Insight Daily 19 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

PART ARA dan Lonjakan Kedua: Struktur Pembeli Bergeser

Saham PART melonjak dua hari berturut-turut hingga mendekati ARA saat net foreign negatif.

KABARBURSA.COM – PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) melonjak dua hari berturut-turut hingga hingga sesi I Kamis, 19 Februari 2026, dengan harga terakhir 232 atau naik 28,89 persen dari penutupan sebelumnya 180. Nilai transaksi mencapai Rp79,89 miliar dengan volume 3,65 juta lot dan frekuensi 33,53 ribu kali. Harga bergerak dari level pembukaan 176 hingga men...

Saham PART melonjak dua hari berturut-turut saat net foreign negatif dan struktur antrean jual menumpuk di batas ARA. (Foto: Dok. Cipta Perdana Lancar)
Saham PART melonjak dua hari berturut-turut saat net foreign negatif dan struktur antrean jual menumpuk di batas ARA. (Foto: Dok. Cipta Perdana Lancar)

Insight Navigator

  1. 01 Lonjakan Dua Hari dan Perubahan Nilai Transaksi
  2. 02 Asing Melepas, Broker Lokal Menyerap
  3. 03 Lapisan Offer Tebal dan Struktur Free Float
  4. 04 Siapa Menggerakkan Lonjakan PART?

KABARBURSA.COM – PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) melonjak dua hari berturut-turut hingga hingga sesi I Kamis, 19 Februari 2026, dengan harga terakhir 232 atau naik 28,89 persen dari penutupan sebelumnya 180. Nilai transaksi mencapai Rp79,89 miliar dengan volume 3,65 juta lot dan frekuensi 33,53 ribu kali. Harga bergerak dari level pembukaan 176 hingga menyentuh tertinggi 240, mendekati batas auto rejection atas (ARA) 242.

Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, Rabu, 18 Februari 2026, PART lebih dulu melonjak 34,33 persen ke level 180 dan sempat menyentuh ARA. Nilai transaksi pada hari itu tercatat Rp51 miliar dengan volume 3 juta lot. Lonjakan beruntun tersebut menggeser harga dari kisaran 130-an pada pekan sebelumnya ke atas 200 hanya dalam dua sesi perdagangan.

Sebelum dua hari akselerasi tersebut, PART bergerak relatif terbatas di rentang 126 hingga 137 pada periode 9 hingga 13 Februari 2026. Nilai transaksi harian saat itu berada di bawah Rp12 miliar dengan volume jauh lebih kecil dibanding dua sesi terakhir. 

Lonjakan Dua Hari dan Perubahan Nilai Transaksi

PART melonjak dari 134 pada 13 Februari menjadi 180 pada 18 Februari, lalu 232 pada sesi I 19 Februari 2026. Kenaikan dua hari berturut-turut itu mencapai 34,33 persen dan 28,89 persen. Perubahan harga berlangsung dalam waktu kurang dari 48 jam perdagangan.

Lonjakan harga tersebut tidak berdiri sendiri karena nilai transaksi ikut melonjak drastis. Pada 13 Februari nilai transaksi hanya Rp3,11 miliar, lalu naik menjadi Rp51 miliar pada 18 Februari dan Rp79,89 miliar pada sesi I 19 Februari. Kenaikan lebih dari 25 kali lipat ini menunjukkan ekspansi likuiditas yang sangat cepat.

Volume perdagangan juga berubah signifikan dalam periode yang sama. Dari ratusan ribu lot saat konsolidasi, volume meningkat menjadi 3 juta lot dan kemudian 3,65 juta lot dalam dua sesi. Perubahan ini menandakan masuknya partisipasi baru dalam jumlah besar.

Frekuensi transaksi pada sesi I 19 Februari tercatat 33,53 ribu kali. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding fase 9–13 Februari ketika nilai transaksi masih satu digit miliar rupiah. Kenaikan frekuensi menunjukkan transaksi terjadi dalam ukuran lebih kecil namun lebih sering.

Pergerakan harga pada 19 Februari berada di rentang 176 hingga 240 dengan rata-rata transaksi di 219. Harga 232 berada di atas rata-rata tersebut dan hanya berjarak 10 poin dari batas ARA 242. Struktur ini menempatkan harga sangat dekat dengan batas maksimal harian untuk hari kedua berturut-turut.

Harga 232 juga berada jauh di atas MA5 di 163, MA10 di 144, MA20 di 130, dan MA50 di 123. Selisih yang lebar antara harga dan rata-rata pergerakan menunjukkan kemiringan tren berubah tajam dalam waktu singkat. Perubahan struktur ini menjadi titik awal analisis lanjutan terhadap komposisi pelaku pasar dalam dua hari terakhir.

Perubahan harga yang berlangsung bersamaan dengan lonjakan nilai transaksi hingga Rp79,89 miliar dan frekuensi 33,53 ribu kali dalam dua sesi menempatkan pertanyaan berikutnya pada komposisi pelaku pasar yang menggerakkan ekspansi likuiditas tersebut.

Asing Melepas, Broker Lokal Menyerap

Data perdagangan Rabu, 18 Februari 2026, menunjukkan net foreign tercatat minus Rp1,65 miliar dengan foreign sell Rp9,50 miliar dan foreign buy Rp7,85 miliar. Pada hari yang sama harga justru melonjak 34,33 persen ke level 180. Kenaikan ini terjadi saat aliran dana asing bersih keluar dari pasar reguler.

Broker summary pada 18 Februari mencatat XL sebagai pembeli terbesar dengan nilai Rp3,2 miliar dan rata-rata harga 170. Di sisi penjual, ZP melepas Rp957,3 juta dan AO Rp852,5 juta dengan rata-rata harga di kisaran 173–175. Struktur ini menunjukkan transaksi besar terjadi di bawah harga penutupan 180.

Jika dibandingkan dengan 13 Februari, komposisi broker masih relatif seimbang dengan nilai beli dan jual di bawah Rp300 juta per broker. Perubahan dominasi terjadi tepat saat harga mulai menembus 150 dan berlanjut ke 180. Lonjakan dua hari tersebut berlangsung bersamaan dengan pergeseran distribusi antarbroker.

Rata-rata harga beli broker utama pada 18 Februari berada di kisaran 170-an, jauh di bawah harga sesi I 19 Februari di 232. Selisih ini mencerminkan apresiasi harga lebih dari 30 persen dalam satu hari perdagangan. Perubahan harga yang cepat ini menggeser posisi transaksi awal ke area keuntungan signifikan.

Sementara itu, data foreign pada 19 Februari tidak menunjukkan dominasi beli asing yang besar. Kenaikan lanjutan ke 232 terjadi tanpa dukungan arus dana asing yang mencolok. Pergerakan dua hari ini lebih dipengaruhi dinamika transaksi domestik dibanding akumulasi asing.

Dengan net foreign negatif dan broker lokal mencatat pembelian terbesar, komposisi pelaku pasar dalam dua hari lonjakan menunjukkan pergeseran peran dari asing ke domestik. Struktur ini menempatkan fokus analisis berikutnya pada kedalaman antrean bid dan offer serta karakter free float PART yang hanya 25,61 persen.

Rata-rata beli broker utama di 170-an menempatkan harga 232 lebih tinggi sekitar 60 poin hanya dalam satu sesi lanjutan. Selisih ini terjadi saat net foreign sehari sebelumnya tercatat negatif Rp1,65 miliar. Struktur tersebut menunjukkan kenaikan dua hari berlangsung tanpa dukungan akumulasi asing yang kuat.

Lapisan Offer Tebal dan Struktur Free Float

Data orderbook sesi I Kamis, 19 Februari 2026, menunjukkan total antrean offer mencapai 415.307 lot dengan frekuensi 1.411 kali, jauh di atas total bid 150.278 lot dengan frekuensi 1.217 kali. Pada level 242 yang menjadi batas auto rejection atas, antrean jual menumpuk 288.135 lot. Ketebalan pasokan ini membentuk lapisan distribusi besar tepat di area batas kenaikan harian.

Di bawahnya, antrean jual pada 240 tercatat 64.574 lot dan pada 238 sebesar 34.785 lot. Sementara itu, lapisan bid terbesar berada di 220 sebesar 14.710 lot dan 222 sebesar 11.318 lot. Perbandingan ini menunjukkan kedalaman sisi jual di atas harga lebih dominan dibanding sisi beli di bawahnya.

Struktur tersebut terbentuk setelah harga melonjak dua hari berturut-turut dari 134 ke 180 lalu 232. Lonjakan ini berlangsung bersamaan dengan ekspansi nilai transaksi hingga Rp79,89 miliar dan frekuensi 33,53 ribu kali. Perubahan cepat pada likuiditas menempatkan harga sangat dekat dengan lapisan distribusi tebal di area atas.

PART memiliki total saham beredar 2,74 miliar dengan free float 25,61 persen. Porsi pengendali sebesar 54,55 persen membuat saham yang aktif beredar relatif terbatas. Dalam kondisi partisipasi meningkat tajam, struktur free float seperti ini membuat dinamika antrean bid dan offer menjadi faktor penentu pergerakan harian.

Selisih antara harga 232 dan rata-rata beli broker utama pada 18 Februari di kisaran 170-an mencapai lebih dari 60 poin dalam satu sesi lanjutan. Pada saat yang sama, net foreign sehari sebelumnya tercatat negatif Rp1,65 miliar. 

Siapa Menggerakkan Lonjakan PART?

Kenaikan dua hari PART berlangsung saat net foreign 18 Februari tercatat negatif Rp1,65 miliar dan tidak diikuti lonjakan beli asing pada sesi berikutnya. Broker domestik mencatat pembelian terbesar di kisaran 170-an sebelum harga bergerak ke 232 dalam satu sesi lanjutan. Struktur ini menunjukkan akselerasi harga lebih banyak ditopang dinamika transaksi lokal dibanding arus dana asing.

Lonjakan likuiditas yang cepat berhadapan dengan lapisan offer tebal 288.135 lot di batas 242 dalam kondisi free float 25,61 persen. Frekuensi 33,53 ribu kali memperlihatkan partisipasi luas saat harga sudah jauh dari rata-rata beli awal.  (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com