KABARBURSA.COM - PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) tengah mengarahkan bisnisnya ke sektor gaya hidup atau lifestyle. Langkah ini dilakukan dengan memperluas lini usaha di luar distribusi dan ritel perangkat elektronik. Perseroan mulai fokus pada makanan dan minuman, produk kecantikan, dan gaya hidup aktif.
Ekspansi ini berlangsung di tengah perlambatan permintaan ponsel pintar di pasar domestik. Pada kuartal I 2025, penjualan handset ERAA turun 14,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Volume penjualan tercatat hanya 2,37 juta unit dari sebelumnya 2,78 juta unit.
Penurunan volume ini turut menekan pendapatan konsolidasi. ERAA hanya membukukan pendapatan sebesar Rp15,88 triliun pada kuartal I 2025. Angka tersebut turun 4,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) meningkat. ERAA mencatat ASP sebesar Rp5,2 juta, naik dari Rp4,9 juta pada kuartal I 2024. Kenaikan ASP didorong oleh peluncuran produk premium seperti Samsung Galaxy S25 dan HONOR Magic series.
Kontribusi kategori aksesoris dan perangkat Internet-of-Things (IoT) meningkat menjadi 15,7 persen. Tahun sebelumnya, kontribusi segmen ini hanya sebesar 11,4 persen. Peningkatan ini memberikan bantalan terhadap pelemahan pada lini utama, yaitu ponsel.
Gross profit ERAA pada kuartal I 2025 mencapai Rp1,79 triliun. Margin laba kotor (gross profit margin) relatif stabil di level 11,3 persen, sedikit naik dari 11,0 persen pada kuartal I 2024. Namun laba operasi dan laba bersih masing-masing turun 18,2 persen dan 22,4 persen yoy.
“Penurunan volume dipicu oleh keterlambatan peluncuran iPhone 16 series yang baru rilis pada April,” kata Catherine Florencia M., analis riset MNC Sekuritas, dalam laporan Senin, 2 Juni 2025.
Ia menyebut kuartal I hanya menyumbang 21,7 persen dari proyeksi pendapatan tahun penuh 2025.
Erajaya Percepat Strategi Diversifikasi Vertikal
Sebagai respons atas tekanan tersebut, Erajaya mempercepat diversifikasi vertikal. Salah satu lini yang digarap serius adalah bisnis makanan dan minuman. Unit ini dijalankan melalui entitas Erajaya Food & Nourishment (EFN).
Pada kuartal I 2025, EFN menyumbang sekitar 4,3 persen terhadap total pendapatan Erajaya. Meski kontribusinya masih kecil, ekspansinya cukup agresif. Salah satu jenama yang menjadi fokus utama adalah CHAGEE, jaringan minuman teh asal China.
Tiga gerai CHAGEE dibuka selama kuartal I 2025. Lokasinya berada di kawasan premium: PIK Avenue, Mall of Indonesia, dan FX Sudirman. Manajemen menargetkan 50 gerai beroperasi hingga akhir 2025.
“CHAGEE menawarkan pengalaman minum teh bergaya oriental modern dan menyasar konsumen muda perkotaan,” jelas Catherine Florencia.
Ia menambahkan bahwa ekspansi ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap potensi margin tinggi di segmen minuman.
Selain CHAGEE, Erajaya juga mengembangkan jaringan ritel elektronik rumah tangga melalui merek Erablue. Gerai Erablue menyasar segmen menengah dengan konsep multibrand elektronik. Hingga akhir kuartal I 2025, jumlah gerai Erablue mencapai 100 unit.
Sebanyak 13 gerai Erablue dibuka dalam tiga bulan pertama 2025. Sebagian besar gerai berada di luar Pulau Jawa. Menurut MNC Sekuritas, sebagian besar gerai Erablue sudah mencatat EBITDA positif.
“Pertumbuhan Erablue dan CHAGEE menjadi kunci diversifikasi pendapatan Erajaya di luar handset,” ujar Catherine.
Keduanya, lanjut analis MNC Sekuritas itu, dinilai mampu memperkuat basis pendapatan yang lebih tahan terhadap siklus produk ponsel.
Strategi diversifikasi Erajaya juga terlihat dari perluasan lini ritel aktif dan gaya hidup. Entitas Erajaya Active Lifestyle mengelola merek seperti Urban Republic, JD Sports, dan Garmin. Jumlah gerai Erajaya Active Lifestyle naik dari 171 menjadi 179 unit pada kuartal I/2025.
Adapun Erajaya Digital, lini terbesar yang mencakup Erafone, iBox, dan Erablue Electronics, memiliki total 1.686 gerai. Sebanyak 23 gerai baru dibuka hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini. Mayoritas gerai baru berasal dari submerek Erafone dan iBox.
Unit internasional Erajaya juga mencatat pertumbuhan. Jumlah gerai internasional bertambah dari 241 menjadi 242 unit. Wilayah cakupan mencakup Indonesia, Singapura, dan Malaysia.
Secara keseluruhan, Erajaya mengoperasikan 2.159 gerai ritel hingga Maret 2025. Cakupan distribusi juga meluas dengan 77 titik distribusi dan lebih dari 54.000 mitra pihak ketiga. Perusahaan menyebut ekosistem ini sebagai bagian dari strategi omni-channel.
Omni-channel Erajaya didukung oleh platform e-commerce seperti eraspace.com dan erafone.com. Perusahaan juga hadir di berbagai marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan Blibli. Selain itu, Erajaya menggunakan WhatsApp untuk conversational commerce.
Program loyalitas Erajaya, yaitu Eraspace Club, telah memiliki 14 juta anggota pada kuartal I 2025. Jumlah ini naik 7 persen dari akhir 2024. Rata-rata nilai transaksi tercatat sebesar Rp4 juta per pelanggan.
Catherine mencatat bahwa strategi omni-channel membantu meningkatkan loyalitas pelanggan. “Ecosystem ini memungkinkan sinergi antarvertikal yang memperkuat daya saing Erajaya,” ujarnya.
Selain ekspansi ritel gaya hidup, Erajaya juga menempuh aksi korporasi. Perusahaan mengumumkan program pembelian kembali saham alias buyback senilai Rp50 miliar. Buyback dilakukan tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), berlangsung dari 14 April hingga 13 Juli 2025.
Harga buyback diperkirakan sekitar Rp429 per saham. Dengan alokasi tersebut, perusahaan bisa menyerap sekitar 116 juta saham atau 0,7 persen dari total saham beredar. Hal ini berpotensi mengerek laba per saham dan dividen per saham tahun ini.
“Buyback ini didanai sepenuhnya dari kas internal,” kata Catherine. Ia mencatat saldo kas Erajaya mencapai Rp2,5 triliun per Maret 2025.
Seperti Apa Rekomendasi Saham ERAA?
Dalam risetnya, MNC Sekuritas merekomendasikan saham ERAA dengan status “buy”. Target harga ditetapkan Rp640 per saham, mencerminkan proyeksi price-to-earnings ratio (PER) sebesar 8,9 kali untuk 2025. Sementara proyeksi price-to-book value (PBV) sebesar 1,0 kali.
Proyeksi laba bersih tahun penuh 2025 mencapai Rp1,14 triliun, naik 10,7 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan ASP produk premium dan kontribusi lini non-gadget. Volume penjualan ponsel diperkirakan hanya tumbuh moderat sebesar 2,9 persen sepanjang tahun.
Namun, MNC Sekuritas juga mencatat adanya risiko. Di antaranya adalah lemahnya daya beli konsumen, ketatnya regulasi komponen dalam negeri (TKDN), serta potensi pelemahan permintaan global. Penjualan ritel peralatan komunikasi (ICT equipment) juga masih mengalami kontraksi sejak awal 2023.
“Ritel ICT belum pulih sepenuhnya. Penjualan masih melemah sejak Januari 2023,” kata Catherine. Ia menambahkan bahwa ekspektasi pelaku ritel terhadap permintaan juga melemah untuk Juni dan September 2025.
Meski begitu, peluncuran iPhone 17 pada kuartal IV 2025 dinilai akan menjadi momentum penting. Berdasarkan kebiasaan pasar, momen ini biasanya memicu peningkatan permintaan. Efek musiman seperti tahun ajaran baru dan pembayaran gaji ke-13 juga diperkirakan ikut mendongkrak permintaan pada kuartal II 2025.
Secara struktural, diversifikasi Erajaya menuju sektor gaya hidup dinilai sebagai respons atas dinamika pasar. Arah ini memperkuat posisi perusahaan di tengah tekanan sektor ponsel. Kehadiran lini bisnis makanan, minuman, dan elektronik rumah tangga membuka sumber pendapatan baru yang lebih beragam. (*)