Insight Daily 12 Oct 2025 Penulis: KabarBursa.com

Pendapatan Susut, TINS Tatap Optimisme Pasca Penertiban Tambang Ilegal

Penertiban tambang tersebut lantas memberi efek positif terhadap pergerakan saham TINS.

KABARBURSA.COM - PT Timah Tbk (TINS) tengah diselimuti angin segar pasca penertiban tambang yang dilakukan pemerintah.Penertiban tambang tersebut lantas memberi efek positif terhadap pergerakan saham TINS. Terbukti dalam kurun satu pekan terakhir, saham ini naik 27,43 persen atau 620 poin ke level 2.880. TINS mencatat kinerja kurang memuaskan pada semester I...

Aktivitas pekerja di PT Timah Tbk (TINS) (Foto: Dok. Timah)
Aktivitas pekerja di PT Timah Tbk (TINS) (Foto: Dok. Timah)

Insight Navigator

  1. 01 Sentimen Positif untuk TINS
  2. 02 Kinerja Semester I 2025

KABARBURSA.COM - PT Timah Tbk (TINS) tengah diselimuti angin segar pasca penertiban tambang yang dilakukan pemerintah.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah resmi menyerahkan aset rampasan negara hasil tindak pidana korupsi di sektor pertambangan timah ilegal TINS.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperbaiki tata kelola industri timah nasional dan menegakkan supremasi hukum di sektor strategis tersebut.

Penyerahan dilakukan secara simbolis di kawasan Smelter Tinindo Inter Nusa, Pangkalpinang, Senin 6 Oktober 2025, dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kunjungannya, Presiden meninjau sejumlah aset rampasan yang diserahkan, termasuk balok timah, pasir timah, enam unit smelter, serta fasilitas pengolahan mineral tanah jarang seperti monazite.

“Kita menyaksikan penyerahan rampasan negara dari perusahaan swasta dalam kasus korupsi tambang timah tanpa izin. Kerugian negara mencapai Rp300 triliun dari perkara ini,” ujar Presiden Prabowo dalam keterangan pers, Selasa, 7, Oktober 2025.

Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memberantas penyelundupan, penambangan ilegal, dan segala bentuk pelanggaran hukum di sektor pertambangan. Pemerintah, tegasnya, tidak akan memberi ruang bagi praktik yang merugikan negara dan menghambat pembangunan industri nasional.

Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan kajian teknis menyeluruh terhadap seluruh aset yang diterima. Langkah ini diperlukan untuk memastikan kesiapan operasional sebelum dimanfaatkan secara penuh. “Kami akan meninjau kondisi fasilitas dan menyiapkan strategi pemanfaatan agar dapat segera berkontribusi pada peningkatan produksi dan kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung,” jelasnya.

Restu menambahkan bahwa aset rampasan tersebut merupakan potensi strategis untuk memperkuat posisi TINS di industri pertimahan nasional. “Ini aset bernilai tinggi. Kami akan kelola dengan optimal agar memberikan nilai tambah maksimal bagi negara dan daerah,” katanya.

Sentimen Positif untuk TINS

Penertiban tambang tersebut lantas memberi efek  positif terhadap pergerakan saham TINS. Terbukti dalam kurun satu pekan terakhir, saham ini naik 27,43 persen atau 620 poin ke level 2.880.

Namun begitu, kenaikan tersebut menjadi sorotan Bursa Efek Indoneisa (BEI). Pada sesi I perdagangan Kamis, 9 Oktober 2025, saham TINS disuspend BEI.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono menerangkan, penghentian perdagangan TINS dilakukan Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham ini.

"Dan sebagai bentuk perlindungan bagi Investor, PT Bursa Efek Indonesia
memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan Saham PT Timah Tbk (TINS) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai sesi I tanggal 10 Oktober 2025 sampai dengan Pengumuman Bursa lebih lanjut," ungkapnya.


BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan TINS  sebenarnya tengah diselimuti angin segar.

Disebutkan, outlook FY26F positif seiring rebound produksi menjadi 45 ribu ton (+200 persen YoY). Hal ini tidak lepas dari pasca penertiban tambang ilegal dan penerimaan aset TINS senilai Rp7 triliun.

"Langkah ini memperkuat rantai pasok domestik dan mendukung re-rating valuasi. Risiko utama berasal dari keterlambatan RKAB dan fluktuasi harga timah global," tulis BRI Danareksa dalam risetnya, Rabu, 8 Oktober 2025.

Dalam risetnya pada 8 Oktober 2025, BRI Danareksa melaporkan investor asing mencatat net buy Rp183 miliar saham TINS dalam sebulan terakhir (beli Rp1,14 triliun, jual Rp960 miliar).

"Mencerminkan optimisme terhadap pemulihan produksi dan penguatan harga timah global," tulisnya.

Kinerja Semester I 2025

Merujuk laporan yang diterbitkan pada 31 Juli 2025, TINS mencatat kinerja kurang memuaskan pada semester I 2025. Hal ini ditandai dengan pendapatan Rp4,22 triliun, turun 19,0 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp5,21 triliun. Menyusutnya pendapatan terjadi seiring dengan penurunan volume penjualan logam timah.

Beban pokok pendapatan TINS juga turun 15,6 persen dari Rp4,00 triliun di semester I 2024 menjadi Rp3,37 triliun di paruh pertama tahun ini.

Sementara itu, TINS membukukan laba usaha sebesar Rp380 miliar lebih rendah dari semester I 2024 sebesar Rp687 miliar. Adapun pencapaian EBITDA perusahaan di semester I 2025 sebesar Rp838 miliar atau lebih rendah 31 persen dibanding periode serupa tahun lalu sebesar Rp1,21 triliun.

Perseroan membukukan laba bersih di semester I 2025 sebesar Rp300,07 miliar atau 93 persen dari target yang sudah ditentukan Perseroan yaituvRp322,64 miliar.

Nilai aset TINS pada semester I 2025 turun 4 persen menjadi Rp12,33 triliun dari Rp12,80 triliun pada akhir tahun 2024. Sedangkan posisi liabilitas Perseroan sebesar Rp5,03 triliun, turun 6 persen
dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp5,35 triliun dikarenakan pembelian kembali seluruh medium term notes.


Posisi ekuitas sebesar Rp7,29 triliun mengalami penurunan 2% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp7,45 triliun, dikarenakan adanya pembagian dividen tunai tahun buku 2024 sebesar Rp475 miliar yang telah dibayar pada bulan Juli 2025.

Adapun hingga semester I 2025, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 6.997 ton Sn atau turun 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 10.279 ton Sn.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya belum optimalnya aktivitas penambangan baik di darat maupun di laut, terdampak cuaca angin utara dan angin tenggara, kondisi cadangan tidak menerus (spotted), dan masih terjadinya aktivitas penambangan ilegal.


Produksi logam timah juga turun 29 persen menjadi 6.870 metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9.675 metrik ton.

Sedangkan penjualan logam timah turun 28 persen menjadi 5.983 metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8.299 metrik ton.

Harga jual rata-rata logam timah sebesar USD32.816 per metrik ton, naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD30.397 per metrik ton.

Pada semester I 2025, Perseroan mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 8 persen dan ekspor logam timah sebesar 92 persen dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Jepang 20 persen; Korea Selatan 19 persen; Singapura 16 persen; Belanda 10 persen; Italia 5 persen; dan India 4 persen.(*)
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya