Insight Daily 12 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Narasi di Balik Transformasi FITT dari Perhotelan ke Logistik Nikel

Bedah tuntas transformasi FITT di bawah Jinlong Resources Investment. Dari hotel merugi di Majalengka menuju penguasa logistik nikel di Sulawesi. Simak analisis fundamental, teknikal, dan broker summary terbaru bagi trader dan investor.

KABARBURSA.COM – Pasar modal Indonesia tengah menyaksikan salah satu aksi korporasi paling drastis tahun 2026. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT), emiten yang selama bertahun-tahun identik dengan bisnis hotel bitang tiga di Majalengka, Jawa Barat, kini berganti wajah sepenuhnya di bawah kendali pengendali baru, PT Jinlong Resources Investment atau JRI. ...

Pasar modal Indonesia tengah menyaksikan salah satu aksi korporasi paling drastis tahun 2026, yakni PT Hotel Fitra International Tbk (FITT), emiten yang selama
Pasar modal Indonesia tengah menyaksikan salah satu aksi korporasi paling drastis tahun 2026, yakni PT Hotel Fitra International Tbk (FITT), emiten yang selama

Insight Navigator

  1. 01 Siapa Jinlong Resources Investment dan Sosok Gao Jinliang?
  2. 02 Pivot Bisnis: Meninggalkan Hotel, Menuju Laut
  3. 03 Mengapa Pelayaran Nikel Sulawesi?
  4. 04 Proyeksi Keuangan 2026-2030 dan Riwayat Lampau FITT
  5. 05 Dari Stock Story ke Sentimen Market
  6. 06 'Benang Merah' yang Perlu Dipahami Pasar

KABARBURSA.COM – Pasar modal Indonesia tengah menyaksikan salah satu aksi korporasi paling drastis tahun 2026. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT), emiten yang selama bertahun-tahun identik dengan bisnis hotel bitang tiga di Majalengka, Jawa Barat, kini berganti wajah sepenuhnya di bawah kendali pengendali baru, PT Jinlong Resources Investment atau JRI. 

Langkah tersebut memicu gelombang spekulasi di kalangan investor dan trader. Harga saham FITT bahkan sempat terbang hingga 760,82 persen dalam periode tahun berjalan 2025 (year to date/ytd), menyentuh level 835. 

Konsekuensinya, FITT masuk dalam radar pengawasan ketat bursa melalui papan pemantauan khusus Full Call Auction (FCA).

Saat ini, JRI tengah melaksanakan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) di harga 296 per saham yang berlangsung sejak 5 Februari hingga 6 Maret 2026.

Siapa Jinlong Resources Investment dan Sosok Gao Jinliang?

Pihak yang menjadi motor penggerak transformasi ini adalah PT JRI, sebuah perusahaan holding yang berdomisili di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Namun, perhatian pasar sebenarnya tertuju pada sosok Gao Jinliang, direktur sekaligus Ultimate Beneficial Owner (UBO) dari JRI.

Rekam jejak Gao Jinliang bukanlah nama sembarangan di industri hilirisasi mineral Indonesia. Ia tercatat pernah menjabat sebagai direktur di Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP) atau Baoshuo Taman Industry Investment Group (BTIIG), sebuah kawasan industri berbasis smelter nikel raksasa di Morowali, Sulawesi Tengah. Keterkaitannya adalah dengan Grup Jianlong yang mengucurkan investasi triliunan rupiah di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong untuk industri baja mempertegas posisi Jinlong sebagai pemain strategis.

Manajemen FITT sendiri telah memberikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) bahwa Gao Jinliang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan Gao Jing, pengendali PT Koka Indonesia Tbk (KOKA), guna meredam spekulasi liar di pasar.

Adapun proses pengambilalihan FITT oleh Jinlong dilakukan secara bertahap namun agresif. JRI menyelesaikan akuisisi 48,07 persen saham (627 juta lembar) dari pemegang saham lama, PT Gloria Inti Nusantara, Hendra Sutanto, dan Richard Suwandi Lie, dengan harga Rp105 per saham pada 12 Desember 2025.

Tak lama, pada 16 Desember 2025, JRI menambah porsi kepemilikannya sebesar 31,08 persen (405,39 juta lembar) melalui pembelian dari PT Bangun Nusa Cemerlang dan 10 individu lainnya di harga Rp130 per saham.

Pada gilirannya, per 31 Desember 2025, Jinlong resmi menguasai 79,16 persen saham FITT.

Saat ini, melalui MTO, Jinlong membidik sisa 20,84 persen saham publik. Menariknya, harga tender 296 per saham ini jauh di bawah harga pasar yang saat ini berfluktuasi di kisaran 700-an. Anomali ini sering dibaca sebagai strategi agar publik tetap menggenggam sahamnya, sehingga JRI tidak perlu mengeluarkan dana tambahan dan aturan free float (minimal 7,5 persen saham publik) tetap terpenuhi agar perusahaan terhindar dari risiko delisting.

Pivot Bisnis: Meninggalkan Hotel, Menuju Laut

Arah bisnis FITT di bawah Jinlong sangat jelas yakni divestasi dan injeksi. FITT berencana menjual seluruh saham di anak usahanya, PT Bumi Majalengka Permai (BMP) sebagai pengelola Hotel Fitra dan PT Fitra Amanah Wisata (FAW), senilai total Rp67,25 miliar. Dana segar ini, ditambah struktur permodalan baru, akan digunakan untuk mengakuisisi PT Poseidon Shipping Indonesia (PSI).

PSI adalah perusahaan pelayaran yang sudah memiliki kontrak kerja sama dengan berbagai perusahaan pertambangan. Fokus utamanya adalah pengangkutan bijih nikel dan batu kapur dengan rute operasional utama di wilayah Sulawesi, khususnya jalur Kendari-Langara dan Raha-Baubau. 

Dengan profil Gao Jinliang yang kuat di Morowali, PSI diproyeksikan akan memiliki pasar yang pasti (captive market) dalam ekosistem pertambangan nikel.

Lebih lanjut, keputusan Hotel Fitra International untuk banting setir ke industri pelayaran bukanlah langkah tanpa perhitungan matang. Berdasarkan Laporan Studi Kelayakan Bisnis yang disusun oleh KJPP Edi Andesta dan Rekan per 3 Februari 2026, rencana penambahan kegiatan usaha ini dinyatakan layak secara finansial, pasar, maupun teknis.

Angka-angka yang disajikan dalam studi kelayakan tersebut menunjukkan optimisme yang sangat tinggi dibandingkan performa bisnis hotel FITT sebelumnya. Parameter utama kelayakan keuangan setelah transaksi menunjukkan nilai net present value (NPV) sebesar Rp361,21 miliar, melonjak drastis dari NPV sebelum transaksi yang hanya berada di angka Rp14,79 miliar. Selain itu, internal rate of return (IRR) diproyeksikan mencapai 38,70 persen, jauh melampaui tingkat diskonto atau bunga bank komersial. 

Dengan profil risiko pelayaran yang terukur, perusahaan menargetkan periode pengembalian modal (payback period) dalam waktu 8 tahun 9 bulan.

Sebelum menyuntikkan aset baru, FITT harus melakukan "operasi pembersihan" terhadap struktur neracanya. Narasi utama Jinlong adalah melepaskan beban historis yang selama ini menekan laba bersih. 

FITT secara resmi mengumumkan rencana divestasi hampir 100 persen kepemilikan pada dua anak usahanya, yaitu BMP dan FAW.

Rinciannya meliputi BMP dijual kepada PT Berkarya Bersama Servindo (BBS) senilai Rp21,92 miliar, sedangkan FAW dijual kepada PT Pratama Global Servindo (PGS) seharga Rp45,33 miliar.

Total dana segar yang diraup dari pelepasan bisnis hotel ini mencapai Rp67,25 miliar. Langkah ini sangat krusial karena secara historis, BMP dan FAW terus mencatatkan rugi tahun berjalan selama lima tahun berturut-turut, yang secara otomatis menggerus ekuitas konsolidasian FITT. 

Penjualan ini sekaligus memutus ketergantungan FITT dalam memberikan dukungan pendanaan (financial support) kepada entitas anak yang tidak produktif tersebut.

Mengapa Pelayaran Nikel Sulawesi?

Arah bisnis FITT di bawah kendali Gao Jinliang berfokus pada pemanfaatan momentum hilirisasi mineral. FITT akan bertransformasi menjadi perusahaan holding dan mengakuisisi PSI. PSI diposisikan sebagai ujung tombak logistik untuk komoditas strategis, yakni bijih nikel dan batu kapur.

Pemilihan rute di perairan Sulawesi, khususnya rute Kendari-Langara dan Raha-Baubau, bukanlah tanpa alasan. Sulawesi memegang sekitar 90 persen cadangan nikel Indonesia yang tersebar di Sulawesi Tengah, Tenggara, dan Selatan. 

Melalui koneksi Gao Jinliang di kawasan industri nikel Morowali (IHIP/BTIIG), PSI diharapkan memiliki akses pasar yang pasti (captive market) terhadap kebutuhan angkutan barge (tongkang) bagi smelter-smelter raksasa di wilayah tersebut.

Dari sisi teknis, PSI berencana mengoperasikan armada yang terdiri dari 6 unit kapal tongkang dan 1 unit kapal tunda (tug boat). Targetnya, armada ini sudah bisa beroperasi secara komersial penuh pada Juni 2026. 

Strategi operasional yang diterapkan menggunakan pendekatan Business to Business (B2B) dengan kontrak eksklusif jangka panjang bersama perusahaan pertambangan untuk menjamin kontinuitas pendapatan.

Meskipun proyeksi terlihat sangat menjanjikan, manajemen FITT menyadari adanya risiko baru di sektor pelayaran yang jauh berbeda dengan bisnis hotel. 

Tiga risiko utama yang diidentifikasi meliputi:

  1. Fluktuasi harga bahan bakar: komponen biaya BBM sangat besar dalam operasional kapal. Perusahaan telah menyiapkan strategi lindung nilai (hedging) melalui kontrak berjangka untuk mengunci biaya energi.
  2. Risiko cuaca ekstrem (typhoon/topan): mengingat jalur pelayaran di Sulawesi, perusahaan menerapkan protokol keselamatan ketat dengan pemantauan real-time dari pusat peringatan topan internasional guna meminimalkan gangguan operasional dan kecelakaan laut.
  3. Depresiasi aset: Kapal merupakan aset dengan laju penyusutan yang tinggi akibat sifat korosif air laut. Perusahaan mengalokasikan manajemen perawatan teknis (ship management) secara disiplin untuk memperpanjang usia ekonomis armada.

Bagi investor seperti Jinlong Resources Investment, akuisisi FITT adalah strategi efisiensi mencatatkan bisnis di bursa (listing effort). Membeli FITT di harga akuisisi awal 105 adalah cara termurah untuk mendapatkan status "perusahaan terbuka" yang memiliki tata kelola regulasi yang diakui.

Harga pasar FITT yang kini bertengger jauh di atas harga MTO (296 vs 700-an) menunjukkan bahwa pasar tidak lagi menilai FITT berdasarkan aset hotelnya di Majalengka, melainkan berdasarkan aset nikel dan batu kapur yang akan diinjeksikan. 

Ini adalah fenomena klasik di bursa saham Indonesia di mana "saham cangkang" bertransformasi menjadi kendaraan baru bagi grup industri besar untuk melakukan ekspansi modal melalui mekanisme rights issue di masa depan.

Proyeksi Keuangan 2026-2030 dan Riwayat Lampau FITT

Transformasi dari hotel ke pelayaran diproyeksikan akan mengubah warna laporan keuangan FITT dari merah menjadi biru dalam waktu singkat. 

Berdasarkan proforma posisi keuangan setelah transaksi, total aset lancar FITT diperkirakan meroket 130,82 persen menjadi Rp119,47 miliar.

Berikut adalah proyeksi kinerja laba rugi konsolidasian pasca transformasi:

  • Tahun 2026: pendapatan diproyeksikan mencapai Rp71,97 miliar dengan laba bersih tahun berjalan mulai menyentuh angka positif Rp1,41 miliar.
  • Tahun 2027: terjadi lonjakan pendapatan menjadi Rp131,94 miliar dengan laba bersih melompat ke angka Rp17,91 miliar.
  • Periode 2028-2030: pendapatan stabil di kisaran Rp131,94 miliar per tahun dengan rata-rata laba bersih tahunan mencapai Rp17,5 miliar.

Secara fundamental, perbaikan ini tercermin pada rasio profitabilitas yang signifikan. Net profit margin (NPM) yang sebelumnya selalu negatif, diproyeksikan melonjak hingga 39,39 persen pada tahun 2027 dan tetap stabil di atas 35 persen hingga tahun 2030. Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) juga diproyeksikan turun dari 1,33x menjadi hanya 0,49x pada akhir periode proyeksi, menandakan struktur modal yang semakin sehat karena pelunasan kewajiban dari dana hasil divestasi hotel.

Untuk memahami mengapa akuisisi ini dianggap sebagai aksi backdoor listing atau pembelian "cangkang", investor perlu membedah rapor merah FITT selama satu dekade terakhir. Secara historis, lini bisnis perhotelan FITT terus mengalami tekanan hebat, terutama pasca pandemi.

Berikut adalah ringkasan kinerja fundamental FITT dari tahun ke tahun berdasarkan data laporan keuangan yang dikutip dari keterbukaan informasi BEI:

TahunPendapatan (Rp)Laba Bersih (Rp)EPS (Rp)ROA (%)ROE (%)Total Utang (Rp)
20188,07 Miliar(4,83 Miliar)-6-10,27-20,4422,62 Miliar
20199,48 Miliar(6,13 Miliar)-11-10,08-16,2321,57 Miliar
20205,39 Miliar(8,54 Miliar)-11-13,87-29,2627,58 Miliar
20218,75 Miliar(5,42 Miliar)-6-8,15-14,2325,61 Miliar
202210,49 Miliar(5,99 Miliar)-6-9,68-16,9524,52 Miliar
202311,83 Miliar(7,35 Miliar)-10-12,73-26,1327,80 Miliar
202411,29 Miliar(8,55 Miliar)-12-7,60-10,0331,49 Miliar
Q1-20251,91 Miliar(2,69 Miliar)----

Dari data diatas, FITT belum pernah mencetak laba bersih (EPS positif) setidaknya dalam tujuh tahun terakhir. Kerugian bahkan cenderung membengkak mencapai Rp8,55 miliar pada akhir 2024. 

NPM perusahaan selalu berada di zona negatif yang dalam, mencerminkan bahwa beban operasional dan beban bunga jauh melampaui pendapatan dari hotel. Operating cashflow FITT secara konsisten mencatatkan angka minus, yang berarti aktivitas operasional hotel justru menguras kas perusahaan daripada menghasilkannya. 

Meskipun rasio DER sempat berada di bawah 1 kali pada 2024 (0,69x), utang perusahaan terus merangkak naik hingga menembus Rp31,49 miliar pada tahun tersebut.

Kondisi fundamental yang "sakit" inilah yang membuat FITT menjadi target ideal untuk aksi korporasi Jinlong. Bagi JRI, FITT adalah kendaraan publik yang sudah terdaftar (shell company). 

Dengan menyuntikkan aset pelayaran (PSI) yang sehat dan mendivestasi aset hotel yang merugi, Jinlong secara instan mengubah profil risiko dan potensi profitabilitas emiten ini.

Dari Stock Story ke Sentimen Market 

Memasuki periode MTO, pergerakan saham FITT menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Meskipun harga penawaran ditetapkan di 296, kekuatan pasar justru mendorong harga jauh melampaui angka tersebut, dengan rincian sebagai berikut.

  • 5 Februari 2026: Saham dibuka di harga Rp665 dan ditutup meroket 24,30 persen ke level 665 (batas auto reject atas/ARA pada sesi tersebut). Volume perdagangan meledak hingga 19,93 juta saham.
  • 6 Februari 2026: Tren penguatan berlanjut. FITT melonjak 10,53 persen dan ditutup pada harga 735 dengan volume 15,79 juta saham.
  • 9 Februari 2026: Terjadi koreksi teknis sebesar 6,80 persen ke level 685. Investor mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking).
  • 10 Februari 2026: Saham kembali bangkit, menguat 8,03 persen ke level 740 dengan volume perdagangan mencapai 12,92 juta saham.

Selama periode 5-10 Februari 2026, aktivitas perdagangan didominasi oleh minat spekulatif yang tinggi. Munculnya harga MTO 296 yang terdiskon sekitar 29,52 persen dari harga pasar saat itu (420 pada awal pengumuman) justru dianggap pasar sebagai sinyal bahwa pengendali baru tidak ingin menyerap saham publik secara paksa.

Investor ritel dan beberapa institusi lokal tampak aktif melakukan akumulasi, bertaruh pada narasi "Injeksi Aset Nikel" yang akan dibawa oleh Gao Jinliang. 

Volume rata-rata harian yang biasanya sepi kini melonjak di atas 10-15 juta lembar saham, menandakan likuiditas yang kembali cair setelah sekian lama FITT menjadi saham "tidur".

Lebih jauh berdasarkan parameter teknikal harian yang dikutip dari Investing.com per Rabu, 11 Februari 2026, mayoritas indikator memberikan sinyal sebagai berikut: 

  1. Rata-rata bergerak (Moving Average/MA): Harga FITT saat ini berada jauh di atas MA50 (586,70) dan MA200 (528,65), yang secara teknis mengonfirmasi tren bullish jangka menengah hingga panjang. Meskipun MA5 memberikan sinyal jual jangka pendek di 731, tren utama tetap solid ke atas.
  2. Relative Strength Index (RSI): Indikator RSI berada pada level 58,034 (beberapa sumber menyebut 70,17), yang menunjukkan saham berada dalam zona penguatan namun belum sepenuhnya jenuh beli (overbought).
  3. MACD: Indikator MACD berada di angka 47,552, memberikan sinyal beli yang kuat bagi trader pengikut tren.
  4. Pivot point (Fibonacci): Level resistance terdekat berada pada 745 (R1), diikuti oleh 779 (R2), dan 801 (R3). Jika FITT mampu menembus level psikologis 835, saham ini berpotensi kembali menguji level tertinggi sepanjang masanya.

'Benang Merah' yang Perlu Dipahami Pasar

Akuisisi FITT oleh Gao Jinliang melalui Jinlong Resources Investment atau JRI adalah manuver backdoor listing yang terencana dengan sangat rapi. Dengan membuang beban bisnis perhotelan yang merugi dan menyuntikkan unit bisnis pelayaran di sektor hilirisasi mineral yang sedang booming, FITT telah bertransformasi dari emiten "sekarat" menjadi kendaraan investasi yang agresif. 

Meskipun harga pasar saat ini terlihat sangat mahal secara fundamental lama, pasar nampaknya lebih percaya pada "tangan dingin" pengendali baru dalam menggarap potensi nikel Indonesia. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com