KABARBURSA.COM - PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menerima arus dana asing kuat pada pekan kemarin, khususnya periode 27-28 November 2025. Berdasarkan data Stockbit, pemasukan dana investor asing terpantau jauh lebih besar dibandingkan penjualan.
Pada periode tersebut, Mirae Asset Sekuritas (YP) menjadi broker yang mencatat akumulasi jumbo dengan nilai pembelian mencapai Rp16 miliar atau setara 287.800 lot pada harga rata-rata Rp555.
Pembelian asing signifikan juga tercatat pada broker CGS International Sekuritas Indonesia (YU), yang menyerok saham MBMA sebanyak 48.400 lot senilai Rp2,8 miliar pada harga rata-rata Rp568.
Broker J.P Morgan Sekuritas Indonesia (BK) turut terpantau membeli MBMA sebanyak 16.000 lot dengan nilai Rp889,6 juta pada rata-rata Rp561.
Aksi pembelian tambahan datang dari broker Indo Premier Sekuritas (PD) dengan transaksi Rp32,7 juta, serta KGI Sekuritas (HD) yang membukukan pembelian Rp29,9 juta.
Di sisi lain, arus keluar asing tercatat dari broker UBS Sekuritas (AK), yang melepas 62.400 lot senilai Rp3,5 miliar. Penjualan besar berikutnya dilakukan broker Mandiri Sekuritas (CC) dengan nilai Rp3,3 miliar untuk 58.500 lot, serta broker Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG) yang mencatat distribusi Rp1,7 juta.
Meskipun demikian, total nilai penjualan asing masih berada jauh di bawah nilai pembelian, sehingga struktur transaksi tetap menunjukkan dominasi akumulasi.
Saham MBMA pada sesi I perdagangan Senin, 1 Desember 2025, menunjukkan struktur orderbook yang ketat. Data kedalaman pasar yang dihimpun dari Stockbit, memperlihatkan dominasi permintaan pada level bawah, sementara tekanan jual menumpuk di area harga atas yang menjadi penghalang kenaikan intraday.
Pada sisi permintaan, antrian beli terbesar tercatat di level Rp550 dengan volume mencapai 81.795 lot dan frekuensi antrean sebanyak 225 kali.
Di bawahnya, pembeli kembali menumpuk di Rp545 sebanyak 76.303 lot, serta di Rp540 yang mencatat antrean tebal mencapai 138.854 lot.
Di sisi penawaran, tekanan jual terbesar muncul di area Rp560–Rp570. Antrian jual pada Rp560 mencapai 90.614 lot, sementara pada Rp565 tercatat 81.301 lot. Tekanan terbesar berada pada Rp570 dengan antrean 110.404 lot.
Pergerakan Saham
Dari sisi pergerakan harga, saham MBMA terpantau masih bergerak fluktuatif. Dalam satu bulan terakhir, saham emiten pertambangan nikel ini terkoreksi 12,70 persen.
Pergerakan harga dalam jangka menengah menunjukkan tren positif. Dalam tiga bulan terakhir, MBMA mencatat kenaikan 29,11 persen, sementara periode enam bulan mencatat pertumbuhan 52,78 persen.
Sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd), harga saham menguat 20,09 persen, dan secara tahunan masih mencatatkan kenaikan 10 persen, dengan rentang perdagangan melebar dari Rp238 hingga level tertinggi di Rp750.
Merujuk Stockbit, sebanyak 11 analis merekomendasikan beli, sementara 3 analis memilih tahan dan hanya 1 analis yang memberi rekomendasi jual.
Dalam laporan yang sama, analis menetapkan target harga rata-rata di level Rp717 per saham. Selain target rata-rata, analis mencatatkan estimasi tertinggi di Rp815 dan estimasi terendah di Rp470.
Kinerja Keuangan Kuartal III 2025
Merujuk keterangan resmi perusahaan, pada kuartal III 2025 MBMA mengalami pertumbuhan kuat produksi bijih nikel di tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM).
Pada kuartal ini, tambang nikel SCM mencatat pertumbuhan tahunan yang signifikan, dengan produksi saprolit meningkat 89 persen dan limonit naik 51 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh kapasitas penambangan yang lebih besar serta efisiensi operasional yang lebih baik.
Total produksi saprolit mencapai 2,0 juta ton basah (wet metric ton/wmt), sementara limonit mencapai 5,6 juta wmt.
Tambang SCM juga berhasil menekan biaya tunai dan meningkatkan margin. Biaya tunai saprolit turun menjadi US$23,3/wmt, dari USD23,8/wmt pada tahun sebelumnya.
Dengan margin kas USD1,5/wmt, margin saprolit meningkat 49 persen dibanding kuartal sebelumnya, namun masih
70 persen lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, seiring penurunan ASP sebesar 14 persen YoY.
Sementara biaya tunai limonit turun menjadi USD7,9/wmt dari USD9,9/wmt tahun sebelumnya. Dengan margin kas USD6,5/wmt, margin limonit meningkat 20 persen YoY dan 46 persen QoQ.
Dalam kegiatan pengolahan, walaupun produksi Nickel Pig Iron (NPI) menurun menjadi 19.819 ton, margin NPI meningkat signifikan menjadi USD2.215 per ton nikel, didukung oleh penurunan biaya tunai sebesar 16 persen YoY menjadi USD9.059 per ton.