham negatif Rp20,20.
Dengan rasio price to free cash flow yang menyentuh -207,43, jelas terlihat bahwa meskipun DAAZ mencetak laba, arus kas dari kegiatan operasional belum mampu mengimbangi beban modal dan operasional perusahaan.
Ini adalah sinyal penting bagi investor jangka menengah yang mengutamakan kualitas pendapatan daripada sekadar angka laba bersih.
Dari sisi neraca, perusahaan masih menunjukkan kekuatan dalam likuiditas jangka pendek. Current ratio di angka 5,12 dan quick ratio 4,67 menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan sangat baik.
Namun, struktur utangnya juga perlu diperhatikan. Total utang jangka panjang mencapai Rp1,75 triliun, sementara total utang menyentuh Rp2,19 triliun. Rasio debt to equity di angka 1,31 cukup tinggi, artinya perusahaan masih bergantung cukup besar pada pendanaan eksternal.
Yang juga menarik adalah Z-Score Altman yang berada di level 4,23—menunjukkan bahwa secara statistik, perusahaan jauh dari risiko kebangkrutan dalam waktu dekat. Tapi efektivitas manajemen dalam mengelola modal belum bisa dinilai maksimal.
Return on Equity (ROE), Return on Assets (ROA), dan Return on Capital Employed (ROCE) semuanya tercatat nol persen dalam periode TTM, menandakan bahwa laba bersih perusahaan belum proporsional terhadap sumber daya yang digunakan.
Secara keseluruhan, DAAZ memang menawarkan narasi pertumbuhan yang menjanjikan. Lonjakan laba, likuiditas yang terjaga, serta posisi strategis di sektor komoditas menjadikannya emiten yang patut diperhatikan.
Namun, valuasi yang cukup mahal dan lemahnya arus kas harus menjadi catatan bagi investor. DAAZ cocok untuk investor yang memahami risiko dan bersedia menunggu cerita jangka panjangnya berkembang, selama perusahaan mampu membuktikan bahwa pertumbuhan laba yang ditunjukkan bisa diterjemahkan menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan.
Prospek Bisnis DAAZ: Peluang Jadi Pemain Utama
Prospek bisnis PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ) kian cerah seiring derasnya arus pertumbuhan industri pertambangan dan energi di dalam negeri.
Di tengah geliat global terhadap transisi energi dan kebutuhan industri berbasis mineral, DAAZ berdiri di titik strategis, memanfaatkan momentum dari lonjakan permintaan nikel, batu bara, serta kebutuhan jasa pendukung pertambangan dan logistik yang terus meningkat.
Permintaan nikel dunia diperkirakan akan tumbuh pesat hingga akhir dekade ini. Menurut laporan International Energy Agency (IEA), konsumsi nikel global pada 2023 mencapai 3,1 juta ton dan diproyeksikan tumbuh dengan rata-rata tahunan 6,3 persen hingga 2030.
Pertumbuhan ini tak lepas dari peran penting nikel dalam produksi baterai kendaraan listrik (EV) yang terus naik tajam. Diprediksi, pada 2030, sekitar 30 hingga 40 persen konsumsi nikel dunia akan diserap oleh industri baterai.
Di tengah tren global itu, Indonesia berdiri sebagai pemain utama. Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, sekitar 5,2 miliar ton atau setara 23 persen dari total cadangan global, dan menjadi produsen terbesar dengan produksi 1,8 juta ton pada 2023, Indonesia memiliki posisi yang sangat kuat di pasar.
Pemerintah pun terus mendorong hilirisasi melalui pembangunan smelter. Hingga pertengahan 2024, tercatat ada 47 peleburan nikel yang telah beroperasi dan 31 lagi dalam proses pembangunan.
Di sisi hulu, volume RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) yang disetujui juga melonjak dari 98 juta ton pada 2022 menjadi 240 juta ton per tahun untuk periode 2024–2026. Angka ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan pasokan bijih nikel.
Sementara itu, batu bara, yang sempat diragukan kelanjutannya di tengah dorongan transisi energi, justru mencatat rekor baru. IEA melaporkan konsumsi global pada 2023 menyentuh angka tertinggi sepanjang masa di 8,5 miliar ton.
Indonesia, sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, turut menikmati lonjakan permintaan. Produksi nasional pada 2023 mencapai 775 juta ton dengan ekspor sebanyak 518 juta ton.
Untuk mendukung lonjakan ini, pemerintah kembali menaikkan kuota produksi melalui RKAB menjadi 922 juta ton per tahun.
Dalam konteks ini, DAAZ mengambil posisi yang tidak hanya reaktif, tapi juga antisipatif. Perusahaan bergerak di tiga lini utama: perdagangan komoditas (bijih nikel, batu bara, dan solar), jasa angkutan laut, serta jasa pertambangan.
Model bisnisnya yang terintegrasi dari hulu ke hilir memberi DAAZ fleksibilitas sekaligus efisiensi dalam menjalankan operasional.
Keunggulan ini sangat relevan di tengah meningkatnya kebutuhan jasa logistik, khususnya angkutan laut menggunakan tug and barge, untuk membawa hasil tambang dari lokasi produksi ke pelabuhan dan pusat pengolahan.
DAAZ juga mencermati tren meningkatnya kebutuhan jasa pertambangan, mulai dari eksplorasi, survei geologi, hingga pengelolaan tambang. Dengan banyaknya tambang baru yang akan dibuka, kebutuhan akan mitra operasional yang andal terus meningkat.
Di sinilah DAAZ melihat peluang besar untuk memperluas portofolionya dan meningkatkan pendapatan.
Di balik proyeksi tersebut, manajemen DAAZ menyampaikan optimisme yang cukup beralasan. Perusahaan mengandalkan kombinasi antara efisiensi operasional, inovasi layanan, dan komitmen terhadap kualitas.
Dengan dukungan tim manajemen berpengalaman, aset pendukung yang dimiliki dan dikendalikan sendiri, serta kontrak jangka panjang bersama mitra pemasok, DAAZ meletakkan pondasi yang kuat untuk memperbesar skala bisnisnya secara berkelanjutan.
Keunggulan lain yang dimiliki DAAZ adalah keberhasilannya menjaga diversifikasi sumber pendapatan. Dalam industri yang dikenal berisiko tinggi dan sangat dipengaruhi fluktuasi harga komoditas, memiliki lebih dari satu lini bisnis yang saling menopang adalah kekuatan tersendiri.
Hal ini membuat DAAZ lebih tangguh dalam menghadapi perubahan kondisi pasar dan lebih gesit dalam merespons peluang.
Dengan kondisi pasar yang mendukung, dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten, serta pendekatan bisnis yang terstruktur dan efisien, DAAZ berpeluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam rantai industri pertambangan dan energi nasional.
Meski jalan ke depan tak selalu mulus, kesiapan perusahaan dalam menangkap peluang dan mengelola risiko menjadi kunci untuk mempertahankan pertumbuhan jangka panjang yang sehat dan berkelanjutan.
Potensi Dividen Besar dari DAAZ
PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ) tengah menjadi sorotan investor setelah manajemen dalam prospektus IPO menyampaikan rencana pembagian dividen yang cukup ambisius: hingga 100 persen dari laba bersih tahun buku 2024 akan dibagikan dalam bentuk dividen tunai pada 2025.
Namun seperti biasa, realisasi kebijakan ini tak serta-merta, karena keputusan akhir tetap akan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), dengan mempertimbangkan sejumlah faktor mulai dari arus kas, kebutuhan belanja modal, hingga rencana ekspansi perusahaan ke depan.
Jika merujuk pada laporan keuangan tahunan yang diestimasi berdasarkan kinerja kuartalan, DAAZ mencetak laba bersih sekitar Rp455 miliar sepanjang 2024. Dengan jumlah saham beredar sebesar 2 miliar lembar, potensi laba per saham (EPS) berada di kisaran Rp227,5.
Artinya, jika seluruh laba dibagikan sebagai dividen seperti yang dijanjikan dalam prospektus, maka investor berpeluang menerima dividen tunai dengan nilai yang setara.
Mengacu pada harga pasar saham DAAZ saat ini yang berada di sekitar Rp4.190 per saham, potensi dividen yield-nya mencapai sekitar 5,4 persen.
Angka ini cukup kompetitif, terutama jika dibandingkan dengan rata-rata yield dividen emiten di Bursa Efek Indonesia yang umumnya berada di bawah 4 persen. Bagi investor yang mengincar pendapatan pasif dari dividen, ini tentu menjadi kabar yang menarik.
Namun, euforia terhadap kemungkinan dividen besar tersebut perlu dibarengi sikap realistis. DAAZ bukan perusahaan yang sudah mapan puluhan tahun, melainkan emiten baru yang sedang ekspansi besar-besaran di sektor perdagangan komoditas, logistik maritim, dan jasa pertambangan.
Proyek-proyek yang mereka jalankan membutuhkan dana besar, dan meski posisi kas perusahaan masih cukup aman, manajemen tetap harus berhitung cermat sebelum mengalokasikan seluruh laba untuk dividen.
Laju pertumbuhan laba DAAZ memang impresif, naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tapi di sisi lain, arus kas bebas (free cash flow) perusahaan masih dalam posisi negatif.
Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar dana hasil operasional kemungkinan masih akan diputar untuk menopang aktivitas bisnis dan investasi jangka panjang.
Dengan latar belakang ini, tidak tertutup kemungkinan bahwa dividen yang dibagikan akan lebih konservatif dari target awal, meskipun tetap atraktif.
Bagi investor jangka panjang, sinyal komitmen membagikan dividen setinggi 100 persen tentu patut diapresiasi. Namun untuk sementara, arah kebijakan ini masih bergantung pada bagaimana kinerja keuangan dan kondisi pasar berkembang di semester-semester mendatang.
Jika laba tetap solid dan arus kas mulai membaik, DAAZ punya peluang besar menjadi salah satu emiten dengan kombinasi pertumbuhan dan dividen yang menguntungkan.
Sampai saat itu tiba, investor sebaiknya tetap mengikuti perkembangan kinerja dan menantikan keputusan resmi dalam RUPST. Karena seperti banyak hal di pasar modal, janji menarik tetap perlu dibarengi pembuktian.
Ada Prospek Jangka Panjang yang Menjanjikan
Masuknya PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ) ke dalam indeks FTSE Indonesia menjadi momen krusial yang menandai pengakuan pasar terhadap performa dan potensi jangka panjang emiten ini.
Tak hanya dari sisi likuiditas dan kapitalisasi pasar, tetapi juga sebagai sinyal bahwa DAAZ mulai masuk ke dalam radar investor institusi global yang menjadikan indeks ini sebagai salah satu acuan strategis mereka.
Di satu sisi, langkah ini datang pada saat yang cukup strategis. DAAZ merupakan pemain yang cukup agresif di sektor pertambangan, dengan lini bisnis yang menyasar komoditas penting seperti bijih nikel, batu bara, hingga jasa angkutan laut dan pertambangan.
Semua ini berada dalam ekosistem industri yang tengah mengalami pertumbuhan struktural, baik karena kebutuhan energi global yang masih tinggi maupun arah kebijakan pemerintah Indonesia yang konsisten mendorong hilirisasi mineral dan peningkatan kapasitas produksi.
Kinerja keuangan DAAZ sepanjang 2024 menunjukkan arah yang positif. Laba bersih melonjak signifikan, didorong oleh efisiensi dan stabilitas pendapatan. Namun di sisi lain, arus kas perusahaan masih negatif.
Ini menandakan bahwa dana operasional dan laba belum sepenuhnya berubah menjadi kas bebas yang bisa digunakan tanpa membebani neraca. Di tengah strategi ekspansi yang masih berjalan, ini menjadi salah satu catatan yang perlu dicermati ke depan.
Yang juga menjadi perhatian adalah rencana manajemen untuk membagikan hingga 100 persen laba bersih tahun 2024 sebagai dividen tunai. Jika benar terealisasi, potensi yield yang ditawarkan mencapai lebih dari lima persen terhadap harga saham saat ini, level yang cukup menarik.
Tapi perlu diingat, keputusan akhir tetap berada di tangan pemegang saham melalui RUPST. Artinya, janji dividen besar tersebut masih bersifat indikatif dan sangat bergantung pada posisi keuangan DAAZ dalam beberapa bulan mendatang.
Dari sisi pergerakan harga, saham DAAZ sempat melesat tajam usai IPO sebelum kemudian masuk ke fase koreksi. Sejauh ini, tren jangka pendek masih cenderung fluktuatif. Namun untuk jangka menengah hingga panjang, prospek saham ini tetap terbuka lebar.
Permintaan global terhadap nikel diperkirakan akan terus tumbuh, seiring tren elektrifikasi kendaraan dan kebutuhan energi terbarukan. Batu bara juga masih menjadi komoditas andalan ekspor Indonesia dalam waktu dekat, setidaknya sampai transisi energi benar-benar masif secara global.
Dengan portofolio usaha yang terintegrasi dan strategi bisnis yang menyasar kebutuhan nyata industri, DAAZ punya posisi yang cukup kuat. Tapi bagi investor, tantangannya adalah mengukur apakah semua potensi itu benar-benar bisa diterjemahkan ke dalam kinerja yang konsisten.
DAAZ memang menjanjikan, tapi juga menuntut kesabaran dan pemantauan aktif. Bagi mereka yang punya orientasi jangka panjang dan siap menghadapi dinamika harga di awal-awal pertumbuhan, DAAZ layak mendapat tempat dalam portofolio.
Namun bagi investor jangka pendek, langkah terbaik saat ini mungkin adalah menunggu kepastian arah fundamental dan sinyal kuat dari laporan keuangan berikutnya.
Dalam banyak kasus di pasar modal, saham yang sukses bukan hanya soal potensi, tapi juga soal eksekusi. Dan DAAZ, sejauh ini, sedang dalam perjalanan membuktikan itu.(*)