Insight Daily 25 May 2026 Penulis: KabarBursa.com

Pertumbuhan Kinerja MORA Mulai Mengundang Minat Investor Global

Investor asing mulai mengakumulasi saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) setelah perseroan mencatat pertumbuhan kinerja keuangan pada kuartal I 2026

KABARBURSA.COM - PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) terpantau menjadi incaran investor global atau asing setelah Perseroan membukukan kinerja keuangan positif pada kuartal I 2026.MORA sendiri melaporkan kinerja kuartal I 2026 pada 21 April. Sejak saat itu hingga perdagangan terakhir pekan lalu atau 22 Mei 2026, investor asing mulai berdatangan ke saham iniMe...

(Foto: Dok. Moratelindo)
(Foto: Dok. Moratelindo)

Insight Navigator

  1. 01 Laba MORA Tumbuh pada Kuartal I 2026
  2. 02 Valuasi MORA Melambung
  3. 03 Pergerakan Saham

KABARBURSA.COM - PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) terpantau menjadi incaran investor global atau asing setelah Perseroan membukukan kinerja keuangan positif pada kuartal I 2026.

MORA sendiri melaporkan kinerja kuartal I 2026 pada 21 April. Sejak saat itu hingga perdagangan terakhir pekan lalu atau 22 Mei 2026, investor asing mulai berdatangan ke saham ini

Mengacu pada data perdagangan Stockbit periode 21 April hingga 22 Mei 2026, broker CC tercatat menjadi pembeli terbesar saham MORA dengan nilai akumulasi mencapai Rp22,3 miliar.

Broker tersebut memborong semutar 32,7 ribu lot saham melalui 3,2 ribu kali transaksi di harga rata-rata Rp6.881. Nilai pembelian broker CC terlihat cukup dominan dibanding broker lainnya.

Sementara itu, broker ZP tercatat aktif mengoleksi saham MORA dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp6,9 miliar. Broker ini mengakumulasi sekitar 11,1 ribu lot saham di harga rata-rata Rp6.321 melalui 1,8 ribu kali transaksi.

Broker AK turut memperlihatkan agresivitas serupa dengan total pembelian mencapai Rp4,6 miliar atau setara 5,4 ribu lot saham di harga rata-rata Rp6.445.

Sedangkan broker AG membukukkan nilai akumulasi Rp4,4 miliar dengan volume sekitar 6,2 ribu lot,pada harga rata-rata Rp7.110 per saham.

Selain itu, broker BK ikut masuk dalam daftar pembelian terbesar dengan nilai akumulasi sekitar Rp2,3 miliar atau mengoleksi sekitar 5,3 ribu lot saham MORA di harga rata-rata Rp5.941.

Akumulasi juga terlihat dilakukan sejumlah broker lain meski dalam nominal lebih kecil. Broker YU membeli saham MORA senilai Rp464,8 juta dengan volume 742 lot pada harga rata-rata Rp6.228 per saham. Broker SQ tercatat melakukan pembelian Rp280,1 juta atau sekitar 436 lot di harga rata-rata Rp6.750 per saham.

Selanjutnya broker KZ membukukan pembelian sebesar Rp184,4 juta dengan volume 295 lot di harga rata-rata Rp6.250 per saham. Broker YP membeli saham MORA senilai Rp9 juta melalui transaksi 13 lot pada harga rata-rata Rp7.161 per saham.

Sementara broker PD mencatat pembelian terkecil dengan nilai sekitar Rp820 ribu untuk 1 lot saham di harga rata-rata Rp8.200 per saham.

Di sisi lain, tekanan distribusi terhadap saham MORA relatif minim. Broker TP tercatat menjadi penjual terbesar dengan nilai distribusi sekitar Rp357,5 juta. Sedangkan broker QA membukukan penjualan sekitar Rp7,2 juta.

Jika dibandingkan dengan total akumulasi yang mencapai puluhan miliar rupiah, nilai distribusi tersebut terlihat sangat kecil. Fenomena ini menarik karena terjadi setelah Perseroan membukukan kinerja keuangan positif pada kuartal I 2026.

Pasar nampknya mulai melihat MORA bukan sekadar emiten telekomunikasi biasa, tetapi sebagai bagian dari rantai pertumbuhan ekonomi digital nasional yang masih memiliki ruang ekspansi besar.

Laba MORA Tumbuh pada Kuartal I 2026

MORA membuka tahun 2026 dengan kinerja keuangan yang solid. Emiten ini berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026, MORA mencatatkan pendapatan sebesar Rp962,6 miliar. Angka ini naik dibanding periode yang sama tahun lalu senilai Rp895,4 miliar.

Dari sisi profitabilitas, MORA membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp142,6 miliar pada kuartal I 2026, naik sekitar 28,4 persen dibanding periode serupa tahun lalu yang sebesar Rp111 miliar.

Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk tercatat mencapai Rp128,8 miliar, naik dari Rp104,5 miliar pada kuartal I 2025.

Kinerja positif MORA juga tergambar dari pertumbuhan laba per saham atau earnings per share (EPS). Pada kuartal I 2026, laba per saham dasar Perseroan naik menjadi 5,44 dibandingkan periode sebelumnya sebesar 4,42.

Dari sisi neraca, MORA memiliki total aset sebesar Rp14,92 triliun per 31 Maret 2026, meningkat dari posisi akhir 2025 sebanyak Rp14,76 triliun. Kenaikan aset terutama ditopang pertumbuhan aset tetap yang mencapai Rp8,36 triliun dari sebelumnya Rp8,11 triliun.

Dari sisi likuiditas, kas dan setara kas MORA berada di level Rp1,35 triliun.  Angka ini menurun tipis jika dibandingkan dengan akhir tahun 2025 sebesar Rp1,36 triliun.

Sementara itu, total liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp6,86 triliun, relatif stabil dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp6,84 triliun.  Adapun total ekuitas meningkat menjadi Rp8,06 triliun dari sebelumnya Rp7,91 triliun.

Kinerja MORA pada kuartal I 2026 memperlihatkan jika perusahaan masih bisa menjaga pertumbuhan bisnis di tengah kompetisi industri telekomunikasi dan infrastruktur digital yang semakin ketat.

Pertumbuhan pendapatan dan laba bersih menjadi sinyal bahwa kebutuhan layanan konektivitas, jaringan fiber optik, hingga ekosistem digital nasional masih terus meningkat.

Di sisi lain, ekspansi aset tetap yang terus bertambah memperlihatkan MORA tetap agresif memperkuat infrastruktur bisnisnya untuk menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang.

Sentimen positif tersebut mulai tercermin dari pergerakan investor di pasar saham. Sejumlah investor asing terlihat aktif mengakumulasi saham MORA usai mencetak kinerja positif pada kuartal I 2026.  Minimnya tekanan distribusi juga memperlihatkan dominasi optimisme pelaku pasar terhadap prospek Perseroan.

Dengan kombinasi fundamental yang membaik, pertumbuhan industri digital nasional, serta mulai masuknya dana asing, saham MORA dinilai mulai kembali masuk radar investor.

Ke depan, pasar akan mencermati kemampuan Perseroan menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mengelola kebutuhan ekspansi dan pembiayaan di tengah dinamika ekonomi global.

Valuasi MORA Melambung

Berdasarkan data Stockbit, price to earnings ratio (PER) annualised MORA tercatat mencapai 621,18 kali, sedangkan PER trailing twelve months (TTM) berada di level 677,12 kali.

Selain itu, rasio price to sales (P/S) perseroan mencapai 78,70 kali dan price to book value (PBV) berada di level 39,71 kali.

Valuasi tinggi juga terlihat pada rasio EV to EBITDA yang mencapai 161,46 kali. Angka tersebut menunjukkan pasar memberikan ekspektasi pertumbuhan yang sangat besar terhadap prospek bisnis MORA.

Dari sisi arus kas, valuasi MORA juga terlihat tinggi. Current price to cashflow (TTM) tercatat sebesar 212,58 kali, sedangkan current price to free cashflow (TTM) berada di level negatif -8.654,04 kali. Kondisi ini sejalan dengan free cash flow per share perseroan yang masih negatif sebesar minus 0,77.

Sementara itu, pada kategori per share, current EPS (TTM) MORA tercatat sebesar 9,89 dengan annualised EPS sebesar 10,79. Revenue per share perseroan berada di level 85,14, sedangkan current book value per share tercatat sebesar 168,72. Adapun cash per share kuartalan berada di posisi 28,28.

Di sisi solvabilitas, fundamental MORA masih relatif terjaga. Current ratio dan quick ratio masing-masing berada di level 1,56 kali, yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek masih cukup baik. Sementara debt to equity ratio (DER) tercatat sebesar 0,68 kali, menandakan struktur utang perseroan masih berada dalam level moderat.

Sedangkan dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) MORA tercatat sebesar 3,17 persen dan return on equity (ROE) berada di level 5,86 persen. Gross profit margin kuartalan mencapai 61,55 persen, operating profit margin sebesar 29,65 persen, dan net profit margin berada di level 13,38 persen.

Pergerakan Saham

Berdasarkan data Stockbit, saham MORA ditutup di level Rp6.700  atau menguat 3,08 persen dalam perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat, 22 Mei 2026.

Dalam satu bulan terakhir, saham emiten infrastruktur digital tersebut juga tercatat naik 19,64 persen dan menguat 10,29 persen dalam enam bulan terakhir.

Namun demikian, secara year to date (YTD), saham MORA masih terkoreksi cukup dalam sebesar 44,40 persen. Koreksi tersebut terjadi setelah sebelumnya saham MORA sempat diperdagangkan di level tinggi hingga menyentuh area Rp16.450-Rp16.725 per saham.

Meski mengalami tekanan dalam jangka pendek, performa jangka panjang saham MORA masih tergolong sangat kuat. Dalam satu tahun terakhir, saham MORA tercatat melesat hingga 1.526 persen. Bahkan dalam periode tiga tahun, penguatan saham perseroan mencapai 1.326 persen. (*)

Disclaimer

Data yang disajikan bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand di pasar, serta perubahan perilaku pelaku pasar dan investor.

Analisis ini bertujuan memberikan gambaran mengenai struktur pasar, pergerakan harga, serta kecenderungan perilaku pelaku pasar berdasarkan data yang tersedia pada periode pengamatan tertentu, sehingga bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham tertentu.

Investor diimbau tetap melakukan analisis mendalam dan mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi di pasar modal.

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya