KABARBURSA.COM - Emiten batu bara Indonesia berpotensi menerima angin segar jelang memasuki musim dingin di akhir tahun yang biasa dimulai dari Desember dan awal tahun pada Januari dan Februari. Permintaan listrik untuk pemanas yang cenderung meningkat, diperkirakan mengangkat serapan batu bara termal dan menopang harga acuan kawasan.
Permintaan dari China, India, Jepang, dan Korea Selatan, empat pasar yang menyerap porsi besar ekspor batu bara RI, umumnya meningkat jelang dan selama musim dingin. Utilitas di negara-negara tersebut lazim melakukan restocking untuk menjaga keandalan pasokan, membuka peluang penjualan tambahan di luar kontrak tahunan bagi penambang Indonesia.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), tujuan utama ekspor batu bara Indonesia pada 2024 didominasi negara-negara Asia, dengan India dan China sebagai pasar terbesar.
Posisi berikutnya diisi Filipina, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Hong Kong. Selebihnya tersebar ke negara lain dalam porsi yang lebih kecil. Data ini tersaji dalam tabel resmi BPS "Exports of Coal by Major Countries of Destination, 2012–2024."
Di sisi harga, Average Selling Price (ASP) emiten yang merujuk benchmark regional seperti Newcastle (NEWC) berpotensi terdorong ketika permintaan spot menguat. Emiten dengan porsi penjualan spot lebih besar relatif terhadap kontrak jangka panjang biasanya paling sensitif terhadap penguatan harga.
Dampak ke Kinerja Emiten
Musim dingin bisa menjadi kesempatan untuk emiten batu bara dalam meningkatkan pendapatan dan margin. Kombinasi kenaikan ASP dan tambahan volume pengiriman berpotensi memperlebar margin, khususnya bagi produsen berbiaya tunai rendah serta yang memiliki batubara kalori menengah–tinggi.
Dari sisi arus kaas dan kebijakan dividen. Dari sisi ini meningkatknya kas operasional pada periode puncak permintaan memberi ruang untuk pembagian dividen dan belanja modal tahun berikutnya. Namun, hal ini bergantung kebijakan masing-masing perseroan.
Kendati demikian, para investor harus mengetahui beberapa risiko. Pertama, mengenai cuaca yang bisa saja Lebih hangat. Kondisi ini cukup berpotensi mengurangi kebutuhan pemanas.
Kenaikan produksi domestik di China atau India demi keamanan energi juga perlu disoroti. Pasalnya, hal ini dapat menekan impor.
Ada pula perubahan kebijakan energi, semisal adanya percepatan nuklir/LNG di Jepang atau Korea Selatan. Hal ini berpotensi menggeser bauran, meski umumnya bertahap.
Terakhir, terkait adanya gangguan cuaca atau logistik di Indonesia seperto hujan ekstrem atau gelombang tinggi yang bisa menahan realisasi volume pengiriman.
Kinerja Ekspor Batu Bara Indonesia
Kendati begitu, Kinerja ekspor batu bara Indonesia belakangan ini, terutama saat musim dingin, terpantau sedang lesu. BPS mencatat ekspor batu bara pada Desember 2024 senilai USD2,96 miliar, turun 10,36 persen year on year (yoy). Kendati demikian, ekspor komoditas ini tercatat naik secara month to mont (mtm).
Sedangkan pada periode Januari-Mei 2025, BPS menyampaikan nilai ekspor batu bara senilai USD10,26 miliar, atau menyusut sebesar 19,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Adapun merujuk analisa Stockbit, Firma analisis komoditas, Kpler, mencatat ekspor batu bara termal dari Indonesia dalam 4 bulan pertama (4M25) sebesar 150 juta ton, turun 20 juta ton. Perlu diketahui, penurunan ini terendah dalam tiga tahun terakhir.
Menurut analisa, Penurunan ekspor Indonesia selama 4M25 imbas dari menyusutnya permintaan dari China dan India karena dua negara tersebut tengah mengalami kenaikan produksi.
Disebutkan, ekspor ke China menurun 14 juta ton atau sekitar -20 persen YoY selama 4M25. Sedangkan ekspor ke India menyusut 6 juta ton atau setara -15 persen YoY.
Di sisi lain, Kementerian ESDM mencatat ekspor batu bara Indonesia sejak awal tahun baru mencapai 131 juta ton per 16 Mei 2025. Jumlah tersebut baru memenuhi 26,2 persen dari target ekspor 2025 di level 500 juta ton.
Sebagai konteks, Kementerian ESDM mencatat bahwa ekspor batu bara Indonesia selama 2024 mencapai 441 juta ton, hanya memenuhi 90 persen target 2024 di level 490 juta ton.
Kendati demikian, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan permintaan batu bara diharapkan meningkat saat musim dingin tiba.
"Semestinya bisa memberikan katalis positif bagi emiten-emiten batu bara yang tentunya berorientasi pada ekspor," ujar dia kepada Kabarbursa.com, Selasa, 30 September 2025.
Nafan menyampaikan secara teknikal, terdapat dua emiten yang berpotensi tersengat efek positif musim dingin, di antaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Kinerja Ekspor AADI dan ITMG
Pada semester I 2025, AADI mencatat pendapatan usaha sebesar USD2,39 miliar, atau turun 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Laba AADI pada semester I 2025 juga mengalami penurunan menjadi USD428,7 juta atau menyusut dibanding periode serupa yang sebesar USD859 juta.
Pendapatan AADI sendiri mayoritas berasal dari penjualan batu bara senilai USD2,2 miliar, sementara segmen logistik menyusul di angka USD67,5 juta.
Menurunnya penjualan batu bara ke luar negeri menjadi biang keladi pendapatan AADI. Penjualan ekspor perusahaan di semester I 2025 USD1,86 miliar, atau turun 11,84 persen yoy dibanding periode serupa tahun lalu.
Di sisi lain, ITMG membukukan pendapatan bersih sebesar USD919,4 juta pada semester I 2025, turun 12 persen dibanding periode serupa tahun 2024 yang sebesar USD1,04 miliar.
Adapun merosotnya pendapatan ITMG pada semester I 2025 dikarenakan menurunnya harga jual bat ubara menjadi USD78 per ton, atau turun 19 persen jika dibanding semester I tahun lalu.
Sementara itu, penurunan juga terjadi dari sisi laba. Pada paruh pertama tahun ini, ITMG mencetak laba USD90,07 juta, ,menyusut dibanding semester I 2024.
Prospek Saham AADI dan ITMG
Masih merujuk Stockbit, sebanyak 16 analis yang tercatat pada tampilan Analisis AADI kompak memberikan rekomendasi buy. Target harga rata-rata Rp11.385 dengan rentang terendah Rp8.000 dan tertinggi Rp30.100.
Pada harga pasar Rp7.425, potensi kenaikan menuju target rata-rata sekitar +53,3 persen, space ke target puncak +305,4 persen, sementara jarak ke skenario terendah -7,7 persen.
Estimasi kinerja konsensus menggambarkan normalisasi bertahap. Pendapatan 2025 diproyeksikan Rp77,287 triliun 2025 dan Rp77,091 triliun 2026.
Laba operasi diperkirakan Rp15,599 triliun pada 2025 dan Rp15,255 triliun 2026. Sementara itu laba bersih disimulasikan Rp12,760 triliun di tahun 2025, serta Rp12,857 triliun pada 2026.
Di sisi lain, sebanyak konsensus 29 analis atas ITMG menempatkan saham ini pada rekomendasi hold, dengan komposisi penilaian 9 buy, 18 hold, dan 2 sell.
Rata-rata target harga berada di Rp23.428 dengan rentang perkiraan tertinggi Rp30.100 dan terendah Rp18.000. Pada harga pasar Rp22.825, ruang kenaikan ke target rata-rata sekitar 2,6 persen, sementara potensi menuju target tertinggi mendekati 32 persen dan risiko ke target terendah sekitar -21 persen.
Proyeksi kinerja yang dihimpun dari konsensus memperlihatkan moderasi bertahap. Pendapatan 2025 diperkirakan Rp34,263 triliun dan Rp33,945 triliun pada 2026.
Laba operasi diasumsikan Rp5,105 triliun pada 2025 dan Rp4,644 triliun di 2026. Sementara laba bersih dipatok ke Rp4,142 triliun pada 2025 dan Rp3,938 triliun untuk tahun 2026. (*)