KABARBURSA.COM - PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) tengah kembali menyapa pasar surat utang lewat rencana penerbitan obligasi dan sukuk senilai total Rp1,5 triliun. Langkah ini bukan hal baru bagi TBIG, yang dikenal aktif memanfaatkan pasar modal untuk mengatur ulang struktur pembiayaan mereka.
Tapi kali ini, ada sorotan lebih tajam dari pelaku pasar: bukan hanya soal besaran dana yang dihimpun, melainkan tujuan dan ketepatan waktu aksi ini.
Rinciannya, TBIG akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan VII Tahap I-2025 senilai Rp750 miliar, serta Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I-2025 dengan nilai serupa. Keduanya dibagi ke dalam dua seri dengan tenor tiga dan lima tahun.
Kupon dan nilai emisi per seri memang belum diumumkan, tetapi obligasi ini telah mengantongi peringkat AA+ dari Fitch Ratings Indonesia—tingkat kepercayaan yang cukup tinggi bagi investor yang mengutamakan keamanan pokok dan pembayaran bunga secara konsisten.
Dari sisi distribusi, perusahaan menggandeng delapan underwriter terkemuka, termasuk Indo Premier Sekuritas dan Trimegah Sekuritas. Mereka akan mengawal proses penawaran umum yang dijadwalkan berlangsung awal Juli, setelah masa penawaran awal ditutup pada 24 Juni dan mendapat pernyataan efektif dari OJK pada 26 Juni.
Ini menjadi sinyal bahwa TBIG ingin proses ini berjalan cepat dan lancar, dengan kejelasan timeline yang memberi kepastian bagi investor.
Yang menarik, penerbitan surat utang ini bukan untuk ekspansi atau proyek baru. Sebagian besar dana, sekitar Rp721 miliar, akan dipakai untuk melunasi obligasi lama yang jatuh tempo dalam waktu dekat.
Sisanya akan digunakan untuk membayar sebagian pokok pinjaman kepada BNI, dan sebagian lagi untuk kewajiban kepada Bank UOB Indonesia. Dengan kata lain, ini adalah strategi refinancing yang sudah umum dilakukan emiten dengan profil leverage tinggi seperti TBIG.
Bagi pasar, ini bisa dibaca sebagai upaya menjaga stabilitas struktur utang tanpa menambah beban bunga yang signifikan. Rekam jejak TBIG dalam menerbitkan surat utang juga menjadi nilai tambah.
Seberapa Siap Keuangannya?
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sedang bersiap meluncurkan obligasi dan sukuk senilai total Rp1,5 triliun. Dana hasil penerbitan surat utang tersebut rencananya digunakan untuk membayar obligasi jatuh tempo dan sebagian kewajiban ke perbankan.
Di atas kertas, strategi ini terdengar logis. Tapi pertanyaannya, bagaimana kondisi keuangan TBIG saat ini, dan seberapa kuat mereka menanggung beban baru?
Dari laporan keuangan kuartal I/2025, TBIG mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,73 triliun dengan laba bersih Rp429 miliar. Laba operasionalnya pun cukup kokoh di kisaran Rp1,1 triliun. Margin laba masih terjaga karena perusahaan berhasil menjaga efisiensi beban pokok dan biaya operasional.
Return on Assets (ROA) tercatat 0,92 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) di angka 4,05 persen. Ini adalah dua rasio yang menunjukkan bahwa meski tak agresif, TBIG tetap menciptakan nilai dari aset dan modal yang dikelola.
Bila ditarik lebih luas ke periode 12 bulan terakhir (TTM), total pendapatan TBIG mencapai Rp6,89 triliun, dengan EBITDA sebesar Rp5,87 triliun. Ini angka yang cukup impresif dan jadi sinyal kuat bahwa perusahaan masih punya kemampuan menghasilkan arus kas dari operasional.
Free cash flow TBIG dalam periode yang sama mencapai Rp2,87 triliun, dan arus kas dari operasi berada di angka Rp4,9 triliun. Angka ini cukup untuk mengatasi kewajiban jangka pendek, termasuk obligasi jatuh tempo senilai Rp721 miliar.
Namun dari sisi struktur keuangan, tekanan tetap terasa. Total utang TBIG kini berada di angka Rp30,15 triliun, jauh di atas posisi kas yang hanya Rp550 miliar. Artinya, posisi utang bersih atau net debt mereka ada di kisaran Rp29,6 triliun.
Dengan ekuitas hanya Rp10,2 triliun, rasio debt to equity (DER) TBIG melonjak ke 2,96 kali. Di sisi lain, rasio total liabilitas terhadap ekuitas mencapai 3,34 kali. Ini menandakan struktur modal TBIG sangat bertumpu pada pembiayaan berbasis utang.
Satu-satunya penyeimbang dari leverage ini adalah kemampuan TBIG dalam menutup beban bunga. Interest coverage ratio TTM mereka tercatat di angka 2,07 kali. Artinya, laba operasional masih lebih dari cukup untuk membayar bunga utang. Tapi margin keamanannya tipis.
Jika terjadi tekanan suku bunga atau penurunan pendapatan, ruang gerak perusahaan bisa menjadi sangat terbatas.
Di sisi likuiditas, TBIG juga belum dalam posisi longgar. Current ratio dan quick ratio masing-masing hanya 0,16. Ini artinya, aset lancar yang tersedia jauh dari mencukupi untuk menutup kewajiban jangka pendek.
TBIG sangat bergantung pada keberhasilan refinancing atau arus kas operasional untuk menjaga ritme pembayaran kewajiban.
Secara keseluruhan, TBIG memang masih berada dalam posisi yang mampu menanggung beban surat utang baru, terutama karena dananya akan digunakan untuk mengganti kewajiban lama. Namun investor tetap perlu mencermati sejumlah catatan: leverage tinggi, ketergantungan pada refinancing, dan rasio likuiditas yang ketat.
Selama hasil penerbitan dipakai secara disiplin untuk memperbaiki struktur utang dan yield yang ditawarkan kompetitif, surat utang TBIG masih patut dilirik. Namun, keputusan berinvestasi tetap perlu mempertimbangkan risiko makro dan keberlanjutan arus kas TBIG dalam jangka menengah.
Konsisten dalam Pembiayaan Utang
Reputasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) di pasar surat utang agaknya tak perlu diragukan lagi. Perusahaan ini konsisten memanfaatkan jalur obligasi sebagai salah satu sumber pembiayaan jangka panjangnya. Dan sejauh ini, respons pasar pun cenderung positif.
Penerbitan obligasi berkelanjutan tahap IV tahun 2024 senilai Rp2 triliun, yang diumumkan pada November lalu, merupakan kelanjutan dari program jumbo senilai Rp20 triliun yang telah TBIG mulai sejak beberapa tahun terakhir.
Dari total target tersebut, perusahaan sudah mengantongi penerbitan senilai Rp5,71 triliun, menjadikan obligasi terbaru ini sebagai bagian dari upaya pembiayaan lanjutan yang terukur dan rutin.
Yang menarik, TBIG menawarkan kupon sebesar 6,45 persen untuk tenor 370 hari dan 6,75 persen untuk tenor 3 tahun. Tingkat bunga ini cukup kompetitif jika dibandingkan dengan profil kredit perusahaan yang memegang rating AA+ dari Fitch Ratings Indonesia.
Untuk kalangan investor obligasi, kombinasi antara kupon yang menarik dan profil risiko yang tergolong stabil seperti ini bisa menjadi tawaran yang menggiurkan.
Di sisi lain, strategi pemecahan emisi menjadi dua seri menunjukkan bahwa TBIG cukup piawai dalam membaca pasar.
Seri jangka pendek menyasar investor yang mencari instrumen dengan risiko minimal dan likuiditas tinggi, sementara seri lebih panjang memberikan imbal hasil yang sedikit lebih tinggi bagi investor dengan toleransi risiko menengah.
Pendekatan ini bukan hal baru bagi TBIG, dan dalam beberapa penerbitan sebelumnya, strategi ini terbukti ampuh.
Meski tidak secara gamblang disebutkan dalam prospektus, ada indikasi kuat bahwa obligasi TBIG terdahulu kerap mendapat respons yang baik di pasar. Beberapa pelaku pasar menyebut surat utang TBIG sebelumnya sempat oversubscribed, bahkan diperdagangkan pada harga premium di pasar sekunder.
Ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya percaya pada fundamental TBIG, tetapi juga melihat kelangsungan arus kas perusahaan sebagai faktor utama dalam menjaga kelancaran pembayaran kupon dan pokok.
Penggunaan dana dari penerbitan kali ini juga menjadi nilai tambah tersendiri. TBIG akan mengalokasikan sekitar Rp1,51 triliun untuk melunasi obligasi lama yang jatuh tempo pada Desember 2024.
Selebihnya akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman ke Bank Negara Indonesia (BNI) dan PT Bank UOB Indonesia. Skema ini mencerminkan kehati-hatian dalam pengelolaan utang, bahwa TBIG tidak menambah utang untuk ekspansi spekulatif, tetapi untuk menjaga ritme pembayaran agar tetap tertib.
Dalam situasi seperti ini, kepercayaan pasar terhadap obligasi TBIG tidak hanya soal imbal hasil. Ini juga tentang track record pembayaran, transparansi penggunaan dana, dan strategi refinancing yang jelas. Dan sejauh ini, TBIG berhasil menjaga semua aspek tersebut tetap berada di jalur yang sehat.
Dengan latar belakang ini, tak berlebihan jika menyebut TBIG sebagai salah satu emiten yang punya posisi kuat di pasar surat utang. Kombinasi kredibilitas, manajemen risiko yang disiplin, dan strategi pembiayaan yang rasional memberi alasan cukup bagi investor untuk tetap menaruh kepercayaan mereka pada emisi berikutnya.
Obligasi TBIG: Menarik, tapi Ada Catatan
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali masuk radar investor setelah mengumumkan rencana penerbitan surat utang baru senilai Rp1,5 triliun. Langkah ini bukan yang pertama bagi TBIG.
Perusahaan menara telekomunikasi ini memang rutin memanfaatkan instrumen utang sebagai bagian dari strategi pembiayaannya, seiring bisnis yang berbasis kontrak jangka panjang dan aliran kas stabil.
Namun, di tengah suku bunga yang masih tinggi dan pasar yang semakin selektif, pertanyaan utamanya kini: apakah obligasi TBIG kali ini cukup menarik untuk dikoleksi?
Dari sisi fundamental, TBIG masih mencatat kinerja keuangan yang solid. EBITDA dalam 12 bulan terakhir mencapai hampir Rp5,9 triliun, jumlah yang sangat memadai untuk menopang kewajiban bunga.
Free cash flow juga sehat, berada di atas Rp2,8 triliun. Bahkan, sepanjang kuartal I/2025, perusahaan tetap mampu mencetak laba bersih hingga Rp429 miliar. Pendapatan berulang dari bisnis menara menjadi pondasi utama yang membuat TBIG konsisten positif secara operasional.
Namun, investor tak bisa menutup mata terhadap sisi lain dari laporan keuangannya. Struktur modal TBIG sangat ditopang oleh utang. Rasio debt to equity-nya berada di angka 2,96 kali, cukup tinggi untuk ukuran sektor infrastruktur.
Total kewajiban bahkan mencapai tiga kali lipat dari ekuitas. Meski bukan hal yang asing di industri padat modal seperti ini, leverage setinggi itu menuntut disiplin tinggi dalam pengelolaan arus kas dan strategi pelunasan utang.
Dari sisi likuiditas, warning muncul. Rasio lancar dan cepat hanya 0,16. Artinya, aset lancar TBIG tak cukup menutup kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan sangat bergantung pada arus kas operasional atau pembiayaan eksternal untuk menjaga ritme pembayaran.
Ini bukan sinyal kegentingan, tapi cukup menjadi alasan untuk menaruh perhatian lebih.
Meski begitu, pasar sejauh ini menunjukkan kepercayaan. Dalam beberapa penerbitan sebelumnya, obligasi TBIG kerap oversubscribed dan bahkan diperdagangkan di atas nilai pari. Sentimen tersebut memperlihatkan bahwa reputasi TBIG sebagai emiten surat utang tergolong baik.
Kalau kupon yang ditawarkan untuk obligasi baru berada pada kisaran 6,5 persen–6,75 persen seperti edisi sebelumnya, maka potensi imbal hasil yang stabil jelas menjadi daya tarik. Tentu saja, itu juga perlu diseimbangkan dengan risiko leverage tinggi dan ruang likuiditas yang terbatas.
Kesimpulannya, obligasi TBIG menarik bagi investor berprofil konservatif hingga moderat yang mengincar return tetap dari perusahaan dengan arus kas kuat. Tapi perlu disadari juga, ini bukan instrumen bebas risiko.
Leverage tinggi dan tekanan likuiditas menjadi dua hal yang tak bisa diabaikan. Maka, sebelum menaruh dana, pastikan untuk mencermati detail prospektus dan perkembangan pasar terkini.
Dalam obligasi, stabilitas bukan hanya soal kupon, tapi juga soal kepercayaan jangka panjang terhadap si penerbit.(*)