Insight Daily 13 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

MSCI Pangkas Peringkat, Asing Tetap Parkir Dana di INDF

Sejak pengumuman tersebut pada 10 Februari 2026, dan hingga 12 Februari 2026, asing terpantau mencatatkan akumulasi bersih pada saham INDF

KABARBURSA.COM - Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi menurunkan peringkat PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dari kategori global standard ke small cap, sebuah keputusan yang secara teknis berpotensi menekan aliran dana. Namun, di tengah penyesuaian indeks tersebut, investor asing justru tercatat masih melakukan akumulasi di saham emiten pen...

Aktivitas para pekerja Indofood yang tengah memindahkan dos produk-produk Indofood dari dalam truk. (Foto: Dok. Indofood)
Aktivitas para pekerja Indofood yang tengah memindahkan dos produk-produk Indofood dari dalam truk. (Foto: Dok. Indofood)

Insight Navigator

  1. 01 Kinerja Hingga Kuartal III 2025
  2. 02 Harga Saham Masih Tergolong Murah

KABARBURSA.COM - Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi menurunkan peringkat PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dari kategori global standard ke small cap, sebuah keputusan yang secara teknis berpotensi menekan aliran dana. Namun, di tengah penyesuaian indeks tersebut, investor asing justru tercatat masih melakukan akumulasi di saham emiten pengolahan makanan itu.

Sejak pengumuman tersebut pada 10 Februari 2026, dan hingga 12 Februari 2026, asing terpantau mencatatkan akumulasi bersih pada saham INDF melalui beberapa broker.

Merujuk data Stockbit, berdasarkan data transaksi, broker Mandiri Sekuritas (CC) tercatat menjadi pembeli terbesar dengan nilai beli mencapai Rp68,2 miliar atau sekitar 101 ribu lot, dengan harga rata-rata di kisaran Rp6.755 per saham. Aksi beli signifikan ini menempatkan CC sebagai kontributor utama akumulasi asing selama periode tersebut.

Selain CC, broker UBS Sekuritas Indonesia (AK) juga mencatat pembelian senilai Rp19,4 miliar dengan volume 28,2 ribu lot pada harga rata-rata Rp6.803, diikuti Verdhana Sekuritas Indonesia (BB) sebesar Rp8,5 miliar dan DBS Vickers Sekuritas Indonesia (DP) senilai Rp1,6 miliar. Sejumlah broker lain seperti CLSA Sekuritas Indonesia (KZ), Phillip Sekuritas Indonesia (KK) , KGI Sekuritas Indonesia (HD), Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG) , dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) turut mencatat pembelian, meski dengan nilai yang relatif lebih kecil.

Di sisi lain, tekanan jual asing juga masih terlihat, meskipun nilainya lebih terbatas dibandingkan total pembelian. Broker CGS International Sekuritas Indonesia (YU) tercatat sebagai penjual terbesar dengan nilai jual mencapai Rp24,8 miliar atau sekitar 37 ribu lot, disusul Kiwoom Sekuritas Indonesia (AG) sebesar Rp18,5 miliar dan JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) senilai Rp12,1 miliar.

Broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) juga mencatatkan penjualan masing-masing Rp11,7 miliar dan Rp954 juta. Data ini menunjukkan bahwa meski asing secara agregat masih mencatat akumulasi, proses distribusi tetap berlangsung di sebagian broker.

Menariknya, keseimbangan antara aksi beli dan jual asing tersebut tetap menghasilkan indikator broker action yang condong ke arah “Big Acc”. Hal ini mengindikasikan bahwa secara bersih, arus dana asing masih mengalir masuk ke saham INDF, meski dibayangi sentimen penurunan peringkat indeks MSCI.

Dari sudut pandang pasar, kondisi ini menegaskan bahwa rebalancing indeks tidak selalu direspons secara seragam oleh seluruh investor asing. Investor berbasis indeks pasif memang berpotensi mengurangi eksposur seiring perubahan klasifikasi MSCI, namun investor aktif tampaknya masih mempertimbangkan faktor fundamental dan karakter defensif sektor konsumsi.

INDF sebagai emiten barang konsumsi primer memiliki eksposur terhadap kebutuhan dasar masyarakat, sehingga kinerjanya relatif lebih tahan terhadap fluktuasi siklus ekonomi dibandingkan sektor yang lebih sensitif.

Dengan demikian, data broker summary asing ini memberikan gambaran bahwa penurunan status INDF ke kategori Small Cap tidak serta-merta memicu aksi keluar besar-besaran dari investor asing. Sebaliknya, aktivitas perdagangan menunjukkan dinamika yang lebih seimbang, dengan akumulasi masih berlangsung di tengah tekanan jual selektif.

Kinerja Hingga Kuartal III 2025

Berdasarkan laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2025, INDF mencatat penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp90,98 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp86,94 triliun.

Seiring kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan juga mengalami peningkatan menjadi Rp60,72 triliun dari sebelumnya Rp57,25 triliun. Dengan demikian, laba bruto tercatat Rp30,26 triliun.

Dari sisi operasional, beban penjualan tercatat sebesar Rp9,35 triliun, relatif sejalan dengan periode sebelumnya. Sementara itu, beban umum dan administrasi justru menurun menjadi Rp3,88 triliun dari Rp4,11 triliun.

Akan tetapi, tekanan datang dari sisi beban bunga dan keuangan yang meningkat signifikan menjadi Rp4,55 triliun, dibandingkan Rp2,79 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan beban keuangan ini turut menekan laba sebelum pajak, yang tercatat Rp14,70 triliun, turun dari Rp15,85 triliun pada sembilan bulan pertama 2024.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp3,33 triliun, INDF membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp11,37 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan laba bersih Rp12,28 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp7,88 triliun.

Dari sisi neraca, total aset Indofood per 30 September 2025 mencapai Rp214,47 triliun, meningkat dari Rp201,71 triliun pada akhir Desember 2024. Kenaikan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan aset lancar yang mencapai Rp90,65 triliun, serta aset tidak lancar sebesar Rp123,81 triliun. Pos kas dan setara kas tercatat Rp42,94 triliun, naik dari Rp38,71 triliun pada akhir tahun sebelumnya.

Sementara itu, total liabilitas tercatat Rp98,28 triliun, naik dari Rp92,72 triliun pada akhir 2024.  Di sisi lain, total ekuitas INDF pada kuartal III 2025 tercatat Rp116,18 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp108,99 triliun.

Dari laporan arus kas, INDF membukukan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp15,21 triliun, relatif stabil dibandingkan Rp15,49 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain jika dilihat dari profil keuangan, INDF  relatif solid berdasarkan indikator rasio keuangan. Dari sisi likuiditas, emiten sektor makanan dan minuman ini mencatat current ratio sebesar 2,21, menandakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek berada pada level yang aman.

Sementara itu, quick ratio mencapai 1,70, mengindikasikan likuiditas tetap terjaga meski tanpa mengandalkan persediaan.

Dari aspek struktur permodalan, debt to equity ratio (DER) berada di level 1,08. Angka ini mencerminkan penggunaan utang yang masih proporsional terhadap modal sendiri, sekaligus menunjukkan keseimbangan antara ekspansi usaha dan pengelolaan risiko keuangan.

Pada sisi profitabilitas, kinerja Indofood tercermin dari return on assets (ROA) sebesar 3,62 persen dan return on equity (ROE) sebesar 11,05 persen (TTM). Capaian ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset dan ekuitas yang digunakan, meskipun berada dalam karakter bisnis konsumer yang padat modal.

Margin usaha juga tercatat relatif kuat. Gross profit margin kuartalan mencapai 33,50 persen, mencerminkan efisiensi pada level produksi. Sementara itu, operating profit margin berada di level 20,57 persen, dan net profit margin tercatat 6,56 persen.

Secara keseluruhan, rasio keuangan tersebut mencerminkan posisi Indofood sebagai emiten defensif dengan likuiditas kuat hingga margin usaha terjaga.

Harga Saham Masih Tergolong Murah 

Melalui perhitungan yang dilakukan tim Kabarbursa.com, harga wajar saham INDF saat ini di kisaran Rp8.642, sementara harga pada perdagangan terakhir yakni Rp6.775.

Adapun pada perdagangan terakhir, Kamis, 12 Februari 2026, saham INDF ditutup menguat sebesar 1,12 persen atau 75 poin ke level Rp6.775.

Pergerakan harga saham INDF dalam jangka pendek menunjukkan mulai adanya pemulihan. Meski dalam pekan saham ini masih terkoreksi 3,21 persen. Namun secara bulanan, INDF sukses mencatat kenaikan 2,65 persen.

Akan tetapi, dalam perspektif jangka menengah, kinerja saham INDF masih berada dalam fase konsolidasi. Dalam tiga bulan, harga saham tercatat turun 3,90 persen, sementara dalam enam bulan melemah 16,10 persen.

Secara year to date (YTD), pergerakan saham cenderung stagnan, dan dalam horizon satu tahun, INDF masih terkoreksi 12,01 persen.

Meski demikian, dalam rentang yang lebih panjang, saham INDF menunjukkan ketahanan sebagai saham defensif. Dalam lima tahun, harga saham INDF masih mencatatkan kenaikan 7,54 persen, sementara dalam 10 tahun naik tipis 0,74 persen. Pergerakan ini mencerminkan karakter INDF sebagai saham konsumsi dengan volatilitas relatif terkendali dan daya tahan jangka panjang.
 

Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) masih memperoleh sentimen positif dari kalangan analis di Stockbit. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 23 analis memberikan rekomendasi beli terhadap saham emiten sektor barang konsumsi ini, tanpa adanya rekomendasi hold maupun sell.  Konsensus tersebut mencerminkan optimisme analis terhadap prospek kinerja dan valuasi INDF ke depan.

Dari sisi target harga, analis mematok harga wajar rata-rata di level Rp9.289 per saham, jauh di atas harga saat ini di kisaran Rp6.775. Sementara itu, estimasi target tertinggi berada di Rp11.500, dan target terendah di Rp7.750. Rentang target tersebut mengindikasikan ruang kenaikan harga yang masih cukup besar dibandingkan posisi saham saat ini.
 

Dengan dukungan rekomendasi analis yang solid, target harga yang berada jauh di atas harga pasar, serta karakter bisnis yang defensif, saham INDF dinilai masih menyimpan potensi menarik, terutama bagi investor yang berorientasi jangka menengah hingga panjang. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya