KABARBURSA.COM - Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dinilai masih berpotensi melanjutkan penguatan usai mencatat pergerakan positif dalam beberapa hari terakhir.
Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Kamis, 15 Januari 2026, saham PGEO ditutup menguat sebesar 3,17 persen atau naik 40 poin ke level 1.300.
Jika menilik struktur candlestick pada grafik harian, pergerakan PGEO memperlihatkan fase pemulihan yang cukup jelas setelah mengalami tekanan turun.
Fase penurunan terjadi pada 17 Desember 2025. Sejak di area ini, saham PGEO berturut-turut mengalami penurunan. Bahkan pada 24 Desember 2025, terlihat candle merah yang membawa harga PGEO turun hingga berkutat di area 1.080-1.100.
Namun sejak hari tersebut, atau pada 29 Desember 2025, harga mulai bergerak naik secara bertahap. Candle hijau mulai mendominasi dengan body yang lebih panjang dibandingkan candle koreksi.
Dalam pergerakan tersebut, struktur harga membentuk rangkaian higherow dan higher high secara berurutan. Setiap kali terjadi koreksi, penurunan harga tampak tertahan di level yang lebih tinggi.
Pada grafik yang dilengkapi indikator moving average (MA), terlihat bahwa harga PGEO bergerak di atas rata-rata pergerakan jangka pendek yakni MA10 yang berada di 1.204 dan MA20 di level 1.168.
Kedua garis MA tersebut yang sebelumnya cenderung mendatar mulai menunjukkan kemiringan ke atas, seiring dengan akselerasi harga dalam beberapa sesi terakhir. Jarak antara harga penutupan dan garis MA juga tampak melebar, mencerminkan kuatnya dorongan harga dalam jangka pendek.
Pada indikator volume, mulai terjadi lonjakan aktivitas yang cukup signifikan. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, volume PGEO tercatat 75,45 juta lebih tinggi dibandingkan volume 20 yang sebesar 42,51 juta.
BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan secara teknikal, harga saham anak perusahaan PT Pertamina Power Indonesia ini sedang mengalami pulllback dengan level support di 1.210 - 1.245.
"Selama berada di atas level tersebut, potensi lanjutan penguatan terbuka," tulis BRI Danareksa dalam risetnya pada Minggu, 18 Januari 2026.
Secara keseluruhan, data pada grafik harian PGEO memperlihatkan kombinasi antara penguatan harga, struktur candle yang cenderung positif, serta peningkatan volume transaksi. Setiap elemen teknikal tersebut membentuk gambaran pergerakan yang saling berkaitan.
Dengan melihat detail-detail ini secara utuh, pembaca dapat mencermati bagaimana harga, volume, dan indikator teknikal berinteraksi dalam membentuk ritme perdagangan saham PGEO pada periode terkini.
Pergerakan Order Book
Berdasarkan tampilan order book pada perdagangan terakhir pekan ini, antrean bid PGEO tersebar di sejumlah level harga mulai dari area 1.170 hingga 1.290. Di sisi bawah, level 1.200 terlihat menampung antrean bid cukup besar dengan total sekitar 30.123 lot dan frekuensi transaksi yang relatif tinggi.
Selain itu, level 1.235 dan 1.230 juga mencatatkan antrean bid di atas 17 ribu lot, menunjukkan adanya minat beli yang tidak hanya terpusat pada satu titik harga, melainkan tersebar di beberapa lapisan.
Pada level harga yang lebih tinggi, antrean bid di area 1.240 dan 1.235 masih terlihat aktif, meskipun jumlah lotnya lebih kecil dibandingkan area 1.200. Struktur ini mencerminkan bagaimana permintaan dibangun secara bertahap dari bawah ke atas, dengan jarak antar level yang cukup rapat. Frekuensi transaksi pada sisi bid di beberapa level juga tampak lebih padat.
Sementara itu, di sisi ask, konsentrasi antrean terlihat cukup menonjol di area 1.300. Pada level ini, total antrean jual tercatat mencapai sekitar 66.406 lot, menjadikannya salah satu titik dengan suplai terbesar dalam order book. Selain level 1.300, antrean ask juga tampak signifikan di area 1.290 hingga 1.295, dengan jumlah lot puluhan ribu. Lapisan penawaran ini membentuk dinding ask yang berjenjang di atas harga pasar.
Antrean ask juga terlihat cukup tebal di level 1.285 dan 1.280, masing-masing dengan jumlah lot di atas 8 ribu hingga 15 ribu.
Jika mencermati data trade book, sepanjang sesi perdagangan terlihat akumulasi transaksi beli dan jual yang bergerak relatif seimbang hingga menjelang penutupan. Grafik trade book menunjukkan garis transaksi jual yang cenderung berada di atas transaksi beli sejak awal sesi, dengan kenaikan yang berlangsung secara bertahap.
Namun, menjelang akhir perdagangan, terjadi lonjakan signifikan pada sisi beli yang membuat kurva transaksi beli meningkat tajam. Lonjakan tersebut terlihat terjadi dalam rentang waktu yang singkat menjelang penutupan, ketika volume beli melonjak dari kisaran di bawah 200 ribu menjadi mendekati 400 ribu hingga 480 ribu.
Pada saat yang sama, transaksi jual juga tetap berlangsung, meski tidak mengalami lonjakan setajam sisi beli. Pola ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas transaksi di menit-menit akhir perdagangan, yang tercermin jelas pada pergerakan kurva trade book.
Interaksi antara order book dan trade book menjadi menarik untuk dicermati secara bersamaan. Antrean ask yang tebal di area 1.300 beriringan dengan lonjakan transaksi beli di akhir sesi, menciptakan dinamika antara suplai yang tersedia dan permintaan yang masuk ke pasar. Sementara itu, antrean bid yang cukup rapat di bawah harga pasar menunjukkan adanya aktivitas permintaan yang tersebar di beberapa level, bukan hanya terfokus pada satu harga tertentu.
Frekuensi transaksi di masing-masing level harga juga memberikan petunjuk tambahan mengenai intensitas perdagangan. Dengan mencermati data order book dan trade book secara detail, pembaca dapat melihat bagaimana harga PGEO bergerak di tengah interaksi permintaan dan penawaran yang aktif.
Setiap lapisan antrean, perubahan volume, serta lonjakan transaksi memberikan konteks tersendiri mengenai ritme perdagangan yang berlangsung, tanpa perlu menarik kesimpulan di luar apa yang ditunjukkan oleh data.
Diakumulasi Asing
Di tengah penguatan, ternyata investor asing terpantau mulai mengakumulasi saham PGEO melalui beberapa broker selama pekan lalu periode 12-15 Januari 2026.
Dari sisi pembelian, broker UBS Sekuritas (AK) tercatat menjadi pembeli terbesar dalam periode tersebut. AK membukukan nilai beli sekitar Rp35,4 miliar dengan total volume mencapai 286,4 ribu lot. Harga rata-rata pembelian AK berada di kisaran 1.257.
Broker Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) berada di posisi berikutnya dengan nilai beli sekitar Rp30,4 miliar dan volume mencapai 234,3 ribu lot. Berbeda dengan AK, harga rata-rata pembelian RX tercatat lebih tinggi, yakni di kisaran 1.297.
Selain dua broker tersebut, terdapat beberapa broker lain yang juga tercatat melakukan pembelian, meskipun dengan skala yang lebih kecil. CGS International Sekuritas Indonesia (YU), misalnya, membukukan nilai beli sekitar Rp282,8 juta dengan volume 3,3 ribu lot dan harga rata-rata 1.227.
BCA Sekuritas (SQ) mencatat pembelian senilai Rp158 juta dengan volume 1,3 ribu lot di harga rata-rata 1.215. Sementara itu, Lotus Andalan Sekuritas (YJ) dan Henan Putihrai (HP) masing-masing mencatatkan nilai beli di bawah Rp50 juta, dengan harga rata-rata transaksi berada di kisaran 1.250 hingga 1.254.
Aktivitas pembelian juga terlihat dari broker Korean Investment and Sekuritas Indonesia (BQ) dan BRI Danareksa Sekuritas (OD) , meskipun dengan nilai yang relatif terbatas. BQ mencatat nilai beli sekitar Rp23,2 juta di harga rata-rata 1.161, sedangkan OD membukukan pembelian sekitar Rp3,8 juta di harga rata-rata 1.255.
Di sisi penjualan, broker Supra Sekuritas Indonesia (SS) tercatat menjadi penjual terbesar dengan nilai jual mencapai Rp17,5 miliar dan volume sekitar 140 ribu lot. Aktivitas jual SS menjadi salah satu yang paling menonjol dalam periode ini.
Selain SS, broker JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) juga mencatatkan nilai jual yang cukup besar, yakni sekitar Rp7,9 miliar dengan volume 56,9 ribu lot. Broker UOB Kay Hian Sekuritas (AI) berada di posisi selanjutnya dengan nilai jual sekitar Rp6,8 miliar dan volume 56 ribu lot.
Di bawahnya, BNI Sekuritas (NI) mencatatkan penjualan senilai Rp963 juta dengan volume 7,7 ribu lot. Broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) juga tercatat aktif di sisi jual, masing-masing dengan nilai sekitar Rp753,1 juta dan Rp704,4 juta, dengan volume transaksi di kisaran 6 ribu lot.
Penjualan juga dilakukan oleh OCBC Sekuritas Indonesia (TP), Mandiri Sekuritas (CC) , dan Kiwoom Sekuritas Indonesia (AG) , meskipun dengan nilai yang lebih kecil. TP membukukan nilai jual sekitar Rp452,9 juta, CC sekitar Rp370,8 juta, dan AG sekitar Rp359,9 juta.
Jika mencermati keseluruhan data broker summary, terlihat bahwa transaksi PGEO diisi oleh kombinasi broker dengan nilai besar dan kecil, baik di sisi beli maupun jual. Perbedaan harga rata-rata transaksi antar broker menunjukkan bahwa aktivitas pasar berlangsung di berbagai level harga.
Dengan mencermati data ini secara detail, pembaca dapat melihat bagaimana distribusi transaksi PGEO terbentuk melalui peran masing-masing broker. Nilai, volume, dan harga rata-rata transaksi menjadi elemen penting untuk memahami pola perdagangan yang terjadi, tanpa perlu menarik kesimpulan di luar apa yang tercermin langsung dari data. (*)