Insight Daily 24 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

PP Energi Nasional Terbit, Emiten-emiten ini Siap Tancap Gas

Adapun total kebutuhan energi final dipatok terus meningkat dari kisaran 255,1–299 juta TOE pada 2030 menjadi 378,5–432,8 juta TOE pada 2060.

KABARBURSA.COM - Presiden Prabowo Subianto resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional. Regulasi baru ini menegaskan kembali komitmen Indonesia menuju kemandirian energi dan target emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060.Dalam konsideransnya, pemerintah menyebut terdapat perubahan lingkungan strate...

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). (Foto: Dok. PGE)
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). (Foto: Dok. PGE)

Insight Navigator

  1. 01 Target Pemanfaatan Energi
  2. 02 Target penyediaan energi
  3. 03 Emiten yang Diperkirakan Untung dari Target Pencapaian Energi Berdasarkan Sumber Energi
  4. 04 Emiten yang Diperkirakan Untung dari Target Penyediaan Energi

KABARBURSA.COM - Presiden Prabowo Subianto resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional. Regulasi baru ini menegaskan kembali komitmen Indonesia menuju kemandirian energi dan target emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060.

Dalam konsideransnya, pemerintah menyebut terdapat perubahan lingkungan strategis baik nasional maupun global yang memerlukan pembaruan kebijakan energi. Beberapa alasan penting antara lain:

- Percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk meningkatkan pangsa energi bersih dalam bauran energi primer nasional.

- Dukungan pertumbuhan ekonomi jangka panjang, termasuk visi Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

- Komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca, sejalan dengan target emisi nol bersih 2060.

Perlu diketahui, PP ini menggantikan kebijakan sebelumnya yang diatur dalam PP Nomor 79 Tahun 2014, menyesuaikan dengan kebutuhan transisi energi yang semakin mendesak. Pemerintah menekankan pentingnya keragaman sumber energi, kemajuan teknologi, serta kontribusi sektor energi dalam memenuhi komitmen iklim.

“Peraturan Pemerintah ini menjadi landasan hukum baru bagi arah kebijakan energi nasional dan memastikan keberlanjutan pasokan energi sekaligus mendukung pembangunan ekonomi,” tertulis dalam naskah PP 40/2025.

Sebagaimana ketentuan konstitusi, rancangan PP ini telah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebelum disahkan oleh Presiden.


Adapun total kebutuhan energi final dipatok terus meningkat dari kisaran 255,1–299 juta TOE pada 2030 menjadi 378,5–432,8 juta TOE pada 2060. Sektor industri diproyeksikan tetap menjadi penyerap terbesar, sementara konsumsi di transportasi cenderung turun sejalan peralihan teknologi dan efisiensi. berikut rinciannya

Target Pemanfaatan Energi

Lintasan Total Energi Final:
2030: 255,1–299 juta TOE → 2060: 378,5–432,8 juta TargetTOE

Per Sektor

Industri
2030: 127,9–153,4 juta TOE → 2060: 246,7–274 juta TOE

Transportasi
2030: 87–95,6 juta TOE → 2060: 64,7–80 juta TOE

Komersial
2030: 11,2–15,6 juta TOE → 2060: 20,8–27,2 juta TOE

Rumah Tangga
2030: 29–34,3 juta TOE → 2060: 46,3–51,7 juta TOE

Per Jenis Energi:

Tenaga surya
2030: 1,2–1,5 juta TOE → 2060: 11,6–12,7 juta TOE

Biomassa
2030: 15,8–23,1 juta TOE → 2060: 67,5–71,9 juta TOE

Biogas
2030: 48,4–65,1 juta TOE →2060: 286,7–378,3 juta TOE

Bahan bakar nabati (biofuel)
2030: 18,7–22,7 juta TOE → 2060: 13,6–19,9 juta TOE

Hidrogen
2030: 0,7–1,4 juta TOE → 2060: 31,4–35,4 juta TOE

Amonia
2030: 2,4–2,9 juta TOE → 2060: 3,5–7,5 juta TOE

Dimethyl ether (DME)
2030: 0–600 ribu TOE → 2060: 3–3,6 juta TOE

BBM (bahan bakar minyak)
2030: 75,3–82,1 juta TOE → 2060: 22,8–32 juta TOE

Gas bumi
2030: 18,8–20,1 juta TOE → 2060: 56,5–71,1 juta TOE

LPG
2030: 11–11,2 juta TOE → 2060: 0,8–0,9 juta TOE

Batu bara
2030: 67,2–68,7 juta TOE → 2060: 25,3–38,6 juta TOE


Target penyediaan energi

Energi primer per kapita:
2030: 1,2 - 1,4 TOE → 2060: 1,9 - 2,2 TOE

Bauran EBT energi primer:

Hidro
2030: 1,8 persen-2,3 persen → 2060: 4,9 persen - 5,1 persen

Tenaga surya:
2030: 1,3 persen-1,6persen → 2060: 29,8 persen-32persen

Angin:
2030: 0,3 persen - 0,5 persen → 2060: 1,2 persen—1,3 persen

Biomassa:
2030: 7,2 persen - 9 persen → 2060: 12,2 persen - 13,4 persen

Panas bumi:
2030: 3,4 persen - 4 persen → 2060: 4,9 persen - 5,2 persen

Biogas:
2030: 0,013 persen - 0,014 persen → 2060: 0,043 persen - 0,049 persen

Bahan bakar nabati:
2030: 5,1 persen - 5,2 persen → 2060: 2,1 persen - 2,6 persen

Nuklir:
2030: 0,4 persen - 0,5 persen →  2060: 11,7 persen - 12,1 persen

EBT lainnya:
2030: 0,1 persen - 0,2 persen → 2060: 1,5 persen - 1,6 persen

Pengurangan peran energi  bumi:
2030: 22,4 persen - 26,3 persen → 2060: 3,9 persen - 4,7 persen

Pengurangan peran energi batu bara:
2030: 40,7 persen - 41,6 persen → 2060: 7,8 persen - 11,9 persen

Pemanfaatan energi gas bumi:
2030 : 12,9 persen - 14,2 persen → 2060 : 14,4 persen - 15,4 persen

Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy, mengatakan  PP 40/2025 merevisi target bauran EBT menjadi 17-20 persen pada 2025 dari 23 persen sebelumnya. Menurutnya, hal ini realistis mengingat realisasi per September 2025 hanya 16 persen atau naik dari 14 persen di akhir 2024 dengan penambahan kapasitas 876,5 MW di semester I.

"Ini selaras dengan Just Energy Transition Partnership (JETP), yang berpotensi menariik investasi USD20 miliar untuk pensiun dini PLTU, kurangi impor minyak Rp500 triliun/tahun, dan ciptakan 1-2 juta lapangan kerja di industri tenaga surya dengan target 17 GW hingga 2030, serta bioenergi," ujar dia kepada Kabarbursa.com, Rabu, 24 September 2025.

Secara ekonomi, kata Abdul, target jangka panjang 58-61 persen pada 2050 bisa mendorong PDB +1-2 persen per tahun dari ekonomi hijau.

Namun, ia menjelaskan penurunan target berisiko melemahkan komitmen transisi, dengan gap pendanaan USD7 miliar/tahun dan biaya eksternal emisi batubara Rp200 triliun/tahun.

Menurutnya, realisasi yang lambat disebabkan infrastruktur grid lemah dan TKDN tinggi, investasi bberpotens  hilang mencapai USD10-15 miliar jika ambisius 23 persen dipertahankan.

"Co-firing biomassa bisa naikkan biaya operasional 20-30 persen tanpa subsidi jelas, perpanjang ketergantungan fosil (batubara 40 persen. Sehingga, rekomendasi bisa dimulai dari memperkuat insentif fiskal seperti tax holiday dan grid pintar seperti hemat 15 persen transmisi, plus pemantauan triwulanan," ungkapnya.


Abdul pun mengakui jika PP energi ini merupakaan pondasi baik, tapi eksekusi agresif diperlukan agar Indonesia tak tertinggal Vietnam di ekonomi hijau.


Emiten yang Diperkirakan Untung dari Target Pencapaian Energi Berdasarkan Sumber Energi

Jika agenda transisi energi berjalan mulus, maka peta sentimen di bursa berpotensi bergeser ke emiten yang siap mengonversi kebijakan menjadi kinerja operasional.

Berdasarkan PP 40/2025, emiten di Bursa Efek Indonesia berpotensi meraup keuntungan dari dorongan EBT, khususnya geothermal, surya, biodiesel, dan waste-to-energy (WTE).

Menurut Abdul, PGEO dan BREN unggul di sektor geothermal dengan potensi nasional 23,4 GW (kapasitas terpasang 2,3 GW per Q3 2025).

"PGEO mencatat kenaikan pendapatan 21 persen QoQ di Q2 2025, sementara BREN menargetkan 2.300 MW hingga 2032, didukung insentif JETP USD20 miliar," katanya.

Abdul menilai DSSA dan TOBA juga diuntungkan dari proyek surya, DSSA fokus pada produksi panel surya 140 MW hingga 2029, sedangkan TOBA menggarap PLTS terapung 46 MWp, yang mulai menunjukkan traksi di pasar.

Di sisi biodiesel, SMAR memimpin dengan serapan CPO 10 juta KL untuk B40 hingga September 2025, dengan proyeksi laba bersih naik 20 persen tahun depan, sejalan dengan kuota nasional 15,6 juta KL.

Sementara itu, INDY dan UNTR mendapat angin segar dari proyek surya (INDY 500 MW hingga 2027) dan WTE.

"UNTR, misalnya, mengembangkan proyek geothermal 91 MW, dengan EBITDA diprediksi naik 10 persen berkat sinergi JETP dan Danantara," kata Abdul.

TOBA, lanjut Abdul,  juga menonjol melalui anak usahanya yakni PT Energi Baru TBS, yang mengoperasikan PLTSa di Banten (1.000 ton sampah/hari, setara 10-15 MW), mulai berjalan sejak Q3 2025.

Emiten yang Diperkirakan Untung dari Target Penyediaan Energi

- Geothermal
Abdul menyebut PGEO akan diuntungkan dari proyek geothermal dengan proyeksi kenaikan penggunaan mencapai 3,4 persen - 5,2 persen untuk 2030 – 2060.

"Hal ini tercermin dari posisi PGEO sebagai market leader dengan 70 situs panas bumi, ekspansi ke 1 GW dalam 2-3 tahun, termasuk proyek hidrogen," ungkapnya.

BREN dinilai juga akan diuntungkan karena kegiatan usaha perusahaan berfokus 100 persen geothermal, serta aksi korporasi  akuisisi aset Supreme Energy tingkatkan kapasitas 1 GW hingga potensi ekspor listrik ke ASEAN.

- Tenaga Surya
Adapun proyeksi penggunaan tenaga surya untuk 2030 – 2060 mencapai 1,3 persen-32 persen atau lonjakan yang signifikan.

Abdul menilai hal ini memicu sentimen positif jangka panjang bagi emiten DSSA karena pabrik panel surya terintegrasi terbesar di RI (kapasitas 2 GW/tahun, investasi USD100 juta), serta suplai domestik untuk proyek PLTS 10 GW di RUPTL.

- Hydro

Di Hydro ada emiten ARKO yang menjadi operator PLTA dengan 200 MW pipeline. AI untuk optimalisasi, dukung target hydro 5 GW di RUPTL.

"ARKO sendiri cukup optimal dalam menjalankan bisnisnya dengan mencatatkan pertumbuhan pendaptan 42,1 persen pada 6M2025 YoY dan laba bersih naik 20 persen pada 6M2025 YoY," kata Abdul.

- Biomassa

Terakhir, Abdul mengatakan DSNG diperkirakan akan diuntungkan dari segi biomassa. Ia menerangkan DSNG  menjadi perusahaan konversi limbah sawit (440 ribu ton/tahun) ke biofuel, integrasi dengan agro sawit untuk pasok stabil.

"Serta, KEEN yang memiliki PLTBm dan biomassa dari limbah industri dengan target 500 MW EBT," pungkasnya.
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya