KABARBURSA.COM – Mengarungi derasnya arus di Bursa Efek Indonesia (BEI) sering kali menuntut ketajaman insting untuk melihat peluang di balik angka-angka yang terlihat mustahil. Seperti halnya deretan angka yang ada pada saham PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
Di saat banyak investor ritel menjaga jarak karena label “saham mahal” yang melekat pada TCPI, para pemodal raksasa dari luar negeri justru sibuk mengisi pundi-pundi mereka dengan membelinya secara konsisten.
Apa yang sebenarnya mereka incar di balik harga yang sudah sangat premium tersebut?
Jejak Senyap Asing di Tengah Status UMA
Kegaduhan dimulai saat BEI secara resmi menyematkan status Unsual Market Activity (UMA) pada saham TCPI per 25-26 Februari 2026. Status ini menjadi alarm pengawasan yang diberikan oleh otoritas bursa ketika sebuah saham bergerak di luar kewajaran.
Bagaimana wajar, sepanjang tahun ini, khususnya hingga akhir Februari, harga saham TCPI sudah meroket hingga 34,07 persen. Dalam layer, tampak harganya menyentuh level 12.200 per lembar saham.
Tentunya tidak ada asap jika tidak ada api. Jika kita membedah catatan transaksi harian melalui perantara efek atau broker summary, terlihat ada pergerakan sistematis dari tangan-tangan dingin investor institusi asing.
Di sana ada dua nama besar yang menjadi motor penggerak, yaitu J.P Morgan Sekuritas (BK) dan Maybank Sekuritas (ZP). Kedua institusi ini terlihat sangat agresif menampung setiap unit saham yang dilepas oleh pasar harian.
Aksi ini dikenal sebagai akumulasi, sebuah strategi di mana investor besar membeli saham dalam jumlah banyak secara bertahap, agar tidak memancing lonjakan harga yang terlalu liar secara instan.
Satu hal yang menarik, baik BK maupun ZP tidak ragu melakukan pembelian di harga atas. Inilah yang dinamakan sebuah keyakinan fundamental, yaitu para investor asing percaya bahwa nilai perusahaan di masa depan akan jauh lebih tinggi daripada harga belasan ribu rupiah saat ini.
Artinya, mereka tidak sedang berspekulasi untuk keuntungan jangka pendek, melainkan sedang membangun posisi strategis untuk jangka panjang.
Meminjam pernyataan pengamat pasar modal Indonesia Wahyu Tri Laksono, kepada KabarBursa.com dalam Webinar Insight Emiten, Jumat, 20 Februari 2026, bahwa bermain saham itu bukan soal investasi harian, tapi jangka panjang.
Kontrak Jumbo di Sulawesi
Sekali lagi, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Tentunya, ada alasan yang membuat investor asing ini nafsu begitu besar. Jawabannya ada pada transformasi besar dalam model bisnis Transcoal Pacific.
Ya, selama ini publik mengenal TCPI sebagai pemain utama dalam logistik batu bara. Namun, manajemen kini sedang memutar kemudi menuju sektor mineral. Sektor ini yang kemudian dianggap lebih berkilau dan strategis. Apa itu? Jawabnya, bijih nikel.
TCPI diketahui baru saja mengamankan kontrak pengangkutan bijih nikel di Sulawesi Tenggara, yang nilainya fantastis. Angkanya mencapai USD885 juta atau setara dengan belasan triliun rupiah. Kontrak ini memiliki durasi yang sangat panjang, minimal 10 tahun.
Untuk diketahui, dalam dunia investasi, kepastian arus kas masuk selama satu dekade ke depan adalah sebuah “harta karun”, yang memberikan bantalan sangat kuat bagi kesehatan keuangan perusahaan.
Inilah yang disukai investor asing. Narasi hilirisasi mineral yang sedang digencarkan pemerintah Indonesia. Kebijakan ini mewajibkan mineral mentah seperti nikel, diolah di dalam negeri. Secara otomatis, hal itu akan menciptakan kebutuhan transportasi laut antar-pulau yang luar biasa masif dari tambang menuju fasilitas pemurnian atau smelter.
Nikel sendiri kini disebut sebagai “emas hijau”, karena merupakan komponen inti pembuatan baterai kendaraan listrik (EV). Dengan menguasai kontrak logistik ini, TCPI telah mengunci posisi sebagai pemain utama dalam ekosistem energi bersih masa depan.
Ambisi Jalur Logistik Energi Nasional
Tidak berhenti sampai di sini, Transcoal Pacific juga sedang melakukan ekspansi kapasitas secara agresif melalui penambahan armada kapal. Untuk 2026, perusahaan berencana menambah 19 unit armada baru, yang terdiri dari:
- Kapal tunda (tug boat)
- Tongkang (barge)
- Kapal dorong (pusher barge)
Penambahan ini merupakan bagian dari rencana jangka menengah untuk menambah total 41 unit armada hingga 2027.
Penting dipahami, dalam industri pelayaran, memiliki kapal sendiri jauh lebih menguntungkan daripada menyewa. Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk menekan biaya operasional yang tentunya akan meningkatkan marjin keuntungan.
Hal lainnya yang menjadi pemikat adalah aksi Transcoal Pacific mengadopsi teknologi digital melalui penerapan Fuel Monitoring System (FMS). Sistem ini mampu memantau bahan bakar secara waktu nyata pada seluruh armada.
Mengingat biaya bahan bakar bisa memakan porsi 30 hingga 50 persen dari total beban operasional, penghematan melalui teknologi ini akan berdampak signifikan pada efisiensi perusahaan.
Di sini, para investor asing melihat bukti bahwa manajemen bukan hanya pandai mencari kontrak, tetapi juga sangat disiplin dalam menjaga efisiensi di lapangan.
Di Balik Data Fundamental TCPI
Bergerak ke fundamental perusahaan. Sebuah perusahaan pelayaran seperti Transcoal Pacific memerlukan ketelitian dalam memisahkan antara fluktuasi jangka pendek dan potensi pertumbuhan jangka Panjang.
Jika menilik kinerja tahun penuh 2024, TCPI memang sempat mencatatkan penurunan laba bersih menjadi Rp85,4 miliar dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp181,4 miliar. Penurunan ini salah satunya dipicu oleh kerugian penjualan aset tetap sebesar Rp112,12 miliar, yang menekan laba sebelum pajak.
Namun, bagi investor nilai, titik balik justru terlihat pada laporan keuangan interim tahun 2025. Hingga periode September 2025, TCPI meraup laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp129,36 miliar.
Capaian ini melompat drastis dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yang hanya menyentuh angka Rp24,18 miliar. Ini tentu bukan keberuntungan, melainkan hasil dari strategi efisiensi operasional yang ketat.
Manajemen secara proaktif mengimplementasikan FMS pada seluruh armada untuk menekan biaya enero yang biasanya memakan porsi 30 hingga 50 persen dari total beban operasional.
Berkaca dari kinerja ini, tidak salah jika kemudian manajemen optimis mematok target pendapatan sebesar Rp2,2 triliun pada 2025. Target ambisius ini didasarkan pada optimalisasi utilisasi armada dan pengoperasian kapal-kapal baru yang lebih efisien secara konsumsi energi.
Dalam dunia pelayaran, utilisasi adalah ukuran seberapa sering sebuah kapal bekerja mengangkut muatan dibandingkan dengan waktu diamnya di Pelabuhan. Semakin tinggi tingkat utilisasi, semakin produktif aset tersebut dalam mencetak cuan bagi perusahaan.
Mundurnya para Pemegang Saham
Di tengah cerita bahagia ini, ada fenomena yang menjadi perbincangan hangat di kalangan analis. Yaitu, perubahan struktur pemegang saham yang berubah dalam waktu singkat.
Berdasarkan laporan bulanan Registrasi Pemegang Efek, 31 Januari 2026, jumlah pemegang saham TCPI tercatat sebanyak 605 investor. Angka ini turun drastis sebanyak 204 investor hanya dalam satu bulan. Sementara, pada Desember 2025, jumlahnya mencapai 809 investor.
Kondisi ini secara teknis disebut konsolidasi kepemilikan. Meskipun jumlah investor perorangan menyusut signifikan, jumlah saham beredar di Masyarakat (free float) tetap stabil di angka 1.000.000 lembar saham, atau setara dengan 20 persen dari total saham yang tercatat.
Free float sendiri merupakan proporsi saham yang benar-benar tersedia untuk diperjualbelikan oleh publik di bursa, di luar kepemilikan pemegang saham pengendali atau manajemen inti.
Saat ini, kepemilikan mayoritas TCPI masih digenggam solid oleh PT Sari Nusantara Gemilang (55 persen) dan PT Karya Permata Insani (25 persen), dengan H Abdulah Popo Parulian, SH sebagai penerima manfaat akhir atau ultimate beneficial owner.
Solidnya posisi pengendali ini memberi sinyal bahwa manajemen inti tidak memiliki rencana untuk melepas kepemilikan di tengah arus akumulasi yang edang dilakukan oleh pihak asing.
PER 320x Tetap Diburu
Jika menggunakan rumus valuasi tradisional, banyak analis mungkin menyebut TCPI sebagai saham yang mahalnya tidak masuk akal. Per 26 Februari 2026, saham TCPI diperdagangkan dengan Price-to-Earning Ratio (PER) di kisaran 320,60x.
Untuk diketahui, PER merupakan rasio untuk mengukur harga saham saat ini dibandingkan dengan keuntungan per sahamnya. Angka 320,60x berarti investor bersedia membayar 320 kali lipat dari laba tahunan perusahaan saat ini.
Angka ini berkali-kali lipat di atas rata-rata industri pelayaran yang umumnya hanya dihargai dengan PER sekitar 24,6x.
Namun, investor institusi asing memiliki cara pandang yang berbeda. Mereka menyebutnya dengan strategi averaging atau pembelian bertahap untuk meratakan harga perolehan.
Inilah alasan yang kemudian menjawab pertanyaan, mengapa asing terus melakukan averaging up. Karena, mereka melakukan valuasi berdasarkan proyeksi arus kas masa depan, bukan sekadar laba historis.
Investor asing melihat kontrak jumbo nikel senilai belasan triliun rupian sebagai mesin uang yang akan mencatatkan kontribusinya maksimal pada 2026 dan seterusnya.
Bagi mereka, harga Rp12.000-an saat ini menjadi tiket masuk untuk memiliki perusahaan yang sedang bertransformasi menjadi penguasa logistik mineral strategis Indonesia. Mereka lebih memilih membeli saham yang harganya naik namun memiliki fundamental yang terus menguat secara eksponensial, daripada membeli saham murah namun kinerjanya stagnan.
Inilah esensi dari investasi.
Tantangan Regulasi Hijau dan Transisi Energi
Meskipun banyak kisah indah menyertai TCPI, namun tetap ada ombak besar yang harus disikapi dengan baik. Menjelang 2026, industri pelayaran nasional menghadapi dua tantangan kepatuhan utama, yaitu pajak karbon dan mandatori Biodiesel B40 menuju B50.
Pajak karbon adalah pungutan yang dikenakan atas emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar fosil pada mesin kapal.
Bagi perusahaan yang mengoperasikan ratusan kapal tunda dan tongkang seperti TCPI, kebijakan ini bisa menggerus marjin laba secara signifikan, terutama jika armada yang dimiliki tidak segera diremajakan dengan teknologi mesin yang lebih efisiensi.
Apalagi, penggunakan bahan bakar biodiesel dengan campuran minyak sawit tinggi (B40/B50) berpotensi meningkatkan biaya perawatan mesik karena sifat korosif dan siklus penggantian filternya yang lebih pendek.
Tantangan berikutnya adalah risiko konsentrasi kargo. Saat ini, sekitar 97 persen kargo yang diangkut oleh TCPI masih didominasi oleh batu bara. Ketergantungan ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan energi nasional dan global, yang mulai membatasi penggunaan bahan bakar fosil demi menekan emisi karbon.
Meskipun TCPI sudah mulai melakukan diversifikasi ke sektor nikel, keberhasilan jangka panjang perusahaan akan sangat bergantung pada seberapa memindahkan beban pendapatannya dari "emas hitam" menuju komoditas yang lebih ramah lingkungan, tanpa mengganggu stabilitas arus kas operasionalnya.
Strategi Akumulasi Asing “Averaging Up"
Masuknya investor asing besar seperti J.P. Morgan Sekuritas dan Maybank Sekuritas mencerminkan kepercayaan diri yang luar biasa. Alih-alih menunggu harga jatuh, investor institusi ini justru melakukan averaging up.
Istilah averaging up merujuk pada tindakan membeli saham kembali pada harga yang lebih tinggi dari harga pembelian sebelumnya. Strategi ini biasanya dilakukan karena investor yakin bahwa nilai perusahaan akan terus meroket seiring dengan fundamental yang semakin solid di masa depan.
Asing tidak sedang berspekulasi tanpa dasar. Anchor atau jangkar dari aksi beli ini adalah kontrak pengangkutan bijih nikel jangka panjang senilai USD885 juta atau sekitar Rp14 triliun. Kontrak yang berdurasi 10 tahun ini memberikan kepastian pendapatan yang sangat jarang ditemukan di industri pelayaran yang biasanya sangat fluktuatif.
Dengan memegang kontrak ini, TCPI telah mengunci arus kas untuk satu dekade. Alhasil, valuasi harga saham saat ini dipandang sebagai "investasi murah" jika dihitung berdasarkan keuntungan total selama 10 tahun ke depan.
Menakar Valuasi: Membayar Masa Depan di Harga Sekarang
Bagi pengikut aliran Value Investing, angka Price-to-Earnings Ratio (PER) TCPI yang menyentuh 320x hingga 335x mungkin terlihat mengerikan jika dibandingkan dengan rata-rata industri pelayaran yang hanya 24,6x.
Namun, investor asing menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF), sebuah cara menghitung nilai perusahaan berdasarkan perkiraan uang yang akan dihasilkan perusahaan di masa depan yang ditarik ke nilai saat ini.
Mereka menghitung bahwa dengan penambahan 19 armada baru pada tahun 2026 dan total 41 armada hingga 2027, kapasitas angkut perusahaan akan meledak. Selain itu, rencana aksi korporasi Private Placement sebanyak 500 juta saham baru (10 persen) akan membawa masuk modal segar mencapai triliunan rupiah.
Meskipun aksi ini menyebabkan dilusi atau penurunan persentase kepemilikan pemegang saham lama, dana yang masuk akan digunakan untuk melunasi utang dan mendanai ekspansi tanpa perlu bergantung pada pinjaman bank yang berbunga tinggi.
Itulah mengapa asing berpandangan bahwa valuasi premium saat ini adalah harga yang layak dibayar untuk pertumbuhan eksponensial di masa depan.
Pandangan bagi Investor Nilai
Sebagai kesimpulan, PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) saat ini sedang berada dalam fase transformasi yang krusial. Akumulasi agresif oleh broker asing dan konsolidasi kepemilikan saham di tangan institusi besar adalah sinyal kuat bahwa ada nilai intrinsik yang belum sepenuhnya terefleksi bagi mata orang awam.
Kontrak jumbo nikel berdurasi 10 tahun adalah pondasi yang membuat valuasi mahal saat ini memiliki dasar logika pertumbuhan yang kuat.
Bagi investor jangka panjang, tantangan regulasi lingkungan dan ketergantungan pada batu bara harus tetap dipantau secara ketat. Namun, dengan manajemen yang adaptif, kepemilikan yang solid, dan rencana ekspansi armada yang terukur, TCPI tetap menjadi salah satu instrumen investasi paling menarik di sektor logistik maritim Indonesia.
Di pasar modal, mereka yang berani memahami masa depan di balik harga yang "mahal" biasanya adalah mereka yang akan memanen keuntungan terbesar saat masa depan itu benar-benar tiba.(*)