Insight Daily 18 Sep 2025 Penulis: KabarBursa.com

Menakar Potensi Bisnis EBT Alamtri Resources (ADRO)

Proyeksi pendapatan dari bisnis EBT dan Non-Coal yang berpotensi diraup oleh ADRO mencapai lebih dari 50 persen dari total revenue pada tahun 2030.

KABARBURSA.COM - PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dinilai memiliki peluang dalam meraup pendapatan dari bisnis energi baru terbarukan (EBT). Hal ini tidak lepas dari potensi positif bisnis EBT di Indonesia.Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengatakan EBT bisa menjadi peluang besar bagi ADRO untuk menambah pendapatan melalui diversifikasi pasca s...

Ilustrasi: Fasilitas panel surya yang terhampar di sebuah lahan luas. (Foto: Dok. Alamtri)
Ilustrasi: Fasilitas panel surya yang terhampar di sebuah lahan luas. (Foto: Dok. Alamtri)

Insight Navigator

  1. 01 Prospek EBT di Indonesia
  2. 02 Kinerja ADRO
  3. 03 Prospek Saham ADRO

KABARBURSA.COM - PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dinilai memiliki peluang dalam  meraup pendapatan dari bisnis energi baru terbarukan (EBT). Hal ini tidak lepas dari potensi positif bisnis EBT di Indonesia.

Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengatakan EBT bisa menjadi peluang besar bagi ADRO untuk menambah pendapatan melalui diversifikasi pasca spin off AADI akhir 2024.

"Saat ini, ADRO masih bergantung pada hasil tambang batubara metalurgi dari anak usaha dan jasa pertambangan. Sehingga, di masa depan bisnis EBT akan menjadi penopang pendapatan yang signifikan bagi emiten jika infrastruktur dan regulasi mendukung," ujar dia kepada Kabarbursa.com dikutip, Kamis, 18 September 2025.

Ditambah lagi, adanya proyek investasi dari BPI Danantara untuk bisnis EBT. Menurut Abdul, hal ini sangat bisa  dinikmati oleh ADRO dalam bentuk investasi.

"Sehingga dalam masalah ongkos, emiten ADRO masih akan bertahan melihat juga posisi kas yang masih kuat di kuartal II 2025 sebesar Rp17,2 trilliun," ungkapnya.

Adapun Abdul membeberkan, proyeksi pendapatan dari bisnis EBT dan Non-Coal yang berpotensi diraup oleh ADRO mencapai lebih dari 50 persen dari total revenue pada tahun 2030.

"Hal ini ditopang oleh produksi energi dari PTLA dan PLTB di kalimantan selatan," ungkap Abdul.

Prospek EBT di Indonesia

Pemerintah sendiri tampak mendukung perkembangan bisnis EBT di Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam keterangannya mencatat kapasitas terpasang pembangkit listrik tumbuh signifikan dengan peningkatan sebesar 4,4 Gigawatt (GW) pada semester I  2025, dibandingkan dengan tahun 2024.

Sebesar 876,5 Megawatt (MW) di antaranya dari pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT). Pada 2024, pembangkit EBT yang terpasang sebesar 761,9 MW,meningkat 15 persen di semester I 2025.

Adapun penambahan kapasitas EBT pada semester I 2025 meliputi PLTS 233,3 MW, PLTP 105,2 MW, PLTA 492 MW , PLTBm 37,8 MW, dan PLTM 8,2 MW.

Jika ditotal secara keseleruhan, jumlah kapasitas terpasang pembangkit EBT hingga kini mencapai 15,2 GW, sebanding dengan 14,5 persen dari total pembangkit nasional.

ESDM sendiri telah mengesahkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 5 Tahun 2025 tentang Pedoman Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dari Pembangkit Tenaga Listrik yang memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan. Regulasi ini diundangkan pada 4 Maret 2025 sebagai langkah strategis untuk mendukung target energi bersih nasional secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM saat itu Dadan Kusdiana menjelaskan bahwa regulasi ini merupakan tindak lanjut dari visi pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi nasional.

"Presiden telah berulang kali menekankan pentingnya Asta Cita, yang salah satunya mencakup ketahanan energi. Pak Menteri kemudian menerjemahkan konsep ini ke dalam kebijakan yang memastikan sumber energi berasal dari dalam negeri. Ketahanan energi pada dasarnya bertumpu pada prinsip keekonomian," kata Dadan dalam keterangannya, 11 Maret 2025.

Dadan mengatakan regulasi ini bertujuan untuk menjadi acuan bagi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan pengembang pembangkit listrik independen (Independent Power Producer/IPP) dalam menyusun perjanjian jual beli tenaga listrik (PJBL). Selain itu, aturan ini memberikan kepastian hukum dalam mekanisme jual beli listrik, termasuk kejelasan mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak, skema pembayaran, alokasi risiko, serta ketentuan lainnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) guna mencapai ketahanan energi nasional.

"Kami berupaya menghadirkan energi terbarukan untuk mendukung ketahanan energi nasional, sesuai arahan Pak Menteri dan sejalan dengan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi," ujar Eniya.

Ia menjelaskan bahwa latar belakang terbitnya Permen ESDM Nomor 5 Tahun 2025 adalah ketiadaan standar dalam penyusunan kontrak PJBL, yang selama ini kerap menimbulkan perbedaan interpretasi, proses negosiasi yang panjang dan kompleks, serta peningkatan biaya transaksi.

Hal ini juga menyebabkan keterlambatan dalam realisasi proyek serta ketidakpastian dalam skema pembayaran, mekanisme force majeure, dan pembagian risiko, yang berisiko terhadap stabilitas finansial para pengembang.

"Regulasi yang lebih jelas dan berkeadilan ini diharapkan dapat mendorong investasi di sektor energi terbarukan, sehingga mempercepat pencapaian target energi hijau. Secara keseluruhan, kebijakan ini menjadi langkah penting untuk memastikan Indonesia dapat mencapai ketahanan energi yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi," tutup Eniya.


Kinerja ADRO

ADRO mencatat kinerja kurang memuaskan pada semester I 2025. Emiten pertambangan ini meraup laba bersih sebesar USD174,94 juta, turun 77,54 persen dibanding periode serupa tahun lalu senilai USD778,77.

Dari segi pendapatan usaha, ADRO meraup dana USD857,69 juta atau turun 18,60 persen. Beban pokok ADRO pada perioden ini juga menyusut sebesar USD573,42 atau turun 3,57 year on year (yoy)

Sementara itu laba bruto ADRO pada semester I 2025 sebesar USD284,27 juta, menurun 38,08 persen secara tahunan.

Abdul mengatakan untuk ke depan, kinerja keuangan adro akan ditentukan oleh beberapa hal seperti, curah hujan di area pertambangan yang bisa menyebabkan harga batubara melonjak, permintaan batubara dari negara-negara besar seperti china dan india, hingga kebutuhan alat tambang untuk operasional anak usaha.

"Di sisi lain, ekonomi makro juga mempengaruhi kinerja emiten tambang batubara karena disaat keadaan makro dari sebuah negara lemah, ada potensi pengeluaran atau konsumsi rumah tangga akan turun dan konsumsi listrik oleh masyarakat ataupun pelaku usaha akan turun pula. Tentu ini akan mengurangi impor-impor batubara dari ADRO," ungkapnya.

Sehingga, Abdul memproyeksikan kinerja ADRO di semester II 2025 bisa terganggu oleh kondisi ekonomi secara global yang saat ini cenderung moderat. Menurutnya, hal ini bisa memicu tekanan pada pertumbuhan pendapatan dan laba bersih emiten.

"Serta, melihat harga batubara yang cenderung dalam fase downtrend hingga 2025 berakhir, ini menjadi katalis negatif untuk harga jual batubara dari ADRO," jelasnya.

Prospek Saham ADRO

Mengenai proyeksi saham, Abdul menyebut area entry untuk ADRO berada di level 1600 – 1645 yang merupakan key level support bagi ADRO, dengan target jangka menengah mencapai 1990 – 2100.

Ia membeberkan, insight dari ADRO ini berkaca dari historical harga batubara yang mendekati musim dingin di negara eropa, menyebabkan supply yang terbatas dan harga batubara akan rebound di kuartal IV 2025.

"Serta, seasonality ADRO pada kuartal IV dalam 10 tahun terakhir mencatatkan probabilitas mencapai 44,3 persen," pungkas Abdul.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya