Insight Daily 01 Oct 2025 Penulis: KabarBursa.com

Menyelisik Pertumbuhan Superbank yang Dikabarkan Segera IPO

Superbank catat lonjakan aset, kredit, dan DPK 2024; dukungan Emtek, Grab, Singtel, dan KakaoBank perkuat ekosistem menuju rencana IPO.

KABARBURSA.COM – Superbank menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Bank digital yang baru bertransformasi dari Bank Fama International ini disebut-sebut sedang mempersiapkan langkah menuju penawaran saham perdana atau IPO. Transformasi Superbank memang tidak lepas dari dukungan para pemegang saham besar. Emtek Group lebih dulu masuk pada 2021, kemudian d...

Bank digital yang baru bertransformasi dari Bank Fama International ini disebut-sebut sedang mempersiapkan langkah menuju penawaran saham perdana atau IPO. (Fot
Bank digital yang baru bertransformasi dari Bank Fama International ini disebut-sebut sedang mempersiapkan langkah menuju penawaran saham perdana atau IPO. (Fot

Insight Navigator

  1. 01 Melihat Kinerja Bisnis Superbank
  2. 02 Arah Pemegang Saham: Big Tech Meets Media
  3. 03 Menuju Pasar Publik: Katalis, Risiko, dan KPI Pantauan

KABARBURSA.COM – Superbank menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Bank digital yang baru bertransformasi dari Bank Fama International ini disebut-sebut sedang mempersiapkan langkah menuju penawaran saham perdana atau IPO. 

Transformasi Superbank memang tidak lepas dari dukungan para pemegang saham besar. Emtek Group lebih dulu masuk pada 2021, kemudian disusul oleh Grab dan Singtel pada awal 2022, serta KakaoBank pada 2023. Kombinasi ini menjadikan Superbank sebagai bank dengan dukungan teknologi, media, dan jaringan distribusi digital yang jarang dimiliki pemain lain.

Dalam waktu singkat, Superbank berhasil menguji kekuatan model bisnisnya. Peluncuran aplikasi di pertengahan 2024 langsung mendapat sambutan positif dengan jumlah nasabah digital melewati 2,7 juta orang hanya dalam enam bulan. Pencapaian ini menandai efisiensi akuisisi pengguna, terutama melalui integrasi dengan aplikasi Grab.

Bagi pasar, skala pengguna yang cepat tumbuh adalah sinyal penting. Bank digital yang mampu menambah jutaan nasabah dalam hitungan bulan biasanya mendapat valuasi premium, apalagi jika disertai bukti monetisasi. Di sisi lain, tantangan menjaga retensi dan kualitas kredit tetap menjadi sorotan utama investor.

Kinerja keuangan juga tidak kalah mencuri perhatian. Total aset Superbank melonjak lebih dari dua kali lipat pada 2024, sementara kredit dan dana pihak ketiga sama-sama mencatat pertumbuhan tiga digit. Data ini membuat banyak analis menilai bahwa Superbank sedang memasuki fase akselerasi pertumbuhan yang akan menjadi modal penting menjelang IPO.

Spekulasi kian menguat setelah adanya penataan ulang kepemilikan saham pada Agustus 2025. Singtel Alpha melepas 12 persen sahamnya kepada GXS Bank, yang juga dimiliki oleh Grab dan Singtel. Transaksi ini tidak mengubah kendali, tetapi dianggap sebagai konsolidasi strategis menjelang fase pendanaan berikutnya.

Dengan fondasi pertumbuhan yang solid dan dukungan pemegang saham internasional, Superbank kini dipandang sebagai kandidat kuat menuju pasar modal. Isu rencana IPO semakin ramai dibicarakan setelah konsolidasi bisnis dan restrukturisasi kepemilikan saham berlangsung. 

Pertanyaannya, bagaimana prospek pertumbuhan dan proyeksi ke depan yang akan menentukan valuasi Superbank saat benar-benar melangkah ke bursa?

Melihat Kinerja Bisnis Superbank

Berdasarkan laporan keuangan 2024, Superbank menutup tahun dengan kinerja yang menegaskan akselerasi bisnis. Total aset bank melesat 105 persen year on year (yoy) menjadi Rp11,4 triliun dari posisi Rp5,6 triliun pada 2023. Lonjakan ini terjadi seiring pertumbuhan signifikan di sisi kredit dan pendanaan.

Dalam laporan keuangan yang sama, kredit bruto meningkat 120 persen menjadi Rp6,4 triliun, naik dari Rp2,9 triliun pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan kemampuan Superbank memperluas penyaluran dana dengan lebih agresif, meskipun masih relatif kecil dibanding bank besar. Namun, momentum pertumbuhan dua kali lipat ini jarang ditemukan di industri perbankan.

Di sisi pendanaan, laporan keuangan mencatat dana pihak ketiga (DPK) sebagai motor utama. Total DPK melonjak 436 persen yoy menjadi Rp4,9 triliun, jauh lebih tinggi dari Rp922 miliar pada 2023. 

Kenaikan luar biasa ini memperlihatkan kepercayaan masyarakat terhadap Superbank, terutama melalui integrasi aplikasi dengan ekosistem Grab.

Pertumbuhan DPK yang cepat juga berdampak pada stabilitas likuiditas. Loan to Deposit Ratio (LDR) turun ke level 130 persen, dari posisi lebih dari 300 persen pada tahun sebelumnya. Dengan basis pendanaan yang lebih luas, bank dapat mengurangi ketergantungan pada instrumen pasar uang yang berbiaya tinggi.

Laporan keuangan juga menampilkan perbaikan margin bunga. Net interest income naik 102 persen menjadi Rp606,8 miliar, selaras dengan pertumbuhan kredit. Net interest margin (NIM) melebar ke 7,88 persen dari 7,18 persen pada 2023, menunjukkan efisiensi intermediasi dan strategi pricing yang lebih baik.

Bagi investor, NIM yang konsisten naik adalah sinyal bahwa Superbank tidak hanya sekadar mengejar volume, tetapi juga profitabilitas. Margin di kisaran 7–8 persen tergolong tinggi di industri perbankan Indonesia. 

Hal ini biasanya hanya bisa dicapai oleh bank digital yang berfokus pada segmen ritel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan model bisnis berbasis teknologi.

Laporan keuangan 2024 juga menegaskan perbaikan kualitas aset. Non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 2,27 persen dari 3,80 persen pada akhir 2023. NPL net bahkan turun lebih tajam ke 0,35 persen dari 0,93 persen, menandakan manajemen risiko kredit yang lebih disiplin.

Penurunan NPL ini penting di tengah ekspansi kredit agresif. Bank digital yang tumbuh cepat kerap menghadapi lonjakan risiko gagal bayar karena penyaluran dilakukan ke segmen ritel dan UMKM. Namun, data Superbank menunjukkan bahwa pertumbuhan yang tinggi masih bisa diimbangi dengan kualitas aset yang terjaga.

Superbank juga memiliki bantalan modal yang sangat tebal. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat 95,84 persen pada akhir 2024, salah satu yang tertinggi di industri. Angka ini memberikan ruang luas bagi ekspansi kredit dan mitigasi risiko tanpa tekanan tambahan dari sisi permodalan.

Dengan kombinasi pertumbuhan kredit, DPK, margin bunga, serta kualitas aset yang membaik, Superbank menampilkan profil pertumbuhan yang jarang ditemui. 

Investor publik akan melihat ini sebagai modal kuat ketika valuasi IPO mulai dibicarakan. Skala bisnis yang bertambah besar memberi keyakinan bahwa bank siap naik kelas.

Laporan tahunan 2024 Superbank mencatat bahwa inovasi produk menjadi motor utama dalam menarik nasabah baru. Produk yang diperkenalkan bukan sekadar tabungan biasa, tetapi dirancang untuk membentuk perilaku finansial jangka panjang. Strategi ini penting karena diferensiasi produk menjadi kunci dalam persaingan bank digital.

Salah satu terobosan yang mendapat sorotan adalah Celengan by Superbank. Fitur ini menawarkan tabungan otomatis dari recehan transaksi harian dengan bunga hingga 10 persen per tahun. Konsep menabung mikro ini memberi peluang bagi segmen ritel untuk membangun dana tabungan dengan cara yang ringan dan konsisten.

Selain Celengan, ada Saku by Superbank yang memungkinkan nasabah membuka hingga delapan sub-rekening. Tujuannya adalah membantu mengelola anggaran untuk kebutuhan berbeda, seperti pendidikan, liburan, atau dana darurat. Dengan bunga kompetitif, fitur ini semakin memperkuat loyalitas nasabah.

Superbank juga memperkenalkan Deposito Komplit dengan bunga hingga 7,5 persen per tahun dan tenor fleksibel mulai tujuh hari. Produk ini menyasar pengguna yang membutuhkan instrumen simpanan jangka pendek dengan imbal hasil menarik. Kehadiran deposito fleksibel menjadi alternatif bagi investor ritel yang menginginkan diversifikasi dana.

Di sisi kredit, Superbank meluncurkan Pinjaman Atur Sendiri (PAS) sebagai pinjaman digital tanpa agunan. Nasabah diberi keleluasaan menentukan sendiri jumlah pinjaman dan jangka waktu sesuai kebutuhan. Fleksibilitas ini menjadikan PAS sebagai produk unggulan di tengah tren pinjaman digital yang semakin diminati.

Kolaborasi lintas ekosistem juga tercermin dalam program OVO Nabung. Melalui kemitraan dengan OVO, saldo e-wallet pengguna dapat dikonversi menjadi tabungan berbunga. Fitur ini memperluas akses tabungan sekaligus memperkuat integrasi Superbank dengan ekosistem teknologi finansial di Indonesia.

Agenda tahun 2025 menandai fase baru strategi produk. Superbank menargetkan peluncuran QRIS di kuartal pertama sebagai pintu masuk ke transaksi pembayaran yang lebih luas. Langkah ini diharapkan memperbesar basis fee income dan memperkuat posisi bank dalam ekosistem pembayaran digital.

Laporan manajemen juga menegaskan target penting lain yaitu mencetak laba perdana pada 2025. Setelah berhasil menumbuhkan 2,7 juta nasabah di tahun pertama peluncuran aplikasi, manajemen optimistis bisa menembus empat juta pengguna. Profitabilitas yang mulai tercapai akan menjadi modal krusial dalam membangun narasi IPO.

Superbank tidak hanya mengandalkan produk, tetapi juga mengoptimalkan dukungan ekosistem pemegang saham. Emtek menghadirkan jaringan media, Grab menyediakan basis pengguna, Singtel membawa keahlian infrastruktur digital, sementara KakaoBank berbagi pengalaman membangun bank digital skala besar. Kolaborasi ini menjadi playbook unik yang sulit ditiru pesaing lokal.

Arah Pemegang Saham: Big Tech Meets Media

Struktur kepemilikan Superbank menegaskan kekuatan kolaborasi lintas industri. Berdasarkan keterbukaan informasi dan dokumen pemegang saham terbaru, Emtek melalui PT Elang Media Visitama menguasai 31,11 persen. Grab lewat PT Kudo Teknologi Indonesia memegang 19,16 persen, sementara GXS Bank Pte. Ltd., joint venture Grab dan Singtel, memegang 12 persen.

Selain itu, A5-DB Holdings memiliki 11,52 persen, KakaoBank Corp memegang 9,95 persen, dan Singtel Alpha Investment menguasai 8,46 persen. Sisanya sebesar 7,80 persen dimiliki oleh pemegang saham minoritas dengan porsi di bawah lima persen. Komposisi ini menggambarkan keseimbangan antara modal lokal, jaringan global, dan dukungan teknologi finansial.

Kehadiran Emtek memberi keunggulan distribusi media dan konten digital. Grup ini memiliki aset media besar yang dapat dimanfaatkan untuk promosi dan akuisisi nasabah. Sementara Grab membawa basis pengguna yang luas dan infrastruktur aplikasi superapp yang bisa langsung terhubung dengan produk Superbank.

Singtel hadir dengan dukungan infrastruktur telekomunikasi dan pengalaman pengembangan layanan digital lintas negara. KakaoBank, yang sukses menjadi bank digital terbesar di Korea Selatan, memberi Superbank panduan strategis membangun bank digital dengan model bisnis berkelanjutan. Kombinasi ini menghadirkan kekuatan yang sulit ditandingi oleh pemain lain di industri perbankan digital Indonesia.

Restrukturisasi kepemilikan yang terjadi pada Agustus 2025 semakin menegaskan konsolidasi dukungan pemegang saham. Singtel Alpha menjual 12 persen sahamnya kepada GXS Bank Pte. Ltd., yang juga berada di bawah kendali Singtel dan Grab. Transaksi ini dinyatakan tidak mengubah kendali maupun operasional, melainkan bagian dari penataan internal pemegang saham.

Bagi calon investor publik, konsistensi dukungan pemegang saham strategis adalah faktor penting. Kestabilan struktur kepemilikan memberi kepastian arah bisnis jangka panjang dan mengurangi risiko perubahan strategi mendadak. Hal ini juga memperkuat keyakinan bahwa IPO Superbank akan mendapat dukungan penuh dari para pemegang saham utama.

Kombinasi big tech dan media dalam struktur kepemilikan memberi nilai tambah tersendiri. Superbank tidak hanya memiliki modal keuangan, tetapi juga modal sosial berupa akses ke jutaan pengguna ekosistem digital. Inilah alasan mengapa investor menilai Superbank sebagai salah satu bank digital dengan prospek pertumbuhan paling menarik di Indonesia.

Superbank memasuki 2025 dengan posisi keuangan yang jauh lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Total aset per akhir 2024 mencapai Rp11,4 triliun, kredit bruto Rp6,4 triliun, dan DPK Rp4,9 triliun. Manajemen juga menargetkan empat juta nasabah digital pada akhir 2025, setelah menutup 2024 dengan 2,7 juta pengguna.

Untuk memberikan gambaran bagi investor, dapat dibuat simulasi pertumbuhan dengan dua skenario. Pertama adalah skenario konservatif yang menghitung pertumbuhan moderat dengan asumsi normalisasi promosi bunga tinggi dan perlambatan konsumsi. Kedua adalah skenario optimistis yang mengasumsikan penetrasi digital lebih cepat, retensi nasabah kuat, dan monetisasi produk berjalan sesuai rencana.

Dalam skenario konservatif, pertumbuhan kredit diproyeksikan naik 40 persen yoy pada 2025 menjadi sekitar Rp9 triliun. Pendapatan bunga bersih diperkirakan mencapai Rp850 miliar, naik dari Rp607 miliar pada 2024. 

Dengan beban operasional yang ketat, bank diperkirakan bisa mulai mencatat laba bersih tipis sekitar Rp100–150 miliar, sesuai dengan target profit pertama kali di 2025.

Sementara itu, dalam skenario optimistis, kredit dapat tumbuh hingga 60 persen yoy menjadi sekitar Rp10,2 triliun. Pendapatan bunga bersih diproyeksikan mencapai Rp1 triliun, dengan dukungan NIM tetap di atas 7,5 persen. Laba bersih bisa menembus Rp250–300 miliar, didorong efisiensi biaya dana seiring penurunan porsi promosi bunga deposito dan meningkatnya CASA ratio.

Jumlah nasabah digital juga menjadi tolok ukur penting. Dengan skenario konservatif, jumlah pengguna diperkirakan tumbuh 45 persen menjadi sekitar 3,9 juta. Namun, pada skenario optimistis, basis pengguna dapat menembus 4,3 juta dengan penetrasi lebih dalam di ekosistem Grab dan OVO.

Kinerja tersebut akan sangat dipengaruhi faktor eksternal, terutama kondisi makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 diproyeksikan berada di kisaran 4,7–5,5 persen, dengan inflasi stabil di bawah 3 persen. Suku bunga acuan BI juga mulai diturunkan menjadi 5,75 persen pada Januari 2025, memberi ruang bagi bank digital untuk menekan biaya dana.

Namun risiko tetap ada, terutama dari sisi kompetisi dan kualitas aset. Jika promosi agresif berlanjut, biaya dana bisa kembali meningkat. Begitu juga dengan pertumbuhan kredit UMKM yang perlu dijaga agar tidak menimbulkan lonjakan NPL di tengah ketidakpastian global.

Bagi investor publik, indikator yang perlu diawasi mencakup CASA ratio, NIM, pertumbuhan fee income dari QRIS dan pembayaran, serta tren profitabilitas triwulanan. Perkembangan jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) aplikasi Superbank juga menjadi barometer penting dalam menilai valuasi.

Dengan skenario konservatif maupun optimistis, Superbank memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar modal dengan cerita pertumbuhan yang kuat. 

Bagi calon investor, pertanyaan utama bukan lagi apakah Superbank bisa bertumbuh, melainkan seberapa cepat ekspansi bisa dikonversi menjadi profit berkelanjutan. IPO akan menjadi ujian besar untuk membuktikan narasi tersebut di hadapan publik. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya