KABARBURSA.COM - PT. Mayora Indah Tbk (MYOR) menunjukkan pergerakan positif pada perdagangan Jumat, 19 Desember 2025. Kinerja apik ini juga ditandai dengan volume pembelian yang tinggi.
Mengutip data perdagangan Stockbit, di hari tersebut, saham MYOR ditutup menguat sebesar 3,30 persen atau meningkat 70 poin ke level Rp2.180.
Penguatan saham emiten makanan dan minuman ini disertai dengan catatan volume sebanyak 13,96 juta saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume 20 hari terakhir yang berada di kisaran 8,56 juta saham.
Secara teknikal, kenaikan volume yang terjadi senada dengan penguatan harga yang menunjukkan adanya respon beli dari para investor.
Kinerja positif tersebut juga mengantarkan MYOR kembali bertengger di atas moving average (MA)20 dan MA50 yang sama-sama berada di level Rp2.145.
Perlu diketahui, terakhir kali MYOR berada di atas MA20 dan MA50 adalah pada 11 Desember 2025. Sehari setelahnya, saham ini terjun jauh di bawah kedua MA itu setelah ditutup melemah ke level Rp2.110.
Investor asing turut memborong MYOR melalui sejumlah broker besar di hari yang sama. UBS Sekuritas Indonesia (AK) menjadi broker dengan pembelian jumbo sebesar Rp7 miliar atau 32 ribu lot di harga rata-rata Rp2.169.
Di posisi kedua ada broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) yang mengakumulasi saham MYOR sebesar Rp456,8 juta atau 2,1 ribu lot di rentang harga Rp2.174.
Diikuti OCBC Sekuritas Indonesia (TP) dengan pembelian Rp209 juta, KGI Sekuritas Indonesia (HD) Rp14,6 juta, dan BRI Danareksa Sekuritas (OD) senilai Rp416 ribu.
Dari sisi penjualan, tekanan jual paling besar datang dari broker JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) dengan nilai jual mencapai Rp1,8 miliar. Selanjutnya, broker Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) mencatatkan penjualan sebesar Rp1,4 miliar, diikuti Mandiri Sekuritas (CC) senilai Rp1,1 miliar.
Terkait pergerakan harga, saham MYOR mengalami kenaikan 3,30 persen dalam periode mingguan dan bulanan. Sementara itu, dalam horizon tiga bulan dan enam bulan, saham ini masing-masing menguat 7,35 persen dan 9,77 persen.
Meski demikian, kinerja MYOR secara year to date (YTD) masih tercatat turun 21,22 persen. Sedangkan Dalam satu tahun terakhir, saham emiten konsumer ini juga melemah 17,67 persen.
Adapun dari total 25 analis yang dihimpun dari Stockbit, memberikan penilaian, sebanyak 22 analis merekomendasikan buy, sementara tiga analis menyarankan hold. Tidak terdapat rekomendasi jual pada saham MYOR.
Sejalan dengan rekomendasi tersebut, target harga rata-rata MYOR ditetapkan di level Rp2.742 per saham. Angka ini berada di atas harga MYOR saat ini yang tercatat di Rp2.190.
Adapun estimasi target harga tertinggi MYOR berada di level Rp3.700 per saham, sementara target terendah dipatok di Rp2.300.
MYOR Terbitkan Obligasi Rp827,5 Miliar
Diberitakan sebelumnya, MYOR mengumumkan penerbitan Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Tahun 2025 dengan nilai Rp827,545 miliar. Aksi ini menjadi lanjutan dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III senilai Rp2,5 triliun.
Dalam prospektus yang diterbitkan perseroan, manajemen Mayora menegaskan bahwa seluruh dana dari obligasi tersebut akan dialokasikan untuk modal kerja anak usaha PT Tirta Fresindeo Jaya (TES).
“Seluruh dana hasil penawaran obligasi ini akan digunakan sebagai modal kerja PT Tirta Fresindo Jaya untuk mendukung pembelian bahan baku dan pembungkus serta kebutuhan operasional,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Rabu, 3 Desember 2025.
Obligasi ini diterbitkan dalam dua seri, yakni Seri A dengan tenor lima tahun dan tingkat bunga tetap 5,85 persen, serta Seri B dengan tenor tujuh ahun dan bunga tetap 6,15 persen. Seluruh obligasi dijamin penuh oleh penjamin pelaksana emisi, memastikan seluruh jumlah penawaran terserap di pasar.
Dengan tambahan fasilitas pendanaan ini, total penghimpunan dana PUB III yang dilakukan MYOR semakin mendekati batas maksimal Rp2,5 triliun.
Dari sisi kinerja keuangan, MYOR mencatat pendapatan Rp27,15 triliun hingga kuartal III 2025, dengan laba bersih Rp1,88 triliun.
Total aset perusahaan meningkat menjadi Rp30,71 triliun dibandingkan posisi akhir 2024 yang tercatat Rp29,73 triliun. (*)