Insight Daily 11 Jun 2026 Penulis: KabarBursa.com

Mengupas GGRM: Diburu Asing Usai Laba Meroket

Akumulasi investor global menguat setelah laba bersih Gudang Garam melonjak pada kuartal I 2026

KABARBURSA.COM - PT Gudang Garam Tbk (GGRM) terpantau tengah diakumulasi investor asing sejak mencatat lonjakan laba pada kuartal I 2026. Menariknya, akumulasi asing terjadi saat harga saham GGRM masih diperdagangkan di bawah target harga konsensus analis.Berdasarkan data broker yang dikutip dari Stockbit periode 30 April hingga 10 Juni 2026, sejumlah broker...

(Foto: dok Gudang Garam)
(Foto: dok Gudang Garam)

Insight Navigator

  1. 01 Lonjakan Laba di Kuartal I 2026
  2. 02 Harga Saham Berada di Bawah Target Konsensus
  3. 03 Valuasi GGRM

KABARBURSA.COM - PT Gudang Garam Tbk (GGRM) terpantau tengah diakumulasi investor asing sejak mencatat lonjakan laba pada kuartal I 2026. Menariknya, akumulasi asing terjadi saat harga saham GGRM masih diperdagangkan di bawah target harga konsensus analis.

Berdasarkan data broker yang dikutip dari Stockbit periode 30 April hingga 10 Juni 2026, sejumlah broker besar tercatat aktif menampung dana asing untuk membeli saham GGRM.

Broker ZP menjadi penampung terbesar dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp47,2 miliar. Broker tersebut mengoleksi sekitar  28,8 ribu lot saham GGRM di harga rata-rata Rp16.231 per saham melalui 9,2 ribu kali transaksi.

Posisi berikutnya ditempati oleh broker AK yang membukukan akumulasi senilai Rp36,9 miliar dengan volume mencapai 22,3 ribu lot pada harga rata-rata Rp16.253 per saham. Aktivitas pembelian dilakukan melalui 10,9 ribu transaksi.

Broker RX juga terlihat agresif mengoleksi saham GGRM dengan nilai pembelian mencapai Rp34,8 miliar atau sekitar 22 ribu lot pada harga rata-rata Rp15.854.

Selanjutnya, broker YU mencatat pembelian bersih sebesar Rp7,8 miliar dengan volume 4,2 ribu lot pada harga rata-rata Rp16.532 per saham.

Broker BK turut melakukan akumulasi senilai Rp7,5 miliar dengan volume yang sama, yakni 4,2 ribu lot pada harga rata-rata Rp16.466 per saham.

Aksi beli juga dilakukan broker TP yang mengumpulkan saham GGRM senilai Rp6 miliar atau sekitar 3,4 ribu lot pada harga rata-rata Rp16.927 per saham.

Sementara itu, broker BB tercatat mengoleksi saham senilai Rp2 miliar dengan volume 1,5 ribu lot. Adapun broker KZ dan AI masing-masing membukukan pembelian sebesar Rp1,1 miliar dengan volume 668 lot dan 678 lot.

Melengkapi daftar akumulasi, broker AG mencatat pembelian bersih senilai Rp772,9 juta atau sekitar 478 lot pada harga rata-rata Rp15.654 per saham.

Di sisi lain, tekanan jual investor global relatif terbatas. Broker CC menjadi distributor terbesar dengan nilai penjualan mencapai Rp4,4 miliar. Selanjutnya, broker KK membukukan penjualan sebesar Rp437,3 juta, disusul broker SQ senilai Rp164,9 juta dan broker YP sebesar Rp119,4 juta.

Broker EP juga tercatat melakukan distribusi saham GGRM senilai Rp74,1 juta. Sementara broker QA dan OD masing-masing membukukan penjualan sebesar Rp55,2 juta dan Rp33,1 juta.

Lonjakan Laba di Kuartal I 2026

GGRM berhasil mencatatkan lonjakan laba bersih pada kuartal I 2026 meski penjualan mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Merujuk laporan keuangan yang telah dipublikasikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,54 triliun, melonjak dibanding kuartal I 2025 yang senilai Rp104,43 miliar.

Laba bruto GGRM pada kuartal I 2026 ikut naik menjadi Rp3,14 triliun, atau tumbuh dibanding periode serupa tahun lalu yang sebesar Rp2,01 triliun.

Kendati demikian, penjualan bersih GGRM di tiga bulan pertama 2026 turun menjadi Rp20,11 triliun dari sebelumnya Rp23,07 triliun. Sementara itu, beban pokok penjualan menyusut dari Rp21,06 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp16,97 triliun.

Beban penjualan GGRM juga menurun dari Rp1,06 triliun menjadi Rp621 miliar. Sedangkan beban umum dan administrasi juga berkurang menjadi Rp555 miliar dari Rp748 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Berpindah ke neraca, total aset GGRM per akhir Maret 2026 tumbuh menjadi Rp76,91 triliun dari Rp75,25 triliun pada akhir 2025. Kenaikan ini didukung naiknya kas dan setara kad yang sebesar Rp5,23 triliun dari sebelumnya Rp3,61 triliun.

Sedangkan, total liabilitas GGRM pada kuartal I 2026 tercatat di angka Rp12,80 triliun, sementara ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp64,11 triliun dari Rp62,57 triliun pada akhir tahun 2025.

Harga Saham Berada di Bawah Target Konsensus

GGRM masih mendapatkan pandangan positif dari mayoritas analis meskipun pergerakan harga sahamnya belum menunjukkan penguatan yang signifikan sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data konsensus analis yang dihimpun Stockbit per 10 Juni 2026, sebanyak 13 analis memberikan cakupan terhadap saham GGRM.

Dari jumlah tersebut, enam analis merekomendasikan buy, empat analis memberikan rekomendasi hold, dan tiga analis menyarankan sell.

Dominasi rekomendasi beli tersebut bisa dibilang masih adanya keyakinan sebagian pelaku pasar terhadap prospek bisnis Gudang Garam.

Saat berita ini dibuat, Rabu, 10 Juni 2026, saham GGRM diperdagangkan di level Rp15.000. Angka tersebut masih berada di bawah target harga rata-rata analis yang mencapai Rp16.650 per saham.

Dengan demikian, saham GGRM masih memiliki potensi kenaikan sekitar 11 persen dibandingkan harga pasar saat ini apabila mampu mencapai target konsensus tersebut.

Sementara itu, estimasi target harga tertinggi yang diberikan analis berada di level Rp21.500 per saham. Jika target tersebut tercapai, potensi penguatan saham GGRM mencapai sekitar 43 persen dari posisi saat ini.

Di sisi lain, target harga terendah yang diberikan analis berada di level Rp5.600 per saham. Perbedaan yang cukup lebar antara target tertinggi dan terendah menunjukkan masih beragamnya pandangan analis terhadap prospek jangka panjang emiten rokok tersebut.

Adapun melalui perhitungan yang dilakukan Kabarbursa.com melalui asumsi  valuasi GGRM kembali ke rata-rata historis lima tahunnya,  harga wajar saham dapat dihitung dengan mengalikan mean PBV dengan BVPS saat ini.

Perhitungan tersebut menghasilkan harga wajar sebesar Rp23.322 per saham. Dengan harga pasar yang masih berada di level Rp15.000, saham GGRM diperdagangkan sekitar 35,7 persen di bawah estimasi nilai wajarnya.

Artinya, terdapat potensi kenaikan sekitar 55,5 persen apabila valuasi perseroan kembali ke rata-rata PBV historisnya.

Dari sisi investasi, GGRM menawarkan kombinasi menarik antara catatan kinerja di kuartal I 2026 dan valuasi yang relatif masih murah dibanding target konsensus pasar.

Apabila perseroan mampu mempertahankan tren efisiensi dan profitabilitas pada kuartal-kuartal berikutnya, ruang kenaikan harga saham masih terbuka. Namun, keberlanjutan tren tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga margin di tengah tantangan industri yang masih cukup dinamis.

Valuasi GGRM

Berdasarkan data Stockbit per 10 Juni 2026, saham GGRM diperdagangkan pada harga Rp15.000 per saham. Pada level tersebut, GGRM memiliki Price to Earnings Ratio (PER) annualised sebesar 4,69 kali, sementara PER trailing twelve months (TTM) berada di level 9,65 kali.

Selain itu, Price to Book Value (PBV) saham GGRM tercatat hanya 0,45 kali. Dengan nilai buku per saham mencapai Rp33.317,57.

Dari sisi pendapatan, Price to Sales (P/S) GGRM berada di level 0,33 kali, sedangkan EV to EBITDA tercatat sebesar 3,16 kali.

Gross Profit Margin pada kuartal I 2026 mencapai 15,62 persen, sedangkan Operating Profit Margin berada di level 10,05 persen. Adapun Net Profit Margin tercatat sebesar 7,65 persen.

Dari sisi profitabilitas, Return on Assets (ROA) GGRM tercatat sebesar 3,89 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 4,66 persen. Meskipun belum tergolong tinggi, kedua rasio tersebut menunjukkan perbaikan.

Sementara itu, posisi keuangan GGRM masih tergolong solid. Current Ratio tercatat sebesar 3,86 kali yang menunjukkan aset lancar perusahaan hampir empat kali lebih besar dibandingkan kewajiban jangka pendeknya.

Perseroan juga memiliki Current EPS (TTM) sebesar Rp1.554,15 per saham dan Current EPS annualised mencapai Rp3.197,81 per saham. Selain itu, cash per share tercatat Rp2.718,62 dan free cash flow per share sebesar Rp5.587,54.

Dari sisi dividen, GGRM membagikan dividen sebesar Rp500 per saham dengan dividend yield sekitar 3,33 persen. Sementara payout ratio tercatat sebesar 15,64 persen. (*)

Disclaimer

Data dan analisis yang disampaikan dalam pemberitaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand pasar, aksi pelaku besar, serta perubahan sentimen dan perilaku investor di pasar modal.

Analisis disusun untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, pola akumulasi dan distribusi, kondisi fundamental, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham FILM, dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham tertentu.

Investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri, memperhatikan keterbukaan informasi resmi Perseroan, serta mempertimbangkan profil risiko dan strategi investasi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi. 
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya