KABARBURSA.COM – Menjelang berakhirnya paruh pertama 2025, industri perbankan nasional masih bergulat dengan ketatnya likuiditas dan persaingan dana yang kian sengit.
Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) tetap berada di level restriktif, menahan laju penurunan biaya dana yang diharapkan pelaku pasar. Kondisi ini menjadi latar belakang utama proyeksi kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI di semester pertama tahun ini.
Data hingga Mei 2025 menunjukkan, laba bersih bank only BMRI mencapai Rp19,7 triliun, nyaris tak berubah dibanding periode yang sama tahun lalu. Net interest margin (NIM) berada di level 4,45 persen, turun dari 4,86 persen pada Mei 2024, sementara pertumbuhan kredit tercatat 14 persen year on year (yoy). Cost of credit (CoC) terjaga rendah di 0,7 persen, memberikan ruang bagi bank untuk menjaga kualitas aset tetap stabil.
Perubahan komposisi manajemen juga menjadi sorotan. RUPS Luar Biasa 2025 menetapkan Riduan sebagai Direktur Utama menggantikan Darmawan Junaidi, disertai penambahan Henry Panjaitan sebagai Wakil Direktur Utama dan Sunarto sebagai Direktur Teknologi Informasi.
Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, menilai tren kinerja semester pertama sejauh ini berjalan sesuai dengan ekspektasi pasar.
“Kami melihat tekanan pada margin dan kenaikan biaya operasional sudah diantisipasi pasar, sementara penopang kinerja berasal dari fee-based income dan keuntungan treasury,” tulis Akhmad dalam riset terbarunya.
Sentimen ini membuat investor menunggu konfirmasi data Juni sebelum menarik kesimpulan akhir untuk semester pertama.
Berdasarkan capaian lima bulan pertama dan tren bulanan, kinerja keuangan BMRI di semester I 2025 diperkirakan akan relatif datar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih konsolidasi kemungkinan hanya tumbuh tipis atau mendekati nol, sejalan dengan penurunan margin dan kenaikan biaya operasional.
Meski demikian, pertumbuhan fee-based income dan kualitas aset yang terjaga memberi landasan positif untuk pemulihan pada paruh kedua tahun ini.
Kredit Masih Tumbuh, Margin Tertekan
Pertumbuhan kredit BMRI di Mei 2025 mencapai 14 persen yoy, melandai dari awal tahun yang sempat menembus 19 persen yoy. Pelambatan ini mengikuti strategi manajemen untuk menyeimbangkan ekspansi dengan profitabilitas, mengingat NIM berada di bawah target. NII selama lima bulan pertama hanya naik 4 persen yoy, terbatas oleh kenaikan biaya dana dan penurunan loan yield.
Sebaliknya, pendapatan non-bunga atau fee-based income justru menjadi motor utama pertumbuhan. Selama lima bulan pertama tahun 2025, fee income melonjak 13 persen yoy, ditopang kontribusi Livin’ by Mandiri, anak usaha di segmen multifinance, serta aktivitas treasury.
Treasury gains sendiri mencatat pertumbuhan signifikan, mempertebal pendapatan operasional sebelum provisi (PPOP) meski NIM tertekan.
Dampak musiman Lebaran pada April terlihat jelas dalam kinerja bulanan. Laba bersih sempat tertekan akibat perlambatan transaksi dan kenaikan beban operasional, sebelum pulih di Mei dengan pertumbuhan 26 persen secara bulanan.
Proyeksi untuk Juni diperkirakan moderat, dengan kemungkinan kinerja relatif datar dibanding Mei, mengingat faktor musiman telah mereda namun likuiditas belum sepenuhnya longgar.
Everson Sugianto, Investment Analyst Stockbit, menyoroti prospek pemulihan margin di paruh kedua tahun ini. “Manajemen BMRI memproyeksikan NIM akan cenderung rendah pada semester pertama sebelum membaik di semester kedua, seiring potensi pelonggaran likuiditas dari penurunan BI rate dan percepatan belanja pemerintah,” ujarnya dalam laporan.
Pandangan ini menegaskan bahwa katalis positif untuk margin masih berada di depan, bukan di belakang.
Efisiensi, Kualitas Aset, dan Prospek Semester Kedua
Di sisi efisiensi, beban operasional BMRI naik 22 persen yoy selama lima bulan pertama tahun 2025, didorong oleh kenaikan beban tenaga kerja dan general & administrative (G&A).
Cost to income ratio (CIR) diperkirakan berada di kisaran 39–40 persen untuk semester pertama, mendekati batas target manajemen. Kenaikan ini terkait upaya bank memperkuat jaringan, insentif tenaga pemasaran, dan pengembangan teknologi digital untuk mendorong pertumbuhan CASA.
Kualitas aset tetap menjadi salah satu kekuatan utama BMRI. NPL gross bertahan di kisaran 1,2 persen, sedangkan LAR sedikit meningkat akibat restrukturisasi sementara debitur korporasi di sektor nikel.
CoC yang terjaga di bawah 1 persen memberi sinyal positif bahwa risiko kredit dapat dikendalikan, meskipun manajemen tetap mempertahankan panduan konservatif 1–1,2 persen untuk setahun penuh.
Likuiditas menjadi area yang memerlukan perhatian. Loan to deposit ratio (LDR) berada di 93–94 persen, sedangkan CASA ratio turun ke 77,6 persen akibat pergeseran dana ke deposito. Strategi BMRI pada semester kedua kemungkinan besar akan fokus pada peningkatan dana murah, baik melalui kampanye digital banking maupun program loyalitas nasabah, untuk mengurangi tekanan biaya dana.
Konsensus analis mematok target harga BMRI di kisaran Rp5.900–Rp6.240 per saham, dengan valuasi sekitar 1,46 kali price to book value (PBV) forward, mendekati -1 standar deviasi dari rata-rata historis lima tahun.
Dividend yield proyeksi berada di atas 7 persen, menjadi daya tarik bagi investor jangka menengah. Ekspektasi pasar untuk semester kedua juga mengarah pada perbaikan margin dan pertumbuhan laba yang lebih kuat jika likuiditas membaik.
Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, analis BRI Danareksa Sekuritas, memberi gambaran singkat untuk proyeksi kinerja semester pertama ini.
“Dengan tren kredit yang solid namun margin tertekan, kami perkirakan laba bersih konsolidasi BMRI pada semester I 2025 akan bergerak mendekati level tahun lalu, sebelum potensi akselerasi di semester kedua,” tulis keduanya dalam riset.
Risiko tetap ada, mulai dari kemungkinan penurunan suku bunga global yang lebih lambat, tekanan pada margin jika persaingan dana berlanjut, hingga potensi peningkatan biaya provisi pada sektor-sektor berisiko.
Namun, dengan rekam jejak pengelolaan risiko dan diversifikasi sumber pendapatan, BMRI memiliki modal yang cukup untuk mengarungi sisa tahun ini dengan stabil. (*)