KABARBURSA.COM - Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dalam sepekan terakhir periode 18-24 Februari 2026 mencuri perhatian setelah investor asing terpantau melakukan akumulasi secara konsisten melalui beberapa broker.
Hal tersebut terbukti setelah saham PGAS mengalami penguatan dalam satu pekan sebesar 5,63 persen atau naik 120 poin.
Broker ZP tercatat menjadi pengakumulasi terbesar dengan total nilai pembelian mencapai Rp69,4 miliar atau setara dengan 315,9 ribu lot di harga rata-rata Rp2.200 per saham.
Aksi beli ini diikuti oleh broker YU yang mencatatkan nilai pembelian sebesar Rp37,3 miliar dengan volume mencapai 168,8 ribu lot di harga rata-rata Rp2.212.
Selain itu, broker KZ dan AK juga masuk dalam jajaran lima besar pembeli asing dengan nilai transaksi masing-masing sebesar Rp5,4 miliar. KZ melakukan akumulasi sebanyak 24,9 ribu lot di harga rata-rata Rp2.179, sementara AK mencatatkan pembelian sebanyak 24,6 ribu lot dengan harga rata-rata Rp2.208 per saham.
Broker BK turut menambah tekanan beli dengan nilai transaksi mencapai Rp4 miliar atau setara 19,1 ribu lot di harga rata-rata Rp2.205. Aksi akumulasi juga terlihat dari broker CC yang mencatatkan pembelian sebesar Rp2,8 miliar di harga rata-rata Rp2.192, diikuti AG dengan nilai Rp1,8 miliar pada harga rata-rata Rp2.238.
Sementara itu, broker lain seperti KK, AI, dan HD turut mencatatkan pembelian meskipun dengan nilai yang relatif lebih kecil, masing-masing sebesar Rp61,5 juta, Rp57 juta, dan Rp48,9 juta.
Di sisi lain, tekanan jual dari investor asing terpantau relatif terbatas jika dibandingkan dengan total nilai pembelian. Broker BB tercatat sebagai penjual terbesar dengan nilai transaksi sebesar Rp2,1 miliar atau sekitar 10 ribu lot. Posisi berikutnya ditempati oleh broker TP dengan nilai jual Rp1,7 miliar dan volume mencapai 7,5 ribu lot.
Broker RX turut mencatatkan aksi distribusi sebesar Rp880,5 juta diikuti oleh PD sebesar Rp235 juta serta LG sebesar Rp93,3 juta. Sementara itu, broker DH, NI, SQ, QA, dan HP mencatatkan aksi jual dengan nilai yang lebih kecil, berkisar antara Rp6,5 juta hingga Rp85 juta.
Secara keseluruhan, dominasi nilai pembelian oleh broker asing dibandingkan tekanan jual dalam periode ini mencerminkan adanya kecenderungan akumulasi pada saham PGAS di pasar reguler. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar, terutama dalam mengamati potensi kelanjutan tren masuknya dana institusi global terhadap emiten sektor distribusi gas tersebut di tengah rotasi sektor energi yang masih berlangsung di Bursa Efek Indonesia.
Pergerakan Saham Secara Keseluruhan
Meski tengah diakumulasi asing, pada perdagangan kemarin, Selasa, 24 Februari 2026, saham PGAS melemah 0,88 persen ke harga Rp2.250. Pun dalam sebulan terakhir, saham emiten pelat merah ini turut terkoreksi 0,88 persen.
Namun dalam periode tiga bulan terakhir, saham PGAS telah terapresiasi sebesar 30,81 persen, sejalan dengan kinerja enam bulanan yang juga mencatatkan kenaikan dalam persentase yang sama.
Secara year-to-date (YTD), saham ini masih membukukan penguatan sebesar 17,80 persen. Jika ditarik lebih panjang, tren kenaikan harga juga tercermin dalam kinerja tahunan yang telah menguat hingga 35,54 persen dalam satu tahun terakhir.
Sementara itu, dalam rentang tiga tahun dan lima tahun, saham ini masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 46,58 persen dan 55,17 persen.
Namun demikian, dalam periode jangka panjang selama 10 tahun, saham PGAS masih mencatatkan pelemahan sebesar 14,77 persen.
Adalun level harga PGAS saat ini telah melampaui target harga rata-rata analis Stockbit yang berada di kisaran Rp2.075. Sedangkan estimasi target harga tertinggi dari analis tercatat sebesar Rp2.500, sementara estimasi terendah berada di level Rp1.600 per saham.
Meski harga saham telah berada di atas target konsensus rata-rata, mayoritas analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek PGAS.
Berdasarkan konsensus terhadap 23 analis Stockbit, sebanyak 12 analis memberikan rekomendasi beli, sementara 10 analis menyarankan untuk menahan posisi, dan hanya satu analis yang memberikan rekomendasi jual.
Dominasi rekomendasi beli tersebut mencerminkan bahwa pelaku pasar institusi masih melihat potensi fundamental PGAS dalam jangka menengah, terutama di tengah peran strategis perseroan dalam distribusi gas nasional yang menjadi bagian dari agenda transisi energi domestik.
Dengan tren harga yang telah mencatatkan penguatan dalam beberapa bulan terakhir, ditambah mayoritas rekomendasi analis yang masih berada di level positif, pelaku pasar kini mencermati apakah saham PGAS masih memiliki ruang kenaikan lanjutan menuju target tertinggi analis, atau justru akan memasuki fase konsolidasi jangka pendek.
Fundamental PGAS
PGAS menunjukkan kinerja yang relatif solid, terutama dari sisi likuiditas, profitabilitas, hingga kebijakan dividen. Berdasarkan data keuangan terbaru, sejumlah indikator utama mencerminkan kemampuan perseroan dalam menjaga stabilitas operasional di tengah volatilitas industri energi global.
Dari sisi solvabilitas, PGAS mencatatkan current ratio sebesar 1,94 secara kuartalan, yang menunjukkan bahwa aset lancar perseroan masih mampu menutupi kewajiban jangka pendek hampir dua kali lipat. Sementara itu, quick ratio tercatat sebesar 1,85, mengindikasikan bahwa bahkan tanpa memperhitungkan aset yang kurang likuid seperti persediaan, PGAS tetap memiliki kemampuan yang memadai dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Rasio debt to equity (DER) PGAS juga tercatat berada di level 0,42. Angka ini mencerminkan struktur permodalan yang relatif konservatif, di mana proporsi utang terhadap ekuitas masih berada dalam batas yang terkendali. Dengan leverage yang tidak terlalu agresif, PGAS dinilai memiliki fleksibilitas finansial yang cukup untuk mendukung ekspansi bisnis maupun menghadapi tekanan eksternal dalam jangka menengah.
Dari sisi profitabilitas, PGAS membukukan return on assets (ROA) sebesar 4,98 persen secara trailing twelve months (TTM), yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki.
Sementara itu, return on equity (ROE) tercatat sebesar 11,02 persen, mencerminkan tingkat pengembalian terhadap modal pemegang saham yang masih berada dalam kisaran moderat di tengah dinamika sektor energi.
Margin laba perseroan juga menunjukkan performa yang stabil. Gross profit margin tercatat sebesar 18,53 persen secara kuartalan, sementara operating profit margin berada di level 14,54 persen. Adapun net profit margin PGAS tercatat sebesar 9,49 persen, mengindikasikan bahwa perusahaan masih mampu menjaga efisiensi operasional dalam menghasilkan laba bersih dari pendapatan yang diperoleh.
Selain itu, PGAS juga tetap mempertahankan daya tariknya dari sisi distribusi dividen. Berdasarkan data trailing twelve months (TTM), nilai dividen perseroan tercatat sebesar Rp182,08 per saham dengan payout ratio mencapai 84,81 persen. Tingkat pembagian laba yang relatif tinggi tersebut turut mendorong dividend yield PGAS ke level 8,09 persen.
Dividend yield yang berada di atas rata-rata pasar ini menjadi salah satu faktor yang kerap diperhatikan oleh investor institusi maupun ritel, terutama dalam konteks strategi investasi berbasis pendapatan (income investing). Adapun tanggal ex-dividend terakhir PGAS tercatat pada 12 Juni 2025.
Dengan rasio likuiditas yang masih terjaga, struktur permodalan yang konservatif, serta tingkat profitabilitas yang stabil ditambah dengan kebijakan pembagian dividen yang agresif, fundamental PGAS dinilai masih memiliki daya tarik.
Mengutip keterangan resmi perusahaan, hingga 30 September 2025, PGAS mencatat pendapatan sebesar USD2,9 miliar, meningkat sekitar 3,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba operasi dan EBITDA masing-masing diperoleh sebesar USD383,1 juta dan USD728,7 juta, serta laba bersih tercatat USD 237,9 juta. Realisasi belanja modal (capex) mencapai USD173,9 juta, dialokasikan secara terukur untuk proyek strategis yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Sepanjang kuartal III 2025, kinerja operasional PGAS menunjukkan pertumbuhan positif pada hampir seluruh segmen bisnis. Volume penjualan niaga gas bumi tercatat 833,0 BBTUD, sementara volume transmisi gas bumi mencapai 1.622,3 MMSCFD dan transportasi minyak sebesar 173.801,2 BOEPD.
Dari anak perusahaan dan afiliasi, PGN mencatat lifting minyak dan gas sebesar 16.892,4 BOEPD, regasifikasi LNG 254,4 BBTUD, dan pemrosesan LPG sebesar 119,2 metrik ton per hari.
Selain itu dari segmen LNG Trading Internasional, hingga September 2025, PGN berhasil mengirim lima kargo LNG atau setara 56,3 BBTUD ke pasar regional. (*)