KABARBURSA.COM – Kenaikan permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global telah menjadi katalis penting bagi industri nikel, termasuk PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah lembaga seperti International Energy Agency (IEA) memperkirakan penjualan EV secara global akan menembus 17 juta unit pada 2025, naik hampir dua kali lipat dibanding 2022.
Pertumbuhan tersebut secara langsung mendorong permintaan untuk bahan baku baterai, terutama nikel berkadar tinggi dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan Nickel Sulphate (NiSO₄).
Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, berada di jantung rantai pasok tersebut. NCKL, yang merupakan bagian dari grup Harita Nickel, menjadi salah satu pemain kunci dengan model usaha terintegrasi dari tambang hingga pengolahan.
Perusahaan ini memiliki lini bisnis yang mengalirkan bijih nikel dari tambang di Pulau Obi ke fasilitas smelter RKEF (Rotary Kiln-Electric Furnace) dan HPAL (High Pressure Acid Leach).
Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menyebut kenaikan harga saham NCKL dalam beberapa pekan terakhir itu merupakan respons positif investor terhadap sentimen industri nikel yang kembali membaik.
"Terutama di tengah prospek pemulihan permintaan global untuk baterai kendaraan listrik (EV)," ujar dia kepada Kabarbursa.com, Rabu, 6 Agustus 2025.
Optimisme ini juga tercermin pada dinamika saham NCKL yang menunjukkan penguatan pasca rilis laporan keuangan semester I 2025.
Kinerja yang kuat dan ekspektasi peningkatan permintaan jangka menengah menciptakan momentum positif bagi rerating valuasi.
Fundamental NCKL Tetap Kokoh
Dalam laporan keuangan per 30 Juni 2025, NCKL membukukan laba bersih sebesar Rp4,10 triliun, tumbuh 46,18 persen year on year (yoy) dibanding Rp2,80 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan konsolidasi tercatat naik 10,08 persen menjadi Rp14,09 triliun, dengan margin laba bersih yang menguat dari 21,8 persen menjadi 29,1 persen. Margin laba kotor NCKL juga tercatat tinggi, yakni sebesar 33,6 persen.
Pendorong utama pertumbuhan ini berasal dari lonjakan volume penjualan. Head of Investor Relations NCKL, Lukito Gozali, menjelaskan bahwa volume penjualan bijih nikel mencapai 12,36 juta wet metric ton (WMT), ditopang oleh peningkatan permintaan dari unit-unit pemurnian internal.
“Volume penjualan bijih nikel mencapai 12,36 juta wmt, didorong oleh permintaan internal dari unit-unit pengolahan yang mengandalkan pasokan langsung dari tambang,” kata Lukito dalam keterangan resmi pada Jumat, 1 Agustus 2025.
Selain itu, penambahan empat jalur produksi baru di fasilitas RKEF sejak awal tahun menghasilkan output FeNi sebesar 84.817 ton kandungan nikel, sedangkan unit HPAL mencatat penjualan MHP dan NiSO₄ sebesar 65.310 ton.
Total produksi bijih nikel konsolidasi NCKL pada semester I 2025 tercatat sebesar 10,88 juta WMT. Angka ini meningkat dari 6,28 juta WMT pada periode yang sama tahun lalu, menunjukkan akselerasi operasi tambang secara signifikan.
Meski harga nikel global sempat berada di bawah USD15.000 per ton, efisiensi operasional dan skala usaha membuat NCKL tetap mencetak pertumbuhan.
Salah satu langkah strategis adalah pembangunan pabrik quicklime oleh entitas anak PT Citra Kemakmuran Mitra (CKM), yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dari pihak ketiga.
Quicklime merupakan komponen penting dalam proses HPAL dan menyumbang biaya signifikan.
Lukito menekankan bahwa model bisnis terintegrasi menjadi keunggulan kompetitif utama.
“Dengan pendekatan ini, kami tidak hanya menciptakan nilai tambah dari sisi operasional, tetapi juga memastikan ketahanan dan daya saing perusahaan di tengah dinamika pasar global,” ujarnya, dikutip Kamis, 7 Agustus 2025.
Di sisi keuangan, posisi kas setara kas perusahaan per akhir Juni 2025 tercatat sebesar Rp4,31 triliun, sementara total ekuitas mencapai Rp39,7 triliun, meningkat dari Rp36,4 triliun pada akhir 2024.
Rasio utang terhadap ekuitas (DER) tetap rendah, mencerminkan struktur modal yang konservatif.
Belanja investasi atau capex NCKL pada semester I 2025 mencapai Rp4,70 triliun. Sebagian besar digunakan untuk penambahan investasi pada entitas asosiasi sebesar Rp4,25 triliun dan pengadaan aset tetap sebesar Rp353 miliar.
Jumlah karyawan tetap di NCKL dan entitas anak per Juni 2025 mencapai 6.318 orang, dengan 4.750 tenaga kerja kontrak. Angka ini mencerminkan skala operasi dan intensitas pengembangan proyek yang sedang berlangsung.
Meneropong Valuasi Saham NCKL
Pergerakan harga saham NCKL mencerminkan respons positif pasar terhadap kombinasi fundamental kuat dan prospek jangka menengah yang menjanjikan.
Dalam satu bulan terakhir, saham NCKL menguat lebih dari 8 persen, mengungguli indeks sektor logam dasar dan beberapa peers seperti INCO dan ANTM.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebutkan bahwa kenaikan harga NCKL dalam satu minggu terakhir sekitar 33,33 persen serta dalam satu bulan terakhir sekitar 44,36 persen merupakan bentuk antisipasi dan reaksi pasar terhadap hasil kinerja keuangan perseroan.
"Kenaikan harga NCKL dalam satu minggu terakhir sekitar 33,33 persen serta dalam satu bulan terakhir sekitar 44,36 persen ini sudah ter-price-in oleh adanya faktor hasil kinerja laporan keuangan semester I yang mengalami pertumbuhan dari sisi top line kemudian dan bottom line," ujar Nafan kepada Kabarbursa.com, Selasa, 5 Agustus 2025.
Faktor kunci lain yang menarik perhatian investor adalah ekspansi jangka panjang perusahaan.
Pada Public Expose Juni 2025, manajemen menyampaikan bahwa NCKL memiliki enam Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Pulau Obi. Tiga di antaranya, termasuk yang dikelola oleh PT Gane Permai Sentosa (GPS) dan PT Gane Tambang Sentosa (GTS), telah beroperasi secara komersial, sementara tiga lainnya masih dalam tahap eksplorasi.
“Lebih lanjut, saat ini Perseroan memiliki 6 (enam) IUP di Pulau Obi. Dimana terdapat 3 (tiga) IUP yang telah berproduksi dimulai dari IUP Perseroan, PT Gane Permai Sentosa (PT GPS), dan PT Gane Tambang Sentosa (PT GTS). 3 (tiga) IUP lainnya saat ini sedang dalam tahap eksplorasi,” demikian disampaikan manajemen dalam sesi tanya jawab pada public expose, Rabu, 18 Juni 2025.
Menurut data internal, cadangan bijih nikel dari dua entitas utama NCKL menunjukkan kekuatan pasokan jangka panjang. GPS memiliki total cadangan 54,54 juta WMT dengan produksi semester I 2025 sebesar 4,21 juta WMT. Sementara GTS memiliki cadangan 32,70 juta WMT, dengan produksi semester I sebesar 0,89 juta WMT.
Manajemen juga tidak menutup kemungkinan untuk mengakuisisi IUP baru di luar Pulau Obi apabila terdapat peluang yang feasible secara komersial.
"Namun, hingga saat ini belum ada yang bisa disampaikan secara signifikan dan material mendekati realisasi," ujar Lukito, menjawab pertanyaan investor saat public expose tersebut.
Di sisi hilir, proyek ekspansi smelter PT Karunia Permai Sentosa (KPS) juga menjadi sorotan. Empat dari delapan line RKEF tambahan ditargetkan beroperasi mulai kuartal III/2025, dan empat sisanya menyusul pada 2026.
Bila rampung, kapasitas terpasang KPS akan mencapai 185.000 ton nikel dalam FeNi per tahun.
Dengan mempertimbangkan price to earnings ratio (PER) tahunan yang masih di bawah 10x dan EV/EBITDA yang kompetitif, analis menilai saham NCKL memiliki ruang rerating, apalagi jika tren harga nikel membalik arah.
Meski risiko dari harga komoditas tetap ada, posisi biaya produksi yang rendah dan permintaan struktural dari sektor EV menjadi bantalan fundamental yang kuat. (*)