Insight Daily 17 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

MSIN Siap Breakout, Dua Katalis Penting Jadi Penggerak

MNC Digital Entertainment (MSIN) perkuat modal lewat rights issue, ubah manajemen, dan perluas ekosistem OTT untuk dorong ekspansi global.

KABARBURSA.COM – PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) mendapat dua katalis penggerak saham yang telah lama berada dalam fase sideways. Analis menyebutkan, indikator teknikal pada Rabu, 16 September 2025, menampilkan pola baru.Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam laporannya menegaskan bahwa momentum teknikal ini patut ...

PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) mendapat dua katalis penggerak saham yang telah lama berada dalam fase sideways. (Foto: Dok. MNC Digital)
PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) mendapat dua katalis penggerak saham yang telah lama berada dalam fase sideways. (Foto: Dok. MNC Digital)

Insight Navigator

  1. 01 Dua Katalis Penggerak Saham yang Telah Lama Sideways

KABARBURSA.COM – PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) mendapat dua katalis penggerak saham yang telah lama berada dalam fase sideways. Analis menyebutkan, indikator teknikal pada Rabu, 16 September 2025, menampilkan pola baru.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam laporannya menegaskan bahwa momentum teknikal ini patut dicermati oleh investor. 

"Level psikologis 684 hingga 700 disebut sebagai titik krusial yang perlu ditembus untuk memastikan breakout,” ujarnya, dalam laporan Kamis, 17 September 2025.

Momentum teknikal tersebut semakin relevan karena selaras dengan dinamika fundamental yang sedang berlangsung. 

Selain pola harga yang mulai memberi sinyal penguatan, MSIN juga tengah menyiapkan langkah strategis di tingkat korporasi. 

Dua Katalis Penggerak Saham yang Telah Lama Sideways

Katalis pertama, menurut Liza, grafik saham MSIN kemarin menampilkan pola parallel channel yang mengindikasikan proses bottoming

“Pola parallel channel memperlihatkan peluang breakout jika harga menembus level psikologis 684–700," tulis Liza.

Ia menambahkan, target awal ke 730–750, setelah itu menuju 890–900 yang setara dengan Fibonacci retracement 38,2 persen. Support berada di 600, 550, dan 520–500.

Riset Kiwoom juga mencatat indikator lain yang mendukung. Relative Strength Index (RSI) MSIN berada di level 60,6, menandakan tren positif namun belum memasuki zona jenuh beli. Kondisi ini memberi ruang bagi kenaikan lebih lanjut tanpa risiko koreksi tajam. 

Selain itu, harga saham sudah bergerak di atas rata-rata pergerakan (moving average) 10, 20, dan 50 harian. Sinyal ini kerap menjadi indikasi awal terbentuknya tren naik baru.

Dengan support kuat di area 600, 550, dan 520–500, risiko penurunan relatif terukur. 

Sebaliknya, apabila harga mampu bertahan di atas 700, peluang kenaikan berlapis akan terbuka dan bisa menjadi katalis teknikal yang menarik lebih banyak minat pasar.

Katalis kedua datang dari kebijakan korporasi yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin, 15 September 2025. 

Pemegang saham menyetujui rencana penerbitan saham baru tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) sebanyak 6,06 miliar saham atau setara 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. 

Berdasarkan keterbukaan informasi, aksi ini efektif per 7 Oktober 2025 dan berlaku selama dua tahun.

Dana hasil aksi korporasi dialokasikan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi. Fokus utama mencakup produksi konten dan IP baru, distribusi hak siar olahraga premium, perluasan multi-channel networks (MCN), penguatan agensi artis dan media, hingga peningkatan platform OTT RCTI+ dan Vision+.

Menurut riset Kiwoom, penerbitan saham baru ini akan menjadi katalis fundamental. Rights issue diperkirakan meningkatkan ekuitas MSIN dari Rp6,98 triliun menjadi Rp10,11 triliun. Rasio liabilitas terhadap ekuitas juga membaik dari 13,41 persen menjadi 9,26 persen. 

Dengan demikian, ruang ekspansi MSIN akan lebih leluasa tanpa perlu mengandalkan penambahan utang.

Katalis ini semakin kuat dengan perubahan di jajaran manajemen. RUPSLB juga mengangkat Angela Herliani Tanoesoedibjo sebagai Direktur Utama. Angela menegaskan fokusnya membawa MSIN memasuki fase transformatif. 

“Dengan kekuatan kami yang tak tertandingi dalam pembuatan konten, beragam saluran distribusi, dan platform digital yang berkembang pesat, MSIN berada di posisi unik untuk mendorong inovasi dan memperluas pengaruh di Asia Tenggara,” kata Angela dalam keterangannya, dikutip Rabu, 17 September 2025.

Perseroan juga menunjuk Smash Capital sebagai penasihat strategis, dipimpin oleh Kevin Mayer, mantan eksekutif Disney dan CEO TikTok. Mayer dikenal dengan rekam jejaknya membangun Disney+ serta mengakuisisi Pixar, Marvel, Lucasfilm, dan 21st Century Fox. Keterlibatannya dipandang memperkuat kredibilitas MSIN di mata investor global.

Menurut Liza, kombinasi rights issue dan transformasi manajemen memberi sinyal positif ke pasar. 

Selain dua katalis tersebut, riset Kiwoom menekankan posisi MSIN sebagai hub utama bisnis konten, IP, dan digital entertainment dalam ekosistem MNC Group. 

Perseroan memiliki tiga sub-segmen besar: produksi & distribusi konten, MCN & agensi artis, serta OTT streaming. Untuk mendukungnya, MSIN mengoperasikan studio 21 hektare di Movieland, Lido, yang berstandar internasional.

Produksi konten juga menjadi pilar utama. MSIN menghasilkan drama, animasi, infotainment, reality show, hingga short drama dengan model China, sekitar 10 judul per bulan. Satu konten bisa dimonetisasi hingga enam aliran pendapatan: FTA TV, Pay TV, OTT, MCN, lisensi pihak ketiga, dan revenue-sharing. 

Perusahaan juga menjalin kerja sama internasional dengan Netflix dan Viu, serta mengelola library lebih dari 300.000 jam konten yang terus dimonetisasi melalui repackaging dan reruns.

Di ranah digital, MSIN mengelola lebih dari 200 kanal YouTube dengan 700 unggahan harian dan 1,5 miliar views per bulan. Monetisasi diperoleh dari AdSense (dengan porsi 55 persen untuk MSIN), membership, serta distribusi global dengan konten berbahasa Inggris, Latin, dan subtitle. 

MSIN juga menguasai agensi artis terbesar di Indonesia dengan lebih dari 400 talenta kontrak panjang. Divisi musiknya mengelola 180 artis dan 650 lagu untuk memperkuat ekosistem hiburan terintegrasi.

Pada segmen OTT, RCTI+ dan Vision+ menjadi ujung tombak. RCTI+ beroperasi dengan model AVOD gratis dengan iklan, sementara Vision+ hadir dengan model SVOD premium yang menayangkan konten eksklusif termasuk olahraga dan film. 

Distribusi diperkuat dengan hak siar eksklusif Bundesliga serta turnamen AFC/AFF. Strategi bundling dengan operator seperti Telkomsel menghasilkan 2,3 juta transaksi dalam lima hari pertama. 

Vision+ mencatat 2,19 miliar views, 31.000 jam konten, dan 110 juta pelanggan berbayar. Kedua platform kini menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar OTT Indonesia.

Data kinerja juga memperkuat optimisme tersebut. Pada paruh pertama 2025, pendapatan usaha MSIN mencapai Rp1,87 triliun, tumbuh 14,7 persen dibanding periode sama 2024. Laba bersih naik menjadi Rp317,5 miliar dari Rp305,6 miliar.

Pertumbuhan ini ditopang diversifikasi bisnis: televisi free-to-air, TV berbayar, OTT, media sosial/MCN, lisensi pihak ketiga, dan bagi hasil dengan stasiun televisi.

“MSIN punya ekosistem menyeluruh, dari produksi konten, distribusi multi-platform, hingga monetisasi digital. Ini modal kuat untuk memperluas jangkauan ke pasar internasional,” ungkap Liza dalam riset.

Prospek jangka menengah juga diperkuat rencana IPO di Hong Kong. “Rencana IPO di Hong Kong akan membuka peluang valuasi lebih menarik sekaligus mendekatkan MSIN ke pasar China,” tulis Liza.

IPO tersebut akan dilakukan melalui Hong Kong holding yang menerima injeksi 51 persen saham MSIN sebelum penawaran. Dana yang dihimpun akan dipakai untuk akuisisi media berbasis AI dan memperluas distribusi global. 

Kiwoom menekankan bahwa pasar domestik masih terbatas dengan CPM rendah, sehingga strategi ekspansi global menjadi solusi untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.

Dengan kombinasi ini, MSIN menargetkan pendapatan Rp4,5 triliun pada 2025, Rp5,9 triliun pada 2026, dan di atas Rp7 triliun pada 2028. Target yang ambisius ini dinilai realistis karena ditopang diversifikasi pendapatan, ekosistem digital, dan strategi ekspansi internasional. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya