Ketika subuh belum sempurna menyingsing di Teheran, rudal-rudal Israel sudah lebih dulu mengoyak langit Iran pada Jumat, 13 Juni 2025. Serangan itu bukan gertak sambal. Fasilitas nuklir dan pusat komando militer Iran jadi sasaran. Pemerintah Iran mengancam akan membalas dengan menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan. Ketegangan itu menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Pasar komoditas langsung merespons. Harga emas spot naik ke USD3.426 per ons troy (setara Rp56.529.000), sementara harga minyak Brent menguat hingga menyentuh USD74,52 per barel (sekitar Rp1.229.580). Emas kembali berperan sebagai pelindung nilai ketika risiko geopolitik meningkat. Dana global mengalir ke aset-aset safe haven, termasuk logam mulia.
Ekonom yang juga Pengamat Pasar Modal, Ibrahim Assuaibi, mengatakan gejolak geopolitik yang melibatkan Israel dan Iran telah mendorong lonjakan harga emas dunia. "Perang Israel orang sudah dimulai, emas dunia siap menuju USD3.700," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat.
Prediksi Ibrahim bukan sekadar omong kosong. Harga emas yang sudah melejit masih menyisakan ruang kenaikan, seiring eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Serangan balasan Iran, ancaman blokade Selat Hormuz, dan kekhawatiran terhadap rantai pasok global membuat investor makin nekat masuk ke safe haven.
Investment Analyst Stockbit, Hendriko Gani, menilai kenaikan harga emas dan minyak mentah membuka peluang jangka pendek bagi sejumlah emiten komoditas.
"Kenaikan harga minyak mentah dan emas berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten produsen migas dan emas seperti MEDC, ENRG, RATU, BRMS, MDKA, ANTM, dan ARCI" ujar Hendriko.
ARCI menjadi salah satu emiten yang paling cepat merespons sentimen tersebut. Saham ARCI melonjak hingga 23,21 persen dalam sehari, seiring kenaikan harga emas global dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai. Sebagai perusahaan tambang emas murni, ARCI sangat sensitif terhadap perubahan harga emas dunia.
Namun lonjakan ini bukan sekadar euforia. Data memperlihatkan akumulasi kuat dari investor domestik, sementara investor asing justru mencatat net sell. Di saat asing mencetak tiket keluar, lokal justru menyergap saham ini di kisaran Rp419–520.
Modal Asing Masuk, Lokal Melepas
Pergerakan saham ARCI sepanjang perdagangan Jumat tidak hanya mencatat lonjakan harga, tapi juga memperlihatkan pola partisipasi pasar yang khas. Berdasarkan data orderbook intraday dari Stockbit, sebanyak 1,24 juta lot berpindah tangan, dengan 59 persen berada di sisi beli dan sisanya, 41 persen di sisi jual.
Pola beli terbentuk sejak awal perdagangan. Pada pukul 09.00 WIB, transaksi beli mencapai 75 persen dari total lot yang masuk. Aksi beli sempat melambat di pertengahan sesi, namun kembali meningkat pada pukul 09.50 dan 10.30, saat rasio pembelian melonjak masing-masing ke 77 persen. Volume terbesar tercatat pada pukul 09.50, yakni 100.923 lot.
Meski sempat melemah di sesi siang, minat beli pulih di akhir perdagangan. Pada pukul 14.50, pembelian mencapai 89 persen, lalu meningkat lagi menjadi 93 persen pada pukul 15.20, menandakan penguatan minat pasar menjelang penutupan. Total pembelian pada menit itu mencapai 45.883 lot, dengan penawaran jual sangat minim, hanya 3.613 lot.
Aksi jual terpantau lebih besar di sesi tengah hari. Pada pukul 10.20 hingga 11.20, rasio jual sempat mendominasi hingga 77 persen, terutama dari broker asing. Aktivitas pelepasan ini berkontribusi pada penjualan bersih investor asing senilai Rp5,39 miliar dalam satu hari.
Perdagangan saham ARCI pada Jumat, 13 Juni 2025, memperlihatkan pergantian tangan yang signifikan antar pelaku pasar. Setelah sempat menjadi ladang akumulasi domestik sehari sebelumnya, kali ini giliran investor asing yang mengambil peran dominan di sisi beli.
Data dari Stockbit menunjukkan total pembelian asing mencapai Rp30 miliar, sementara nilai jual berada di kisaran Rp14,9 miliar. Dengan demikian, tercatat net foreign buy sebesar Rp15,1 miliar. Ini menandai pembalikan arah dari sesi sebelumnya yang sempat didominasi aksi jual oleh pelaku global.
Berdasarkan broker summary, JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) tampil sebagai pembeli terbesar dengan nilai transaksi Rp7 miliar atau setara 144.800 lot, diikuti UBS Sekuritas Indonesia (AK) dengan nilai beli Rp5 miliar. Dua broker asing ini sama-sama memborong saham di kisaran harga Rp478–480, memperkuat posisi ARCI sebagai magnet saat harga emas global kembali naik.
Dari kubu lokal, Mandiri Sekuritas (CC) mencatat pembelian senilai Rp2,2 miliar, sementara Maybank Sekuritas (ZP)—yang juga mewakili sebagian entitas asing—menyumbang tambahan beli sebesar Rp1,4 miliar. Keduanya bertransaksi di area Rp484 per saham.
Namun, tidak semua pelaku lokal berada di sisi akumulasi. Beberapa justru memanfaatkan reli harga untuk melakukan distribusi. Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) tercatat melepas saham senilai Rp4,9 miliar (102.100 lot) dengan harga rata-rata Rp486. Sementara itu, Indo Premier (PD) dan Trimegah Sekuritas (LG) masing-masing mencatat penjualan Rp4 miliar dan Rp1,2 miliar, dengan rentang harga di kisaran Rp487–495.
Data volume dan frekuensi turut memperkuat narasi ini. Dari total transaksi, volume beli asing mencapai 62,71 juta saham, atau sekitar 21 persen dari total volume. Sebaliknya, investor domestik menyumbang hampir 79 persen dari aktivitas jual dan beli, dengan volume tertinggi pada sisi jual mencapai 190,32 juta saham.
Dari sisi frekuensi, investor asing mencatat 3.400 kali transaksi beli, kalah jauh dibanding pelaku lokal yang mencetak lebih dari 17.000 transaksi di sisi beli dan 18.800 transaksi di sisi jual. Pola ini menunjukkan bahwa meskipun asing masuk dengan nilai besar, geraknya tetap terukur, dan distribusi harian masih didominasi oleh retail domestik.
Teknikal Menguat, Jenuh Beli Mulai Muncul
Seluruh indikator teknikal harian mengonfirmasi bahwa saham ARCI berada dalam tren kenaikan yang kuat. Data dari Investing menunjukkan sinyal “strong buy” secara menyeluruh, baik dari indikator tren maupun osilator.
Rata-rata bergerak (moving average) dari jangka pendek hingga panjang seluruhnya berada dalam posisi beli. Harga ARCI telah menembus semua garis rata-rata mulai dari MA5 hingga MA200, baik dalam hitungan sederhana maupun eksponensial. Per 13 Juni 2025, MA5 tercatat di Rp427, MA10 di Rp405, MA20 di Rp380, dan MA200 di Rp289. Dengan harga penutupan di Rp515, ARCI kini berada jauh di atas seluruh level rata-rata tersebut. Hal ini menandakan bahwa saham telah keluar dari zona konsolidasi dan memasuki tren naik yang lebih agresif.
Indikator momentum juga mendukung penguatan tersebut. MACD (12,26) berada di zona positif dengan nilai 31,785, yang menunjukkan kekuatan tren yang mengarah naik. ADX (14) menyentuh 29,979, mendekati batas 30 yang biasanya menjadi penanda tren yang kuat dan stabil.
Namun, penguatan ini juga dibayangi oleh sinyal jenuh beli. RSI (14) mencapai 82,896, jauh di atas ambang 70 yang biasa digunakan sebagai batas atas. Angka ini menunjukkan bahwa saham telah berada dalam kondisi overbought atau jenuh beli, yang kerap diikuti oleh koreksi teknikal atau konsolidasi jangka pendek. Indikator Stochastic RSI (14) pun menyentuh angka 100, level tertinggi yang secara historis mengindikasikan potensi retracement.
Indikator volatilitas, ATR (14), tercatat di angka 27,14 yang mencerminkan bahwa pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir berlangsung dengan fluktuasi tinggi. Ini menjadi catatan penting, mengingat volatilitas yang tinggi umumnya meningkatkan risiko koreksi dalam jangka pendek.
Sejumlah indikator lain seperti Williams %R (-7,5) dan CCI (14) (240,87) juga memberikan sinyal jenuh beli. Meski begitu, indikator seperti ROC (43,10), Ultimate Oscillator (59,61), dan Bull/Bear Power (122,40) tetap memperkuat sinyal tren naik.
Dari sisi pola candlestick, grafik harian ARCI membentuk pola Morning Doji Star dan Separating Lines pada 11 Juni 2025. Keduanya dikenal sebagai pola pembalikan arah (reversal) yang kuat dalam analisis teknikal. Pola ini muncul sebelum lonjakan besar pada 13 Juni, yang memperkuat validitas teknikalnya. Pola ini juga menandai berakhirnya tekanan jual yang sempat terjadi pada awal Juni, di mana ARCI sempat mencetak pola bearish seperti Engulfing Bearish, Evening Doji Star, dan Advance Block.
Pola bullish tambahan seperti Three Inside Up dan Bullish Engulfing juga terdeteksi dalam timeframe mingguan dan intraday, memberi sinyal lanjutan bahwa arah tren saat ini masih dominan naik.
Arah Harga dan Respons Pasar
Lonjakan harga saham ARCI pada Jumat, 13 Juni, terjadi saat hampir semua indikator teknikal menunjukkan sinyal panas. Saham ini diperdagangkan aktif di kisaran Rp420–Rp520, sebelum akhirnya ditutup menguat di level Rp515. Angka itu menempatkan ARCI di posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir, sekaligus menjauhkannya dari rata-rata akumulasi sebelumnya.
Berbeda dari sesi perdagangan sehari sebelumnya yang didominasi oleh aksi serap lokal, perdagangan kali ini justru mencatat pembelian bersih dari investor asing. Broker asing seperti JP Morgan dan UBS tercatat memborong saham ARCI masing-masing senilai Rp7 miliar dan Rp5 miliar. Di sisi lain, broker domestik seperti Mirae Asset dan Indo Premier tampak mulai melepas posisi.
Data volume dan frekuensi menunjukkan bahwa investor lokal masih mendominasi dari sisi aktivitas, tapi nilai bersih transaksi hari itu berpihak pada asing. Komposisi ini mengindikasikan rotasi respons dari pelaku pasar terhadap reli harga emas dunia: saat sebagian investor lokal merealisasikan cuan, sebagian modal asing justru mulai masuk untuk mengejar momentum.
Ke depan, arah pergerakan harga masih sangat bergantung pada dinamika eksternal. Perkembangan konflik Israel–Iran dan tren harga emas global akan terus menjadi penggerak utama. Selama logam mulia tetap mengilap di pasar dunia, saham-saham tambang emas seperti ARCI akan tetap berada di radar utama investor.(*)