KABARBURSA.COM - PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) tengah menapaki babak baru dalam perjalanan bisnisnya. Tak sekadar bertahan sebagai produsen LPG dan ammonia konvensional, perusahaan kini merancang lompatan ambisius: bertransformasi menuju energi bersih.
Proyek ammonia biru dan rencana produksi bahan bakar aviasi berkelanjutan (SAF) jadi dua pilar utama yang digadang-gadang mendorong pertumbuhan berkelanjutan perusahaan ini ke depan.
Salah satu langkah paling strategis adalah konversi fasilitas ammonia yang saat ini memproduksi grey ammonia menjadi blue ammonia. Proyek ini dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2028.
Tidak hanya ramah lingkungan, ammonia biru ini diyakini akan memiliki nilai jual lebih tinggi. Berdasarkan estimasi internal, ESSA berpeluang menikmati harga jual premium sekitar 11–14 persen dibandingkan grey ammonia.
Tak berhenti di sisi harga, proyeksi dampak keuangan dari proyek ini pun cukup menjanjikan. Dalam rentang 2029 hingga 2035, tambahan laba bersih perusahaan dari ammonia biru diperkirakan mencapai USD42 juta hingga USD52 juta per tahun.
Hal ini tak lepas dari potensi penurunan biaya produksi secara bertahap seiring kemajuan teknologi carbon capture, utilization and storage (CCUS) yang diadopsi perusahaan.
Sementara itu, dari sisi diversifikasi bisnis, ESSA juga tengah mengeksplorasi peluang baru di sektor bahan bakar rendah emisi. Perusahaan berencana mengembangkan pabrik Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis used cooking oil di kawasan Batang, Jawa Tengah.
Dengan kapasitas produksi yang ditargetkan mencapai 260 juta liter per tahun, proyek ini memiliki potensi pendapatan tahunan hingga USD312 juta, lebih dari dua kali lipat pendapatan tahunan ESSA saat ini.
Di tengah sorotan global terhadap industri penerbangan yang dituntut menurunkan emisi karbon secara drastis, langkah ini bisa menjadi game changer bagi ESSA. Jika proyek SAF ini terealisasi, perusahaan tak hanya menggenjot pendapatan, tapi juga memperkuat posisinya dalam ekosistem energi transisi.
Meski tengah membidik peluang baru, pondasi bisnis ESSA tetap solid. Produksi LPG dari fasilitas Palembang berjalan stabil dengan tingkat utilisasi mencapai 119 persen. Kontribusinya terhadap pendapatan berkisar antara 13 hingga 16 persen.
Sementara fasilitas ammonia di Sulawesi Tengah, dengan kapasitas 650.000 metrik ton per tahun, secara konsisten mengekspor produknya ke Korea Selatan, China, dan Taiwan melalui kontrak jangka panjang bersama Mitsubishi Corporation.
Dengan portofolio yang tertata, strategi ekspansi yang terukur, dan fokus pada proyek berkelanjutan, ESSA menunjukkan arah yang jelas: dari sekadar pemain energi tradisional menuju entitas yang siap ambil peran dalam masa depan energi hijau.
Di tengah tuntutan global akan dekarbonisasi, langkah-langkah ESSA patut mendapat perhatian lebih dari pelaku pasar dan investor yang memprioritaskan keberlanjutan jangka panjang.
Harga Saham Melesat 14,75 Persen
Mesin hijau ESSA tampaknya mulai panas. Pasar merespon baik hal tersebut hingga pada perdagangan Rabu, 18 Juni 2025 harga sahamnya melesat hingga 14,75 persen dan ditutup di level Rp700 per saham, naik signifikan dari posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp610.
Kenaikan ini bukan sekadar teknikal. Minat beli terlihat kuat sejak awal sesi. Saham dibuka di harga Rp615, kemudian sempat menyentuh titik terendah hariannya di Rp610. Namun, aliran beli yang deras segera mengangkat harga, mendorongnya menembus Rp700 dan sempat mencicipi level tertinggi harian di Rp705.
Volume transaksi tergolong besar. Tercatat 2,55 juta lot berpindah tangan dengan frekuensi 21.071 kali, menghasilkan nilai transaksi lebih dari Rp170 miliar. Angka ini menempatkan ESSA di jajaran saham dengan likuiditas tinggi hari ini. Rata-rata harga transaksi tercatat di Rp668, menunjukkan posisi beli yang konsisten sepanjang sesi.
Salah satu indikator menarik muncul dari harga teoritis (IEP) yang berada di angka Rp720 dengan volume antrean beli (IEV) menyentuh hampir 194 ribu lot. Ini mencerminkan optimisme pasar yang masih tinggi, bahkan setelah lonjakan harga tajam.
Katalis penggerak harga ESSA tidak bisa dilepaskan dari cerita fundamental yang kian menguat. Proyeksi pertumbuhan dari proyek blue ammonia serta rencana ekspansi ke sektor bahan bakar aviasi berkelanjutan (SAF) berbasis minyak jelantah menjadi magnet baru bagi investor.
Kombinasi antara narasi keberlanjutan dan strategi jangka panjang yang jelas membuat saham ini semakin relevan dalam portofolio yang mengarah pada ekonomi hijau.
Kenaikan ESSA kali ini juga didukung sentimen teknikal yang solid. Mayoritas indikator mengarah ke sinyal beli, mempertegas momentum penguatan yang tengah berlangsung. Namun, dengan kenaikan yang cukup agresif, tak sedikit pelaku pasar yang mulai mewaspadai potensi aksi ambil untung dalam waktu dekat.
ESSA kini berada di zona yang tak hanya ramai diperbincangkan, tapi juga diburu. Jika tren permintaan terhadap energi rendah karbon terus menguat dan rencana ekspansi perusahaan berjalan mulus, bukan tak mungkin ESSA akan terus bertahan dalam radar investor. Tak hanya sebagai saham momentum, tetapi juga sebagai bagian dari transformasi energi nasional.
Analisis Teknikal Berikan Sinyal Kuat: Beli
Tidak hanya sahamnya yang melesat, sentimen teknikal ESSA saat ini juga menunjukkan sinyal yang cukup kuat untuk aksi beli. Mayoritas indikator utama bergerak seirama, menyarankan posisi “sangat beli”. Sinyal ini mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek jangka pendek emiten energi yang tengah bertransformasi menuju masa depan yang lebih hijau ini.
Berdasarkan pembacaan indikator teknikal terbaru per Rabu, 18 Juni 2025 pukul 08.36 GMT, sebagian besar sinyal berada di zona positif. Indikator RSI (Relative Strength Index) tercatat di level 65,31, cukup mendekati area overbought, tapi masih nyaman untuk aksi beli.
MACD juga memperlihatkan kekuatan momentum, sementara indikator seperti ROC (Rate of Change), Ultimate Oscillator, dan Bull/Bear Power menguatkan bahwa tekanan beli masih dominan.
Meski begitu, ada catatan penting: beberapa indikator mulai menunjukkan gejala jenuh beli. CCI (Commodity Channel Index) dan Williams %R sama-sama mengarah ke level “overbought”, yang biasanya menjadi tanda peringatan bahwa investor perlu lebih berhati-hati. Dengan kata lain, meskipun tren masih positif, peluang koreksi dalam waktu dekat tidak bisa diabaikan.
Dari sisi moving average, sinyal beli masih mendominasi untuk jangka pendek hingga menengah. MA5 hingga MA100 semuanya berada dalam posisi “beli”, baik dalam hitungan sederhana maupun eksponensial.
Namun, pergerakan harga masih belum mampu menembus MA200, yang saat ini memberikan sinyal “jual”. Ini mengindikasikan bahwa secara jangka panjang, saham ESSA masih dalam proses pemulihan tren.
Harga saat ini pun bergerak mendekati level pivot 613. Jika mampu bertahan di atas titik ini, peluang untuk menembus resistance berikutnya di kisaran 626 hingga 643 masih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat, level support berada di 596 dan 583, yang bisa menjadi zona pantulan.
Secara keseluruhan, sinyal teknikal ESSA mendukung narasi bullish. Meski beberapa indikator mulai menunjukkan kejenuhan, tren harga tetap positif. Investor agresif bisa mempertimbangkan untuk masuk dengan strategi disiplin, sementara investor konservatif mungkin akan menanti koreksi teknikal sebagai titik masuk yang lebih aman.
ESSA sendiri sedang dalam fase transformasi fundamental, dari bisnis berbasis energi konvensional ke arah yang lebih hijau. Kombinasi antara momentum teknikal dan narasi transisi energi inilah yang menjadikan saham ini layak masuk radar pelaku pasar. Namun, seperti biasa, kedisiplinan dalam manajemen risiko tetap menjadi kunci.
Investor dan ESSA: Menimbang Strategi
Secara keseluruhan, ESSA memang belum akan mencetak laba spektakuler dalam waktu dekat, terutama karena proyek-proyek besarnya masih dalam tahap pengembangan.
Namun narasi yang sedang dibangun, transisi energi, efisiensi produksi, hingga ekspansi berbasis keberlanjutan, adalah cerita besar yang jarang dimiliki perusahaan sekelasnya.
Bagi investor jangka menengah hingga panjang, ESSA layak dilirik sebagai bagian dari portofolio berorientasi masa depan. Sementara itu, pelaku pasar jangka pendek sebaiknya bersikap disiplin, tidak mudah terbawa euforia, dan tetap memantau perkembangan fundamental perusahaan.
ESSA bukan sekadar emiten energi. Ia sedang menjelma menjadi simbol transisi industri, dari energi konvensional menuju energi yang lebih bersih dan relevan secara global. Dan bagi mereka yang siap bersabar, jalan hijau ini bisa jadi akan berujung pada hasil yang menguntungkan.(*)