Pergerakan harga saham MINA dalam sepekan terakhir menunjukkan perubahan suasana pasar yang ekstrem. Saham ini sempat bergerak di area 640, sebuah level yang menandai fase optimisme tinggi, sebelum tekanan jual datang bertubi-tubi. Dalam waktu singkat, harga tergerus tajam hingga menyentuh rentang 398–434, atau turun lebih dari 26 persen hanya dalam sepekan.
Skala dan kecepatan penurunan tersebut menjadi petunjuk penting. Koreksi tidak terjadi secara bertahap, melainkan menyerupai pelepasan serentak, ketika pelaku pasar berlomba keluar dari posisi. Pada fase seperti ini, pertimbangan valuasi atau cerita jangka menengah kerap tersisih oleh kebutuhan likuiditas dan dorongan menghindari kerugian yang lebih besar. Inilah fase yang dalam bahasa pasar sering disebut sebagai capitulation—saat tekanan jual mencapai puncaknya.
Pantulan harga ke level 462, yang tercatat naik 4,52 persen dalam satu hari, muncul setelah tekanan tersebut mereda. Namun, kenaikan ini lebih mencerminkan respons teknikal dari area bawah, bukan pemulihan yang lahir dari perubahan struktur harga. Pasar berhenti menjual secara agresif, tetapi belum menunjukkan keyakinan baru untuk mendorong harga kembali ke zona sebelum kejatuhan.
Dari sisi teknikal, pergerakan MINA mulai menunjukkan tanda stabilisasi awal. Harga kini bergerak sedikit di atas MA20 di kisaran 457 dan MA100 di sekitar 450, menandakan bahwa tekanan jual jangka pendek mulai berkurang. Namun, posisi ini masih jauh dari cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren.
Bollinger Band yang masih relatif lebar menunjukkan volatilitas belum sepenuhnya jinak. Pergerakan harga tetap sensitif terhadap arus transaksi, mencerminkan kondisi pasar yang masih emosional pasca-penurunan tajam. Sementara itu, MACD yang cenderung mendatar mengindikasikan momentum yang mulai menenangkan diri, tetapi belum membentuk dorongan naik yang solid.
Dalam konteks ini, pasar dapat dikatakan berhenti menjual, namun juga belum berani membeli secara agresif. Keseimbangan sementara ini membuat pergerakan harga lebih menyerupai fase uji bawah ketimbang awal dari tren naik yang baru.
Likuiditas Mulai Bergerak di Area Bawah
Lapisan penting dari pergerakan saham MINA terlihat pada data orderbook 27 Januari 2026, yang mencerminkan perubahan perilaku pelaku pasar di tengah tekanan harga yang sempat mencapai puncaknya.
Data transaksi Stockbit menunjukkan adanya pembelian signifikan melalui broker “berstatus asing”, dengan net buy sekitar Rp40,67 miliar dan status big accumulation. Namun aktivitas ini tidak serta-merta mencerminkan masuknya dana asing jangka menengah, melainkan lebih menunjukkan pergerakan institusi atau korporate lokal bermodal besar yang memanfaatkan tekanan harga untuk membentuk posisi.
Beberapa broker yang tercatat aktif antara lain:
- UBS Sekuritas Indonesia dengan nilai beli sekitar Rp5,7 miliar atau 136,2 ribu lot di harga rata-rata 438.
- Mandiri Sekuritas Indonesia mencatat pembelian sekitar Rp5,4 miliar dengan 138,5 ribu lot di harga rata-rata 428.
- JP Morgan Sekuritas Indonesia masuk di harga lebih rendah, dengan nilai beli sekitar Rp4,8 miliar, 121,9 ribu lot, dan harga rata-rata 418.
- BCA Sekuritas juga tercatat membeli, meski dalam skala lebih terbatas, di harga rata-rata sekitar 451.
Pola transaksi ini menunjukkan pembelian dilakukan di area harga tertekan, bukan saat harga mulai memantul. Dengan posisi harga MINA kini berada di 462, transaksi tersebut sudah berada dalam kondisi menguntungkan secara taktis. Namun konteksnya lebih tepat dibaca sebagai pembentukan likuiditas jangka pendek, bukan sinyal perubahan tren yang didorong oleh keyakinan fundamental.
Di samping itu, pelaku berstatus domestik masih mendominasi aktivitas perdagangan dengan porsi sekitar 83,77 persen dari total transaksi. Namun dominasi ini belum sepenuhnya mencerminkan keyakinan. Data menunjukkan domestik masih net sell tipis, mencerminkan sikap berhati-hati dan kecenderungan melepas saham saat harga memantul.
Skala jual mereka relatif kecil dibanding total transaksi, tetapi cukup menggambarkan bahwa trauma pasca-kejatuhan belum sepenuhnya hilang di kalangan investor ritel dan domestik.
Dalam pembacaan ini, kontras perilaku menjadi jelas, pelaku bermodal besar mulai mengunci posisi di harga stres alias harga bawah, sementara investor domestik ritel masih mencari kepastian arah. Dinamika inilah yang menopang rebound jangka pendek MINA, sekaligus menjelaskan mengapa kenaikan harga belum berkembang menjadi pemulihan yang lebih meyakinkan.
Fundamental Masih Berat
Di balik pergerakan harga saham yang kerap memantik perhatian, kinerja keuangan MINA masih menyimpan cerita yang jauh dari kata pulih. Laporan keuangan terbaru menunjukkan perusahaan masih bergulat dengan kerugian, sebuah kondisi yang berulang dalam beberapa periode terakhir dan belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang meyakinkan.
Pada kuartal terakhir III 2025, MINA mencatat rugi bersih sekitar Rp1,89 miliar, melebar dibanding kuartal sebelumnya yang juga sudah berada di zona merah dengan kerugian sekitar Rp532,71 juta. Artinya, tekanan tidak hanya bertahan, tetapi justru meningkat. Dalam hitungan 12 bulan berjalan, margin laba bersih tercatat minus sekitar 70 persen, menggambarkan bahwa setiap pertumbuhan pendapatan masih belum mampu menahan laju beban yang menggerus kinerja.
Tekanan tersebut tercermin langsung pada indikator pemegang saham. Earnings per share (EPS) trailing 12 bulan masih berada di wilayah negatif, sekitar minus 0,78, menandakan bahwa perusahaan belum menghasilkan nilai tambah bagi pemilik modalnya.
Dari sisi efisiensi, situasinya tak jauh berbeda. Return on Assets (ROA) tercatat sekitar minus 5,4 persen, sementara Return on Equity (ROE) berada di kisaran minus 6,1 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa aset dan modal yang dimiliki perusahaan belum mampu diolah menjadi keuntungan, bahkan masih menimbulkan kerugian.
Menariknya, tekanan fundamental tersebut muncul di tengah pendapatan yang secara nominal bertambah, seiring bertambahnya periode pelaporan. Hingga Semester I 2025, pendapatan MINA tercatat sekitar Rp2,48 miliar, lalu meningkat menjadi sekitar Rp3,6 miliar hingga Kuartal III 2025. Namun kenaikan ini tidak mencerminkan lonjakan kinerja, melainkan akumulasi pendapatan dari periode yang lebih panjang.
Tambahan pendapatan tersebut juga belum cukup untuk mengubah arah kinerja. Laba bersih justru semakin tertekan yang menandakan bahwa struktur biaya masih menjadi beban utama perusahaan. Meski margin kotor tercatat relatif tinggi, di kisaran 59 persen, keunggulan ini habis tergerus oleh biaya operasional dan pos beban lain yang masih mendominasi laporan keuangan. Alhasil, pertumbuhan pendapatan berhenti sebagai angka di laporan tanpa mampu mengangkat perusahaan keluar dari zona rugi.
Dengan kombinasi EPS negatif, ROA dan ROE yang belum pulih, serta laba bersih yang terus tertekan, gambaran fundamental MINA saat ini masih menunjukkan kondisi yang berat. Kenaikan harga saham yang muncul belakangan lebih mencerminkan dinamika sentimen dan pergerakan teknikal, ketimbang perubahan nyata pada kinerja usaha.
Pariwisata Bali Ramai, tapi tak Selalu Mengisi Kamar
Ketergantungan MINA pada sektor hospitality membuat kinerja saham ini tak bisa dilepaskan dari denyut pariwisata Bali. Pergerakan harga dan ekspektasi pasar terhadap MINA pada akhirnya berpulang pada satu pertanyaan mendasar, seberapa jauh keramaian wisata benar-benar berubah menjadi okupansi dan pendapatan. Dari sinilah konteks sektor perlu dibaca.
Arus wisatawan mancanegara ke Bali sepanjang 2025 menunjukkan geliat yang nyaris kembali ke masa keemasan sebelum pandemi. Hingga 26 Desember 2025, jumlah wisatawan asing yang datang ke Pulau Dewata mencapai sekitar 6,9 juta orang, naik sekitar 600 ribu dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 6,3 juta wisatawan. Dengan sisa waktu di penghujung tahun, angka ini bahkan diproyeksikan bisa menyentuh sekitar 7,05 juta wisatawan mancanegara.
Kenaikan tersebut terlihat konsisten sepanjang tahun. Dari Januari hingga November 2025, total kunjungan wisatawan asing ke Bali tercatat sekitar 6,3 juta, tumbuh 11,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara bulanan, pergerakannya juga cukup stabil. Juli 2025 mencatat sekitar 697.107 kunjungan, naik 9,29 persen dibandingkan Juni.
Sementara pada November 2025, jumlah kunjungan mencapai 483.364 wisatawan, tumbuh 2,1 persen secara tahunan. Angka-angka ini menegaskan satu hal: pasar wisata internasional Bali benar-benar pulih dan terus bergerak naik.
Namun cerita berbeda datang dari wisatawan domestik. Sepanjang 2025 hingga akhir Desember, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Bali hanya sekitar 9,2 juta orang, turun 600–700 ribu dibandingkan tahun 2024 yang mencapai sekitar 10,1 juta kunjungan. Artinya, meskipun wisatawan asing meningkat, penurunan wisatawan domestik membuat pertumbuhan total kunjungan tidak melonjak setajam yang terlihat di permukaan.
Ketimpangan ini mulai terasa jelas ketika melihat tingkat hunian hotel. Pada Juli 2025, tingkat okupansi hotel berbintang di Bali berada di kisaran 67,75 persen, naik 3,10 persen poin dibandingkan Juni. Hotel non-bintang mencatat okupansi sekitar 49,00 persen, naik 2,90 persen poin secara bulanan. Secara sekilas, angka ini tampak sehat. Namun jika ditarik lebih jauh ke belakang, gambarnya tidak sesederhana itu.
Dibandingkan Juli 2024, okupansi hotel berbintang justru turun sekitar 1,03 persen poin, dari 68,78 persen menjadi 67,75 persen. Bahkan menurut catatan PHRI Bali, sepanjang 2025 tingkat hunian hotel secara rata-rata turun sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meski jumlah wisatawan yang datang relatif tinggi. Fenomena ini kerap disebut sebagai anomali pariwisata—ketika bandara ramai, jalanan padat turis, tetapi kamar hotel tidak terisi penuh.
Penyebabnya beragam. Perubahan pola menginap menjadi salah satu faktor utama. Wisatawan, terutama mancanegara, semakin banyak memilih villa pribadi, rumah sewa, atau akomodasi alternatif, alih-alih hotel konvensional. Dampaknya, lonjakan jumlah wisatawan tidak otomatis berbanding lurus dengan pendapatan hotel.
Di sisi lain, aksesibilitas Bali justru semakin kuat. Sepanjang 2025, terdapat sekitar 46 maskapai internasional yang melayani penerbangan ke Bali, dengan sekitar 44 rute internasional aktif. Konektivitas ini membuat Bali tetap menjadi magnet wisata global, meski struktur permintaannya berubah.
Kesimpulannya, pariwisata Bali pada 2025 memang ramai dan secara jumlah mendekati rekor, terutama dari wisatawan asing. Namun penurunan wisatawan domestik dan stagnannya tingkat hunian hotel menunjukkan bahwa ramainya kunjungan tidak selalu berarti ramainya pendapatan hotel.(*)