KABARBURSA.COM – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 26 Juni 2025, menarik diperhatikan jelang libur panjang.
Dalam sesi reguler yang ditutup dengan penguatan tipis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), broker domestik Ciptadana Sekuritas Asia (KI) tampil sebagai pemain dominan dengan total transaksi jumbo dan distribusi saham yang menarik perhatian.
Data BEI menunjukkan, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi fokus utama transaksi top broker tersebut, baik dari sisi nilai beli maupun frekuensi.
Saham ini tercatat ditutup naik tipis sebesar 0,28 persen ke level Rp1.790 per saham, setelah sempat menyentuh level terendah harian di Rp1.780 dan tertinggi di Rp1.805.
Volume transaksi ADRO mencapai 48,21 juta saham pada hari itu, atau sekitar 45 persen dari rata-rata volume 20 hari terakhir yang berada di 106,42 juta saham.
Nilai perdagangan saham ini menyentuh Rp86,24 miliar, dengan jumlah lot sebanyak 482.100.
Ada Tekanan, Tanda Profit Taking?
Pergerakan saham ADRO selama sepuluh hari terakhir menunjukkan pola pelemahan bertahap.
Dari level Rp2.120 per saham pada 12 Juni 2025, harga turun hingga ke Rp1.790 pada 26 Juni 2025. Penurunan ini setara dengan koreksi sekitar 15,5 persen.
Secara berturut-turut, saham ADRO terkoreksi signifikan pada 13 Juni (-5,90 persen), 19 Juni (-3,27 persen), dan 20 Juni (-3,38 persen), yang mengindikasikan adanya tekanan jual dari investor institusi maupun retail.
Volume perdagangan harian sempat melonjak drastis ke Rp340,15 miliar pada 20 Juni, salah satu yang tertinggi selama bulan Juni.
Valuasi Saham ADRO Masih Menarik?
Meskipun tekanan jual sempat membayangi dalam beberapa sesi sebelumnya, saham ADRO menunjukkan daya tahan dengan harga yang mulai stabil.
Berdasarkan data valuasi per 26 Juni 2025, rasio Price to Earnings (PE) trailing twelve months (TTM) ADRO tercatat hanya 3,18 kali. Bahkan, jika dihitung secara annualised, PE Ratio-nya sebesar 10,97, masih jauh di bawah median IHSG yang mencapai 7,82.
Earnings Yield ADRO saat ini mencapai 31,49 persen, menjadikannya salah satu saham sektor batu bara dengan potensi dividen dan imbal hasil menarik.
Adapun Price to Book Value (PBV) ADRO tercatat 0,70 kali, mengindikasikan harga pasar yang masih berada di bawah nilai buku per saham yang mencapai Rp2.574.
Sementara itu, laba per saham (EPS) TTM mencapai Rp563,70 dengan free cash flow per saham Rp430,61.
Dengan fundamental tersebut, ADRO masih dianggap solid oleh sejumlah analis, meski tren harga batu bara global menunjukkan kecenderungan melemah dalam jangka menengah.
Ada Distribusi KI di Saham-saham Tambang
Ciptadana Sekuritas Asia tercatat membukukan nilai beli mencapai Rp17,2 triliun dengan total 96.224 lot untuk saham ADRO.
Selain ADRO, saham-saham seperti PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga masuk dalam lima besar akumulasi pembelian oleh KI.
Sebaliknya, pada sisi penjualan, KI melakukan distribusi signifikan terhadap saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) senilai Rp4,6 triliun, disusul oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp4,2 triliun, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Distribusi atas saham DSSA menjadi perhatian tersendiri. KI menjual 743 lot dengan nilai Rp4,2 triliun di harga rata-rata Rp55.763 per saham.
Pergerakan ini terjadi di tengah volatilitas sektor energi dan batu bara yang masih tinggi akibat gejolak harga komoditas internasional. (*)