Insight Daily 03 Jun 2025 Penulis: KabarBursa.com

Meraba Arah Kinerja AALI dan LSIP Usai India Pangkas Tarif CPO?

Selain bea masuk, India masih menerapkan pungutan tambahan seperti Agricultural Infrastructure and Development Cess sebesar 5 persen.

KABARBURSA.COM – Pemerintah India mengambil langkah strategis untuk mengendalikan lonjakan harga pangan dalam negeri dengan memangkas bea masuk minyak nabati mentah menjadi 10 persen. Kebijakan ini berlaku untuk beberapa jenis minyak, termasuk minyak sawit mentah (CPO), minyak kedelai, dan minyak bunga matahari. Sementara itu, tarif impor untuk minyak olahan...

Ilustrasi sawit Indonesia. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi sawit Indonesia. (Foto: Istimewa)

Insight Navigator

  1. 01 AALI Perlu Mencari Pasar Baru?
  2. 02 Angin Segar Bagi LSIP?
  3. 03 Ekspor Sawit AALI Tumbuh Stabil, India Jadi Pasar Utama
  4. 04 LSIP dalam Tantangan tapi Masih Bisa Bangkit
  5. 05 Arah Berbeda AALI dan LSIP

KABARBURSA.COM – Pemerintah India mengambil langkah strategis untuk mengendalikan lonjakan harga pangan dalam negeri dengan memangkas bea masuk minyak nabati mentah menjadi 10 persen. 

Kebijakan ini berlaku untuk beberapa jenis minyak, termasuk minyak sawit mentah (CPO), minyak kedelai, dan minyak bunga matahari. Sementara itu, tarif impor untuk minyak olahan tetap berada di level 35,75 persen.

Selain bea masuk, India masih menerapkan pungutan tambahan seperti Agricultural Infrastructure and Development Cess sebesar 5 persen. Juga Social Welfare Surcharge sebesar 10 persen. Dengan hitungan keseluruhan, tarif efektif untuk minyak mentah kini turun menjadi 16,5 persen dari sebelumnya 27,5 persen. 

Perubahan ini membuat minyak nabati mentah menjadi jauh lebih kompetitif dibanding produk olahan, terutama dari sisi harga bagi para importir.

AALI Perlu Mencari Pasar Baru?

Dampak langsung dari kebijakan ini adalah meningkatnya permintaan terhadap minyak mentah seperti CPO. Namun, hal yang sama belum tentu berlaku bagi produk olahan yang selama ini banyak dipasok dari Indonesia. 

RHB Sekuritas dalam risetnya Selasa, 3 Juni 2025, melihat bahwa India merupakan pasar ekspor utama bagi minyak sawit olahan Indonesia, dengan pangsa antara 80 hingga 90 persen. Penurunan permintaan di segmen ini jelas menjadi tantangan baru bagi pemain hilir dari Indonesia, termasuk Gozco Plantations (GGR), First Resources (FR), Sinar Delima Group (SDG), Kuala Lumpur Kepong (KLK), hingga Astra Agro Lestari (AALI). 

Mereka perlu mempertimbangkan penyesuaian strategi, baik dengan mencari pasar baru maupun mengalihkan volume ekspor ke produk mentah seperti CPO.

Di sisi lain, produsen sawit hulu dari Malaysia berpotensi menikmati berkah dari perubahan tarif ini. Dengan biaya masuk yang lebih ringan, minyak mentah asal Malaysia menjadi lebih menarik bagi importir di India. 

Situasi ini diyakini akan memperkuat posisi tawar eksportir CPO Malaysia di pasar global, sekaligus mendorong harga CPO ke level yang lebih tinggi.

Angin Segar Bagi LSIP?

Dari sudut pandang pasar modal, RHB Sekuritas menilai emiten perkebunan sawit yang berfokus pada produksi hulu diperkirakan akan menjadi pihak yang paling diuntungkan. 

Saham-saham seperti Jaya Putra Group (JPG), Sarawak Oil Palms (SOP), Bumitama Agri Ltd (BAL), serta PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) bisa menikmati angin segar dalam waktu dekat. 

Peningkatan permintaan dari India dan ekspektasi penguatan harga CPO global menjadi katalis positif yang patut dicermati.

Secara garis besar, kebijakan India dalam menyesuaikan tarif impornya mencerminkan upaya menyeimbangkan kepentingan domestik: menjaga stabilitas harga dan mendorong industrialisasi sektor pangan. 

Namun bagi negara-negara eksportir seperti Indonesia dan Malaysia, perubahan ini memaksa pelaku industri untuk mengkaji ulang arah ekspor dan strategi pasar mereka.

Investor di sektor agribisnis dan komoditas, khususnya sawit, perlu jeli membaca pergeseran peta perdagangan ini. Implikasinya tidak hanya terasa pada angka ekspor dan harga jual, tetapi juga pada posisi kompetitif jangka panjang di pasar global yang semakin dinamis.

Ekspor Sawit AALI Tumbuh Stabil, India Jadi Pasar Utama

Sejauh ini, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat tren ekspor yang cukup stabil, terutama dalam tiga tahun terakhir. 

Meski perusahaan tidak secara spesifik membeberkan volume ekspor ke masing-masing negara, data industri memperlihatkan bahwa India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat merupakan pasar utama bagi produk sawit AALI. 

Di antara ketiganya, India masih menjadi tujuan ekspor terbesar, sejalan dengan posisi negara tersebut sebagai importir utama minyak sawit mentah (CPO) Indonesia.

Sepanjang tahun 2023, volume ekspor AALI meningkat, meski nilainya sedikit tertekan oleh harga CPO yang cenderung stagnan. 

Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan bahwa ekspor CPO nasional pada Januari 2023 mencapai 2,94 juta ton, naik dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara nilai ekspor tercatat sebesar US$2,60 miliar. 

Lonjakan volume ekspor ke India pada Mei 2023 bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya, mencerminkan kuatnya permintaan dari pasar tersebut.

Masuk ke tahun 2024, AALI kembali membukukan pertumbuhan ekspor, khususnya pada kuartal pertama. Kinerja ini juga tercermin dalam laporan keuangan perusahaan yang menunjukkan peningkatan laba bersih. 

Permintaan dari negara-negara seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat juga turut menopang ekspor. Ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa naik dari 298 ribu ton menjadi 343 ribu ton, sementara ke Amerika Serikat melonjak dari 153 ribu ton menjadi 249 ribu ton. 

Sebagai salah satu produsen CPO terbesar di tanah air, AALI diperkirakan turut menikmati dampak positif dari tren ini.

Tahun 2025 menjadi babak baru bagi AALI. Perusahaan menargetkan produksi CPO sebesar 1,2 juta ton, yang ditopang oleh target produksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 3,85 juta ton dan yield inti sebesar 16,2 ton per hektare. 

Strategi perusahaan difokuskan pada efisiensi dan peningkatan produktivitas, guna menjaga daya saing di tengah dinamika pasar ekspor.

Meskipun beberapa negara seperti China, Pakistan, dan Bangladesh sempat mengalami penurunan permintaan, ekspor ke pasar utama AALI—terutama India—masih menunjukkan pertumbuhan. 

Namun demikian, kebijakan terbaru India terkait pemangkasan bea masuk CPO dan penyesuaian tarif impor bisa menjadi variabel penting yang perlu dicermati ke depannya, baik dari sisi harga maupun volume perdagangan.

Dengan kapasitas produksi yang besar dan portofolio pasar yang terdiversifikasi, AALI berada dalam posisi yang relatif kuat untuk menjaga momentum ekspor. 

Tantangan tetap ada, tetapi permintaan yang solid dari India dan pasar Barat memberi ruang optimisme terhadap prospek ekspor sawit perusahaan dalam jangka menengah.

LSIP dalam Tantangan tapi Masih Bisa Bangkit

Berbeda dengan Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) justru tengah menghadapi tekanan yang cukup nyata dalam tiga tahun terakhir. 

Seperti banyak perusahaan agribisnis lainnya, perusahaan yang juga dikenal dengan nama Lonsum ini tidak luput dari dampak cuaca ekstrem dan fluktuasi harga komoditas global yang terus memengaruhi kinerja operasional dan ekspor.

Selama 2023, penjualan Lonsum tercatat menurun 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan hanya mampu membukukan pendapatan sebesar Rp4,19 triliun. 

Penurunan ini terjadi di tengah harga CPO yang cenderung stagnan dan permintaan global yang melemah, khususnya dari negara-negara tujuan ekspor utama seperti Cina dan India.

Masuk ke 2024, tekanan belum sepenuhnya mereda. Produksi tandan buah segar (TBS) Lonsum dilaporkan turun sekitar 1 persen. Meski demikian, produksi minyak sawit mentah (CPO) justru mengalami sedikit peningkatan. 

Ini menandakan adanya perbaikan efisiensi di sektor pengolahan, meski tantangan dari sisi hulu masih cukup berat. Kondisi cuaca yang kurang menguntungkan tetap menjadi faktor utama yang membatasi produktivitas.

India dan Cina, yang selama ini menjadi dua pasar ekspor terbesar minyak sawit Indonesia, termasuk bagi Lonsum, mulai menunjukkan tren permintaan yang melemah sejak tahun lalu. Selain karena dinamika harga, kebijakan impor yang berubah-ubah dan sentimen terhadap komoditas berbasis lahan gambut juga turut menekan volume ekspor. 

Di sisi lain, beberapa pasar lain seperti Pakistan, Belanda, Malaysia, dan Singapura masih menjadi destinasi penting, meski kontribusinya belum mampu menutup pelemahan dari pasar utama.

Secara umum, tren ekspor sawit Indonesia memang menghadapi tantangan besar dalam dua tahun terakhir. Lonsum, sebagai pemain lama di industri ini, harus beradaptasi cepat untuk menjaga daya saing. 

Meskipun kondisi pasar tidak sepenuhnya mendukung, perusahaan masih memegang posisi strategis dalam rantai pasok industri sawit nasional. Aset lahan yang tersebar di beberapa wilayah produksi utama menjadi salah satu kekuatan Lonsum dalam menjaga kelangsungan bisnisnya.

Ke depan, Lonsum diperkirakan akan lebih fokus pada upaya efisiensi dan peningkatan yield sebagai respon terhadap ketidakpastian cuaca dan pasar. 

Meski tekanan global masih terasa, perusahaan tetap menunjukkan ketahanan yang menjadi ciri khas pemain berpengalaman di sektor perkebunan Indonesia. Dalam lanskap ekspor yang terus berubah, fleksibilitas dan konsistensi menjadi kunci utama agar tetap relevan di pasar global.

Arah Berbeda AALI dan LSIP

Dua emiten besar di sektor perkebunan sawit, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), menunjukkan arah yang berlawanan dalam perdagangan terakhir di bursa. 

AALI cenderung melemah tipis, sementara LSIP mencatat kenaikan yang cukup meyakinkan, seiring dinamika harga komoditas dan sentimen pasar yang terus berkembang.

Saham AALI ditutup turun ke level Rp5.975, melemah 25 poin atau 0,42 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp6.000. Sepanjang hari, pergerakan AALI terbilang sempit. 

Saham dibuka di Rp5.950, sempat menyentuh level terendah di Rp5.875, lalu kembali naik dan ditutup di posisi tertingginya. Aktivitas perdagangan relatif sepi, dengan nilai transaksi hanya sekitar Rp1,4 miliar dan volume sebanyak 2.420 lot. 

Minimnya transaksi menunjukkan bahwa pelaku pasar masih bersikap hati-hati, terutama di tengah fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global serta ekspektasi pasar terhadap target produksi dan efisiensi operasional AALI tahun ini.

Sebaliknya, saham LSIP justru mencuri perhatian. Emiten yang fokus pada hulu industri sawit ini ditutup menguat 2,02 persen ke Rp1.265, setelah dibuka di Rp1.240. 

Sepanjang sesi, LSIP sempat menyentuh level terendah di Rp1.210 sebelum melesat ke titik tertinggi harian di Rp1.265, dan bertahan di level itu hingga penutupan. 

Nilai transaksi cukup besar, mencapai Rp15,8 miliar, dengan volume perdagangan mencapai lebih dari 126 ribu lot. Rata-rata harga transaksi berada di sekitar Rp1.247, menandakan adanya minat beli yang cukup stabil sepanjang sesi perdagangan.

Kinerja berbeda dari kedua saham ini mencerminkan sentimen selektif investor terhadap masing-masing emiten di tengah ketidakpastian pasar. AALI, sebagai salah satu produsen sawit terbesar, masih menjadi incaran investor institusional karena fundamentalnya yang solid. 

Namun dalam jangka pendek, pasar tampak lebih menaruh perhatian pada LSIP yang saat ini menawarkan momentum teknikal lebih menarik dan potensi upside lebih cepat.

Dengan dinamika harga CPO yang terus bergerak dan masih tingginya perhatian pada ekspor serta kebijakan perdagangan negara tujuan utama seperti India dan Tiongkok, investor di sektor ini disarankan untuk terus memantau perkembangan fundamental dan teknikal. 

Saham seperti AALI dan LSIP tetap relevan, namun arah pergerakan jangka pendek sangat ditentukan oleh persepsi pasar terhadap prospek laba, efisiensi, dan ekspansi jangka menengah dari masing-masing emiten.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya