Insight Daily 05 Nov 2025 Penulis: KabarBursa.com

PDB Tumbuh Moncer, Cuan Sektor ini Bisa Terbang

BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 persen pada kuartal III 2025. Kinerja industri pengolahan naik 5,54 persen dan konsumsi rumah tangga 4,89 persen.

KABARBURSA.COM – Perekonomian Indonesia tumbuh 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan kembali menjadi penggerak utama dengan kontribusi hampir 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar 5,0...

Perekonomian Indonesia tumbuh 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2025. (Foto: Dok. KabarBursa)
Perekonomian Indonesia tumbuh 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2025. (Foto: Dok. KabarBursa)

Insight Navigator

  1. 01 Mana Saja Sektor yang Siap Sambut Cuan?

KABARBURSA.COM – Perekonomian Indonesia tumbuh 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2025. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan kembali menjadi penggerak utama dengan kontribusi hampir 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar 5,0 persen, menandakan kegiatan ekonomi masih solid di tengah tekanan global. 

Secara triwulanan, ekonomi juga naik 1,43 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan nilai PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.060 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp3.444,8 triliun.

Dari sisi produksi, lima sektor terbesar masih didominasi industri pengolahan, pertanian, perdagangan besar dan eceran, konstruksi, serta pertambangan dan penggalian. 

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa sumber pertumbuhan utama berasal dari peningkatan produksi industri pengolahan dan perdagangan, seiring dengan permintaan domestik yang tetap kuat. 

“Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa, pembentukan modal tetap bruto, serta konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi,” ujarnya dalam paparan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS, Rabu, 5 November 2025.

Secara teori permintaan agregat, komponen konsumsi rumah tangga, investasi tetap, dan ekspor neto yang meningkat merupakan penggerak utama aktivitas ekonomi. 

Hal ini juga terlihat pada data BPS di mana ekspor barang dan jasa tumbuh 9,91 persen yoy, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) naik 5,04 persen, dan konsumsi rumah tangga 4,89 persen. 

Struktur ekonomi nasional masih didominasi konsumsi rumah tangga sebesar 53,14 persen dari total PDB, disusul PMTB 29,09 persen dan ekspor 23,64 persen.

Berdasarkan sebaran wilayah, Pulau Jawa menyumbang 56,68 persen terhadap total ekonomi Indonesia dengan pertumbuhan 5,17 persen. Sulawesi mencatat laju tertinggi 5,84 persen, diikuti Kalimantan 5,34 persen dan Sumatra 4,67 persen. 

Dalam kerangka teori sektor basis, besarnya kontribusi industri pengolahan menciptakan efek pengganda ke sektor perdagangan, logistik, dan jasa keuangan yang menopang aktivitas ekonomi nasional.

Mana Saja Sektor yang Siap Sambut Cuan?

Sektor manufaktur dan industri dasar berpotensi melanjutkan momentum karena industri pengolahan tumbuh 5,54 persen (yoy) dan berkontribusi sekitar 19 persen terhadap PDB. 

Berdasarkan teori sektor basis, besarnya kontribusi industri pengolahan menjadikan sektor ini sebagai penggerak utama ekonomi nasional. Dorongan datang dari ekspor barang dan jasa yang naik 9,91 persen (yoy) serta PMTB yang naik 5,04 persen (yoy), komponen yang terkait belanja mesin, peralatan, dan bangunan pabrik.

Jika dilihat, kenaikan aktivitas industri dasar ini berkaitan dengan peningkatan permintaan barang konsumsi dan bahan baku di dalam negeri.

Emiten seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menjadi representasi utama di kelompok ini.

Sektor perdagangan dan ritel mendapatkan dukungan dari konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,89 persen (yoy) dengan porsi 53,14 persen terhadap PDB. Angka ini menjadikan konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar pada sisi pengeluaran nasional pada kuartal III 2025.

Perusahaan ritel modern seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi penerima manfaat utama dari tren tersebut.

Sektor perbankan (jasa keuangan) terkait erat dengan dinamika investasi dan konsumsi. PMTB naik 5,04 persen (yoy), indikasi bertambahnya belanja modal, serta ekspor yang meningkat 9,91 persen (yoy) menunjukkan aktivitas usaha dan perdagangan lebih tinggi. Kedua komponen tersebut termasuk dalam faktor penggerak pertumbuhan PDB yang tercatat oleh BPS pada periode laporan.

Sektor konstruksi dan properti tercermin pada kenaikan PMTB 5,04 persen (yoy), yang di dalamnya terdapat komponen bangunan. Nilai tambah sektor ini berkaitan dengan kenaikan PMTB 5,04 persen, yang di dalamnya mencakup komponen bangunan.

Aktivitas pembangunan dan permintaan kredit perumahan memperkuat prospek emiten seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA).

Sektor transportasi dan logistik berpotensi mempertahankan pertumbuhan seiring kenaikan mobilitas barang. Ekspor 9,91 persen (yoy) dan impor 1,18 persen (yoy) mencerminkan arus perdagangan luar negeri yang tetap berjalan; aktivitas distribusi domestik meningkat mengikuti permintaan akhir tahun.

Sebaliknya, BPS juga mencatat sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 1,98 persen yoy. Penurunan output batubara dan migas sebesar 3,21 persen (yoy) menjadi faktor utama penahan pertumbuhan di sektor energi.

Secara siklus musiman, data BPS lima tahun terakhir menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV rata-rata 0,35–0,45 poin lebih tinggi dibanding kuartal III. 

Pola ini disebabkan oleh percepatan belanja pemerintah yang pada 2024 mencapai 29,4 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di triwulan terakhir, serta peningkatan konsumsi rumah tangga menjelang Natal dan Tahun Baru. 

Dengan dasar historis tersebut, proyeksi pertumbuhan kuartal IV 2025 yang mendekati 5,5 persen berada dalam pola empiris yang konsisten dengan tren musiman. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya