Insight Daily 24 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Pasar Panik! Ancaman Tutup Selat Hormuz Guncang IHSG dan Rupiah

Konflik AS-Iran tekan IHSG, lonjakan harga minyak picu inflasi dan pelemahan Rupiah. Investor waspada koreksi indeks dan risiko ekonomi.

KABARBURSA.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangan militer AS ke fasilitas nuklir Iran. Dentuman serangan AS tidak hanya terdengar di Iran, tapi juga sampai ke pasar energi global. Serangan Trump ke Iran berdampak terhadap lonjakan harga minyak mentah, nilai aset berisiko melemah, dan sentimen “flight to safety” mu...

Ilustrasi dampak serangan AS ke Iran yang mengakibatkan tekanan terhadap saham. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Ilustrasi dampak serangan AS ke Iran yang mengakibatkan tekanan terhadap saham. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Insight Navigator

  1. 01 Jalur Energi Dunia dalam Bahaya
  2. 02 IHSG Ikut Terguncang
  3. 03 Bank Sentral dalam Tekanan: Inflasi Naik, Suku Bunga Menjadi Dilema
  4. 04 Flight to Safety: Dana Asing Pergi, Aset Aman Jadi Primadona
  5. 05 Peluang di Komoditas: Energi dan Emas Jadi Perisai Awal
  6. 06 Risiko Belum Reda, Saatnya Bersikap Taktis

KABARBURSA.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangan militer AS ke fasilitas nuklir Iran. Dentuman serangan AS tidak hanya terdengar di Iran, tapi juga sampai ke pasar energi global. Serangan Trump ke Iran berdampak terhadap lonjakan harga minyak mentah, nilai aset berisiko melemah, dan sentimen “flight to safety” mulai mendominasi.

Dengan posisi Indonesia sebagai negara net-importir energi, gejolak ini membawa konsekuensi nyata, yakni tekanan pada Rupiah, inflasi, hingga potensi koreksi tajam di pasar saham domestik.

Analis pasar modal sekaligus pendiri Traderindo Wahyu Laksono menilai, risiko penutupan Selat Hormuz berpotensi menjadi katalis negatif yang tidak bisa diabaikan.

Menurutnya, serangan udara AS ke situs nuklir Iran telah menambah panjang daftar risiko geopolitik global di pertengahan 2025. Meskipun serangan ini belum berubah menjadi perang terbuka, kekhawatiran pasar muncul akibat potensi respons balasan Iran yang dapat mengguncang stabilitas kawasan Teluk, termasuk jalur perdagangan energi utama dunia.

“Potensi penutupan Selat Hormuz dan keterlibatan AS dalam konflik Timur Tengah menciptakan skenario yang sangat mengkhawatirkan bagi harga minyak dunia dan berdampak serius pada stabilitas ekonomi Indonesia,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com, Selasa, 24 Juni 2025.

Harga minyak mentah jenis Brent telah naik lebih dari 25 persen bulan ini dan diperdagangkan mendekati USD90 per barel. The Australian menilai, peningkatan ekskalasi konflik dapat membuat harga minyak tembus USD100 bahkan mendekati USD120 seperti pada krisis minyak tahun 1979.

Sementara dampak untuk Indonesia adalah peningkatan biaya energi, tekanan terhadap anggaran negara dan membuat investor asing kabur untuk mengalihkan dananya ke aset yang lebih aman. Dalam situasi seperti ini, Bursa Efek Indonesia tidak bisa berharap imun dari guncangan global.

Jalur Energi Dunia dalam Bahaya

Selat Hormuz, yang memisahkan Iran dan Uni Emirat Arab, merupakan jalur perairan sempit namun strategis karena menyalurkan sekitar 20 persen dari total ekspor minyak mentah dunia. Ancaman penutupan selat ini oleh Iran menjadi salah satu sumber kekhawatiran utama di pasar energi global saat ini. 

Dalam catatan The Guardian, Goldman Sachs memperingatkan bahwa gangguan signifikan di Selat Hormuz dapat membuat harga minyak Brent melambung melampaui USD100 per barel. Sementara menurut Time Magazine, lonjakan harga bisa mencapai US$120 jika konflik memburuk dan pasokan terganggu secara nyata.

Wahyu Laksono menilai bahwa risiko penutupan selat sepenuhnya memang masih kecil, namun bukan berarti bisa diabaikan. “Penutupan Selat Hormuz sangat berisiko bagi semua pihak termasuk Iran sendiri,” ujarnya.

Namun, untuk tetap mempertimbangkan martabat Iran sebagai negara besar, kata Wahyu, maka semua serangan dari pihak Israel atau AS akan tetap dibalas.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor migas Indonesia pada Januari 2025 mencapai USD2,48 miliar. Ini menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap energi global, dan menjelaskan mengapa pasar Indonesia akan sangat sensitif terhadap gejolak di kawasan Teluk.

JP Morgan dalam laporan yang dikutip Investopedia memperkirakan kemungkinan penutupan total Selat Hormuz hanya sekitar 12 persen. Namun, pasar keuangan global telah bereaksi seolah skenario itu bisa terjadi kapan saja, terutama karena ketidakpastian diplomatik yang masih tinggi.

IHSG Ikut Terguncang

Lonjakan harga minyak mentah akibat krisis geopolitik bukan hanya berdampak langsung ke neraca perdagangan dan biaya energi nasional. Efek berantai dari tekanan tersebut juga menyasar sektor finansial domestik secara luas, mulai dari inflasi yang meningkat hingga volatilitas nilai tukar Rupiah.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik, harga minyak yang tinggi akan memperbesar nilai impor Indonesia—yang secara langsung meningkatkan defisit neraca transaksi berjalan. Dalam jangka pendek, hal ini menekan kurs Rupiah terhadap Dolar AS, sekaligus meningkatkan beban impor sektor industri.

Wahyu Laksono menekankan bahwa pelemahan Rupiah yang dipicu oleh lonjakan harga minyak memiliki konsekuensi luas, terutama bagi emiten yang memiliki eksposur utang dalam mata uang asing.

“Pelemahan Rupiah secara signifikan terhadap Dolar AS akan meningkatkan beban utang luar negeri perusahaan dan menekan daya beli,” kata Wahyu.

Di sisi pasar modal, ketidakpastian membuat investor asing mulai keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam situasi ini, efek yang paling nyata adalah koreksi cepat dan tajam di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Menurut Wahyu, jika ketegangan terus meningkat tanpa respons diplomatik, maka tekanan jual bisa mendorong IHSG menembus level support penting.

“IHSG bisa mengalami koreksi dalam dan cepat, berpotensi menembus level support kunci dan menguji level yang jauh lebih rendah, mungkin di bawah 6.500 atau bahkan 6.000 jika konflik berlarut-larut dan eskalasi terus terjadi,” jelasnya.

Fenomena ini tercermin dari data perdagangan terbaru yang menunjukkan penurunan indeks dan pelemahan sektor-sektor siklikal. Pada 16 Juni 2025, misalnya, IHSG turun 0,32 persen ke level 7.142, mencerminkan kekhawatiran pasar atas geopolitik. 

Bank Sentral dalam Tekanan: Inflasi Naik, Suku Bunga Menjadi Dilema

Konsekuensi lain dari gejolak geopolitik adalah tekanan terhadap kebijakan moneter domestik. Ketika harga minyak mentah naik tajam, inflasi berpotensi ikut terdorong—baik melalui harga bahan bakar maupun biaya distribusi barang konsumsi.

Bank Indonesia (BI) berada dalam posisi sulit karena di satu sisi harus menjaga stabilitas Rupiah dan meredam inflasi. Di sisi lain perlu mempertahankan ruang pertumbuhan ekonomi. Dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 18 Juni 2025, bank sentral memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di 5,50 persen.

Namun, dalam pernyataan resminya, BI mengakui ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu variabel eksternal yang dipantau ketat. Menurut Wahyu Laksono, kemungkinan kenaikan suku bunga tetap terbuka jika tekanan harga berlanjut dan Rupiah terus melemah.

“Bank Indonesia kemungkinan besar akan merespons dengan kenaikan suku bunga acuan untuk mengendalikan inflasi dan menstabilkan Rupiah, yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan profitabilitas perusahaan,” jelasnya.

Sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti properti, konstruksi, dan ritel, diperkirakan menjadi kelompok yang paling terdampak dalam skenario ini. Selain itu, tekanan suku bunga akan menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah, yang selama ini menjadi pendorong utama konsumsi domestik.

Kondisi ini menciptakan tantangan ganda bagi pasar modal Indonesia: risiko eksternal dari harga minyak dan risiko internal dari sikap moneter yang lebih ketat.

Investor institusi global pun diperkirakan akan lebih selektif dalam menempatkan dananya di negara-negara berkembang seperti Indonesia, setidaknya sampai tensi geopolitik mereda.

Flight to Safety: Dana Asing Pergi, Aset Aman Jadi Primadona

Setelah serangan AS ke Iran, aliran modal global menunjukkan pola serupa. Dana mulai bergerak ke obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), mata uang kuat seperti Dolar AS dan Yen Jepang, serta emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

World Gold Council mencatat bahwa permintaan emas global mengalami lonjakan signifikan sejak ketegangan antara Iran dan Israel meningkat pada awal kuartal III 2025.

"Emas memiliki rekam jejak yang kuat sebagai lindung nilai saat krisis, didorong oleh ketiadaan risiko kredit dan korelasi negatifnya terhadap aset berisiko," tulis World Gold Council dalam laporan Oktober 2023.

Selain emas fisik, arus modal juga mengarah pada saham perusahaan tambang emas di berbagai bursa dunia. Fenomena ini turut mendorong harga logam mulia mendekati rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, indeks saham negara berkembang, termasuk Indonesia, menunjukkan tren yang berlawanan.

Menurut Wahyu Laksono, pasar modal Indonesia sangat mungkin terpapar efek ini dalam waktu dekat, terutama jika konflik tak segera mereda.

“Sentimen ‘flight to safety’ potensial akan mendominasi pasar modal domestik minggu depan jika serangan militer AS ke Iran benar-benar terjadi dan memicu eskalasi,” ujarnya.

Kondisi ini menempatkan investor domestik pada posisi dilematis: menghadapi tekanan jangka pendek di pasar ekuitas, sambil mencari peluang di sektor atau instrumen yang relatif lebih tahan guncangan.

Peluang di Komoditas: Energi dan Emas Jadi Perisai Awal

Di tengah tekanan pasar yang dipicu oleh konflik geopolitik dan aliran dana keluar dari emerging market, sektor berbasis komoditas menjadi salah satu dari sedikit titik terang yang potensial.

Lonjakan harga minyak mentah dan emas sebagai reaksi langsung dari serangan AS ke Iran membuka peluang jangka pendek bagi sejumlah emiten di sektor energi dan pertambangan logam mulia.

Kenaikan harga minyak global memberikan angin segar bagi perusahaan energi yang memiliki eksposur langsung ke produksi minyak dan gas bumi. Menurut Wahyu, beberapa saham energi seperti Medco Energi Internasional (MEDC) dan Elnusa (ELSA) memiliki potensi rebound yang cukup kuat secara teknikal maupun fundamental.

MEDC, sebagai produsen minyak dan gas, akan memperoleh keuntungan langsung dari peningkatan harga jual, sementara ELSA yang bergerak di bidang jasa eksplorasi dan pengeboran berpeluang mendapatkan lebih banyak kontrak baru karena peningkatan aktivitas hulu migas.

“MEDC adalah salah satu emiten yang paling diuntungkan dari kenaikan harga minyak. Kinerja keuangannya akan membaik, dan secara teknikal, ada potensi kelanjutan tren naik,” kata Wahyu. 

“ELSA juga akan ikut terdorong karena meningkatnya permintaan atas jasa pengeboran,” imbuhnya.

Sementara itu, lonjakan harga emas dunia juga membuka ruang positif bagi saham-saham pertambangan emas. Dalam situasi ketidakpastian global, emas kembali menjadi aset lindung nilai utama.

Menurut laporan World Gold Council pada Juni 2025, bank sentral global cenderung meningkatkan cadangan emas sebagai bentuk respons terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Harga emas dunia pun terdorong mendekati level tertingginya dalam lima tahun terakhir.

Dampak dari tren ini turut terasa di pasar domestik. Wahyu menilai bahwa saham-saham seperti BRMS (Bumi Resources Minerals) dan PSAB (J Resources Asia Pasifik) sebagai tambang emas pure-play akan lebih cepat merespons kenaikan harga emas ketimbang emiten yang lebih terdiversifikasi.

MDKA (Merdeka Copper Gold) dan ANTM (Aneka Tambang), meski juga memiliki segmen emas, kemungkinan terdampak oleh fluktuasi logam lain seperti tembaga dan nikel. Adapun UNTR (United Tractors) dinilai akan memperoleh manfaat terbatas melalui eksposurnya terhadap tambang Martabe, namun segmen utama alat berat dan batubara tetap dominan dalam pembentukan kinerja perusahaan.

“Saham-saham pure-play emas seperti BRMS dan PSAB akan menjadi penerima manfaat terbesar dari lonjakan harga emas,” ujar Wahyu. “Untuk emiten seperti ANTM dan MDKA, dampaknya akan bergantung pada kontribusi segmen emas dibanding komoditas lainnya,” kata dia.

Meskipun sektor komoditas tidak sepenuhnya kebal terhadap risiko global, terutama jika ketegangan geopolitik berujung pada perlambatan ekonomi global, sejumlah emiten berpotensi menjadi semacam “penahan guncangan” dalam portofolio jangka pendek.

Di tengah tren risk-off yang melanda pasar saham domestik, investor kemungkinan akan mulai melirik sektor ini sebagai alternatif defensif sambil menunggu arah konflik dan pasar menjadi lebih jelas.

Risiko Belum Reda, Saatnya Bersikap Taktis

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran menambah panjang daftar ketidakpastian global yang membayangi pasar keuangan pada pertengahan 2025. Imbasnya terasa tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi merambat hingga ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah, depresiasi nilai tukar, potensi inflasi, serta tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan menciptakan lingkungan yang penuh tekanan bagi pelaku pasar.

Data dan analisis yang tersedia menunjukkan bahwa gejolak ini belum akan mereda dalam waktu dekat. Risiko penutupan Selat Hormuz, meski tidak dianggap sebagai skenario utama, tetap menjadi bayang-bayang yang membentuk ekspektasi harga minyak global.

Di sisi lain, sikap hati-hati bank sentral dalam menjaga stabilitas moneter menandakan bahwa risiko inflasi dan tekanan terhadap Rupiah bukanlah asumsi semata, melainkan skenario yang nyata.

Dalam konteks ini, investor dihadapkan pada tantangan untuk tetap adaptif namun rasional. Strategi pengelolaan risiko menjadi lebih penting daripada mengejar ekspektasi keuntungan jangka pendek. Sektor komoditas, khususnya energi dan tambang emas, memang memberikan peluang perlindungan, tetapi tidak sepenuhnya bebas dari tekanan global. Peluang tetap ada, tetapi seleksi menjadi kunci.

Seperti disampaikan oleh Wahyu, konflik geopolitik ini belum tentu berkembang menjadi skenario terburuk. Namun, pasar keuangan cenderung bergerak berdasarkan persepsi dan probabilitas risiko.

Oleh karena itu, mengantisipasi kemungkinan koreksi, menjaga eksposur sektor yang sensitif terhadap suku bunga, serta membuka ruang pada aset komoditas bisa menjadi pendekatan taktis untuk menghadapi periode ketidakpastian yang tengah berlangsung.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya