Insight Daily 12 May 2026 Penulis: KabarBursa.com

Panas Bumi dan Panas Valuasi, Membandingkan PGEO dengan BREN

PGEO dan BREN sama-sama emiten energi hijau, tetapi diperdagangkan dengan valuasi sangat berbeda.

KABARBURSA.COM — Di tengah demam saham energi baru terbarukan, nama PT Barito Renewables Energy (BREN) terus melesat sebagai primadona pasar dengan valuasi yang sudah menembus ratusan kali laba. Namun diam-diam, PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) justru bergerak di jalur yang berbeda. Kinerja keuangan relatif stabil, dividend yield mendekati 5 persen, ner...

PGEO menawarkan valuasi murah, dividen tinggi, dan neraca sehat. Sementara BREN diperdagangkan premium dengan ekspektasi pertumbuhan besar. Gambar dibuat oleh A
PGEO menawarkan valuasi murah, dividen tinggi, dan neraca sehat. Sementara BREN diperdagangkan premium dengan ekspektasi pertumbuhan besar. Gambar dibuat oleh A

Insight Navigator

  1. 01 PGEO Murah, BREN Mahal
  2. 02 PGEO Ditahan Asing di Zona Rp1.000

PGEO Murah, BREN Mahal

Kalau dibedah lebih dalam, fundamental PGEO memang memberi kesan berbeda dibanding banyak saham energi baru terbarukan lain di BEI. Di atas kertas, perusahaan ini lebih mirip “mesin utilitas” dengan arus kas stabil ketimbang emiten yang masih menjual cerita pertumbuhan jangka panjang. Itu terlihat dari kombinasi valuasi murah, struktur utang yang ringan, kemampuan bayar dividen tinggi, sampai posisi kas yang tebal.

Dari sisi solvabilitas misalnya, PGEO mencatat debt to equity ratio (DER) hanya 0,36 kali. Bandingkan dengan BREN yang sudah di atas 3 kali. Gap ini besar sekali. Artinya, setiap Rp1 modal sendiri di PGEO hanya ditopang utang Rp0,36, sedangkan BREN ditopang lebih dari Rp3 utang. Dalam dunia utilitas dan energi, leverage memang lazim dipakai untuk ekspansi. Tapi utang besar juga berarti tekanan bunga, refinancing, dan sensitivitas terhadap suku bunga menjadi lebih tinggi.

Di titik ini, PGEO terlihat jauh lebih konservatif. Investor mungkin tidak langsung melihatnya sebagai sesuatu yang “wah”, tetapi bagi pengelola dana besar, struktur seperti ini justru penting karena menunjukkan perusahaan masih punya ruang ekspansi tanpa harus terlalu agresif mencari pembiayaan baru.

Likuiditas PGEO juga sangat longgar. Current ratio mencapai 4,77 kali dan quick ratio 4,62 kali. Angka setinggi ini menunjukkan aset lancar perusahaan berkali-kali lebih besar dibanding kewajiban jangka pendeknya. BREN sendiri berada di kisaran 1,7 kali. Masih aman, tetapi tidak selega PGEO.

Kemudian lihat posisi kas per saham. PGEO mencatat cash per share sekitar 302,34, sementara BREN hanya sekitar 21,43. Ini menarik karena harga saham PGEO sendiri masih di bawah Rp1.000. Dengan kata lain, sebagian besar harga sahamnya secara teoritis sudah “ditopang” kas dan aset nyata perusahaan. Di sisi lain, valuasi BREN jauh lebih mahal meski posisi kas per sahamnya relatif kecil.

Perbandingan valuasi keduanya bahkan terlihat kontras. Price to book value (PBV) PGEO hanya sekitar 1,17 kali, sedangkan BREN mencapai 43,84 kali. Price to earnings ratio (PER) PGEO berada di kisaran 14–16 kali, sementara BREN sudah lebih dari 170 kali annualized dan di atas 200 kali secara trailing. Ini membuat pasar menempatkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat tinggi terhadap BREN.

Masalahnya, ekspektasi setinggi itu sering kali membuat saham menjadi sensitif. Sedikit saja pertumbuhan melambat atau proyek tertunda, valuasi bisa cepat dikoreksi pasar. Sedangkan PGEO berada di posisi berbeda. Pasar seolah belum memberi premi besar meski perusahaan sudah menghasilkan laba stabil, EBITDA besar, dan dividen rutin.

Hal lain yang membuat PGEO terlihat matang adalah kebijakan dividennya. Dividend yield hampir 5 persen dengan payout ratio mendekati 70 persen. Ini bukan karakter saham growth agresif yang menahan laba untuk ekspansi besar-besaran. PGEO lebih menyerupai perusahaan utilitas mapan yang membagi arus kas kepada pemegang saham sambil tetap menjaga ekspansi bertahap.

BREN justru berada di sisi sebaliknya. Dividend yield hanya sekitar 0,10 persen dengan payout ratio sekitar 17 persen. Pasar tampaknya menerima itu karena menganggap laba lebih baik dipakai untuk pertumbuhan dan pengembangan aset baru. Jadi investor membeli BREN bukan untuk dividen, melainkan untuk harapan valuasi terus naik di masa depan.

Menariknya, jika melihat profitabilitas, BREN memang unggul di beberapa titik seperti ROE dan operating margin. Tetapi PGEO punya net profit margin lebih tinggi, sekitar 37,68 persen dibanding BREN 26,04 persen. Ini menunjukkan laba bersih PGEO relatif lebih efisien setelah memperhitungkan berbagai biaya.

Dari sini terlihat bahwa pasar sedang memberi dua perlakuan berbeda terhadap dua emiten energi hijau ini. BREN diperlakukan sebagai saham pertumbuhan premium dengan ekspektasi sangat tinggi. Sementara PGEO lebih diposisikan sebagai perusahaan utilitas stabil dengan valuasi konservatif. Pertanyaan besarnya sekarang bukan lagi apakah PGEO perusahaan bagus atau tidak, melainkan apakah pasar terlalu murah menghargai kestabilannya.

PGEO Ditahan Asing di Zona Rp1.000

Pergerakan broker asing di saham PGEO mulai memperlihatkan pola yang menarik dalam sepekan terakhir. Meski harga sahamnya masih tertahan di area Rp990–1.000, aliran dana yang masuk menunjukkan bahwa sejumlah broker asing belum benar-benar meninggalkan saham panas bumi milik Pertamina tersebut. Aktivitas mereka justru terlihat cenderung akumulatif, meski dilakukan secara bertahap dan tidak agresif.

Data Stockbit per Selasa, 12 Mei 2026 menunjukkan tiga broker asing yang paling aktif dalam transaksi PGEO adalah UBS Sekuritas Indonesia, Maybank Sekuritas Indonesia, CGS International Sekuritas Indonesia. Ketiganya tercatat memiliki nilai transaksi jumbo sepanjang Mei 2026.

UBS Sekuritas memimpin dengan total transaksi Rp3,2 triliun, disusul Maybank Sekuritas Rp2,4 triliun, dan CGS International Sekuritas Rp1,9 triliun. Kehadiran broker-broker ini penting dicermati karena mereka kerap menjadi jalur transaksi investor institusi asing maupun regional, terutama untuk saham-saham bertema energi dan ESG.

Jika ditarik lebih rinci ke kalender broker activity selama Mei, pola aliran dananya juga cukup menarik.

Pada 4 Mei 2026, ketiga broker tersebut mulai melakukan akumulasi sebesar Rp1,1 miliar dengan volume 10,4 ribu lot di harga rata-rata Rp1.012. Keesokan harinya, 5 Mei, akumulasi masih berlanjut meski lebih kecil yakni Rp120,4 juta sebanyak 1,2 ribu lot di harga rata-rata Rp1.024.

Pergerakan terbesar terjadi pada 6 Mei ketika nilai beli melonjak menjadi Rp16,5 miliar dengan volume mencapai 156,2 ribu lot di harga rata-rata Rp1.055. Lonjakan ini menarik karena terjadi ketika harga PGEO sempat bergerak lebih tinggi dibanding posisi sekarang. Artinya, pada fase tersebut asing masih bersedia masuk di level premium.

Lalu pada 7 Mei, aliran dana mulai melandai menjadi Rp624,9 juta dengan 6,1 ribu lot di harga rata-rata Rp1.045. Pada 8 Mei, akumulasi kembali meningkat ke Rp1,7 miliar dengan 17,4 ribu lot di harga rata-rata Rp1.004.

Menariknya, ketika harga saham mulai turun ke area Rp990-an, broker asing belum sepenuhnya melepas posisi. Pada 11 Mei, masih tercatat pembelian bersih Rp107,9 juta dengan volume 944 lot di harga rata-rata Rp992. Baru pada 12 Mei muncul tekanan jual tipis sebesar Rp10,6 juta dengan volume 219 lot pada harga rata-rata Rp1.004.

Jika dilihat secara keseluruhan, pola ini menunjukkan akumulasi asing memang tidak berlangsung agresif setiap hari, tetapi dilakukan bertahap mengikuti pelemahan harga. Ini berbeda dengan pola distribusi besar-besaran yang biasanya ditandai tekanan jual konsisten dalam beberapa sesi.

Data foreign-domestic activity pada 12 Mei juga memperlihatkan dinamika yang relatif seimbang. Investor asing mencatat pembelian Rp5,75 miliar dan penjualan Rp9,05 miliar, sehingga terjadi net foreign sell sekitar Rp3,30 miliar di pasar reguler.

Namun tekanan jual tersebut belum bisa langsung dibaca sebagai aksi keluar besar-besaran. Sebab secara komposisi transaksi, investor domestik masih mendominasi perdagangan PGEO dengan porsi sekitar 60,63 persen dari total nilai transaksi, sedangkan asing berada di kisaran 39,37 persen.

Pada sisi volume, pola yang muncul juga serupa. Asing membukukan volume beli 5,71 juta saham dan volume jual 9,02 juta saham. Sementara investor domestik mencatat volume beli 13 juta saham dan volume jual 9,70 juta saham.

Artinya, ketika asing mulai melakukan profit taking jangka pendek, investor domestik justru masih cukup aktif menyerap saham di area bawah Rp1.000. Kondisi ini membuat harga PGEO belum mengalami tekanan tajam meski sempat bergerak melemah dalam beberapa hari terakhir.

Secara teknikal maupun psikologis pasar, area Rp990–1.000 kini terlihat menjadi zona pertahanan penting. Selama area ini masih mampu dipertahankan sambil diiringi akumulasi bertahap dari broker asing besar, pasar kemungkinan masih membaca PGEO sebagai saham defensif energi hijau yang belum selesai dikoleksi.

Pandangan analis terhadap PGEO sendiri sejauh ini masih relatif positif. Data konsensus analis menunjukkan mayoritas rumah riset masih menempatkan saham ini dalam kategori buy, meski pergerakan harganya belum benar-benar agresif dalam beberapa bulan terakhir.

Dari total 18 analis yang memantau PGEO, sebanyak 13 analis memberikan rekomendasi buy, empat analis memilih hold, dan hanya satu analis yang memberikan rekomendasi sell. Komposisi ini menarik karena menunjukkan keyakinan pasar institusi terhadap fundamental PGEO sebenarnya masih cukup kuat, terutama di tengah tren energi hijau yang semakin diperhatikan investor global.

Konsensus target harga analis juga masih berada jauh di atas posisi pasar saat ini. Rata-rata target harga tercatat di kisaran Rp1.433 per saham, sementara harga PGEO pada 12 Mei 2026 masih berada di sekitar Rp1.010. Artinya, secara teoritis masih terdapat potensi kenaikan lebih dari 40 persen jika saham bergerak menuju rerata valuasi analis.

Bahkan target tertinggi analis mencapai Rp1.780, sedangkan estimasi terendah berada di Rp900. Menariknya, harga pasar sekarang justru bergerak sangat dekat dengan batas bawah konsensus tersebut. Kondisi ini sering kali mencerminkan bahwa pasar masih berada dalam fase skeptis atau menunggu katalis baru sebelum mulai melakukan repricing lebih besar terhadap saham.

Dalam konteks PGEO, situasi ini menjadi cukup unik. Di satu sisi, perusahaan memiliki fundamental yang relatif stabil, dividend yield tinggi, posisi kas kuat, serta neraca yang jauh lebih sehat dibanding sejumlah emiten energi hijau lain. Namun di sisi lain, pasar belum memberikan premi valuasi setinggi saham EBT berbasis growth story seperti BREN.

Karena itu, ruang diskusi investor terhadap PGEO sekarang tampaknya mulai bergeser. Pasar bukan lagi mempertanyakan apakah bisnis panas bumi Pertamina ini menghasilkan laba, melainkan kapan valuasinya mulai dianggap layak untuk naik lebih tinggi mengikuti ekspektasi transisi energi dan kebutuhan energi bersih jangka panjang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya