Insight Daily 20 Jan 2026 Penulis: KabarBursa.com

Pergerakan APEX Awal Tahun: Dari Lonjakan ke Konsolidasi

Kenaikan di hari tersebut didorong oleh sentimen global, yakni terkait penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS)

KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menarik untuk dicermati setelah mencatat kinerja positif sejak awal Januari 2026.Pada perdagangan perdana tahun ini, atau 2 Januari 2026, saham APEX ditutup menguat ke level 248 atau meningkat sebanyak 5,98 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.Penguatan berlanjut pada perdagangan sel...

Aktivitas di papan pantau Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: dok KabarBursa.com
Aktivitas di papan pantau Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: dok KabarBursa.com

Insight Navigator

  1. 01 Diakumulasi Asing
  2. 02 Kinerja Kuartal III 2025

KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menarik untuk dicermati setelah mencatat kinerja positif sejak awal Januari 2026.

Pada perdagangan perdana tahun ini, atau 2 Januari 2026, saham APEX ditutup menguat ke level 248 atau meningkat sebanyak 5,98 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Penguatan berlanjut pada perdagangan selanjutnya 5 Januari 2026, saham emiten penyedia jasa pengeboran minyak bumi dan gas alam ini naik signifikan 8,06 persen ke level 268.

Kenaikan di hari tersebut didorong oleh sentimen global, yakni terkait penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat spekulasi investor bahwa ketidakstabilan di Venezuela akan menambah permintaan jasa pengeboran.

Akan tetapi, pengaruh sentimen tersebut tidak berlangsung lama karena saham APEX bergerak fluktuatif. Jika diamati melalui candlestick, muncul pergerakan yang cenderung menurun bertahap dengan beberapa candle merah yang lebih dominan.

Meski demikian pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, saham ini ditutup menguat tipis sebesar 0,85 persen atau 2 poin ke level 238.

Jika menilik posisi harga terhadap indikator rata-rata bergerak, APEX tampak berada di bawah Moving Average (MA) 10 dan MA20. Pada chart yang dihimpun dari Stockbit, MA10 berada di sekitar 250, sedangkan MA20 berada di area 247.  Dua garis MA ini terlihat menurun dan membentuk kemiringan ke bawah..

Dari sisi aktivitas transaksi, panel volume memperlihatkan dinamika yang juga menarik dicermati. Terlihat ada lonjakan volume besar pada fase kenaikan pada 2 Desember 2025, lalu setelah itu volume cenderung mengecil dan bergerak lebih rendah.

Pada perdagangan terakhir, volume APEX sebesar 17,177 juta saham, masih di bawah volume 20 yang bertengger di angka 62,41 juta saham.

Garis rata-rata volume 20 pada chart tampak menurun, sejalan dengan berkurangnya intensitas transaksi setelah periode volatilitas tinggi. Kondisi ini membuat pergerakan harga belakangan terlihat lebih rapat, karena dorongan transaksi tidak sebesar sebelumnya.

Berdasarkan pergerakan harga, posisi terhadap MA10–MA20, serta dinamika volume, saham APEX saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang relatif mereda.

Harga masih bergerak di bawah rata-rata jangka pendek, sementara aktivitas transaksi cenderung menurun dibandingkan fase sebelumnya. Kondisi ini menempatkan pergerakan APEX pada titik penantian arah selanjutnya. 
 

Merujuk data Stockbit, Selasa, 20 Januari 2026, pada periode satu minggu terakhir, kinerja APEX  tercatat melemah 2,46 persen, dengan rentang harga 232–252.

Pada rentang satu bulan terakhir saham ini mencatatkan kenaikan 5,31 persen, dengan pergerakan harga di area  216 hingga 286.

Gambaran yang lebih lebar terlihat pada periode tiga bulan dan enam bulan. Dalam tiga bulan, APEX mencatatkan lonjakan 96,69 persen dengan rentang 122–314, sementara dalam enam bulan naik 90,40 persendari 107 hingga 314.

Sementara itu, secara year to date (YTD), kinerja APEX relatif datar dengan kenaikan 1,71 persen. Di sisi lain, kinerja satu tahun terakhir menunjukkan kenaikan 103,42 persen.

Perdagangan saham APEX pada 19 Januari 2026, menyuguhkan dinamika yang menarik jika dilihat dari susunan orderbook dan alur transaksi di trade book.

Di sisi bid, antrean terlihat cukup ramai di area bawah. Pada harga 236, tercatat antrean sekitar 6.895 lot, lalu muncul tambahan di level yang sama dengan 6.247 lot. Tak jauh dari situ, bid 234 dan 232 juga diisi antrean yang cukup tebal, masing-masing di atas 10 ribu lot. Pola ini membuat rentang 232–236 tampak sebagai area yang cukup padat oleh minat beli.

Lebih ke bawah, antrean besar kembali muncul di bid 230 dengan total 21.772 lot. Angka ini menjadi salah satu yang paling mencolok di sisi bid. Bahkan di bid 220, antrean juga masih terbilang besar dengan 19.577 lot. Susunan ini memperlihatkan bahwa permintaan tidak hanya terkonsentrasi di satu titik, melainkan berlapis hingga beberapa level di bawah harga berjalan.

Sementara itu, di sisi ask, perhatian langsung tertuju ke harga 238. Di level ini, antrean jual tercatat cukup tebal dengan total lebih dari 28 ribu lot jika digabungkan dari dua baris yang muncul. Di atasnya, ask 240 dan 242 juga diisi antrean yang tidak kecil, masing-masing di atas 9 ribu lot. Artinya, penawaran di dekat harga saat ini tersusun cukup rapat dan berlapis.

Yang tak kalah menarik, antrean besar juga terlihat lebih ke atas, khususnya di ask 250 dengan 15.518 lot dan ask 260 yang mencatat antrean paling tebal di sisi jual, mencapai 21.832 lot. Level-level ini terlihat seperti titik-titik yang menampung penawaran dalam jumlah besar, dibanding beberapa harga lain yang antreannya relatif tipis.

Dari sisi trade book, sepanjang hari, aktivitas jual terlihat berada di atas beli  Namun, di sesi pagi sempat terlihat lonjakan tajam pada sisi beli, yang membuat jarak antara beli dan jual menyempit untuk sementara.

Setelah lonjakan tersebut, kedua garis baik beli maupun jual bergerak naik secara bertahap hingga mendekati akhir sesi. Di penghujung perdagangan, akumulasi jual berada di kisaran mendekati 100 ribu, sementara beli berada di area 70–80 ribu. Selisih ini terlihat cukup konsisten sejak pertengahan hingga penutupan sesi.

Menarik untuk mencermati bagaimana ketebalan antrean di orderbook dan pergerakan akumulasi transaksi saling berkaitan sepanjang hari. Saat antrean ask menumpuk di beberapa level tertentu dan bid berlapis di bawahnya, alur transaksi pun bergerak naik perlahan tanpa lonjakan besar lanjutan seperti yang sempat terjadi di pagi hari.

Dengan susunan data seperti ini, perhatian pasar kerap tertuju pada perubahan kecil yang terjadi dari waktu ke waktu—apakah antrean besar mulai berkurang, berpindah harga, atau justru bertambah, serta apakah aktivitas beli dan jual kembali mendekat atau semakin menjauh.

Diakumulasi Asing

Penguatan saham APEX pada perdagangan kemarin dibarengi dengan akumulasi investor asing melalui beberapa broker.

Mandiri Sekuritas (CC) menjadi broker dengan nilai beli terbesar. CC mencatatkan pembelian senilai Rp417 juta dengan total 17,7 ribu lot. Harga rata-rata transaksi berada di 236.

Selain CC, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) juga tercatat aktif di sisi beli. ZP membukukan nilai beli sebesar Rp282,7 juta dengan volume 12 ribu lot, juga di harga rata-rata 236.

Broker lain yang muncul di sisi beli adalah UBS Sekuritas Indonesia  (AK), dengan nilai beli Rp69,9 juta dan volume sekitar 3 ribu lot, di harga rata-rata 237.

Jika ditotal, tiga broker tersebut menyumbang akumulasi beli yang cukup besar dalam satu sesi perdagangan. Konsentrasi pembelian di harga 236–237 menjadi titik yang menarik untuk dicermati, karena menunjukkan adanya aktivitas signifikan di area tersebut, setidaknya dari sisi broker yang tercatat.

Sementara itu, di sisi penjualan, data memperlihatkan JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) sebagai broker yang paling menonjol. BK mencatatkan nilai jual sebesar Rp45,8 juta dengan volume 1,9 ribu lot. Dibandingkan dengan nilai beli yang tercatat pada broker-broker teratas, porsi jual ini terlihat lebih kecil secara nominal.

Dengan susunan data seperti ini, perhatian pasar biasanya tertuju pada beberapa hal: konsentrasi pembelian di harga tertentu, perbandingan nilai beli dan jual antar broker, serta siapa saja broker yang konsisten muncul di daftar teratas. Semua elemen ini memberi konteks tambahan bagi pembaca untuk memahami bagaimana saham APEX diperdagangkan pada hari tersebut, tanpa harus menarik kesimpulan lebih jauh di luar apa yang tersaji di data.
 

Kinerja Kuartal III 2025

Meski harga saham masih belum agresif, secara fundamental APEX memperlihatkan catatan positif. Hal ini berkaca dari perbaikannya laba di kuartal III 2025.

Pada periode tersebut, APEX mencatat laba bersih sebesar Rp25,3 miliar. Angka ini naik dibanding periode serupa tahun sebelumnya yang senilai Rp14,7 miliar.

Sementara selama sembilan bulan pertama tahun 2025, APEX sukses meraup pendapatan Rp1,06 triliun. Angka ini meningkat 15,4 persen secara tahunan atau YoY.

Sementara itu EBITDA APEX pada kuartal III 2025 tercatat sebesar Rp237,8 miliar dibarengi dengan margin positif dengan support peningkatan utilisasi rig serta efisiensi biaya operasional. (*) 
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya