Insight Daily 09 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Moody's Pangkas Outlook, Asing Deras Keluar: BBCA Melemah ke Fase Ini

Tekanan saham BBCA menguat setelah Moody’s memangkas outlook dan aksi jual asing membesar, meski fundamental dan konsensus analis masih mencerminkan keyakinan jangka menengah.

KABARBURSA.COM – Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings lagi-lagi mengeluarkan ‘kartu mati’ untuk lima bank besar Indonesia. Moody’s menurunkan outlook lima bank besar Indonesia, salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dari stabil menjadi negatif.Perubahan outlook menjadi negativf, terutama dipicu oleh outlook negatif Tidak hanya penurunan outlook, perin...

Asing banyak yang melepas saham BBCA, begitu pula dengan moody's yang melakukan pemangkasan outlook, memberikan tekanan kuat terhadap pergerakan saham BBCA. Fot
Asing banyak yang melepas saham BBCA, begitu pula dengan moody's yang melakukan pemangkasan outlook, memberikan tekanan kuat terhadap pergerakan saham BBCA. Fot

Insight Navigator

  1. 01 Intraday BBCA, Orderbook, dan Performa Harga
  2. 02 Kredit Hijau 2025
  3. 03 Konsensus Analis dan Target Harga
  4. 04 Siapa yang Melepas, Siapa yang Bertahan
  5. 05 Indikator Teknikal BBCA

KABARBURSA.COM – Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings lagi-lagi mengeluarkan ‘kartu mati’ untuk lima bank besar Indonesia. Moody’s menurunkan outlook lima bank besar Indonesia, salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dari stabil menjadi negatif.

Perubahan outlook menjadi negativf, terutama dipicu oleh outlook negatif Tidak hanya penurunan outlook, peringkat kredit Indonesia yang berada di level Baa2. Level ini menandakan bahwa suatu negara atau korporasi berada dalam kategori investment grade (layak investasi), dengan risiko kredit moderat.

Dengan kata lain, peringkat ini menunjukkan fundamental ekonomi yang solid, namun memiliki karakteristik kelas menengah dan potensi kerentanan tertentu. Hal ini tercermin dari kebijakan yang semakin sulit diprediksi, koordinasi kebijakan yang kurang konsisten, serta komunikasi kebijakan yang kurang efektif dalam setahun terakhir.

Tidak hanya soal turunnya peringkat outlook, tetapi ada distribusi yang luar biasa deras dari dana asing hingga pertengahan perdagangan Senin, 9 Februari 2026. Data menunjukkan, net foreign sell tercatat sebesar 43,91 juta saham. Pelaku asing di sini tidak sekadar melakukan profit taking ringan, namun ada distribusi bersih yang agresif dan terarah.

Ada selisih yang lebar antara sisi supply dan demand, di mana asing mencatatkan penjualan sebanyak 61,36 juta saham, sementara pembelian hanya berada di kisaran 17,44 juta saham. Di sini, minat beli asing memang masih ada, namun porsinya kecil dan tidak cukup untuk menahan arus keluar yang terjadi.

Intraday BBCA, Orderbook, dan Performa Harga

Jika melihat dari perdagangan intraday BBCA, tekanan sangat jelas ada di mana saja. Pada sesi berjalan, BBCA bergerak di rentang 7.450 hingga 7.725 dan ditutup di dekat area bawah, dengan koreksi harian sebesar 1,63 persen. 

Secara intraday, pergerakan harga cenderung berat ke bawah. Setiap upaya kenaikan menuju area 7.700–7.725 terlihat cepat tertahan, ada suplai yang siap dilepas di level tersebut. Kondisi orderbook relatif padat di sisi offer, terutama pada area atas. Sementara, bid di bawahnya belum cukup tebal untuk mendorong pembalikan arah. 

Harga lebih sering bergerak mendatar ke bawah daripada membentuk pantulan tajam, yang menunjukkan bahwa pelaku pasar masih berhati-hati dan memilih menunggu keseimbangan baru.

Jika dilihat dari price performance lintas waktu, tekanan ini bukan peristiwa sesaat. Dalam satu minggu terakhir, BBCA masih turun 0,66 persen, sementara dalam satu bulan koreksi melebar menjadi 6,21 persen. 

Dalam horizon tiga bulan, penurunan harga mencapai hampir 13 persen, dan dalam enam bulan merosot cepat ke sekitar 9 persen. 

Bahkan secara year to date, BBCA sudah melemah 6,5 persen. Sedangkan dalam satu tahun terakhir, koreksinya menembus 19,25 persen. 

Menariknya, dalam perspektif jangka panjang, BBCA masih mencatatkan kinerja positif. Dalam lima tahun, saham ini masih naik sekitar 9 persen, dan dalam sepuluh tahun melonjak lebih dari 180 persen. 

BBCA:

  • Net Shares: -43.916.200
  • Foreign Sell: 61.361.000
  • Foreign Buy: 17.444.800

Kredit Hijau 2025 

Kinerja pembiayaan hijau PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sepanjang 2025 menunjukkan bahwa strategi keberlanjutan mulai terintegrasi secara nyata ke dalam ekspansi kredit, bukan sekadar pelengkap portofolio. 

Total pembiayaan berkelanjutan yang mencapai Rp255 triliun, tumbuh 11,7 persen secara tahunan, menandai peningkatan peran sustainable finance dalam struktur kredit BCA secara keseluruhan. Angka ini setara dengan lebih dari seperempat total kredit BCA per Desember 2025 yang berada di level Rp993 triliun.

Dari total pembiayaan berkelanjutan tersebut, porsi pembiayaan hijau menembus Rp113 triliun dengan pertumbuhan tahunan 14,5 persen. Laju ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit BCA secara agregat yang tercatat 7,7 persen YoY. 

Percepatan ini mencerminkan peningkatan permintaan pembiayaan yang berorientasi lingkungan, sekaligus menunjukkan kesiapan BCA dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang selaras dengan agenda transisi energi dan ekonomi rendah karbon.

Meski tidak merinci seluruh sektor penerima pembiayaan hijau, data parsial yang disampaikan memberikan gambaran arah portofolio. Pembiayaan kendaraan listrik mencatat outstanding Rp3,6 triliun dengan lonjakan 53,8 persen secara tahunan, menjadikannya salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat. 

Sementara itu, pembiayaan energi terbarukan mencapai Rp6,2 triliun dengan kapasitas terpasang 323 megawatt. Kedua segmen ini menunjukkan bahwa kredit hijau BCA tidak hanya bersifat simbolik, tetapi telah masuk ke sektor yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang dan memiliki profil risiko yang relatif kompleks.

Di sisi lain, pembiayaan untuk usaha kecil dan menengah dalam kategori berkelanjutan tumbuh 9,6 persen menjadi Rp142 triliun. Angka ini menegaskan bahwa agenda hijau BCA tidak hanya terfokus pada proyek berskala besar, tetapi juga menyasar basis ekonomi domestik yang lebih luas. 

Integrasi pembiayaan UMKM ke dalam kerangka berkelanjutan memperkuat peran BCA sebagai penyalur kredit yang menopang transisi ekonomi dari sisi akar rumput.

Jika ditempatkan dalam konteks pertumbuhan kredit secara keseluruhan, pembiayaan hijau menjadi salah satu penopang penting ekspansi BCA pada 2025. Kredit usaha tetap menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 9,9 persen menjadi Rp756,5 triliun, sementara kredit konsumer mencapai Rp224,1 triliun. 

Di dalam kredit konsumer, KPR dan KKB masih mendominasi, namun dukungan terhadap KPR subsidi FLPP sejak Oktober 2025 memperluas spektrum pembiayaan BCA, termasuk ke segmen perumahan yang memiliki dimensi sosial dan keberlanjutan.

Pendekatan ini selaras dengan strategi BCA mendorong sektor riil dan konsumsi domestik, sebagaimana tercermin dari rata-rata pertumbuhan kredit 10,8 persen sepanjang 2025. 

Aktivitas pemasaran dan engagement dengan nasabah melalui berbagai expo dan program UMKM turut menopang permintaan kredit, termasuk pada segmen yang beririsan dengan pembiayaan berkelanjutan.

Dari sisi kualitas aset, ekspansi pembiayaan hijau tidak diikuti peningkatan risiko kredit yang signifikan. Rasio loan at risk membaik ke 4,8 persen dari 5,3 persen, sementara NPL tetap terjaga di level 1,7 persen dengan pencadangan yang dinilai memadai. 

Konsensus Analis dan Target Harga

Konsensus analis terhadap saham Bank Central Asia (BBCA) saat ini menunjukkan kontras yang menarik antara persepsi fundamental jangka menengah dan tekanan harga yang masih terjadi di pasar. 

Dari total 37 analis yang memantau BBCA, sebanyak 36 memberikan rekomendasi beli, dan satu analis berada di posisi hold. Komposisi ini menempatkan BBCA sebagai salah satu saham perbankan dengan tingkat keyakinan analis tertinggi di pasar domestik.

Dominasi rekomendasi buy tersebut mencerminkan pandangan bahwa pelemahan harga yang terjadi belakangan lebih dipersepsikan sebagai koreksi valuasi, bukan penurunan kualitas fundamental. 

Analis menilai, posisi bisnis BBCA masih sangat solid, dengan kemampuan menghasilkan laba yang konsisten dan relatif tahan terhadap siklus ekonomi. Konsensus ini juga menegaskan bahwa tekanan harga jangka pendek belum mengubah tesis investasi mayoritas analis terhadap emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut.

Dari sisi proyeksi kinerja keuangan, estimasi konsensus menunjukkan tren pertumbuhan yang tetap terjaga. Pada 2025, pendapatan BBCA diperkirakan mencapai Rp118,57 triliun, sementara laba operasional berada di kisaran Rp71,26 triliun dan laba bersih sekitar Rp57,54 triliun. 

Untuk 2026, analis memperkirakan peningkatan kinerja yang berlanjut, dengan pendapatan naik menjadi Rp121,50 triliun, laba operasional Rp77,20 triliun, dan laba bersih mencapai Rp61,76 triliun.

Pertumbuhan laba bersih ini juga tercermin pada proyeksi earnings per share. EPS BBCA diperkirakan naik dari sekitar 466,74 pada 2025 menjadi 501,10 pada 2026. 

Kenaikan EPS ini mengindikasikan bahwa analis masih melihat ruang ekspansi profitabilitas, baik dari pertumbuhan kredit yang terukur, efisiensi biaya, maupun stabilitas margin di tengah dinamika suku bunga dan likuiditas.

Siapa yang Melepas, Siapa yang Bertahan

Jika melihat dari pergerakan broker hingga perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, ada pemisahan yang cukup tegas antara pihak yang masih bertahan dan pihak yang memilih melepas saham di tengah tekanan pasar. 

Di sisi pembeli, broker Mandiri Sekuritas (CC) muncul sebagai penopang utama. CC mencatatkan nilai beli bersih sekitar Rp270,5 miliar dengan volume lebih dari 352 ribu lot pada harga rata-rata 7.668. Aktivitas CC ini menggambarkan akumulasi yang cukup serius dan konsisten, menandakan bahwa di tengah koreksi harga BBCA, masih ada pihak yang berani menyerap saham pada level saat ini. 

Selain CC, BCA Sekuritas (SQ) juga tercatat berada di kubu pembeli, meski skalanya jauh lebih kecil. SQ membukukan beli bersih sekitar Rp65,2 miliar dengan volume 85 ribu lot pada harga rata-rata 7.671, menunjukkan partisipasi beli yang lebih selektif dan cenderung opportunistic.

Sebaliknya, tekanan jual paling besar datang dari Macquarie Sekuritas (RX). Broker ini mencatatkan jual bersih sekitar Rp157,7 miliar dengan volume 204,6 ribu lot di harga rata-rata 7.704. Pola RX mencerminkan distribusi yang cukup agresif, di mana setiap kenaikan harga dimanfaatkan untuk melepas saham. 

Di bawah RX, UBS Sekuritas (AK) juga terlihat konsisten berada di sisi penjual dengan nilai jual bersih sekitar Rp109,9 miliar dan volume 143,8 ribu lot di harga rata-rata 7.651. Tekanan tambahan datang dari CGS International (YU) yang mencatatkan jual bersih sekitar Rp76,4 miliar dengan volume 99,7 ribu lot pada harga rata-rata 7.672.

Indikator Teknikal BBCA

Tekanan teknikal pada saham BBCA saat ini masih sangat dominan dan belum menunjukkan sinyal pembalikan yang meyakinkan. 

Dari sisi momentum, RSI 14 hari berada di kisaran 43, kondisinya lemah namun belum memasuki wilayah jenuh jual ekstrem. MACD yang masih berada jauh di area negatif dengan histogram melebar, mengonfirmasi bahwa tekanan turun belum kehilangan tenaga. 

Sinyal ini diperkuat oleh ROC yang berada di minus 5,6 serta Bull/Bear Power yang negatif cukup dalam dan menggambarkan dominasi seller yang masih solid di pasar.

Menariknya, beberapa indikator osilator jangka pendek seperti Stochastic dan Stochastic RSI sudah masuk zona beli berlebih. Namun dalam konteks tren turun yang kuat, kondisi ini justru lebih sering menjadi sinyal pelemahan lanjutan ketimbang awal rebound. 

Ultimate Oscillator yang berada di atas 60 memberi gambaran adanya upaya bertahan dari sisi demand, tetapi belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan struktural yang tercermin dari indikator tren. 

ADX yang berada di atas 35 juga menegaskan bahwa tren yang sedang berjalan memiliki kekuatan tinggi, dan saat ini tren tersebut masih mengarah turun.

Tekanan ini semakin jelas ketika dibaca melalui moving average. Hampir seluruh MA, baik sederhana maupun eksponensial, dari MA5 hingga MA200, berada di atas harga dan memberikan sinyal jual. Posisi harga yang jauh di bawah MA50, MA100, dan MA200 menunjukkan bahwa BBCA masih bergerak dalam fase bearish menengah hingga panjang. 

Bahkan ketika MA10 sederhana sempat memberi sinyal beli, hal tersebut belum cukup untuk mengubah kesimpulan besar bahwa struktur rata-rata bergerak masih sangat berat di sisi bawah.

Grafik harian memperlihatkan pantulan tajam dari area bawah yang bersifat reaktif, ditandai lonjakan volume sesaat. Namun pantulan tersebut belum mampu menembus zona supply di kisaran 7.700–7.800. 

Jika ditarik ke area teknikal krusial, zona 7.500 menjadi penopang jangka sangat pendek yang sedang diuji. Level ini beririsan dengan support S1 pada pivot klasik di 7.591 dan level DeMark di sekitar 7.550. 

Selama area ini gagal dipertahankan secara konsisten, tekanan berpotensi berlanjut ke support berikutnya di kisaran 7.416 hingga 7.412, yang merupakan area S3 klasik dan Woodie’s. Zona ini menjadi titik kritis karena jika ditembus, struktur harga akan kembali membuka ruang pelemahan yang lebih dalam.

Dalam skenario beberapa hari ke depan, titik terendah yang paling realistis berada di rentang 7.400 hingga 7.300, dengan potensi ekstrem menuju area psikologis 7.200 apabila tekanan jual meningkat dan sentimen negatif berlanjut. 

Area ini sebelumnya berfungsi sebagai zona konsolidasi historis, sehingga berpeluang menjadi tempat harga mencari keseimbangan baru. Sebaliknya, untuk meredakan tekanan, BBCA perlu setidaknya kembali menutup gap ke area pivot 7.680–7.700 dan bertahan di atasnya, sesuatu yang sejauh ini belum terkonfirmasi oleh indikator.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya